“Kau benar-benar tak tahu kata menyerah, huh?” cibir Reta.
“Kau sebaiknya berhenti keras kepala dan tidur saja,” balas Marcel.
“Tidak akan,” Reta menolak. “Kau pasti akan mengotak-atik ponselku.”
“Jika kau tidak mau aku melakukannya, lebih baik kau sendiri yang menghapus semua foto dan video tak penting itu,” sebut Marcel.
“Tidak bisa,” tolak Reta. “Itu harta berhargaku.”
Marcel mendengus tak percaya. “Ada diriku di dalam gambar dan video itu, jadi aku berhak atas gambar dan video itu.”
“Hal yang sama berlaku untukku,” balas Reta. “Atau, kau mau gambarmu kuburamkan? Atau kumozaik? Sekalian saja aku mengubah suaramu. Jadi, kau akan tampak seperti kriminal yang sedang diwawancara di acara televisi itu.”
Wanita ini terbuat dari apa sebenarnya?
“Jadi, kau benar-benar tidak akan menyerahkannya dengan damai?” tantang Marcel.
“Kau pikir aku bodoh?” balas Reta. “Dan aku tidak suka perdamaian jika itu berurusan denganmu.”
“Boleh aku tahu kenapa?” tanya Marcel sambil menahan kesal.
“Karena aku suka melihat ekspresi kesalmu. Itu adalah mahakarya yang hanya bisa kuciptakan dari dirimu,” ucap wanita itu dengan bangga.
Sungguh. Alasan gila yang hanya bisa diucapkan wanita gila ini. Kirana benar-benar tak bisa dibandingkan dengannya. Jika dibandingkan Reta, Kirana ... tampak normal.
Marcel pikir, ia sudah terbiasa dengan kegilaan yang dilakukan Kirana. Dia pikir, tidak ada yang bisa mengalahkan itu. Namun, Reta menghancurkan semua pikiran Marcel itu. Jika Kirana dulu ke mana-mana selalu membawa bom yang siap diledakkan kapan pun, di mana pun, Reta lebih berbahaya lagi.
Wanita ini tidak hanya membawa bom, tapi juga granat, bahkan meriam, yang terbang dari segala macam arah dan akhirnya mendarat tepat di depan Marcel. Membuat Marcel tak bisa berkutik. Seperti saat ini.
“Omong-omong, apa kau begitu suka memelukku?” Reta tiba-tiba mencondongkan wajah ke depan dan mengusap-usapkannya ke d**a Marcel.
“Apa kau kucing?” sengit Marcel.
“Apa aku seimut kucing?” balas Reta. “Atau, kau ingin kucakar? Kebetulan tadi aku sudah menggigitmu.”
“Aku bisa melakukan ini semalaman,” Marcel mengingatkan.
“Aku juga,” jawab Reta. “Aku tidak akan tidur dan menikmati pelukan eratmu ini sepanjang malam.” Reta kembali mengusapkan wajahnya ke d**a Marcel.
Marcel mengembuskan napas kesal.
“Sebaiknya kau menyerah dan tidur saja,” balas Reta. “Dan biarkan aku melakukan sesuatu dengan tubuhmu.”
Marcel memejamkan mata, lalu menarik napas dalam, dan mengembuskannya perlahan.
“Ya, ya, lakukan saja itu sepanjang malam,” ledek Reta. “Perlu aku bantu memberi aba-aba?”
Wanita ini benar-benar tak melewatkan satu pun kesempatan untuk menyerang Marcel. Dia benar-benar melakukannya dengan penuh tekad jika itu tentang membuat Marcel kesal. Apa yang harus Marcel lakukan dengan wanita keras kepala ini?
“Kau sebaiknya menyerah,” Reta berkata, seolah menjawab tanya dalam kepala Marcel barusan. “Aku sama sekali tak seperti Kirana. Kau seharusnya sudah menyadari itu.”
Ya, Marcel sudah menyadari itu. Sangat menyadari itu. Namun, bukan berarti Marcel bisa menyerah di sini seperti ini. Tidak ada jalan mundur bagi Marcel. Ia tidak akan mengecewakan Kirana.
“Hei,” panggil Reta.
Marcel tak menjawab.
“Kau begitu mencintai Kirana?” tanya wanita itu.
Marcel masih tak menjawab.
“Kau melakukan ini karena kau mencintai Kirana, kan?” sebut Reta.
Jika sudah tahu, kenapa dia masih bertanya?
“Itu berarti, kau akan melakukan apa pun sesuai yang diperintahkan Kirana,” ungkap Reta.
Tentu saja. Marcel akan melakukan apa pun demi melihat kebahagiaan Kirana.
“Kalau begitu, jika kau jatuh cinta padaku, apa kau akan melakukan semua yang kuperintahkan?” tanya Reta.
Marcel tanpa sadar sudah mendengus, menertawakan ide itu dengan dengusan. Reta mengumpat menanggapinya.
“Sepertinya, aku harus membuatmu jatuh cinta agar aku bisa membungkam mulut menyebalkanmu itu,” sengit Reta.
“Silakan, jika kau bisa,” balas Marcel enteng.
“Kau sepertinya begitu percaya diri dengan cintamu untuk Kirana,” singgung Reta. “Apa yang membuatmu begitu mencintai Kirana?”
Apa Reta pikir, Marcel akan sukarela menjawab pertanyaan seperti itu darinya?
“Apa karena dia cantik?” tanya Reta. “Tapi, bukankah aku lebih cantik?”
Ada apa dengan wanita ini? Apa dia begitu terobsesi dengan kecantikan?
“Kapan kau pertama kali jatuh cinta pada Kirana?” tanya Reta lagi. Wanita itu terus bertanya dengan natural, seolah mereka dalam sesi wawancara.
Namun, siapa yang melakukan wawancara dalam posisi seperti mereka saat ini, ketika Reta berada dalam dekapan Marcel, dengan kedua tangannya ditahan di sisi tubuhnya oleh Marcel? Tentu saja, jika ada yang mampu melakukan itu, Retalah orangnya. Wanita itu mampu melakukan hal gila apa pun. Tak ada yang perlu diragukan tentang itu.
Meski begitu, Marcel tak bisa untuk tak memikirkan pertanyaan wanita itu. Kapan pertama kali Marcel jatuh cinta pada Kirana?
Sejujurnya, Marcel tak ingat kapan dan bagaimana ia berakhir jatuh cinta pada Kirana. Namun, satu hal yang ia ingat, ketika ia tahu Kirana berperang sendirian, dalam kesepian, demi melindungi sahabat yang telah mengkhianatinya, Marcel berpikir ... dia harus melindungi wanita itu.
Setelah Marcel tahu tentang rahasia Kirana, dia ingin memberitahu papa Kirana. Karena bagaimanapun, Marcel harus melaporkan semuanya pada papa Kirana. Namun, Kirana yang saat itu berpikir jika papanya membencinya, tak ingin membuat papanya melihat sisi dirinya yang itu juga. Meski begitu, Marcel berkali-kali mencoba membujuk Kirana untuk bicara dengan papanya. Hasilnya, tentu saja Kirana menolak setiap kalinya.
Dan Kirana memberikan kepercayaannya pada Marcel sepenuhnya karena Marcel tak pernah mengkhianatinya dalam masalah itu. Saat itu, mungkin itulah satu-satunya cara bagi Kirana untuk menyelamatkan persahabatannya dengan Reta. Ia ingin mengakhiri semua hubungan dengan Reta, tak ingin lagi persahabatan mereka lebih hancur lagi, dia berusaha mati-matian melindungi ikatan persahabatan mereka yang sudah hancur itu, bahkan meski dia harus mengorbankan dirinya sendiri.
Syukurlah, Kirana akhirnya bisa mendapatkan sahabatnya kembali. Meski, masih butuh beberapa waktu lagi sebelum dia benar-benar bisa menghabiskan banyak waktu dengan sahabatnya. Dan sampai waktu itu tiba, tugas Marcel adalah menjaga sahabat Kirana ini dan memastikan dia baik-baik saja.
“Halo? Permisi?” Panggilan menyebalkan Reta itu membuat Marcel kembali pada apa yang harus dihadapinya demi Kirana.
Marcel mendecak kesal, mengundang komentar Reta,
“Kupikir kau sudah tidur.”
Berurusan dengan wanita ini sangat melelahkan. Apa sebaiknya Marcel pura-pura tidur saja?
“Kau benar-benar sudah tidur?” tanya Reta.
“Ya,” jawab Marcel.
“Menakjubkan sekali. Bahkan ketika tidur pun, kau masih menyebalkan,” cibir Reta. “Tapi, aku suka dengan kegigihanmu itu. Jadi, lanjutkan saja. Kau sepertinya sudah bertekad untuk memelukku semalaman.”
Marcel tak menanggapinya.
“Jika kau melepaskan tanganku, aku akan memberimu pelukan yang sama eratnya,” bujuk wanita itu.
Seolah Marcel akan terbujuk dengan tipuannya. Marcel tahu lebih baik dari siapa pun kegilaan macam apa yang bisa dilakukan dua tangan wanita itu. Maka, alih-alih menjawab, apalagi menuruti bujukan iblis wanita di pelukannya ini, Marcel menyuarakan dengkuran.
“Penipu Busuk, kau bahkan tak bisa berakting dengan baik. Suara dengkuranmu terdengar seperti suara kodok, tahu,” maki Reta.
Wanita gila ini dan mulut berbisanya ... ugh!
***