19 – Serangan Tanpa Henti

1083 Kata
  Ketika mereka tiba di apartemen Reta, wanita itu langsung duduk di sofa ruang tamu dan menepuk pangkuannya. Marcel menyipitkan mata kesal. “Jika kau terus bermain-main ...” “Laptopku,” Reta menyela kalimat Marcel. “Kemarikan laptopku. Aku harus bekerja agar kau berhenti menyebutku bermain-main.” Marcel mengerjap. Ah. Marcel menghampiri Reta dan mengeluarkan laptop Reta dari tas laptop, lalu meletakkannya di pangkuan Reta. Marcel lantas menegakkan tubuh dan berdiri di sebelah sofa tempat Reta duduk. “Jangan hanya berdiri di situ,” ucap Reta. “Duduklah di sebelahku.” “Tidak perlu,” tolak Marcel. “Meski ini tidak terdengar seperti itu, tapi ini perintah,” Reta berkata. “Perlukah aku memberimu perintah yang lebih kejam lagi?” Marcel mengembuskan napas pelan dan akhirnya mengalah. Marcel duduk di sebelah Reta. Tentunya, Marcel mengambil tempat yang paling jauh dari Reta. Melihat itu, Reta berkomentar, “Aku tidak akan memakanmu.” Marcel sama sekali tak bisa percaya itu. Mengingat itu keluar dari bibir yang sama dengan yang tadi menciumnya dan membuat tubuhnya panas. “Marcel,” panggil Reta dengan nada serius. Marcel menatap Reta, waspada. “Aku punya tugas penting untukmu,” ucap wanita itu. Marcel seketika siaga. “Apa? Apa yang harus kulakukan?” tanya Marcel. “Ini adalah tugas penting dan serius. Kau tak boleh  mengacaukannya,” Reta berpesan. “Aku tahu, jadi cepat katakan apa yang harus kulakukan,” kejar Marcel. Apa pun itu, tentu itu jauh lebih baik daripada tidak melakukan apa pun di sini. Marcel bisa menugaskan beberapa orang di sini untuk mengawal Reta sementara Marcel pergi. Lalu ... Pikiran Marcel terhenti, otaknya seolah membeku, ketika tiba-tiba Reta mengangkat kakinya di pangkuan Marcel. “Pijat kakiku,” Reta memberi perintah. “Ini adalah tugas yang penting dan serius. Jadi, jangan  bermain-main.” Marcel tak langsung menanggapi dan hanya mentap kaki Reta di pangkuannya. Wanita itu tadi memakai rok kerja sepaha dan rok itu sedikit terangkat. Marcel mengumpat pelan dan melepas jasnya, lalu menutupkannya ke pangkuan Rta. “Jangan bermain-main denganku,” geram Marcel. “Aku tidak bermain-main. Kakiku benar-benar terasa lelah karena beberapa hari kemarin aku bermain dengan anak-anak,” keluh Reta. “Koreksi kata-katamu,” balas Marcel. “Kau hanya menonton mereka bermain, dan terkadang mengganggu mereka.” “Wah ... kau tahu aku dengan sangat baik,” cetus Reta. “Apa kau sudah jatuh cinta padaku?” Marcel menarik napas dalam, lalu mengembuskannya. “Jika aku memijat kakimu, biaskah kau menutup mulutmu?” “Lihat bagaimana kau melakukannya,” jawab Reta. “Jika kau melakukannya dengan baik, aku akan menutup mulutku.” Marcel sepertinya tak punya pilihan lain. Jika tidak menurutinya, Reta mungkin akan melompat ke pangkuan Marcel. Dan kali ini, karena Marcel adalah asisten pribadinya, wanita itu akan menggunakan segala cara untuk menahan Marcel di sisinya selama dua puluh empat jam. Pada akhirnya, apa yang Marcel pikir adalah pasal yang paling dia butuhkan, menjadi senjata juga bagi Reta. Seperti saat ini. Sebagai asisten pribadi Reta, Marcel dibuat bertekuk lutut di depan wanita itu. “Cepat, cepat,” Reta memburu sembari menggoyangkan kakinya di pangkuan Marcel. Marcel menghela napas dan memijat kaki Reta. Kaki wanita ini tampak kecil di tangan Marcel. Hanya dengan satu genggaman, tangan Marcel bisa melingkari pergelangan kaki Reta dengan mudah. Dengan kaki seperti ini, wanita itu bisa mematahkannya hanya dengan sekali-dua kali jatuh. Dan dengan tubuh seperti ini, bagaimana bisa dia begitu bertekad untuk  menghadapi semuanya sendirian? Seolah dia tak punya takut. Tubuhnya lebih kecil dari Marcel, tapi wanita itu tak pernah memikirkan apa yang bisa terjadi padanya jika ia salah langkah. Pikiran Marcel akan Reta itu terhenti oleh suara aneh yang keluar dari Reta. Marcel menoleh untuk menatap wajah wanita itu, tapi bibirnya tampak tertutup rapat. Apa Marcel salah dengar? Marcel melanjutkan memijat kaki Reta, dan ia kembali mendengar suara itu. Marcel menatap Reta dan dilihatnya bibir gadis itu masih tertutup, tapi Marcel bisa mendengarnya dengan jelas. Wanita itu mengerang dengan suara yang aneh. Ditambah lagi ... dengan ekspresinya. Ekspresi apa itu? Wanita itu menatap Marcel dengan tatapan sayu. Dan sialan suara aneh yang terus dia keluarkan itu. “Apa yang kau lakukan?” desis Marcel kesal. Bukannya menjawab Marcel, wanita itu kembali membuat suara aneh dan menggeser kakinya ke bagian tubuh bawah Marcel, mengusapkannya ke sana. Marcel refleks menahan tangan wanita itu. “Kau benar-benar ...” Reta mengangkat alis. Namun, dengan kakinya ditahan Marcel, dia masih bisa menggerakkan telapak kakinya. Sial. Tubuh Marcel mulai merasa panas. Marcel sudah akan mendorong kaki Reta, tapi wanita itu lebih dulu menarik kakinya. “Apa kau impoten?” tembak Reta tiba-tiba. Ah. Benar juga. Ada cara itu. Marcel cukup percaya diri tentang itu.  “Ya,” jawab Marcel. Reta seketika menyembur tertawa dan menurunkan kakinya. Marcel diam-diam mengembuskan napas lega. Wanita itu tak tahu apa yang terjadi pada Marcel setiap kali dia  menyentuhnya. Jika bukan karena pengendalian diri Marcel yang terlatih begitu lama berkat Kirana, mungkin Marcel juga sudah ... Marcel menghela napas berat. Faktanya, Reta jauh lebih berbahaya dari Kirana. Wanita itu bisa membuat Marcel berada di batasnya. Berkali-kali Marcel nyaris melewati itu. Dengan Reta ... sedikit saja Marcel melewati batas, semuanya akan berakhir. Wanita itu akan memanfaatkannya untuk menyeret Marcel keluar dari hidupnya. “Sayang sekali. Padahal ciumanmu hebat. Tubuhmu seksi. Dan wajahmu ...” Reta tersenyum miring, “rasanya aku ingin menciumi setiap incinya. Dari kening, pelipis, alis, mata, hidung, pipi, bibir ...” Sial. Marcel tak bisa untuk tak membayangkan itu. Namun, Marcel kembali mengingat wajah Kirana. Kirana, Arjuna, dan anak-anak. Itu menjadi penenang Marcel. “Jika kau sudah selesai ...” “Aku belum selesai,” sela Reta. “Tetap di sini sampai jam makan siang. Setelah ini, kita makan siang di luar. Kau sudah mencari restorannya, kan?” “Aku sudah menemukannya. Jadi, jika tak ada lagi yang bisa kulakukan di sini ...” “Ada,” Reta menyela lagi. Wanita itu tiba-tiba menggeser duduknya hingga dia berada tepat di sebelah Marcel, lengannya menempel di lengan Marcel. Sebelum Marcel sempat bertanya atau protes, Reta memutar tubuh hingga kini punggungnya yang bersandar di lengan Marcel. “Aku sedang bekerja keras, jadi setidaknya jadilah sandaranku. Itulah fungsimu sebagai asisten pibadiku. Kau harus menjagaku yang bekerja keras ini dengan baik,” celoteh Reta. Dan wanita itu terus berceloteh tentang hal-hal seperti itu, seolah dia memasang mesin di mulutnya. Dia terus bicara hingga telinga Marcel terasa panas. Selama sedetik, Marcel mendapati keinginan untuk membungkam bibir wanita itu dengan ciuman. Namun, untungnya Marcel segera sadar. Dia benar-benar sudah nyaris mencapai batasnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN