“Lihat ekspresimu sekarang. Kau tampak benar-benar akan memangsaku di sini.” Kata-kata Reta itu menampar Marcel, membuat Marcel langsung menarik kaki Reta yang melingkar di pinggangnya.
Marcel turun dari sofa dan menatap Reta tajam. “Kau ... sejak awal kau tak ingin bekerja sama denganku, kan?” tembak Marcel.
Reta tersenyum miring. “Uh-oh, tampaknya seseorang baru patah hati.”
Marcel menyipitkan mata kesal. “Kita sudah membuat kesepakatan.”
“Dan kesepakatan tentang apa itu tepatnya?” balas Reta santai. “Kau menjadi asisten pribadiku. Kau ada di sampingku untuk melindungiku. Hanya itu. Apa aku salah?”
Marcel mengernyit. Ya. Reta benar. Wanita itu tak pernah menyebutkan jika dia tidak akan berhenti mengganggu Marcel.
“Jika kau ingin bekerja sebagai asisten pribadiku, seharusnya kau siap dengan semua resikonya,” sebut Reta. “Atau, jika kau mau berhenti ...”
“Tidak,” putus Marcel. “Aku tidak peduli apa pun yang kau lakukan padaku. Sebagai gantinya, aku bisa berada di sampingmu dan menjagamu, mengetahui semua jadwalmu, sebagai asisten pribadimu.”
Reta mengangguk. “Ah, untuk jadwalku, kau tidak lupa, kan, aturannya?” Reta mengetuk bibirnya. “Morning kiss.”
Marcel menarik naapas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. “Ya.”
Marcel sudah sampai sejauh ini, ia tidak akan mundur di sini. Perbedaan besar sebelum dan sesudah kontrak itu, jika dulu pergerakan Marcel terbatas dan dia tak bisa berada di samping Reta di perusahaan, kali dia bisa mengikuti Reta ke perusahaan, juga ke mana pun wanita itu pergi, dan dengan siapa pun dia bertemu. Dengan itu, Marcel sudah mengambil satu langkah ke depan.
Meski bayarannya, berkali-kali Marcel nyaris menabrak batasnya sendiri.
***
Sebenarnya, memiliki Marcel di sampingnya dan membantunya tidak buruk juga. Namun, Reta tahu batasannya. Saat ini, Reta hanya membiarkan Marcel di sampingnya karena teror-teror kecil itu. Sejauh ini, tidak ada serangan yang terlalu berhaya.
Setidaknya dengan begini, Reta bisa membuat Marcel diam. Reta hanya harus berpura-pura menerima perlindungannya. Sembari Reta menyiapkan semuanya sebelum dia memulai perlawanan pada papanya di perusahaan. Reta hanya harus membuat Marcel bingung beberapa waktu seperti ini.
Hanya satu yang Reta takutkan. Reta menatap Marcel yang masih menatapnya seolah Reta sudah menipunya mentah-mentah. Begitu pria itu mengambil keputusan dan bertindak sendiri. Saat itu, Reta tak tahu bagaimana pria itu akan mengacaukannya.
***
Malam sudah sangat larut dan Reta sudah tidur. Namun, Marcel masih terjaga. Dia tidur di sofa ruang tamu malam itu. Namun, bukannya tidur, Marcel malah membuka laptop Reta.
Marcel tidak bodoh. Reta sedang menyiapkan sesuatu tanpa memberitahukan apa pun padanya. Karena itu, Marcel harus mencari tahunya sendiri. Dan jawabannya itu ia dapatkan dari laptop Reta.
Wanita itu pasti tak mengira Marcel akan bertindak seperti ini. Dia pasti berpikir jika dia sudah menipu Marcel. Namun, Marcel sudah cukup tertipu sekali ketika wanita itu merencanakan menjebak musuh di restoran tadi.
Dan apa yang Marcel dapatkan dari laptop Reta itu membuat Marcel mendengus tak percaya. Reta ... berusaha menemui orang-orang dan menawarkan kerja sama dengan orang-orang yang mau mendukungnya alih-alih ayahnya.
Pertama-tama, Marcel akan mengikuti rencana Reta dan melindungi wanita itu di belakangnya. Ia masih belum tahu apa yang akan dilakukan ayah Reta jika tahu Reta merencanakan pemberontakan. Namun, Marcel harus mencari tahu lebih banyak tentang ayah Reta.
“Well, well, well ... lihat apa yang dilakukan tikus kecil ini di belakangku?” Suara Reta itu membuat Marcel menoleh ke pintu kamar Reta yang sudah terbuka dan Reta sudah berdiri di sana dengan tangan terlipat di d**a.
Ah. Sepertinya, lagi-lagi Marcel jatuh pada jebakan Reta. Sial. Ia terus saja melakukan hal-hal seperti yang diinginkan Reta. Jika terus seperti ini ...
“Bagaimana perasaanmu setelah tahu apa yang sedang kukejar?” tanya Reta sembari keluar dari kamarnya dan menghampiri Marcel.
“Apa pun itu, aku akan membantumu,” janji Marcel.
“Tapi, kau tak akan bisa membantuku karena kau tak punya apa-apa,” balas Reta sembari duduk di sofa.
“Aku ...”
“Jika kau mengganggu atau menghalangiku, aku mungkin akan harus menyingkirkanmu dengan tanganku sendiri,” sebut Reta.
“Aku tak peduli,” balas Marcel. “Aku hanya akan melakukan apa yang harus kulakukan.”
“Ya, ya, ya, terserah padamu,” sahu Reta sembari mengibaskan tangannya. “Tapi, kau harus berhati-hati.” Reta tersenyum miring. “Wanita yang ada di depanmu ini adalah wanita ular. Dan dia berbisa.”
“Aku tahu itu dengan baik,” balas Marcel.
“Tapi, aku penasaran, sampai sejauh mana bisaku akan menghancurkanmu?” Reta menggeser tubuhnya hingga mereka duduk bersebelahan tanpa jarak. “Kupikir, aku sudah cukup memasukkan bisaku ke dalam tubuhmu. Hanya seiring waktu itu akan menghancurkanmu.”
Tangan Reta merayap di paha Marcel. Dan semakin ke atas, hingga ke pangkal pahanya. Marcel menahan tangan Reta, tapi wanita itu tiba-tiba mencium bibir Marcel. Marcel kontan langsung mendorong bahu Reta.
“Aku penasaran, sejauh mana aku bisa menggoda kau yang impoten,” ucap Reta dengan santainya. “Karena sepertinya, kau sudah berada di batasmu.” Reta tersenyum miring. “Kau yakin kau benar-benar impoten?”
Tangan Reta yang tak dipegangi Marcel tiba-tiba sudah mendarat di bagian bawah tubuh Marcel. Marcel terkejut dan langsung mendorong Reta hingga wanita itu jatuh terbaring di sofa. Namun, wanita itu lantas menoleh ke samping dan tiba-tiba lidahnya menyapu lengan Marcel.
Marcel menggigit lidahnya keras-keras ketika ia nyaris mengerang karena serangan dadakan itu. Sementara, Reta tak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah. Marcel tak punya pilihan lain.
Marcel menarik Reta duduk bersamanya, sebelum ia memukul tengkuk Reta dengan keras dan membuat wanita itu tak sadarkan diri. Tubuh wanita itu seketika jatuh pada Marcel, tubuhnya bersandar di tubuh Marcel.
Marcel menghela napas dan menunduk untuk menatap bagian bawah tubuhnya. Seperti yang dikatakan Reta, wanita itu sudah menanamkan bisanya di tubuh Marcel. Dan gigitan Reta tadi hanya menambah bisa itu dan membuat Marcel benar-benar melewati batasnya.
Sekarang, apa yang harus Marcel lakukan? Reta masih tak memercayai Marcel dan wanita itu terus mengincar Marcel. Jika terus seperti ini, Marcel akan kehilangan kendali lebih dulu sebelum dia sempat melakukan apa pun untuk Reta.
Sial. Kenapa pula tubuhnya harus bereaksi seperti ini pada Reta? Ugh! Reta benar-benar wanita ular dengan bisa mematikan.
***