12 – Tantangan

1108 Kata
  Begitu Marcel kembali ke tempat api unggun setelah entah dari mana, Kirana dan Arjuna akhirnya masuk ke villa. Marcel menarik kursi di sebelah Reta dan mengambil jarak satu meter dari Reta sebelum duduk. Reta mendengus meledek pria itu. “Takut terbakar?” ledek Reta. Marcel tak menjawab. “Kau dari mana?” tanya Reta. Masih tak ada jawaban. “Tadi aku berbicara dengan Kirana,” singgung Reta. “Aku benar-benar lupa jika dia dulu adalah sainganku di sekolah. Aku terlalu meremehkannya.” “Apa maksudmu?” tanya Marcel. “Dia tahu apa yang sedang kuhadapi. Mungkin, dia sudah tahu semuanya.” Reta menghela napas. “Dia pernah kubodohi sekali, dan dia tak akan membiarkan dirinya kubodohi dua kali.” Reta mendengus geli. “Dia tampak benar-benar bertekad kali ini.” Marcel masih terdiam, tapi Reta bisa melihat kerutan di keningnya. Pria itu berpikir keras. “Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan Nonamu itu, jadi lebih baik kau kembali ke sisinya,” Reta berkata. “Jika dia ...” “Tidak,” sela Marcel. “Hah?” “Jika memang Nona Kirana sudah tahu, itu menjadi alasan untukku bertahan di sampingmu,” jawab Marcel. “Dari mana logika itu?” protes Reta. “Nona pasti akan lebih berhati-hati dan menyiapkan diri,” jawab Marcel. “Baik Arjuna maupun Nona Kirana, karena mereka sudah tahu, mereka pasti akan melakukan hal yang lebih baik untuk melindungi keluarga mereka, jadi aku tak perlu khawatir. Justru, jika sesuatu terjadi padamu, aku yang akan mendapat masalah. Aku tak ingin Nona kecewa padaku. Aku tak ingin melihat Nona sedih. Karena itu, kau bisa menyerah. Apa pun yang kau lakukan padaku, itu tidak akan membuatku mundur.” Reta mendengus. “Itu berarti, kau siap menghadapi apa pun, kan?”   “Daripada kita membuang-buang waktu seperti ini, kenapa kau tidak menceritakan detail situasinya padaku?” Marcel berkata. “Tentang apa yang akan kau lakukan setelah ini. Atau bagaimana kau akan menghadapi teror-teror itu?” Reta menelengkan kepala. “Satu hal yang pasti. Teror-teror itu mungkin hanya berniat menakut-nakutiku. Aku tidak akan benar-benar mati, jadi aku hanya perlu mengabaikan itu. Sementara, tentang rencanaku ... kenapa aku harus mengatakannya padamu?” cibir Reta. “Sudah kubilang, daripada membuang-buang waktu ...” “Sudah kubilang, aku tak akan melibatkanmu,” Reta menyela kalimat Marcel. “Tapi, aku mungkin akan membuat pengecualian.” Marcel menoleh padanya. “Apa?” Reta tersenyum. “Jika kau tidur denganku, aku mungkin akan memberitahumu rencanaku.” Marcel mengernyit. “Kita akan tidur di mana?” tanya pria itu. Reta mengerjap kaget. “Kau ... serius?” Marcel mengangguk. “Ya. Jadi, di mana?” Sekarang, Reta yang harus menenangkan diri dan berpikir cerdas. Pria itu pasti hanya menggertak. Reta tidak akan goyah. “Di kamarku,” jawab Reta. Kita akan lihat, siapa yang akan menyerah lebih dulu. ***  Setelah mengetahui jika Kirana juga sudah tahu tentang apa yang dihadapi Reta, Marcel merasa lega. Kirana tidak akan melakukan hal ceroboh dan lebih berhati-hati lagi, jadi Marcel hanya perlu fokus pada Reta. Maka, dia akan melakukan apa pun untuk memenangkan babak ini. Saat ini, yang terpenting bagi Marcel adalah keselamatan Reta. Akan lebih baik baginya jika Reta memberitahukan rencananya pada Marcel. Marcel mungkin bisa membereskan masalah Reta tanpa harus melibatkan wanita itu. Maka, di sinilah mereka berada. Marcel mengikuti Reta ke kamarnya, tapi angin dingin yang berembus melewati tirai jendela kamar itu membuat Reta bergidik. Reta menggeram kesal. “Jika seperti ini, sama saja dengan tidur di tenda,” desis Reta. “Tapi, aku tidak mau melewati malam pertamaku di tenda yang sempit itu.” Malam pertama? Cih! Apa wanita itu sudah gila? *** Reta seolah bisa mendengar suara lonceng ketika menyadari apa yang terjadi saat ini. Reta dan Marcel berbaring bersisian di atas tempat tidur yang sama. Namun, hanya satu hal yang dilakukan Marcel. Menggenggam tangan Reta. “Permisi, maaf, jadi, apa maksudnya semua ini?” Reta mengangkat tangannya yang digenggam pria itu. “Kau bilang, kita akan tidur bersama,” sebut Marcel. “Sekarang, kita bisa tidur.” “Apakah otakmu tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya?” balas Reta kesal. “Atau, kau mendadak bodoh?” lanjut Reta. “Tidakkah kau seharusnya paham apa yang kumaksudkan?” “Tidak,” jawab Marcel dengan tidak tahu malunya. “Kalau begitu, akan kutunjukkan padamu,” ucap Reta, sebelum dia berguling ke atas tubuh Marcel. Reta menggunakan satu tangannya yang tidak digenggam pria itu untuk membuka kancing kemeja Marcel. Pria itu tak berusaha menghentikan Reta. Lalu, Reta teringat. Apakah pria ini akan membuat Reta pingsan? Menyadari itu, Reta seketika menyingkir dari pria itu dan menjaga jarak aman, meski satu tangannya masih ada di genggaman Marcel. “Kenapa? Kau tiba-tiba takut?” tanya Marcel. Tak ada nada meledek dalam suaranya, tapi justru itu terdengar menyebalkan.   “Kau tidak punya dasi?” tanya Reta. Marcel mengerutkan kening ketika menatap Reta. “Dasi? Untuk apa?” “Mengikat tanganmu,” jawab Reta. “Apa?” Marcel mengerutkan kening. “Untuk mengeliminasi kemungkinan kau membuatku pingsan,” Reta memberitahu. Marcel mendengus pelan. “Ah, sayang sekali kau mengingat itu di saat genting seperti tadi.” “Apa kau menungguku menelanjangimu baru kau akan membuatku pingsan?” sengit Reta. “Lalu, ketika kau sadar, aku akan memberitahu jika kau pingsan setelah kita melewati malam yang panas dan menggairahkan,” balas Marcel. “Malam yang panas, huh?” sinis Reta. “Aku hampir mati kedinginan di sini.” Mengejutkan Reta, tiba-tiba Marcel  menarik tangan Reta hingga Reta merapat ke tubuhnya. Pria itu memeluk Reta tanpa mengatakan apa pun. Kedua tangannya kini melingkar di tubuh Reta, sekaligus mengurung kedua tangan Reta. Entah kenapa, Reta merasa seperti ... terpenjara. “Dan apa yang kau lakukan ini?” tuntut Reta kesal. “Membuatmu tetap hangat,” balas Marcel. “Aku nyaris tak bisa bernapas,” desis Reta. “Kau butuh bantuan napas buatan?” Marcel  masih berani membalas Reta. “Jika kau berani.” Reta mendongak menatap pria itu. Reta terkejut ketika pria itu benar-benar menunduk ke arahnya. Bibir mereka nyaris saling menyentuh. “Kau benar-benar butuh napas buatan?” tanya pria itu, seolah menatang Reta. Pria itu salah memilih lawan. Reta tak pernah  mundur dari tantangan. “Ya,” jawabnya tegas. Ketika pria itu benar-benar menempelkan bibir mereka, Reta membuka mulutnya sedikit, bersiap menggoda pria itu. Namun, tiba-tiba ia merasakan udara ditiupkan ke mulutnya. Reta seketika tersedak dan mundur. Pria gila ini ... Reta kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Marcel. Namun, kali ini ia menggigit bibir pria itu keras-keras. Namun, pria itu bahkan tak berjengit atau mundur. Ketika Reta melepaskannya dan mundur, dilihatnya bibir pria itu berdarah. Benar-benar lawan yang tangguh. Dan menyebalkan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN