Bagaimana caranya menggambarkan rasa senang? Zaelena selalu punya banyak cara untuk menggambarkan rasa senangnya. Salah satunya seperti yang dia lakukan sejak tadi. Senyum-senyum salah tingkah kemudian terkekeh kemudian berteriak walaupun harus ditahan karena harus menjaga image sebaik mungkin di depan crush.
Berada dalam mobil yang sama dengan Arhan sungguh membuat Zaelena hampir gila. Otaknya mendadak blank. Bingung untuk membicarakan apa karena ya Arhan benar-benar sangat tampan. Zaelena sampai heran kenapa harus ada orang setampan Arhan kemudian saat pria itu menyetir mobil. Damage Arhan bertambah berkali-kali lipat sampai Zaelena ingin menggigit jarinya saking sudah nggak tahannya dengan makhluk Tuhan yang satu itu.
"Mas Arhan bisa nggak sih nggak ganteng!" seru Zaelena ketika dia sudah berusaha menahan diri sejak tadi.
"Zaelena!"
"Beneran, aku heran kenapa orang pakai kaos polosan dan celana pendekan doang bisa seganteng itu. Terus di tambah nyetir mobil damage nya tumpah-tumpah sampai bingung, mas Arhan itu sebenarnya manusia bumi sebelah mana."
"Depan rumah kamu Zaelena. Saya kan tinggal di sana," jawab Arhan mengkalem. Pria itu sepertinya memang berusaha dengan sangat keras untuk tidak menanggapi segala hal nyeleneh yang keluar dari mulut Zaelena dengan serius. Arhan benar-benar terlihat biasa saja.
"Nggak...Nggak bisa, mas Arhan harus jujur sama aku, mas Arhan ini sebenarnya bukan manusia kan? Mas Arhan pasti pangeran yang baru saja diutus turun ke bumi. Jujur sama aku!" seru Zaelena semakin menggila, dia bahkan sampai menunjuk wajah Arhan.
"Zaelena berhenti dengan imajinasi kamu!"
"Aku nggak bisa gimana dong. Makanya mas Arhan jangan ganteng-ganteng banget. Aku nggak kuat. Akal sehat aku menolak dengan keras kalau mas Arhan itu memang nyata adanya, mas Arhan pasti bukan manusia!" seru Zaelena semakin-makin. Arhan terlihat menarik napasnya kemudian pria itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Kita sudah sampai Zaelena, ayo turun," ucap Arhan, Zaelena melihat ke sekelilingnya dan ternyata memang benar, mereka sudah sampai di salah satu mall terdekat dari rumah mereka. Dimana biasanya orang-orang komplek mereka memang selalu belanja di sini.
Zaelena langsung menyusul Arhan tanpa berpikir panjang. Zaelena berjalan di belakang Arhan, tatapan matanya kali ini fokus pada punggung Arhan yang selain tegap juga terlihat sangat lebar, Zaelena sangat yakin, jika dia bersandar di punggung itu rasanya akan sangat nyaman.
"Zaelena jalan di samping saya, jangan di belakang nanti kamu hilang!" seru Arhan, jika Zaelena sekarang pergi dengan sahabat-sahabatnya Zaelena sudah akan pasti menjawab kalau dia yang punya kawasan tapi ketika Arhan yang mengatakan itu bibir Zaelena otomatis mengembang dengan sempurna dan melakukan apa yang dikatakan oleh Arhan.
"Mas Arhan sebelumnya udah belanja di sini?" tanya Zaelena ketika mereka sudah sama-sama mengambil troli. Biar nanti waktu mau bayar tidak repot memisahkan barang lagi.
"Saya sudah ke sini sekali. Disarankan ibu Aileena untuk belanja di sini dan ternyata memang bagus. Disini semuanya lengkap," ucap Arhan.
"Disini memang pusatnya sih mas Arhan, kayak apapun yang kita cari itu ada di sini. Keren banget," ucap Zaelena, gadis itu mulai mengambil hal-hal yang menurutnya menarik. Ya, Zaelena bukan tipe orang yang akan belanja sesuai dengan kebutuhannya tapi Zaelena akan belanja hal-hal yang berhasil menarik perhatiannya. "Ngomong-ngomong, menurut mas Arhan Amam aku orang yang seperti apa?" tanya Zaelena, walau sudah dapat menduga jawaban Arhan karena setiap orang pasti akan mendeskripsikan Aileena itu sama saja, sudah seperti jawaban template jadi Zaelena sendiri sudah hafal dengan semua jawabannya.
"Ibu Aileena. Dia orang yang sangat tegas dan disiplin. Berani dan ambisius. Hidupnya sangat tertata dengan rapi. Tapi entah kenapa setiap berbicara dengan ibu Aileena atau hanya melihatnya saya merasa ada hal yang aneh atau apalah itu namanya, saya nggak bisa menggambarkan dengan jelas. Pada intinya, bagi saya ibu Aileena adalah orang yang sangat hebat." ucap Arhan. Pria itu terlihat cukup ragu dengan semua jawabannya. Zaelena terlihat cukup takjub dengan apa yang dikatakan oleh Arhan. Itu jawaban berbeda pertama yang Zaelena tentang Amam-nya. Sejauh ini tidak ada yang menyadari seperti apa yang Arhan sadari.
"Terima kasih mas Arhan jawabannya," jawab Zaelena. Arhan mengangguk pelan. Dia dan Zaelena kemudian terpisah. Arhan ingin membeli beberapa jenis bahan makanan yang bisa dia olah sedangkan Zaelena pergi ke bagian cemilan. Jelas gadis itu akan mulai belanja sesuka-suka hatinya. Itu adalah salah satu kebiasaan buruk Zaelena yang lain.
Entah apa yang mendadak mengganggu pikiran Zaelena, tapi gadis itu mendadak diam. Zaelena kalau lagi mode serius seperti itu dia tidak lagi terlihat menyenangkan. Zaelena akan lebih mirip Aileena. Menyeramkan.
"Buset kenapa wajah gue jadi serius banget! Ini nggak boleh di biarin, gue harus tetap harus terlihat lucu dan menggemaskan dalam keadaan apapun itu!" seru Zaelena ketika dia melewati kaca. Gadis itu kembali menarik sudut bibirnya dan kembali memasukkan berbagai cemilan ke dalam trolinya. Setelah mendapatkan semua hal yang dia inginkan hal yang Zaelena cari selanjutnya tentu saja Arhan.
Sangat mudah bagi Zaelena untuk menemukan keberadaan Arhan. Pria itu ada di antara stand sayuran, terlihat sangat serius dalam mengamati sayur-sayuran yang ada di sana.
"Masyaallah calon suami gue memang nggak ada lawan!" seru Zaelena. Kamera ponsel gadis itu langsung bekerja dengan sangat baik mengabadikan momen Arhan memilih sayuran. Zaelena jelas tidak akan melewatkan momen yang terjadi bersama dengan Arhan karena setiap momen itu berharga, Zaelena pasti akan merindukannya nanti.
"Mas Arhan udah selesai memilih bahan makanannya?" tanya Zaelena. Gadis itu berdiri di samping Arhan, melihat isi troli Arhan membuat Zaelena langsung meringis, apa yang ada di troli Arhan sangat berbeda dengan apa yang ada di troli miliknya. Troli Arhan berisi makanan-makanan sehat sedangkan troli miliknya hampir berisi full micin. Zaelena jadi merasa bersalah pada dirinya sendiri tapi mau bagaimana lagi, Zaelena membutuhkn micin untuk menemani hari-harinya yang sangat penuh warna.
"Sebentar ya Zaelena, saya lagi milih sayuran dulu," ucap Arhan, pria itu terlihat memotret beberapa jenis sayuran itu kemudian langsung mengirimkannya pada seseorang, ketika mendapatkan balasan, Arhan langsung mengambil sayuran mungkin yang disarankan oleh orang yang dikirimi oleh Arhan pesan. Zaelena mengamati itu terus-menerus ketika Arhan tetap melakukan hal yang sama.
Kening Zaelena mendadak berkerut, dia jadi penasaran dengan siapa Arhan bertukar pesan sampai pria itu terlihat sangat hati-hati dalam memilih sayuran.
"Mas Arhan selalu meminta saran seseorang ketika ingin membeli sayuran?" tanya Zaelena tidak tahan lagi. Gadis itu benar-benar terlihat penasaran tapi seperti biasa ekspresi wajah Zaelena terlihat ceria seolah memang itu pertanyaan biasa saja.
"Dia yang sangat tahu tentang bahan-bahan makanan jadi saya selalu bertanya pada dia ketika saya sedang berbelanja bahan makanan," jawab Arhan dengan senyum di bibirnya. Pria itu terlihat sangat senang ketika mengatakan itu. Mata nya berbinar sampai Zaelena sendiri merasa sangat takjub melihatnya.
"Pasti orangnya sangat penting untuk mas Arhan," ucap Zaelena. Mereka berdua melangkah ke arah kasir untuk menutup sesi belanja mereka hari ini.
"Sangat, dia sangat penting untuk saya, Zaelena" jawab Arhan, masih dengan ekspresi yang sama. Zaelena kali ini entah kenapa mendadak takut untuk bertanya lebih lanjut pada Arhan. 'Orang seperti dia nggak mungkin sendiri, dia pasti sedang menjalin hubungan yang serius dengan seseorang' ucapan sahabatnya mendadak terngiang-ngiang di benak Zaelena. Bagaimana jika itu benar?
Zaelena menggelengkan kepalanya. "Kalau itu benar yaudah gue teroboslah apalagi ya kali gue menyerah, masih di level beginner dalam mengejar cinta mas Arhan juga gue!" seru Zaelena dalam hati.
Zaelena berusaha dengan keras untuk mempertahankan mood nya tetap stabil ketika mereka menyelesaikan kegiatan mereka hari ini. Dia dan Arhan memilih kasir yang berbeda untuk membayar belanjaan mereka supaya tidak membuang-buang waktu. Arhan sempat menawarkan padanya untuk membayar sekalian belanjaan Zaelena namun sebagai orang yang menjunjung tinggi bahwa tidak boleh mengizinkan seseorang terutama cowok membayarkan keperluan pribadinya jelas Zaelena langsung menolak itu.
"Zaelena kenapa kamu menolak untuk saya bayarin belanjaannya?" tanya Arhan ketika mereka sudah kembali masuk ke dalam mobil.
"Kebiasaan dari dulu soalnya. Sesuka-sukanya aku sama cowok. Sedekat apapun hubungan aku sama dia. Aku nggak akan pernah memperbolehkan mereka membayar kebutuhan pribadi aku kecuali konteks nya memang diajak pergi makan atau merayakan hari spesial. Itu pun biasanya gantian bayarnya. Aku hanya nggak mau hal seperti itu jadi masalah di kemudian hari. Uang menurut aku adalah salah satu hal yang sangat sensitif yang bisa membuat sesuatu yang sebenarnya kecil bisa menjadi sangat besar," jawab Zaelena. Arhan terlihat cukup takjub dengan jawaban Zaelena, mungkin selama mengenal gadis itu, ini untuk pertama kalinya Arhan melihat Zaelena menjawab sesuatu dengan sangat serius.
"Mas Arhan kenapa diam? Ada yang salah sama jawaban aku?" tanya Zaelena ketika dia menyadari Arhan tidak memberikan respon apapun terhadap jawabannya.
"Saya setuju dengan jawaban kamu," jawab Arhan, senyum Zaelena langsung tersenyum mendengar jawaban Arhan.
"Mas Arhan habis ini memiliki sesuatu yang ingin dilakukan?" tanya Zaelena. Mobil yang di kendarai oleh Arhan sudah memasuki komplek perumahan mereka.
"Saya akan bertemu dengan seseorang setelah mengantar kamu pulang," jawab Arhan.
"Seseorang yang mas Arhan mintain saran dalam memilih sayur?" tanya Zaelena. Arhan menoleh sambil tersenyum.
"Benar sekali, saya berjanji untuk menjemput dia dan mengajak dia berkunjung ke rumah saya karena sebelumnya dia belum pernah melakukannya. Malam ini jadwal dia kosong jadi saya memutuskan untuk menjemput," jawab Arhan, dari nada suaranya, Zaelena sangat tahu bahwa Arhan sangat antusias setiap kali menceritakan seseorang itu. Zaelena entah kenapa semakin merasa takut. Dia semakin yakin seseorang itu memang sangat penting untuk Arhan.
"Sepertinya dia adalah orang yang benar-benar sangat penting untuk mas Arhan sampai mas Arhan nggak bisa menyembunyikan sama sekali rasa senang mas Arhan ketika membicarakan tentang dia," ucap Zaelena bertepatan dengan mobil Arhan yang berhenti tepat di depan rumahnya. Zaelena jadi penasaran siapa orang beruntung yang bisa membuat Arhan seperti itu.
"Dia memang sangat penting Zaelena." Zaelena mengangguk kemudian dia langsung turun dari mobil Arhan bersama dengan belanjaannya.
"Kamu hati-hati di rumah Zaelena. Saya pamit dulu" ucap Arhan, mobil pria itu kemudian melaju setelah Zaelena menganggukkan kepala. Tatapan Zaelena tidak lepas dari mobil Arhan sampai mobi itu hilang dari belokan jalan. Pikiran Zaelena mendadak melayang jauh namun dia berusaha dengan keras untuk menyingkirkan pikiran aneh itu. Zaelena menekankan pada dirinya sendiri bahwa dia tidak boleh memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi secara berlebihan.
Tapi sepertinya apa yang Zaelena usahakan itu tidak mungkin terjadi ketika dia masuk ke dalam rumahnya kemudian mendengar suara pecahan piring dari daerah dapur. Tanpa harus melihat secara jelas saja Zaelena sudah dapat memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Ini bukan untuk pertama kalinya terjadi. Jadi Zaelena tidak heran lagi tentang itu. Yang Zaelena lakukan setiap kali itu terjadi adalah menutup telinganya kemudian mengunci diri di dalam kamarnya. Zaelena tidak ingin ikut campur karena dia tahu memang seperti itu cara kerja yang seharusnya. Zaelena tidak akan bisa mengubah apapun sedangkan orang yang yang melakukannya juga tidak terlihat ingin berubah.