Sore ini setelah mengantar Dafa pulang Wening pun mengerjakan pekerjaan rumah dengan santai, berhubungan sang mertua sedang arisan.
"Lho, katanya mau voli kok malah tiduran?" Kata Wening saat melihat sang suami berbaring di ranjang masih dengan seragam dinasnya.
"Males ah capek, nanti malam aja ikutan badminton. Udah mandi, Dik?" Galih menarik tangan istrinya dan menyuruh Wening duduk di ranjang mereka.
"Mas Galih nanya apa ngledek? Udah jelas-jelas masih kumut - kumut gini juga, nih masih bau asam." Balas Wening lalu mencium ketiaknya sendiri.
"Haha, kebetulan dong, ayo mandi bareng." Ajak Galih menggoda istrinya.
"Dih, mentang-mentang nggak ada Ibu di rumah ya?"
Galih tersenyum namun tangannya bekerja menelusup ke kaos dan mengelus perut istrinya.
"Mas.."
"Hmm?"
"Tangannya jangan aneh-aneh deh."
"Aneh-aneh gimana? Cuma mau pegang aja kok, nih cuma mau ngecek udah ada dedek bayinya belum." Jawab Galih dengan senyum jahil.
"Apaan? Tuh kan makin ke atas, udah ah Mas Galih rese, Wening mau mandi dulu." Ujar Wening lalu mengambil baju ganti dan bergegas meninggalkan suaminya di kamar.
"Tunggu sebentar Dik, Mas ikut." Seru Galih namun terlambat Wening sudah menutup pintu kamar mandi terlebih dahulu.
Sembari menunggu istrinya mandi Galih memilih untuk memberi makan kambing ternak milik Bu Nani, tidak banyak hanya dua ekor saja, itung-itung digunakan untuk mencari kesibukan Bu Nani selain mengurus kebun peninggalan almarhum suaminya.
"Lho, udah pulang toh Bu?" Tanya Galih saat melihat ibunya berada di dapur.
"Ya sudah toh, kalau belum ya nggak ada di depanmu." Jawab Bu Nani dengan terkekeh
"Wedhus e wis diwenehi pakan, le?" (Kambingnya sudah dikasih makan, le?)
"Sampun Bu, mbenjing yen kesel mboten usah ngarit, kersane Galih mawon, mangke tak mundhut godhong-godhongan teng sabin." (Sudah Bu, besok kalau capek nggak usah Ngarot -cari daunan-, biar Galih saja, nanti tak ambil daun-daunan di kebun/sawah)
"Halah, gapapa. Wong ya cuma ngarit sedikit aja, oiya ini lho tadi Ibu dapat arisan besok antar ke pasar ya mau tak belikan kalung sama gelang."
"Minta antar Galih?"
"Iya toh, ya kalau nggak mau nanti Ibu tak ngojek."
"Kenapa nggak ngajak Wening aja Bu?" Galih memancing pertanyaan pada Ibunya.
Bu Nani menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Galih, "Emang istrimu mau diajak blusukan ke pasar? Biasa main ke supermarket, mana mau diajak ke pasar."
"Emang Ibu udah tanya Wening? Tanya dulu gih, nanti kalau Wening nggak mau ya Galih antar. Tuh, tanya langsung sama istri Galih." Kata Galih bertepatan dengan Wening yang baru selesai mandi.
"Kenapa Mas?"
"Besok kamu mau kemana, Dik?"
"Nggak kemana-mana, paling cuma ke toko Ibu siangan, ada apa?" Wening menatap suami dan mertuanya bergantian,"Tuh mau diajak Ibu."
Bu Nani hanya bisa pasrah dan memasang wajah datarnya, melihat Galih yang kali ini berusaha untuk mendekatkannya dengan Wening.
"Mau kemana, Bu? Ya kalau mau diajak Ibu pergi, gapapa besok Wening nggak ke toko dulu." Wening yang menangkap sinyal dari sang suami pun menanggapi dengan ramah, siapa tahu dengan ini sikap Bu Nani bisa sedikit membaik dengannya.
"Ke pasar, emang kamu mau masuk pasar?"
Wening mengernyit dahinya merasa aneh dengan pertanyaan dari sang mertua. "Kenapa nggak mau Bu? Wening biasanya juga ke pasar kok, ya walaupun nggak sering."
"Tuh kan Bu, jadi besok sama Wening aja ke pasarnya. Galih mau mandi dulu, tolong ambilkan baju ganti Dik." Pinta Galih pada Wening.
Setelah sholat magrib Wening dan Galih bergabung dengan Bu Nani menonton televisi bersama. Momen seperti ini ah waktu yang tepat untuk mendekatkan Wening dan Bu Nani.
Saat ini Galih tengah berbaring dipangkuan sang istri kasur lantai, sedangkan Bu Nani duduk disamping Wening.
"Jadi beli martabak nggak, Dik?" Galih menanyai istrinya yang sore tadi mengatakan ingin membeli martabak telur, "Hm? Nggak usah deh Mas, nggak jadi."
"Kenapa? Kalau iya, ayo beli sekarang."
Wening hanya menggeleng pelan tidak enak dengan mertuanya yang sedang menatap mereka, dia takut kalau salah lagi di mata mertuanya.
"Apa? Mau beli martabak?" Spontan Galih dan Wening menatap Bu Nani yang menyahut obrolan mereka.
"Iya, tadi Wening ngidam pingin martabak telur Bu." Celetuk Galih sembarangan membuat Wening menegurnya, "Mas-"
"Ya ndang beli, nanti Ibu nitip." Kata Bu Nani membuat Galih bangun dari posisi berbaringnya
"Nitip apa? Ibu mau martabak juga? Ngapain pakai nitip, ya mesti dibelikan Galih lah Bu."
"Nggak, nanti pakai uang Ibu aja, sekalian belikan untuk Bu Dhe Siti juga."
"Oalah mau ditraktir toh maksudnya? Yang habis dapat arisan." Galih menggoda Bu Nani yang sedikit menahan senyum, Wening hanya dapat mengulum senyum melihat tingkah suami dan mertuanya.
Bu Nani yang malu-malu tapi gengsi dan Galih yang jahil.
"Wis ndang berangkat, cukup toh segitu?" Ujar Bu Nani memberikan uang gambar Soekarno Hatta pada anak lelakinya.
"Cukup Bu, kamu ikut nggak Dik?"
"Nggak usah, Wening di rumah aja, cuma sebentar masa kudu ikut." Sahut Bu Nani sebelum Wening menjawab suaminya.
Wening hanya mengangguk dan tersenyum tipis pada Galih, akhirnya Galih pun berangkat sendiri. Sedangkan Wening hanya di rumah dengan sang mertua.
oOo
Bermain badminton pun hanya sekedar wacana untuk Galih, sepulang membelikan martabak untuk istri dan Ibunya Galih basah kuyup karena hujan deras mengguyur wilayah mereka, sialnya Galih tidak membawa mantel dan berakhir menggigil sesampainya di rumah.
Namun, tidak masalah baginya setelah Wening memberikan kehangatan yang dia butuhkan.
"Jangan digigit Mas leherku." Tak mendengarkan sang istri Galih terus menghisap leher Wening tanpa ampun membuat Wening mengeluh dan mendongak memberikan ruang untuk sang suami tanpa melepas tangannya dari rambut Galih yang sudah berantakan.
"Udah dulu, Wening mau ngomong." Ujar Wening melembut melihat Galih sudah melepas hisapannya dan akan beralih pada dadanya.
Padahal mereka baru saja menyelesaikan pertempuran sengit di atas ranjang di temani suara televisi yang sengaja dibesarkan volumenya.
"Ngwomwong aja." Gumam Galih tanpa melepas hisapannya pada benda favoritnya. Wening hanya bisa pasrah dan menahan lenguhannya, Galih memang jago membuatnya tidak berdaya.
"Empphh.. lepas dulu."
"Mas Galihhhh.."
Dengan berat hati Galih menghentikan aksinya dan berbaring di samping Wening lalu membenahi posisi dan selimut mereka.
"Kita bicara dulu, nanti bisa lanjut lagi."
"Apa?" Tanya Galih namun tangannya masih belum bisa lepas dari tubuh Wening, Wening pun hanya bisa menarik tangan suaminya dan digenggam agar tidak mengalihkan pembicaraan mereka.
Galih hanya mengulas senyum melihat tingkah istrinya.
"Mas?"
"Dalem.."
"Boleh nggak Wening kerja?"
"Boleh, emang pernah Mas Galih bilang nggak bolehin kerja? Dik, itu semua terserah kamu, kalau mau kerja silahkan nggak kerja pun juga nggak masalah, Mas Galih nggak mau maksa." Jelas Galih.
"Jadi gapapa ya? Nggak akan marah kan?"
Galih menarik hidung istrinya dengan gemas, "Kok marah buat apa? Emang mau lamar kerja dimana?"
"Di koperasinya Mas Bagus, kemarin Wening ditawarin sama Mbak Winda, jadi Mas Bagus mau dirikan koperasi simpan pinjam nah mereka nawarin Wening buat jadi kasir dan dibantu sama keponakannya Mas Bagus nantinya, kerjanya juga nggak berat sih, palingan pagi jam delapan buka kantor terus siangnya baru setor pembukuan setelah pegawainya dari lapangan. Jadi bisa ditinggal pulang juga."
"Kira-kira kamu bakal nyaman nggak? Mayoritas pegawainya laki-laki lho." Ingat Galih pada istrinya, Wening pun terdiam dan berfikir.
"Insya Allah Mas, daripada Wening nggak kerja sama sekali."
"Mas nggak maksa lho ya, ini terserah Wening, keputusan Wening sendiri. Kalau Wening enjoy ya, silahkan. Kalau nggak ya jangan dipaksakan."
Wening mengangguk dan tersenyum menatap Galih, hal itu justru membuat Galih membuat Galih gusar dan membuang nafas beratnya
"Udahkan?" Suara Galih serak menatap datar sang istri.
"Eh bentar, satu lagi." Wening menahan tubuh sang suami saat akan mendekatinya.
"Apa lagi, Dik?" Tanya Galih frustasi.
"Gimana sama ibu?" Wening ragu dan takut jika nanti mertuanya semakin tidak senang.
"Kenapa Ibu? Udah biarkan saja, nanti juga Ibu bakalan diam sendiri, dengarkan aja nggak usah masukin ke hati kalau ucapan Ibu nggak enak." Kata Galih namun tidak bisa membuat hati Wening tenang sepenuhnya.
"Nggak usah takut, nanti ibu juga bakalan luluh sendiri. Emang wataknya Ibu kayak gitu, gengsinya tinggi dan sedikit trauma waktu Mas keluar rumah dulu. Yang sabar ya?"
Wening mengangguk pelan dan membuat Galih menarik tubuh istrinya memberikan pelukan hangat.
"Nggak jadi lagi?" Celetuk Wening memecah keheningan sesaat.
"Nggak ah, suasana hati kamu udah beda."
"Beda gimana? Aku nggak papa kok." Jawab Wening dengan tersenyum lebar meyakinkan suaminya.
"Nggak usah, tidur gih." Ujar Galih lalu memejamkan dan membuat Wening kesal.
"Mas Galih.."
"Hmm.."
"Ayooo.."
"Nggak, udah tidur."
"Yakin? Aku yang mau lho." Bisik Wening tepat ditelinga suaminya, setengah mati Wening menahan malu namun berhasil membuat Galih membuka mata dan tersenyum lebar menatap istrinya.
"Kalau kayak gini mana bisa nolak." Tanpa menunggu lama Galih memulai ibadah mereka ditemani dengan suara hujan dan televisi yang menyaksikan pergulatan suami istri yang sedang mabuk kasmaran.
oOo