20 – Rencana Tersembunyi

1208 Kata
  Marcel memperhatikan Reta yang terus bersenandung sejak mereka masuk ke restoran. Begitu mereka duduk, seorang pelayan menghampiri mereka untuk menerima pesanan. Reta memesan dan wanita itu bahkan memesan untuk Marcel juga. Namun, fokus Marcel sama sekali tak tertuju pada wanita itu, melainkan ke arah pelataran parkir yang tampak dari tempatnya duduk saat ini. Marcel menatap ke arah sebuah mobil SUV hitam yang terparkir di deret paling ujung mobil-mobil yang ada di pelataran parkir restoran. Tampak pengemudinya, seseorang dengan pakaian serba hitam dan masker warna yang sama. Pria itu juga memakai topi baseball warna gelap. Dari sini, Marcel tak bisa melihat wajahnya. “Marcel, aku mau ke toilet,” ucap Reta tiba-tiba. “Pergilah,” jawab Marcel. “Kau tak mau mengantarku?” tanya Reta. Marcel kembali menatap Reta untuk  menjawab, tapi ia merasakan sesuatu menyapu kakinya, merayap naik dan mendarat di pahanya. Marcel memundurkan tubuh dan menatap Reta tajam. “Tidakkah kau membuat kakimu bekerja terlalu keras belakangan ini?” kesal Marcel. Reta tertawa. “Karena itu, ketika kita pulang nanti, bisa kau lanjutkan memijat kakiku?” pinta Reta. “Tidak,” tolak Marcel tegas. Tadi itu benar-benar berbahaya. Marcel benar-benar sudah berada di batasnya. “Cih, tidak seru,” decih Reta seraya berdiri. “Aku akan ke toilet. Ayo pergi.” Marcel menyipitkan mata pada Reta. “Jangan kau pikir aku akan tertipu olehmu,” sengit Marcel. “Kau benar-benar akan membiarkanku pergi sendiri?” Reta memasang tampang memelas. “Aku akan mengawasi tempat ini, jadi kau bisa pergi sendiri,” balas Marcel. “Lagipula, jika aku pergi denganmu ke toilet, kurasa akulah yang akan berada dalam bahaya.” Reta kembali tergelak. “Benar sekali! Kau tahu semua rencanaku bahkan tanpa kuberitahu. Apa kau sudah sedalam itu jatuh cinta padaku?” Reta mengerdip. “Cepat pergi dan jangan lupa bawa ponselmu,” usir Marcel. “Segera hubungi aku jika ada yang aneh.” “Kau yang paling aneh di sini,” balas Reta sembari menyambar ponselnya yang ada di meja dan pergi sambil bersenandung. Sepeninggal Reta, Marcel menoleh ke mobil target pengawasannya tadi. Namun, kursi pengemudi mobil itu sudah kosong. Marcel berdiri dan bergegas keluar dari restoran untuk mengecek ke pelataran parkir. Ia langsung mengecek mobil dan memastikan tidak ada alat pelacak dipasang di sana. Sebaliknya, Marcel memasang alat pelacak di mobil targetnya. Sebenarnya, Marcel sudah melihat mobil ini mengikuti Marcel dan Reta sejak meninggalkan apartemen. Beberapa kali Marcel mengubah jalur, tapi mobil itu terus mengikuti. Seolah ... sengaja  menunjukkan jika dia meneror Reta. Tunggu. Reta! Marcel berlari meninggalkan pelataran parkir sambil menghubungi Reta, tapi wanita itu tak mengangkat ponselnya. Sial, sial, sial! *** Reta bersenandung sembari masuk ke toilet wanita yang kosong. Ia berhenti di depan wastafel dengan cermin besar itu dan meletakkan ponselnya di sana, sebelum tangannya terangkat untuk merapikan rambutnya. “Perfecto!” ucap Reta bangga. “Tidak mungkin Marcel tidak jatuh cinta padaku.” Reta tertawa puas setelah mengatakan itu. Reta masuk ke bilik yang paling ujung dan menutup pintunya. Reta duduk di atas kloset yang maih ditutup. Reta masih bersenandung dan dia membungkuk untuk mengecek stokingnya ketika melihat bayangan dari luar. Ada orang yang masuk ke toilet, tapi tak bersuara. “Marcel?” panggil Reta. Tak ada jawaban. “Aku ada di bilik paling ujung, jadi kau bisa langsung masuk,” Reta berkata. “Jangan malu-malu dan jangan menahan diri. Aku akan mengizinkanmu melepaskan stokingku untukku.” Masih tak ada reaksi. Lalu, Reta mendengar suara dari balik pintu bilik toilet tempatnya berada. Ada seseorang di depan pintu biliknya. Dan Reta tahu, itu bukan Marcel. Reta menunggu hingga orang itu pergi, sebelum dia mencoba membuka pintu bilik toilet itu, tapi tidak bisa. Sialan. Reta terkunci di sini. *** Marcel mengernyit ketika melihat tanda di depan toilet wanita yang menandakan jika toilet sedang dibersihkan. Namun, Reta seharusnya ada di sana. Tidak mungkin ... Marcel berdiri di depan toilet wanita dan mengetuk pintunya. “Reta!” panggil Marcel. Tak ada jawaban. “Mareta Sania!” seru Marcel lebih keras. “Marcel!” Meski teredam, Marcel masih bisa mendengar suara Reta dari dalam. Marcel segera membuka pintu itu dan dia tidak melihat siapa pun di sana. Namun, dia mendengar suara Reta dari ujung toilet, tepatnya di bilik toilet paling ujung. “Marcel, itu benar-benar kau?” tanya Reta. “Ya, ini aku,” jawab Marcel sembari mendekat ke bilik toilet tempat Reta berada itu. Di depan pintunya, Marcel melihat sesuatu terpasang di bagian handle-nya. Sebuah tali tipis yang cukup kuat, seperti senar gitar, terpasang di sana dan terhubung ke handle bilik sebelah yang terkunci. Marcel mengeluarkan pisau lipatnya dan memutus tali itu. Marcel membuka pintu dan dilihatnya Reta duduk di atas kloset dengan kaki tersilang dan rok yang terangkat tinggi hingga nyaris tak menutupi pahanya sama sekali. Ketika tatapan mereka bertemu, Reta mengerdipkan mata. Wanita itu mencoba menggoda Marcel. Tentu saja, Marcel mengabaikannya dan  berbalik. “Sepertinya kau baik-baik saja,” ucap pria itu. “Kau sama sekali tak goyah. Hebat!” Pujian Reta itu terdengar seperti ledekan. “Di mana ponselmu?” tuntut Marcel kesal. “Kenapa kau tak mengangkat teleponku?!” Marcel menatap Reta kesal dari cermin wastafel. Reta yang sudah keluar dari bilik toilet menyusul Marcel dan berhenti di belakangnya. Bayangannya tertutup tubuh Marcel, tapi wanita itu melongokkan kepala dan menatap ke cermin untuk membalas, “Aku meninggalkannya di wastafel.” Marcel menunduk menatap ke arah wastafel dan mendapati ponsel Reta benar-benar ada di sana. “Kau benar-benar ...” “Tapi ... tidakkah ini tampak seksi?” Reta menempelkan tubuhnya di belakang Marcel. Tangannya merayap ke depan dan mendarat di perut Marcel. “Kau bisa melihatku dari cermin dan aku bisa melihatmu dari cermin. Bayangan kita berdua yang saling ...” “Apa kau bahkan tahu apa yang barusan terjadi?” sengit Marcel sembari menahan tangan Reta. “Aku ...” Marcel menarik tangan Reta dan mendorong wanita itu hingga dia terdorong ke wastafel. Apa yang dipikirkan wanita ini? Dia baru saja mendapat teror dan ... “Apa kau khawatir?” tanya Reta. “Sial! Kau baru saja ...” “Dikunci di toilet,” Reta menyambung. “Dia mungkin juga memasang tanda di depan jika toilet tak bisa digunakan atau semacamnya. Dia berencana membuatku ketakutan di sini sendirian.” “Jika kau tahu ...” “Ya, aku tahu,” sela Reta. “Karena itu aku memancingnya kemari.” Reta meraih ponselnya dan Marcel melihat ponsel itu dalam posisi terbalik. Bagian punggung ponselnya yang menghadap ke atas. Dan Marcel tahu alasan kenapa Reta meletakkannya seperti ketika wanita itu menunjukkan sesuatu dari ponselnya kemudian. Sebuah video. Dan dalam video itu ... tampak seseorang yang menatap ponsel itu dari atas. Wajahnya tertutup masker hitam dan dia memakai topi. Namun, dari sudut ini, Marcel bisa melihat matanya dan ... bekas luka di sudut alisnya. “Karena kau mengenal banyak orang-orang seperti ini, kau pasti bisa langsung mengenalinya lewat matanya, kan?” sebut Reta. “Jadi, lain kali kau bisa menemukannya lebih cepat dan menangkapnya. Kita setidaknya punya identitas dirinya yang bisa dikenali.” Reta mengetuk ujung alisnya. “Bukan begitu?” Marcel menatap Reta, tak bisa menyembunyikan keterkejutan. Jadi, semua ini ... Reta merencanakannya sendiri? Wanita itu ... sengaja memancing orang itu kemari dan melakukan ini. Ini semua berjalan sesuai rencana Reta. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN