“Apa yang akan kau lakukan jika aku tadi tidak datang?” omel Marcel ketika mereka meninggalkan toilet.
“Aku hanya harus menunggu sampai ada staf restoran yang datang dan mengecek,” jawab Reta.
“Itu bisa saja seharian dan ...”
“Dan aku yakin kau pasti akan datang,” sela Reta. “Karena selama ini, kau selalu bisa menemukanku. Di mana pun itu.”
Marcel terkejut juga mendengar jawaban Reta itu. Marcel berdehem.
“Tapi, jika memang itu rencanamu, kenapa kau tadi mengajakku ke toilet?” tanya Marcel. “Rencanamu bisa berantakan jika aku ikut pergi ke toilet tadi.”
Reta mendengus geli. “Aku tahu kau tidak akan ikut pergi. Karena ada hal lain yang menarik perhatianmu,” jawab Reta. Jadi, dia juga tahu tentang mobil yang mengikuti mereka. “Dan itu membuatku sedikit cemburu.”
Marcel menghela napas. “Lain kali, jangan merencanakan hal-hal seperti ini sendirian,” ucapnya penuh peringatan.
“Kenapa? Ini seru!” ucap Reta riang. “Dan aku senang melihat kau mengkhawatirkanku.”
Marcel mengernyit. “Kau ...”
“Ah! Makanan kita sudah datang!” Reta berlari meninggalkan Marcel untuk pergi ke meja mereka.
Marcel menghela napas dan akhirnya hanya mengikuti wanita itu. Terlepas dari insiden barusan, Reta tampak lahap menyantap makan siangnya. Ini benar-benar berbeda dengan ketika apartemen atau villa-nya diterobos. Begitu pun ketika mereka di supermarket di kawasan villa itu. Saat itu juga ... Reta tak sedikit pun tampak terganggu dengan teror itu.
Namun, kondisi wanita itu berbeda ketika dia menemukan kamera tersembunyi di apartemennya, atau selimut yang berlumur darah di villa-nya. Saat itu, meski Reta tak mengatakan apa pun, tapi Marcel bisa merasakan ketakutannya. Namun saat ini, Reta masih tampak begitu santai, seolah tadi tak terjadi apa-apa.
Wanita itu seperti koin dua sisi. Di banyak kesempatan, di satu situasi yang sama, dia bisa memberikan dua reaksi yang berbeda. Seharusnya Marcel tahu. Sejak awal, Reta adalah orang yang bertahun-tahun menjadi antagonis demi melindungi Kirana. Sejak awal, Reta sudah membawa dua sisi koin itu dalam dirinya.
Marcel memperhatikan ekspresi Reta. Dia benar-benar tidak tampak ketakutan sedikit pun. Malah, dia kemudian bertanya pada Marcel,
“Selama aku sibuk dengan orang itu, apa yang kau lakukan di sini?”
Marcel menghela napas. “Aku memasang alat pelacak di mobilnya.”
Reta bersiul pelan. “Good job. Jika kau tidak melakukan itu, aku pasti sudah mengusirmu sekarang.” Reta mengerdip.
Marcel mengabaikan Reta dan mengecek dari ponselnya, ke mana alat pelacaknya kini berjalan pergi.
“Orang itu pergi,” Marcel memberitahu Reta.
“Hm ... apa dia tipe yang pergi setelah memberiku hadiah?” tanya Reta.
“Sepertinya begitu, untuk mencegah kemungkinan tertangkap,” jawab Marcel.
“Apa dia semacam Santa yang datang hanya untuk mengantar hadiah?” cibir Reta.
Marcel menatap Reta lekat. Wanita itu tampak begitu santai.
“Jangan meremehkan situasi ini,” sebut Marcel.
“Aku tidak meremehkan situasi ini,” balas Reta.
“Kau tampak begitu santai ...”
“Karena aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini,” ungkap Reta.
“Kau sudah terbiasa?” sengit Marcel. “Kau bahkan gemetar ketakutan ketika kau diserang di apartemen dan villa-mu?”
Reta menyipitkan mata. “Apa katamu?” Suara wanita itu terdengar berbahaya. “Gemetar ... ketakutan?”
Marcel sadar ia sudah keterlaluan. “Maaf, maksudku ...”
“Jadi, begitukah kau melihatku selama ini?” Reta mendengus sinis. “Kau selalu bersikap seolah kau adalah penyelamatku, pelindungku, tapi ternyata itukah yang kau pikirkan tentangku? Gemetar ketakutan, huh?” Reta tertawa kemudian.
Marcel mengernyit. “Reta, aku ...”
“Tapi, apa yang harus kulakukan?” Reta menelengkan kepala. “Saat ini aku gemetar karena jijik melihat topeng munafikmu itu.”
Marcel menghela napas. “Maaf. Aku sudah keterlaluan tadi ...”
“Maaf?” Reta menyela. “Apa kau benar-benar menyesal?”
Marcel mengangguk. “Ya.”
Betapa pun Marcel tak menyukai Reta, betapa pun ia membenci wanita itu, tak seharusnya ia mengatakan hal seperti itu pada Reta.
“Kalau begitu, tunjukkan penyesalanmu ketika kita pulang nanti,” tuntut Reta.
Marcel menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. “Aku akan melakukan apa pun yang kau minta.”
“Kupegang kata-katamu,” balas Reta.
Lalu, wanita itu makan dalam diam, sepenuhnya mengabaikan Marcel setelahnya. Sepertinya, dia benar-benar marah pada Marcel. Yah, Marcel akui, ia memang sedikit keterlaluan tadi.
***
Seorang pria dengan rambut ikal dan mata cokelat madu, menatap lurus ke arah sosok Mareta Sania yang bersama seorang pria yang tak dikenalnya. Mereka duduk berhadapan di restoran itu dan menyantap makan siang mereka dalam diam.
Namun, ia memperhatikan pria yang bersama Reta itu terus menatap Reta dengan waspada. Apa hubungan mereka?
Ah, ini benar-benar menyebalkan. Sudah sejak lama dia mengincar Mareta Sania. Dia adalah wanita yang kuat dan memiliki kekuasaan. Bagaimanapun caranya, ia harus mendapatkan wanita itu.
Ia akan membuat wanita itu menikah dengannya. Ia akan membuat wanita itu menjadi istrinya. Bagaimanapun caranya.
***
Reta masih tak mengatakan apa pun dalam perjalanan pulang ke apartemen wanita itu. Hingga akhirnya mereka tiba di apartemen dan Reta duduk di sofa, lalu menatap Marcel tajam.
“Duduklah,” ucap wanita itu sembari mengedik ke sebelahnya.
Marcel menuruti Reta dan duduk di sebelah wanita itu. “Reta, aku ...”
“Kau benar-benar menyesal?” Reta menyela kalimat Marcel.
“Ya,” aku Marcel.
“Kalau begitu, bermainlah denganku.”
Lalu tiba-tiba, wanita itu melompat ke pangkuan Marcel. Marcel terlalu terkejut untuk menghindar. Itu terlalu tiba-tiba. Dan itu bukan akhirnya.
Reta kemudian mengaitkan kakinya di pinggang Marcel, mengunci Marcel di sana, lalu wanita itu menunduk dan berbisik di telinga Marcel,
“Sekarang, siapa yang gemetar ketakutan?”
Sial! Marcel seharusnya tahu, wanita ini bukan tipe yang akan terluka karena hal seperti itu. Reta bahkan tak peduli dengan hal seperti itu. Marcel benar-benar tertipu.
Masalahnya, sekarang apa yang harus ia lakukan untuk membebaskan diri dari neraka ini?
Tubuh Marcel rasanya seolah terbakar. Ia benar-benar sudah mencapai batasnya. Marcel melingkarkan satu tangan di pinggang Reta dan tangan yang lainnya memegangi bahu Reta, lalu Marcel mendorong Reta hingga wanita itu berbaring di sofa dan Marcel kini berada di atasnya.
Sial. Marcel tak bisa berpikir jernih.
***