17 – Perjanjian Damai

1038 Kata
  Setelah terbangun karena teror di jendela kamar itu semalam, Reta bisa kembali tidur dan melewati sisa malamnya dengan tidur nyenyak. Mungkin karena Reta sudah terlalu mengantuk. Atau mungkin karena ia tahu, Marcel tidak akan pergi. Dan ketika Reta membuka mata pagi itu, dia yang berbaring miring langsung bisa melihat Marcel yang masih duduk di lantai dengan punggung bersandar di sisi tempat tidur. Ya. Pria itu tidak pergi. Namun, apa semalam pria itu juga tidak tidur? Sepertinya begitu. Hebat juga dia. Bisa dua malam berturut-turut tidak tidur. “Bagaimana kau melakukannya?” tanya Reta. Marcel  menoleh pada Reta. “Kau bicara padaku?” tanya pria itu. Reta mengangguk. “Kurasa, jika aku bisa tidak tidur berhari-hari sepertimu, aku bisa bekerja dengan lebih cepat di kantor,” jawab Reta. “Jika kau melakukan itu, kau akan sakit,” balas Marcel. “Terima kasih untuk kekhwatiranmu,” sahut Reta. “Dan aku bukannya tidak tidur. Aku hanya tidur beberapa menit setiap beberapa waktu,” terang Marcel. “Waktu tidur berkualitas, huh?” sebut Reta. “Jika kau sudah selesai sesi tanya-jawab, sebaiknya kau mulai bergerak alih-alih malas-malasan di situ. Kau bilang, kau harus ke kantor pagi ini,” singgung Marcel. Reta mendecih pelan. “Lihat bagaimana kau mengomel. Menyebalkan.” Reta beranjak duduk dan menggeser tubuhnya ke arah Marcel. Reta sudah akan merangkul Marcel ketika pria itu tiba-tiba maju dan menghindar, membuat Reta nyaris tersungkur jika saja Marcel tidak menahan kening Reta dengan telapak tangannya. “Apa kau ingin mengajak bertengkar di pagi hari yang tenang dan damai ini?” tuntut Reta. “Kurasa itu kalimatku,” balas Marcel. “Kau yang berusaha menyerangku diam-diam dari belakang.” “Aku hanya ingin mengucapkan selamat pagi,” Reta beralasan. “Katakan dari tempatmu berada sekarang,” sahut Marcel. Pria itu tidak goyah sedikit pun. Reta mendesis kesal. “Dasar Pengecut Lemah!” “Apa kau lupa kesepakatan kita semalam?” singgung Marcel. “Aku lupa,” balas Reta asal sembari menarik diri. “Buat hitam di atas putih,” tuntut Marcel. “Ck ck ck ...” Reta menggeleng-gelengkan kepala sok simpati. “Apa selama ini kau hidup dengan selalu ditipu?” “Jika kau lupa, kau yang paling sering menipuku,” Marcel mengingtkannya. “Ah, benar juga.” Reta menggaruk kepalanya yang terasa gatal sembari turun dari tempat tidur. Reta menguap lebar sembari melangkah ke kamar mandi. Reta harus memikirkan dengan serius perjanjian mereka nanti. Reta tidak mau rugi sedikit pun. Terlebih, jika itu menyangkut Marcel. *** Marcel dan Reta keluar dari kamar tidur dan para staf villa sudah mulai bekerja. Sarapan juga sudah disiapkan. Mereka sarapan lebih dulu, sebelum akhirnya pergi dengan mobil Marcel. Reta duduk di sebelah Marcel alih-alih di belakang, membuat Marcel berkomentar, “Aku ini asistenmu, bukan temanmu. Kau tidak seharusnya duduk di situ.” “Aku ini atasanmu, jadi aku bebas mau duduk di mana saja sekukaku. Aku bahkan berhak untuk duduk di pangkuanmu. Mau mencoba?” Tantangan gila Reta itu membungkam Marcel. Lebih baik Marcel tak mengatakan apa pun lagi. Sepanjang perjalanan, Reta tampak sibuk dengan ponselnya. Wanita itu terus mengetik sambil bersenandung pelan. Sepertinya suasana hatinya sedang sangat baik, terlepas dari apa yang terjadi semalam. Dan Marcel baru tahu alasan suasana hati Reta begitu baik ketika mereka tiba di kantor dan Reta mengangsurkan sebuah berkas yang baru saja dibawa masuk sekretaris Reta tak lama setelah Marcel dan Reta tiba di ruangan Reta. Sebuah kontrak. Di mobil tadi, kontrak inilah yang membuat suasana hati Reta begitu baik. Marcel tidak heran, melihat isinya. Pihak B berhak sepenuhnya atas Pihak A dan bebas melakukan apa pun sesuai tindakan yang diperlukan pada Pihak A. Sesuai tindakan yang diperlukan. Seolah Marcel akan percaya itu. Poin di mana dia meminta hak sepenuhnya atas Marcel, Reta jelas-jelas berniat melakukan sesuatu yang akan membuat Marcel meledak karena emosi lagi. “Tanda tangani itu,” perintah Reta. Marcel menatap Reta tajam. “Apa aku tampak begitu bodoh di matamu?” sengitnya. “Kuharap begitu,” Reta membalas. “Sayangnya, kau tidak sebodoh yang kuharapkan.” Reta menyengir. Apa-apaan wanita itu? “Jika kau ingin menipuku, kau tidak seharusnya menuliskannya dengan sejelas ini,” sengit Marcel. “Kau bisa mencoret pasal yang tak kau inginkan. Aku akan me-review-nya. Dan jika alasanmu menolaknya masuk akal, aku akan menurutimu,” ucap Reta. Marcel mengangkat berkas di tangannya. “Bahkan meski dari belasan pasal di sini, hanya akan ada satu pasal yang kuinginkan?” “Jika alasanmu masuk akal, akan kupertimbangkan,” sahut Reta enteng. Marcel mendengus pelan dan akhirnya ia mengeluarkan bolpoin dari saku jasnya untuk melingkari ayat pertama dari pasal pertama dari perjanjian itu. Pihak B akan mempekerjakan Pihak A sebagai asisten pribadi yang bertanggung jawab sepenuhnya atas keamanan Pihak B. Marcel melempar berkas itu ke arah Reta. Reta membaca bagian yang dilingkari Marcel, lalu menatap Marcel. “Kau yakin hanya ini yang kau butuhkan?” Reta mengangkat alis. “Ya,” balas Marcel. “Alasannya, kau seharusnya sudah tahu betapa gilanya pasal-pasal yang lainnya.” Reta tersenyum lebar. “Roger that. Aku akan meminta sekretarisku memperbaiki kontraknya,” jawab Reta santai sembari berdiri. “Tapi, kau benar-benar tega membuang usaha kerasku selama berjam-jam membuat kontrak ini tadi.” Usaha keras? Wanita itu hanya berusaha membuat Marcel kesal dengan isi kontrak itu. Dia tidak berusaha keras, tapi dia bersenang-senang. “Oh ya, untuk masa kontraknya, kau tidak keberatan?” tanya Reta. Marcel menatap Reta. Masa kontrak itu berlaku hingga kedua belah pihak sama-sama setuju untuk mengakhirinya. Dengan kata lain, wanita itu tidak akan bisa melarikan diri dari Marcel seenaknya atau  mengusir Marcel seenaknya. “Kau tidak perlu khawatir tentang aku yang akan melarikan diri darimu,” Reta berkata sembari tersenyum. “Tapi, kau juga tidak bisa melarikan diri dariku.” Marcel menatap Reta. “Sudah kukatakan, apa pun yang kau lakukan, itu tak akan cukup untuk membuatku menyerah dan pergi. Kau sudah mengeceknya sendiri.” Reta manggut-manggut. “Kau benar.” Reta mengibaskan berkas kontrak di tangannya. “Jadi, benar-benar tak ada masalah dengan ini, kan, setelah aku merevisinya sesuai dengan yang kau inginkan?” Marcel mengangguk. Untuk saat ini, dengan perjanjian damai itu, Marcel bisa berada di samping Reta dan dengan maksimal melindungi wanita itu. Itu cukup. Setidaknya, untuk saat ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN