Keluarga. Itu adalah satu-satunya kata yang muncul di kepala Reta ketika melihat interaksi Arjuna, Kirana, dan anak-anak mereka. Hal yang tak pernah dimiliki Reta. Keluarga.
Hubungan Reta dan papanya tak lebih seperti hanya hubungan bisnis. Reta tak bisa melakukan apa pun yang diinginkannya dan harus melakukan apa pun yang diinginkan papanya. Hidupnya diatur sedemikian rupa. Bahkan ... Reta tidak bisa berteman dengan orang yang dia inginkan.
Demi meraih kebebasannya, Reta harus melawan papanya sendiri. Jika Reta bisa merebut tampuk pimpinan perusahaan dari papanya, Reta bisa membuat kesepakatan dengan papanya. Reta bisa melakukan apa yang dia inginkan jika dia sudah berada di puncak, di mana papanya tak bisa melawannya. Untuk itu, Reta harus menjadi lebih kuat.
Karena itulah, ia tak bisa menyebut papanya sebagai keluarganya. Karena seumur hidupnya, Reta selalu hidup untuk mengejar ekspektasi papanya. Tidak pernah ada percakapan hangat, senyum hangat, atau pelukan hangat, seperti yang dilihatnya di depan mata saat ini.
Reta tahu, ekspektasi papanya padanya terlalu tinggi. Namun, Reta juga manusia. Terkadang sulit baginya untuk mengejar semua kesempurnaan yang diinginkan papanya. Dan ketika hal yang paling berharga bagi Reta direnggut darinya ... Reta dibuat tak berdaya. Ia tak bisa melakukan apa pun selain menyerah.
Namun, sekarang tidak begitu lagi. Reta tidak akan seperti itu lagi. Ia akan melindungi Kirana. Ia akan menjadi kuat dan melindungi orang-orang yang berharga baginya. Sebelum itu ... Reta tidak seharusnya berada di sini, bersama Kirana dan keluarganya.
Selain Kirana, Reta juga mengkhawatirkan Marcel. Pengawal kepala batu itu benar-benar membuat Reta kewalahan. Tak peduli seberapa banyak pun serangan Reta, dia selalu bisa bertahan, bahkan terkadang menyerang balik. Masalahnya, jika sampai sesuatu terjadi padanya, bagaimana dengan Kirana?
Melihat hubungan Kirana dan pengawalnya, Reta tahu, Kirana akan menangis seperti apa jika sesuatu terjadi pada pengawalnya itu. Bagi Kirana, Marcel sudah seperti kakaknya. Jika harus memilih siapa orang yang akan menyakiti Marcel, lebih baik Retalah orangnya.
Setidaknya, Reta tidak akan sampai membunuh pria bodoh itu.
***
Marcel memperhatikan cara Reta menatap Arjuna, Kirana, dan anak-anak mereka. Apa wanita itu merasa tersisihkan? Tidak. Ia justru tampak ... merasa iri. Bahkan ketika mereka bersaing saat mereka remaja, Reta tak pernah benar-benar merasa iri pada Kirana, hingga dia terpaksa menjauh dari Kirana demi melindungi Kirana. Namun, saat ini ... Marcel tak mungkin salah melihat itu.
Apa yang membuat Reta bereaksi seperti ini? Kirana dan Arjuna? Kebahagiaan Kirana? Tidak. Reta selalu mengharapkan itu. Jika bukan itu ... apakah kenyataan bahwa Kirana sudah memiliki keluarga kecil yang bahagia itu yang membuat Reta bereaksi seperti ini?
Jika mengingat hubungan Reta dengan papanya, Marcel bisa mengambil satu kesimpulan. Keluarga. Reta yang selalu melakukan semuanya sendiri, berkeras menghadapi semuanya sendirian, tentu merasa kesepian. Namun, lebih dari itu, tak adanya peran keluarga di belakangnya, pasti membuat wanita itu merasa lebih kesepian. Dia ... bahkan harus melindungi Kirana dari satu-satunya orang yang disebutnya keluarga.
Sepertinya, Reta sudah menentukan targetnya. Melawan ayahnya sendiri demi melindungi Kirana. Namun, apakah wanita itu cukup kuat untuk melakukan itu? Ditambah lagi, dengan teror yang terus menyerangnya belakangan ini.
Dan Marcel masih juga belum mendapatkan petunjuk tentang pelakunya. Sial. Jika terus begini, Reta bisa benar-benar diserang di depan mata Marcel.
Sebenarnya, akan lebih memudahkan Marcel jika Reta mau bekerja sama dan membiarkan Marcel membantunya. Saat ini, Reta belum sepenuhnya mengizinkan Marcel untuk berada di sampingnya. Tak peduli betapa takutnya wanita itu, dia tidak akan mengulurkan tangan lebih dulu dan meminta bantuan Marcel.
Satu-satunya cara adalah Marcel harus bertahan, apa pun yang terjadi. Dia hanya harus berada di belakang Reta hingga wanita itu tak lagi punya kekuatan kaki untuk berdiri dan Marcel bisa menangkapnya. Marcel hanya harus menunggu hingga Reta benar-benar jatuh dan tak punya pilihan selain berpegangan tangan pada Marcel.
Dan jika itu semua gagal ... Marcel hanya harus masuk dengan sendiri ke hidup wanita itu. Bahkan meski dengan paksa sekalipun.
***
Setelah Arjuna membawa anak-anak ke dalam, Kirana masih tinggal di depan api unggun dengan Reta. Sementara Marcel pergi entah ke mana.
“Besok, kami akan pulang,” Kirana membuka percakapan.
“Oh, benarkah?” Sepertinya, Marcel sudah berbicara pada Arjuna tentang kejadian di supermarket tadi.
“Aku tidak bodoh, Reta. Tapi, aku tidak akan bertanya,” Kirana berkata lagi.
Reta menatap api unggun di depan mereka. “Tunggu aku ... sebentar lagi, Kirana.”
“Setidaknya, biarkan Marcel ada di sampingmu dan membantumu. Hanya itu yang kuminta dan aku tak akan bertanya apa pun lagi, Reta,” ucap Kirana penuh permohonan.
Reta menghela napas. “Dia bisa berada dalam bahaya, Kirana.”
“Dia akan melindungimu,” balas Kirana keras kepala. “Dan aku sudah cukup kau bodohi selama ini. Jadi, jangan melakukan hal seperti itu lagi padaku.”
Reta menoleh kaget pada Kirana. “Kirana, kau ...”
“Kau pikir, aku tak akan tahu apa pun meski kau, Marcel, dan Arjuna menyembunyikan semuanya dariku?” sengit Kirana. “Setelah aku tahu apa yang kau lakukan untukku di belakangku, bagaimana bisa aku ... membiarkan diriku tetap berada di sana, tanpa tahu apa pun?”
Reta mengernyit. Reta salah perhitungan. Kirana tidak bodoh. Bagaimana bisa Reta melewatkan hal itu? Dulu, Reta sempurna menipu Kirana karena hanya dirinya yang tahu tentang itu. Namun, Kirana sudah tahu apa yang disembunyikan Reta. Tentu dia juga memikirkan banyak hal lainnya yang disembunyikan Reta.
Reta terlalu meremehkan Kirana. Dan alasan Kirana mengirim Marcel untuk melindungi Reta, kemungkinan adalah karena dia tahu apa yang dihadapi Reta. Bahkan meski dia tahu ... dia tetap datang kemari. Kirana benar-benar ...
“Setelah aku tahu apa yang harus kuhadapi, aku juga melakukan persiapan sendiri. Dan sekarang ada Arjuna juga. Setelah apa yang terjadi padaku dulu, aku tidak akan membuat diriku menjadi kelemahanmu lagi.” Kirana tampak bersungguh-sungguh.
“Kau benar-benar ...” Reta mendengus pelan dan memeluk Kirana. “Aku akan baik-baik saja. Selama kau baik-baik saja.”
“Hal yang sama berlaku untukku. Jadi ... jangan terlalu menyiksa Marcel dan biarkan dia menjagamu,” Kirana meminta.
“Jika dia bisa bertahan beberapa waktu lagi, aku akan memikirkannya,” ucap Reta. Meski ia tak bisa menjanjikan itu.
Karena begitu melihat kemungkinan Marcel berada dalam bahaya, mungkin Reta yang akan membuatnya pingsan dan menendangnya keluar dari hidup Reta.
***