14 – Pagi yang Berat

1181 Kata
  “Kalian tampak seperti tidak tidur semalaman,” komentar Arjuna ketika Reta dan Marcel turun untuk sarapan. “Memang tidak,” balas Reta. “Kami melewatkan malam bersama dengan sangat panas.” Arjuna mengangkat alis meragukan. “Lihat saja bibir Marcel,” singgung Reta. “Itu adalah hasil dari malam panas kami.” Arjuna meringis. “Itu tampak menyakitkan.” Arjuna menatap Marcel. “Kau baik-baik saja?” “Aku merasa seperti menjaga kucing semalaman,” balas Marcel. Reta membalas dengan mengeong dan menggerakkan tangannya seolah mencakar. “Sayang sekali aku belum sempat mencakarmu,” celetuk Reta kemudian. “Omong-omong, di mana Kirana dan anak-anak?” “Mereka sudah menunggu kalian di halaman,” jawab Arjuna. “Anak-anak langsung kabur ke tenda begitu mereka bangun.” “Anak-anak itu benar-benar penuh semangat,” cetus Reta. “Melihat mereka berlarian saja rasanya sudah melelahkan bagiku.” “Kau tak perlu memperjelas jika kau sudah tua,” tanggap  Marcel. “Dan kau pikir kau masih muda?” cibir Reta. “Kupikir, aku dewasa,” sahut Marcel. “Oh ya?” Reta melirik tubuh bawah Marcel. “Kau bahkan tak berani melakukan apa pun dengan tubuh dewasamu itu.” “Dan kau sepertinya tak bisa jika tidak melakukan setiap hal kekanakan dengan tubuh ringkihmu itu,” balas Marcel. “Ringkih, katamu?” Reta melotot tak terima. “Kau mau lihat apa saja yang bisa kulakukan padamu sepanjang malam dengan tubuh ringkih ini?” “Maaf, tapi aku tidak tertarik,” jawab Marcel sembari melenggang meninggalkan Reta dan Arjuna. “b******n Busuk Sialan!” maki Reta kasar, mengiringi kepergian Marcel. “Wow ... sungguh makian yang menyegarkan, Reta,” komentar Arjuna. “Tenanglah, aku tidak akan mengatakan hal seperti itu di depan anak-anak,” Reta menangkannya. “Terima kasih atas pengertianmu,” sahut Arjuna. “Dan jika kau sudah siap sarapan, kau bisa bergabung dengan Kirana dan anak-anak.” “Ya, ya,” balas Reta cuek sembari berjalan ke pintu depan. Namun, dalam perjalanan ke pintu saja, Reta menguap setidaknya tiga kali. Sialan, Pengawal Bodoh itu benar-benar menghancurkan pagi Reta dengan sempurna! *** Marcel sedang membantu Kirana menyiapkan sarapan untuk anak-anak ketika tiba-tiba, seseorang memeluknya dari belakang. Tanpa menoleh pun, Marcel tahu siapa pelakunya. Wanita itu menyembulkan kepala dari sisi kiri tubuh Marcel dan berbicara pada Kirana, “Kirana, apa kau lihat mahakaryaku?” Kirana menatap Reta dan mengangkat alis. Reaksi yang sama dengan Arjuna. “Bibir seksi Marcel sudah kutandai dengan cantik,” ucap Reta dengan nada genit. Kirana menghela napas. “Aku tadi sudah melihatnya, tapi aku tak tega bertanya langsung pada Marcel. Kurang lebih aku bisa membayangkan apa yang terjadi karena Arjuna tadi pagi memberitahuku jika kalian tidur di kamar yang sama.” “Kau tidak terkejut? Kau tidak khawatir padaku?” kaget Reta. “Khawatir kenapa?” balas Kirana geli. “Aku tidur dengan pengawal setiamu ini.” Reta menuding wajah Marcel. “Hanya tidur, kan?” Kirana tersenyum geli. “Aku mengenal dia dengan cukup baik untuk tahu tentang hal seperti itu, Reta. Marcel paling andal dalam hal pengendalian diri. Meski kau adalah orang pertama yang berhasil memancingnya sejauh itu. Tapi, untuk yang satu itu, aku bisa dengan percaya diri mengatakan, Marcel cukup kuat untuk menahan diri dari godaanmu.” Reta memutar mata kesal. “Itu benar-benar membosankan.” Reta menoleh pada Marcel hanya untuk mengulangi, “Kau benar-benar membosankan, Marcel. Sebaiknya kau ganti saja namamu menjadi Marcella.” Kirana menyembur tertawa mendengar itu. “Reta semakin kreatif saja jika itu berurusan dengan Marcel,” komentar Arjuna yang baru tiba. “Tentu saja,” balas Reta. “Dia adalah sumber inspirasiku. Sekaligus mahakaryaku.” Marcel diam-diam menghela napas. Korbannya, lebih tepatnya. Atau bisa dibilang, target yang harus dihancurkan, bagaimanapun caranya. “Lihat ini, bahkan reaksinya saja membosankan,” cibir Reta. “Hei, hei!” Reta menusuk-nusuk lengan Marcel. “Tak bisakah kau tenang dan duduk saja?” protes Marcel akhirnya. “Tidak bisa,” jawab Reta. Tentu saja. Itu adalah jawaban paling benar jika itu untuk Reta. “Reta, jika kau terus menantang Marcel, dan suatu saat nanti kau yang kalah, apa yang akan kau lakukan?” tegur Kirana. Reta mendengus tak percaya. “Aku kalah? Apa maksudmu?” dengusnya. “Justru aku yang akan membuat pengawalmu ini bertekuk lutut padaku. Aku akan membuatnya jatuh cinta padaku.” “Itu tidak mungkin,” tanggap Marcel tanpa ragu. “Aku adalah lawan kata dari ketidakmungkinan,” balas Reta penuh percaya diri. “Dan apa yang akan kau lakukan jika Marcel jatuh cinta padamu?” tanya Kirana. “Memerintahkannya untuk menyingkir dari hidupku,” jawab Reta dengan bangganya. Kirana tersenyum geli. “Kalau begitu, coba lakukan sekuat tenaga untuk membuat Marcel jatuh cinta padamu,” ucap wanita itu. “Aku akan sangat senang jika itu benar-benar terjadi.” “Nona Kirana ...” “Reta tidak seburuk yang kau pikir, Marcel. Dan kurasa, kau yang paling tahu tentang itu,” ucap Kirana. “Hello? Apa kalian membicarakanku tepat di depan hidungku?” Reta mengingatkan. “Itu lebih baik daripada kami membicarakanmu di belakangmu,” Kirana membalas. “Kau pintar sekali menjawab,” desis Reta. Bukankah Reta juga sama saja? Wanita itu tak pernah kehabisan kata untuk menjawab Marcel. Bahkan dengan jawaban paling tidak masuk akal sekalipun. “Tapi, jika kau ingin memujiku di depan pria ini, kau seharusnya mengatakan sesuatu seperti aku cantik, baik hati, sempurna, dan sebagainya,” protes Reta pada Kirana. Apa itu bahkan masuk akal? “Reta, kau tidak seharusnya berbohong,” komentar Arjuna. “Apa kau tak malu pada anak-anak?” Reta mendesis kesal pada Arjuna. “Bahkan tanpa aku mengatakan itu pun, Marcel pasti sudah tahu,” Kirana berkata. Reta menoleh pada Marcel. “Benarkah?” Mata wanita itu berbinar penuh harap. “Maaf, aku tidak mendengar apa yang kalian bicarakan,” jawab Marcel netral. Sebagai balasan, Reta mengumpat kasar pada Marcel. Ya. Reta selalu seperti ini. Lalu, kenapa dia berkeras ingin menjadi baik hati? Iblis akan tertawa jika melihat itu. *** Marcel si pengawal es ini benar-benar sulit digoyahkan. Jika dia pohon, Reta ibaratnya sudah bergelantungan di dahannya agar pohon itu bergoyang, tapi dia hanya merontokkan daunnya. Marcel seperti pohon itu. Sejujurnya, Reta juga ingin mencakar wajah pria itu hanya agar dia bisa melihat perubahan ekspresi di wajahnya. Jika Reta melakukannya, tentu pria itu akan kesal. Mungkin dia akan memaksa Reta memakai sarung tangan setelahnya. “Jika kau mulai memikirkan hal bodoh, sebaiknya kau menyerah,” celetuk Marcel tiba-tiba. Reta menatapnya takjub. “Hebat sekali kau bisa tahu. Aku baru saja berpikir  untuk mencakar wajahmu,” aku Reta. “Tidak, terima kasih,” tolak Marcel. “Biarkan aku melakukannya dulu, baru akan kuterima ucapan terima kasihmu,” ucap Reta. “Kau bilang, kau ingin membuatku jatuh cinta,” singgung Marcel tiba-tiba. Reta mengangkat alis. “Kau siap untuk jatuh cinta padaku?” Marcel menoleh pada Reta. “Tidak. Aku hanya ingin bilang, semoga sukses membuang waktumu dengan sia-sia.” Lalu, pria itu melenggang pergi ke arah tenda untuk memanggil anak-anak, meninggalkan Reta mendesiskan umpatan kesal. Reta memulai paginya dengan sangat menyebalkan. Terima kasih pada Marcel. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN