Ketika Marcel dan Reta tiba di villa, anak-anak sudah bangun dan sedang asyik bermain di dalam tenda dengan Kirana. Begitu turun dari mobil, Reta langsung bergabung dengan Kirana anak-anak, meninggalkan Marcel menurunkan belanjaan mereka dari mobil, yang kemudian dibantu Arjuna.
Dalam kesempatan itu, Marcel memberitahu Arjuna tentang kejadian di pelataran parkir supermarket tadi, lalu meminta Arjuna membawa Kirana dan anak-anak pergi besok. Arjuna tak langsung menjawab dan tampak berpikir.
“Kenapa? Ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Marcel.
“Hanya ... apa Reta berencana membuka toko marshmallow di sini?” Pertanyaan Arjuna itu mengundang helaan berat napas Marcel.
“Itu yang tadi kukatakan padanya,” balas Marcel. “Dia benar-benar keras kepala.”
Arjuna mendengus geli. “Tentang apa yang kau katakan tadi, tentang membawa Kirana dan anak-anak pergi dari sini besok, aku akan melakukannya. Jadi, jangan khawatir.” Pria itu menepuk bahu Marcel. “Aku akan melindungi mereka. Jadi, kau bisa fokus melindungi Reta saja. Sebenarnya, setelah aku tahu apa yang harus dialami Reta, aku sudah memutuskan untuk membayar orang untuk mengawal keluargaku. Aku hanya tak mengatakan itu pada Kirana karena tak ingin dia khawatir.”
Sepertinya, Marcel bisa benar-benar mengandalkan Arjuna untuk ini. Dia bisa memusatkan fokus pengawalan orang bayarannya untuk menjaga Reta. Di mana pun wanita itu berada, sepertinya dia selalu diincar. Bahkan sampai sejauh ini ...
Marcel mengepalkan tangan geram. Intensitas serangan itu semakin lama semakin meningkat. Marcel tak boleh lengah. Dia setidaknya harus memasang pelacak pada Reta. Jika sampai sesuatu terjadi pada Reta, maka dia bisa menemukan wanita itu dengan cepat.
“Tapi, untuk menjaga Reta di sampingnya, sepertinya kau harus melakukan sesuatu dengan hubunganmu dengan Reta,” singgung Arjuna. “Dia masih tidak menginginkanmu di sampingnya, kan? Apa yang kau lakukan padanya hingga membuatnya seperti itu?”
Marcel menghela napas. “Aku juga tak mengerti jalan pikirannya.”
Arjuna terkekeh. “Tak mengerti pun tak masalah, selama kau bisa menjaganya dengan baik,” balasnya.
Marcel kembali menghela napas. “Dan inilah yang kudapat ketika aku tak mengerti jalan pikirannya.” Marcel menepuk tumpukan kardus di bagasi mobilnya.
Arjuna tergelak. “Kurasa, tak akan ada yang bisa menangani Reta selain dirimu.”
“Itu terdengar seperti kutukan, kau harus menarik kata-katamu,” kesal Marcel.
Arjuna hanya tersenyum, lalu mengangkat dua kardus dari bagasi dan melenggang pergi.
Sungguh. Hanya satu pukulan saja di wajahnya sudah cukup untuk Marcel.
***
Reta menyadari dirinya ketiduran ketika merasakan gerakan di sekitarnya. Reta sedikit membuka matanya dan mendapati dirinya masih berada di dalam tenda, tapi tidak ada Kirana maupun anak-anak. Melainkan ... Marcel.
Pria licik itu tampak sedang mencari-cari di sekitar tubuh Reta. Reta bisa menebak apa yang dia cari. Namun, Reta yang tidur dalam posisi miring, bisa merasakan ponselnya ada di bawah lehernya.
Ketika Marcel memegang bahu Reta dan menariknya untuk memutar posisi tubuh Reta, Reta langsung melompat pada Marcel dan membuat pria itu terbaring di bawahnya, tertindih tubuh Reta kini.
“Kau ...”
“Dasar m***m,” desis Reta.
“Aku ...”
Reta menghentikan kalimat Marcel itu dengan menggerakkan tangannya di leher pria itu. Reta mendongak dan bisa melihat tatapan marah pria itu padanya. Reta tersenyum.
“Kau yang meminta ini. Jangan menatapku seperti itu.” Reta mengerdip pada pria itu. Reta beranjak duduk, tapi masih tak menyingkir dari atas tubuh Marcel.
“Menyingkir dariku sebelum ada yang melihat kita,” geram Marcel.
Reta menelangkan kepala. “Jika aku tidak mau?” tantangnya.
Marcel sudah mendaratkan tangan di pinggang Reta, sepertinya berniat mengangkat Reta. Namun, pintu tenda tiba-tiba tersibak dan Eza masuk sambil bersorak.
“Yeay! Kita bermain kuda-kudaan!” seru Eza.
Lalu, Eza berlari ke depan Reta dan melompat ke d**a Marcel, mendarat di sana dengan keras. Marcel terbatuk karena serangan dadakan itu. Dhita yang kemudian menyusul, langsung mengomeli Eza,
“Eza, kenapa kau malah bermain-main? Kita ke sini untuk membangunkan Tante Reta.”
“Aku sudah bangun, omong-omong.” Reta menunjuk dirinya sendiri.
Dhita menoleh pada Reta dan tampak kaget karena Reta ada di atas tubuh Marcel.
“Tante juga kenapa ada di situ?” tanya Dhita bingung.
“Seperti yang dikatakan Eza. Kami sedang bermain kuda-kudaan,” jawab Reta sembari tersenyum lebar
“Tapi, sudah waktunya mandi. Jika kita tidak segera mandi, nanti Mama marah,” ucap Dhita penuh peringatan.
“Ah, benar juga. Jam berapa sekarang?” tanya Reta.
“Sudah jam lima sore, Tante,” jawab Dhita.
“Uwaaah ... pasti sangat dingin,” keluh Reta.
“Ada air hangat,” sebut Marcel.
“Setelah keluar dari air hangat, tetap akan terasa dingin,” sahut Reta.
“Kau ini benar-benar sama seperti anak-anak.” Suara itu datang dari Kirana yang membungkuk di depan tenda. “Berhenti menyiksa Marcel dan cepat mandi.”
Reta mendecak kesal. Sekarang dia diperlakukan seperti anak-anak.
“Semakin sore akan semakin dingin, “ Kirana berkata lagi. “Cepat mandi dan keluar kemari. Kalian bisa menghangatkan tubuh dengan api unggun.”
Eza dan Dhita bersorak senang, lalu berlari keluar. Sementara, Reta menyempatkan membungkuk untuk berbisik di telinga Marcel,
“Tunggu aku selesai mandi. Aku akan membutuhkanmu untuk menghangatkan tubuhku.”
Reta lalu turun dari tubuh Marcel dan menyambar ponselnya, lalu merangkak ke pintu tenda. Sebelum keluar, Reta memberi tahu informasi penting abad ini pada Marcel,
“Jika kau menginginkan ponselku, ambil sendiri di kamar mandi. Aku tidak akan mengunci pintunya untukmu.”
***
Marcel benci pikirannya yang mempertimbangkan penawaran Reta mengenai mengambil ponsel wanita itu di kamar mandi. Marcel sudah pernah melihat tubuh Reta ketika dulu dia nyaris mati di tangan wanita itu. Dia juga sudah melihat wanita itu dalam bikini renang. Marcel hanya harus menjaga pandangannya ketika masuk ke kamar mandi nanti. Dia akan langsung kabur setelah mendapatkan ponsel Reta.
Dan semua pikiran itulah yang membuat Marcel mulai membenci dirinya. Ia mulai merasa dirinya semakin licik, seperti Reta. Jika Marcel berhasil mendapatkan ponsel Reta dan kabur dari kamar mandi, Reta mungkin akan mengejar Marcel bahkan meski dia tak memakai apa pun. Jika itu Reta, wanita itu mungkin akan melakukan itu.
Tentu saja, setelah memberi undangan gila seperti itu pada Marcel, tak ada hal gila lain yang tak akan dilakukan wanita itu. Dan Marcel harus berhati-hati, kecuali dia ingin Kirana dan anak-anak melihat Reta berlarian telanjang di halaman villa.
Tidak. Malam ini adalah kesempatan sempurna. Jika Marcel bisa tidur di tenmpat yang sama dengan Reta. Entah itu di kamar atau di tenda, Marcel akan beraksi malam ini. Rencana ini jauh lebih baik daripada rencana menerobos kamar mandi.
Ya. Ini jauh lebih baik.
***
Reta mengumpat kesal ketika Marcel tidak datang juga setelah dia berendam hampir setengah jam. Sialan pengecut itu. Reta keluar dari kamar mandi dengan tubuh menggigil kedinginan.
Ketika mandi air panas, hanya tersisa waktu yang singkat untuk menempatkan tubuh dalam posisi hangat sebelum tubuh mulai merasa kedinginan. Terlebih, ketika berada di tempat dengan suhu yang dingin. Itu pun, angin luar yang masuk begitu saja lewat kaca jendela yang dihancurkan Reta.
Pengawal bodoh itu benar-benar membuang waktu Reta. Jika tahu begini, Reta pasti sudah keluar dari bathtub sejak tadi dan pergi mencari kehangatan. Ya, maksud Reta adalah tubuh pria itu. Reta tidak akan melepaskannya.
Setelah berganti pakaian, Reta sengaja tidak memakai jaket atau pakaian hangat apa pun. Dia hanya memakai kaus tipis dan celana pendek. Begitu Reta keluar dari villa, anak-anak sudah duduk di sekitar api unggun, Eza dipangku Arjuna dan Dhita bersebelahan dengan Kirana.
Sementara Marcel ... aha! Pria itu sedang memanggang daging. Tanpa ragu, Reta berlari ke tempat pria itu dan memeluknya dari belakangnya. Marcel bahkan tidak terkejut dengan serangan dadakan Reta ini.
“Kenapa kau tidak datang? Aku menunggumu sedari tadi,” Reta berkata kesal.
“Kau pikir aku sudah gila? Aku tidak sebodoh itu untuk masuk dalam jebakan licikmu,” desis Marcel.
“Lalu, kau benar-benar sedikit pun tak memikirkan untuk datang?” Reta mengusap-usap perut Marcel.
“Singkirkan tanganmu dariku,” geram Marcel.
“Sebentar. Perutmu terasa hangat,” balas Reta. Reta tidak berbohong. Mungkin karena pria itu berada di depan panggangan, tubuh depannya terasa hangat. Tidak. Ini bisa dibilang panas. Reta menyelipkan tangan ke balik kaus Marcel dan langsung merasa hangat.
“Kau ...”
“Wah ... benar-benar hangat ...” Reta menempelkan wajah di punggung Marcel.
“Tanganmu ... dingin ...” ucap Marcel.
“Ya. Setelah aku berendam begitu lama dan langsung terekspos angin luar, apa yang kau harapkan?” balas Reta. “Dan karena itu salahmu, kau yang harus bertanggung jawab juga.”
***
Marcel menunduk menatap tangan Reta yang menempel di perutnya, di balik kausnya. Tangan wanita itu terasa dingin. Dan dia tak menggerakkan tangannya dengan gila seperti sebelum-sebelumnya. Jadi, Marcel hanya membiarkannya dan melanjutkan memanggang daging.
Namun, Marcel tidak seharusnya berpikir seperti itu tentang Reta. Tidak ada yang baik-baik saja ketika wanita itu berada sedekat ini dengan Marcel. Karena ketika Marcel lengah, tiba-tiba tangan wanita itu mendarat di bagian bawah tubuh Marcel.
“Wah, kau tidak terangsang dengan sentuhanku?” Reta terdengar takjub. “Sepertinya kau impoten.”
Wanita gila ini ...
Marcel menarik tangan Reta dan berbalik. Satu tangannya memegangi tangan Reta, matanya menyorot marah pada wanita itu.
“Jangan macam-macam,” geram Marcel. “Kesabaranku juga ada batasnya.”
Reta tersenyum. “Ya. Aku sudah tidak sabar ingin melihat batas itu.”
Marcel melepaskan tangan Reta dan menarik napas dalam, menenangkan diri. Tentu saja, wanita ini akan berusaha memancing Marcel. Ugh. Marcel benar-benar tak bisa lengah barang sedetik pun melawan wanita ini.
***