Kirana dan anak-anak bereaksi berlebihan ketika mereka berpamitan untuk pulang sore itu. Mereka memeluk Reta begitu lama hingga Reta tak bisa bernapas.
“Cepat pergi dan berhenti menggangguku,” usir Reta kesal.
“Tante Cantik pasti akan merindukan kami,” celetuk Eza.
“Kepercayaan diri dari mana itu?” balas Reta.
“Karena kami juga akan merindukan Tante.” Eza tersenyum lebar.
Baiklah, Reta kalah.
“Om Marcel, jangan lupa tugas Om Marcel pada Tante Reta, ya,” pesan Dhita.
Reta mengangkat alis dan menoleh pada Marcel. “Tugas apa?”
“Kau tak perlu tahu,” balas Marcel dalam desisan pelan di sela giginya.
Reta hanya menanggapi dengan cibiran meledek. Dan ketika akhirnya keluarga Kirana meninggalkan villa-nya, entah kenapa Reta merasa ... villa itu lebih sepi dari biasanya.
Menambah parah situasi itu, Marcel kemudian berkata, “Aku akan berada di mobil, kalau-kalau membutuhkanku.”
Reta menahan tangan Marcel. “Aku membutuhkanmu sekarang,” Reta berkata. “Aku mendadak merasa kesepian, jadi temani aku.”
Marcel menarik lengannya dari pegangan Reta. “Aku sedang tidak mood meladenimu. Kau juga sebaiknya gunakan waktumu untuk istirahat. Aku akan mengawasi dari luar sini.”
Lalu, pria itu benar-benar meninggalkan Reta dan pergi ke mobilnya. Benar-benar kejam. Bagaimana bisa dia melakukan itu pada Reta?
Kenapa pula Reta masih bertanya? Toh, Marcel memang selalu melakukan itu.
Hanya saja ... saat ini, Reta benar-benar tidak ingin sendirian. Pria itu benar-benar tidak peka. Karena itu, dia tidak punya kekasih. Cih!
***
Marcel memutuskan untuk mengecek Reta saat jam makan malam. Namun, Marcel dibuat terkejut melihat Reta yang tidur di sofa ruang tamu. Tidak. Wanita itu sepertinya tak sengaja tertidur di sana. Dia hanya berbaring di sofa tanpa selimut. Dan di sana ... wanita itu tampak kesepian. Sendirian.
Marcel menghela napas, lalu menghampiri dan membangunkannya. Wanita itu masih tampak mengantuk ketika Marcel mengguncang bahunya pelan untuk membangunkannya.
“Ini sudah jam makan malam,” Marcel mengingatkan Reta. “Makanlah, lalu lanjutkan tidurmu di kamar.”
Reta mengerang kesal. Wanita itu mendecakkan lidah sebelum beranjak duduk, masih dengan mata sangat mengantuk.
“Aku tidak lapar,” ucap wanita itu sembari menyandarkan kepala di sandaran sofa.
“Kau tetap harus makan meski kau tak lapar,” Marcel menekankan.
“Apa kau ibuku? Kenapa kau cerewet sekali masalah aku makan atau tidak?!” kesal wanita itu. Sepertinya suasana hatinya semakin buruk karena dia kurang tidur.
“Aku akan menyiapkan makan malam untukmu, jadi mandilah dulu,” Marcel memerintahkan.
“Siapa yang mau mandi malam-malam begini?” cibir Reta.
“Aku akan ke atas dan menyiapkan air hangat di bathtub ...”
“Aku malas naik ke atas, jadi aku akan mandi di bawah saja,” sela Reta.
“Akan kusiapkan di kamar mandi di kamar bawah, kalau begitu,” sahut Marcel.
Marcel lantas meninggalkan Reta dan mengisi air bathtub di kamar mandi kamar bawah. Setelahnya, Marcel menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Marcel melakukan ini bukan karena suka, tapi karena tanggung jawab. Karena semua staf villa sudah disuruh Reta pulang tadi bersamaan dengan perginya Kirana dan keluarganya.
Itulah alasan Marcel pergi ke mobil. Meski itu pengecut, tapi ya, Marcel melarikan diri dari Reta. Marcel juga butuh istirahat. Satu-satunya alasan wanita itu mengusir semua staf villa ini adalah agar dia bisa mengganggu Marcel lagi seperti sebelum Kirana datang.
Namun kenapa ... setelah mengusir semua orang pergi, wanita itu malah tampak kesepian di sini?
***
Apa Reta harus senang atau kesal?
Marcel ada di sini. Di depan matanya, makan malam bersamanya. Ini situasi yang aneh, tapi ... tidak buruk juga. Meski pria itu masih bisa membuat Reta kesal karena dia begitu diam, tak berbicara sama sekali, membuat seolah kehadirannya tak berasa.
“Katakan sesuatu,” tuntut Reta. “Kenapa kau mendadak begitu diam?”
“Kau memang harus tenang ketika makan, jadi cepat habiskan makan malammu dan tidurlah,” jawab Marcel.
Reta mendesis kesal. “Kau benar-benar berbakat menjadi seorang ibu.”
Marcel mengabaikan Reta.
“Besok aku akan pergi dari sini, jadi kau juga sebaiknya segera pergi dari sini,” Reta berkta.
“Ya, aku akan pergi ke mana pun kau pergi,” balas Marcel.
“Tidak, tidak,” tolak Reta. “Tolong pergilah ke mana tidak ada aku di sana.”
“Tidak bisa,” jawab Marcel.
“b******n Keras Kepala ...”
“Makanlah dengan tenang.”
“Aku mendadak ingin muntah karena makan sambil melihatmu.”
“Jika kau mau obat anti muntah, carilah di kotak obat.”
Reta menggeram kesal. Pria itu benar-benar ...
“Aku sudah kenyang!” Reta menyentakkan sendoknya dengan keras ke piringnya. “Aku mau tidur.”
Sebenarnya, Reta butuh tidur lebih dari apa pun. Karena semalam ia tak tidur sama sekali. Berkat Marcel. Dan setelah apa yang dilakukannya hingga membuat Reta tak tidur semalaman, sepertinya dia tidak begitu meributkan ponsel Reta sekarang.
“Tadi ketika aku tidur, kau sama sekali tak menyentuh ponselku, kan?” Reta memastikan.
“Bagaimana bisa aku menyentuh ponsel yang kau selipkan di balik pakaianmu seperti tadi?” sengit Marcel.
Reta mendengus. “Kau sebaiknya menyerah jika kau bahkan tak bisa menjangkau bagian itu.”
Marcel menghela napas. “Jika kau sudah selesai dengan makan malammu, pergilah tidur.”
“Jika kau sudah tidak sabar untuk tidur denganku, baiklah. Akan kuturuti permintaanmu,” balas Reta, sengaja membuat Marcel kesal.
Namun, pria itu tidak goyah. Dia makan dengan tenang hingga akhir, lalu mengikuti Reta ketika Reta naik ke kamarnya. Apakah malam ini juga akan menjadi malam tanpa tidur untuk Reta?
Sial. Ia tak tahu sampai kapan ia bisa bertahan dengan ini.
“Oh ya, besok aku akan pergi. Jangan berpikir kau bisa mengikutiku besok,” ucap Reta penuh peringatan.
Tentu saja, Marcel tak menanggapinya. Reta mendecak tak puas dengan reaksi pria itu. Reta membuka pintu kamarnya dan masuk, Marcel mengikuti.
“Dengar, besok aku harus ke kantor, jadi aku butuh tidur malam ini. Karena itu ...” Kalimat Reta terhenti ketika dia melihat noda merah memenuhi tempat tidurnya. Itu seperti ... darah.
Marcel melewati Reta dan mendekat ke tempat tidur, memeriksa selimut yang sudah berlumuran warna merah. Pria itu mengangkat selimut itu dan mendekatkannya ke hidung, mendeteksi baunya, lalu mengernyit.
“Ini ... darah,” ucap Marcel.
Reta mengepalkan tangan ketika perlahan ketakutan menyelinap. Lagi-lagi, zona amannya ditembus. Sungguh. Apa-apaan ini ...
***