“Selamat untuk pekerjaan barumu.” Reta tersenyum sembari mengulurkan tangan setelah Marcel menandatangani berkas kontrak mereka.
Marcel membalas uluran tangan Reta. Namun, ketika Marcel hendak menarik tangannya, Reta masih menggenggam tangan Marcel.
“Sebagai asisten pribadiku, kau harus berada di sampingku selama dua puluh empat jam, kan?” sebut Reta.
Marcel menatap Reta. Apa lagi yang direncanakan wanita itu?
Marcel mengernyit ketika tiba-tiba Reta maju dan menutup jarak di antara mereka. Wanita itu mendongak dan menatap Marcel. Dia tersenyum dan berkata,
“Kali ini, kau bisa melihatku selama dua puluh empat jam. Kau tak perlu menahan diri.” Reta mengangkat tangan dan menyentuh pipi Marcel. “Jatuh cintalah padaku.”
Apa-apaan kata-kata yang terdengar seperti kutukan itu?
Tentu saja. Wanita itu tidak mungkin menuliskan pasal yang tidak akan menguntungkannya. Karena itulah, Marcel pikir, ia memngambil satu hal yang dia butuhkan. Namun, Reta akan memanfaatkannya seperti ini?
“Entah itu di kamar mandi, atau di mana pun, kau mendapat izinku untuk datang padaku.” Reta tersenyum miring. “Jadi, jangan menahan dirimu.”
Marcel mendengus pelan. “Semoga rencanamu berjalan lancar, kalau begitu. Karena aku sama sekali tak berniat bekerja sama.” Marcel menarik tangannya dari pegangan Reta. “Sekarang, beritahu aku semua jadwalmu untuk hari ini.”
Reta menghela napas dramatis, lalu pergi ke meja kerjanya dan mengempaskan tubuh di kursi kerjanya. Reta memutar kursinya dua kali, sebelum menghentikannya dan menatap Marcel.
“Sebenarnya, hari ini aku ke kantor hanya untuk mengambil laptop, lalu pulang ke apartemenku,” jawab Reta. “Tapi, aku barusan sudah memikirkan jadwal kita seharian ini di apartemen.”
“Apa?” Marcel tahu wanita ini tidak akan menyerah dengan mudah.
“Begitu pulang dari sini, aku ingin membaca beberapa berkas sambil berendam di bathtub, jadi kau bisa menungguiku di sebelahku dan ...”
“Apa kau bercanda?” sengit Marcel. “Bukankah kau sudah menandatangani kontrak itu? Kau sudah menerimaku sebagai asisten pribadimu. Jadi, kau bisa berhenti ...”
“Marcel,” Reta menyela kalimat protes Marcel. “Apa kau tak tahu betapa berbahayanya kamar mandi?”
“Apa?” Marcel tahu Reta tak pernah menggunakan akal sehatnya jika sedang berdebat dengan Marcel, tapi ini sudah keterlaluan.
“Kau bisa membayangkan, aku membaca berkas sambil berendam, lalu karena terlalu lama berendam, aku merasa pusing dan akhirnya pingsan di kamar mandi. Bukankah tugasmu adalah menyelamatkanku saat itu?” argumen Reta.
“Kau benar-benar menggunakan otakmu untuk merencanakan hal murahan seperti itu?” sengit Marcel .
“Ah ...” Reta memegangi dadanya, wajahnya memasang ekspresi seolah dia tersinggung. Meski Marcel tahu dia hanya berpura-pura.
“Berikan aku jadwalmu untuk hari ini,” tuntut Marcel sembari menghampiri Reta.
Reta menghela napas. “Yeah, yeah, meski kau tidak percaya padaku, tapi aku tidak berbohong tentang tidak adanya jadwal untuk hari ini. Aku membatalkan semua jadwal hari ini.”
Marcel menyipitkan mata. “Jika kau melakukan itu hanya untuk mengerjaiku dan membuatku kesal, berhentilah,” ucapnya penuh peringatan.
“Kenapa kau tak pernah mau mendengarkan kata-kata orang lain?” Reta memutar mata sebal.
“Karena kata-katamu terdengar tidak penting, jadi ...”
“Kau akan menyesal jika terus bersikap seperti ini padaku,” sela Reta. “Kali ini, aku akan mengatakan sesuatu yang penting, jadi dengarkan baik-baik.”
Marcel melihat ekspresi serius di wajah Reta. “Katakan padaku.”
Reta menarik napas dalam, mulutnya terbuka, dan dia berbicara, “Nanti siang, aku ingin makan sushi.”
Marcel tahu Reta akan melakukan hal seperti ini. Jadi, ia memutuskan untuk melaju dengan rencananya sendiri.
“Aku akan mencarikan restoran terbaik di daerah sini,” Marcel berkata.
“Good job, Asisten Pribadi,” tanggap Reta. “Tapi, kau tak mau memanggilku Nona, seperti kau memanggil Kirana?”
“Tidak,” jawab Marcel.
“Kalau begitu, panggil aku dengan panggilan yang seharusnya kau lakukan sejak kemarin-kemarin,” tuntut Reta.
Panggilan apa yang diinginkan wanita itu?
“Panggilan yang mana yang kau bicarakan?” tanya Marcel waspada.
“Yang disebutkan Arjuna sebagai tugasmu,” jawab Reta.
Marcel mengerjap, berpikir cepat, lalu sadar.
“Yuhuuu ... hellooo ... aku menunggu panggilanmu, Marcel. Aku sudah siap mendengarkan sekarang,” buru Reta. Wanita itu meletakkan kedua tangan di meja dan menyangga kepalanya di sana. Dia menatap Marcel dan tersenyum.
“Tolong berhenti bersikap kekanakan ...”
“Siapa yang kekanakan di sini?” sela Reta. “Kau yang tidak profesional. Kau bahkan tak bisa memanggilku Nona.”
“Mareta Sania ...”
“Baiklah, aku akan memberimu beberapa opsi, kau bisa memilih sendiri panggilan yang kau inginkan ...”
“Aku tidak menginginkan panggilan apa pun untukmu ...”
“Pertama, dan yang seharusnya, Cantik.” Reta mengerdip pada Marcel. Wanita itu benar-benar mengabaikan protes keberatan Marcel. “Yang kedua, Honey. Ketiga, Baby. Keempat, My Lady. Kelima, Sayang. Keenam, Cinta. Ketujuh, Pujaan Hati. Kedelapan, Tuan Putri. Kesembilan, Yang Mulia Ratu. Kesepuluh ...”
Marcel menggeram kesal. “Berhenti bermain-main!” sentaknya.
Reta mengangkat alis. “Apa kau barusan membentak Bos Cantik-mu ini?”
“Jika kau kemari, kau seharusnya bekerja. Kau tahu situasi bahaya yang terjadi di sekitarmu. Kau tidak seharusnya bermain-main seperti ini, jadi ...”
“Aku tidak akan pergi ke mana pun sampai kau memanggilku dengan salah satu panggilan itu,” Reta berkeras sembari menyandarkan tubuh di sandaran kursi dan memutar kursinya.
“Kau ...”
“Aaa ... aku tidak mendengarmu ...” Reta membuat suara berisik.
“Aku serius ...”
“Apa? Aku masih tak mendengarmu,” Reta tak mau berhenti.
Marcel menarik napas dalam, dan akhirnya berkata, “Cantik.”
Reta langsung melompat dari kursinya dan berdiri. Wanita itu mendekat pada Marcel.
“Bisa kau ulangi?” wanita itu meminta dengan mata berbinar usil.
Marcel menatap Reta. Ia sudah biasa dengan semua kegilaan seperti ini. Tentunya, ini tak ada apa-apanya dibandingkan Reta yang berusaha menyentuh Marcel di mana-mana. Jadi, ini bukan apa-apa.
“Cantik, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Marcel lagi.
Namun, pikiran Marcel salah. Salah besar. Karena kemudian kilat usil di mata Reta itu menjadi lebih berbahaya. Dan sebelum Marcel sempat melakukan apa pun, wanita itu menarik dasi Marcel dan mencium bibir Marcel, bahkan menyapukan lidahnya ke bibir Marcel.
“Morning kiss,” ucap wanita itu ketika melepaskan Marcel. “Mulai hari ini, kita akan melakukannya setiap hari.” Reta tersenyum pada Marcel. “Jika kau melewatkan morning kiss-mu, aku tidak akan memberitahukan jadwalku padamu.”
Marcel menarik napas dalam. Ini bukan apa-apa, ini bukan apa-apa, Marcel berusaha meyakinkan dirinya.
“Sekarang, ayo pulang,” ajak wanita itu. “Bawa laptopku.” Reta mengedik ke laptop di mejanya.
Wanita itu melenggang melewati Marcel sembari bersenandung, sementara Marcel ... ugh, sial. Tubuhnya terasa panas hanya karena ciuman seperti itu. Sialan, Reta!
***