Setelah sholat subuh Wening menghampiri ibu mertuanya yang sudah berada di dapur mengupas bawang merah dan bawang putih untuk persediaan masak nanti.
"Mau masak apa Bu? Biar Wening aja yang belanja." Tanya Wening mengambil gelas untuk minum air putih.
"Di kulkas masih ada mangut, nanti siang di sayur bumbu kuning saja. Terserah kamu mau masak apa buat sarapan."
"Wening beli nasi uduk aja, ya Bu? Jadi hari ini nggak usah belanja."
"Terserah kamu, tanya Galih dulu mau sarapan apa. Yang penting Galih cocok, Ibu juga cocok." Jawab Bu Nani tanpa menatap menantunya, Wening pun hanya mengangguk dan berjalan ke kamar untuk menanyai sang suami dan mengambil dompet.
Dilihatnya Galih masih berbaring di ranjang dengan memainkan ponselnya.
"Mas, mau sarapan sama apa?"
Galih mengerutkan keningnya, menatap sang istri heran.
"Kok nanya Mas? Terserah kamu mau masak apa, Mas mah tinggal makan aja." Jawab Galih dengan terkekeh namun hal itu membuat Wening cemberut
"Nanti kalau nggak cocok sama Mas Galih, Ibu marah-marah lagi." Gumam Wening lalu duduk disebelah sang suami sesuai dengan kode suaminya.
"Emang hari ini mau masak apa?"
"Nanti siang Ibu mau masak sayur mangut, ngendhikane(kata) Ibu sarapan pagi terserah Wening. Mas Galih gapapa sarapan pagi sama nasi uduk?"
"Masak sendiri?"
"Nggak. Beli aja, aku mana bisa masak nasi uduk Mas, lagian udah jam segini, yang ada nanti Ibu marah-marah lagi Mas Galih mau berangkat tapi sarapannya belum matang."
Galih tersenyum lalu meletakkan ponselnya dan berdiri melepas sarungnya lalu dia lipat dan diletakkan pada tempatnya.
"Ayo, Mas temani beli sarapan. Mau sarapan pagi aja kok dibuat ribet." Gumam Galih mengambil kunci motor dan Wening pun mengikuti sang suami yang sudah keluar kamar.
"Buk, Galih mau beli sarapan sama Wening." Pamit Galih pada Bu Nani yang sudah menonton televisi di ruang tengah.
"Lho jadi beli sarapan? Itu Ibu sudah masak nasi, di kulkas juga masih ada sambal pecel Ning, kalau buat Galih sarapan ya tinggal goreng telur kan udah siap, nggak usah beli nasi juga." Galih mengernyit dahi mendengar jawaban Ibunya, dia pandangi sang istri yang menatapnya pasrah.
"Ya udah Mas, Wening gorengkan telur aja, lagian Wening juga males keluar masih dingin gini." Ujar Wening lalu berjalan ke dapur, dia mengambil tiga butir telur dari kulkas dan akan dia membuat telur dadar dengan sambal pecel untuk sarapan suaminya.
Huh, sabar.. sabar.. namanya juga ikut mertua, jadi nggak bisa seenaknya kalau mau apa-apa, untung Mas Galih nggak rewel
"Mas perlu bantuin nggak?" Wening terkejut saat sang suami berdiri dibelakangnya dan tangan Galih menyentuh pinggang Wening.
"Nggak usah, udah Mas Galih duduk aja."
Bukannya menuruti perintah sang istri, Galih justru mengeratkan tubuh mereka, hal itu membuat Wening was-was dan satu sisi dia tersentuh akan perlakuan manis sang suami.
"Mas, jangan gini, nanti kalau ketahuan Ibu."
"Biarin aja, emang kenapa? Kan kita sudah halal."
"Ya kan nggak sopan Mas, mesra-mesraan gini di depan orang tua."
"Kata siapa? Nggak ada yang larang juga, harusnya Ibu juga memaklumi kita kan masih perlu pacaran sebelum nanti ada dedek bayi yang menguasai Bundanya." Bisikan Galin berhasil membuat hati Wening berdesir, hatinya selalu menghangat saat Galih membahas tentang keturunan, Wening berharap agar dia segera hamil disisi lain dia juga berdoa semoga dengan kehadiran anak mereka sikap Bu Nani bisa berubah sedikit lebih hangat dengan Wening.
"Jadi sekarang masih dikuasain Ayahnya ya?"
"Huum, jadi pingin bolos deh, pingin ngurung kamu di kamar."
Wening menepuk tangan sang suami dengan keras membuat Galih terkejut dan melepas pelukan mereka.
"Mas Galih aja sana yang ngurung di kamar, Wening mah wegah(enggan)."
oOo
"Dik, kamu nggak mau kerja?" Winda menanyai adik perempuannya yang sedang membantu menjaga anak keduanya.
"Pingin sih Mbak, tapi belum kepikiran banget dan ngobrol sama Mas Galih."
"Mau nggak jaga kantor koperasi Mas Bagus?" Tawar Winda pada Wening.
"Mas Bagus mau buat koperasi?"
"Iya, koperasi simpan pinjam, aku bilang ke Mas Bagus kalau kasirnya kamu gimana, kata Mas Bagus kalau kamu oke Mas Bagus boleh-boleh saja."
"Aku jadi kasir?"
"Huum, lagian kan kerjanya nggak berat juga Dik, paling pagi buka kantor siapin keperluan pegawai yang mau berangkat terus habis itu udah, kamu bisa pulang dan balik lagi dijam - jam para pegawai udah selesai di lapangan."
"Aku sendiri?"
"Nggak, nanti ada dua pegawai ceweknya, aku sama Mas Bagus sih pandangannya kamu yang di kasir terus satunya yang bantu kamu itu Amel, ponakannya Mas Bagus."
Wening berpikir sepertinya tidak ada salahnya dia menerima tawaran Winda, sepertinya nanti dia harus membicarakan hal ini dengan Galih.
"Nanti deh Mbak, aku bilang ke Mas Galih dulu."
"Iya Mbak tunggu ya kabarnya, lagian Mas Bagus masih sibuk ngurus perizinan juga. Paling tidak bulan depan kami mulai buka kantor."
"Memang nggak dinas ke luar kota lagi Mbak?" Tanya Wening.
Bagus -suami Winda- menjadi salah satu anggota dewan daerah kabupaten, membuat lelaki seumuran Galih itu sibuk dengan pekerjaannya, meninggalkan istri dan kedua anaknya di rumah Bu Susi saat bepergian keluar kota.
"Nggak, bulan ini lagi senggang, makanya dia mau gerak cepat biar bisa segera jalan, sebelum bulan depan dia sibuk berkelana lagi." Jawab Winda dengan kesal.
"Ya kan emang udah tugasnya Mas Bagus Mbak." Jawab Wening terkekeh melihat ekspresi kakak perempuannya
"Iya sih. Gimana Dik, setelah menikah apa yang kamu rasakan?"
"Hm? Biasa aja." Jawab Wening singkat
"Biasa aja? Kayaknya jawaban kamu bohong banget, apalagi kamu tinggal sama mertua."
Wening hanya bisa tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Mbaknya, "Emang kenapa sih Mbak? Orang biasa aja kok. Mas Galih biasa aja seperti suami pada umumnya, Ibu mertuaku juga biasa aja."
Winda memicingkan matanya, dia seakan tidak percaya dengan jawaban adiknya
"Udah deh Mbak, aku baik-baik aja kok. Mbak sama Ibu aja yang terlalu khawatirin aku."
"Nih, Rafa udah tidur, aku mau ke depan bantuin Ibu." Wening memberikan bayi laki-laki yang berumur tiga bulan kepada Winda, anak kedua Winda ini mudah tertidur saat diajak Wening.
"Si Dafa tidurin sekalian ya Dik, aku mau tiduran juga, nanti kalau disini kasihan Rafa digangguin Masnya." Pinta Winda dengan memasang wajah melasnya.
"Iya, gampang nanti Dafa aku ajak pulang aja deh, sore baru aku balikin."
"Ya sana, kalau anaknya mau, emaknya mah oke-oke." Jawab Winda dengan senang.
"Pamit dulu Mbak, anakmu aku ajak."
"Iya adikku sayang, makasih ya."
Wening pun pulang ke rumah mertuanya bersama dengan Dafa, keponakannya ini memang sangat dekat dengan Wening, bahkan saat Wening menikah dan pindah ke rumah Galih, Dafa menangis karena takut tidak bisa bertemu dengan Wening lagi.
"Dafa ganteng apa jelek?" Tanya Wening iseng pada bocah berumur empat tahun itu.
"Anteng ante."
"Ganteng mana sama Om Galih?"
"Anteng Dapa." Jawab Dafa membuat Wening tertawa dan mereka pun memasuki rumah Bu Nani.
"Salim dulu Daf sama Mbah Nani." Ujar Wening meminta Dafa untuk menyalami Bu Nani yang sedang menonton televisi, seperti biasa menonton sinetron ikan terbang sudah menjadi kegiatan rutin Bu Nani setiap harinya.
"Eh ada bocah bagus, main sama Tante ya?"
Dafa mengangguk pelan tanpa berani menatap Bu Nani.
"Dafa disini dulu ya sama Mbah, Tante mau sholat." Ujar Wening namun Dafa memegang ujung bajunya dan menggeleng kepala tanda tidak mau ditinggal olehnya.
"Kenapa? Mau ikut sholat?"
"Ikut ante." Jawab Dafa dan membuat Wening tersenyum tipis pada mertuanya.
"Ya sudah, ayo ke kamar dulu. Wening ke dalam dulu, Bu."
Nani hanya tersenyum simpul dan menjawab, "Hm, iya. Jangan ketiduran, sebentar lagi Galih pulang lho."
Ingat Nani pada menantunya, Wening hanya mengangguk dan paham, Ibu mertuanya selalu memintanya untuk menunggu sang suami pulang dari kerja, Wening baru bisa tidur siang jika Galih sudah pulang dari mengajar.
Sejauh ini Wening dapat melihat kalau Ibu mertuanya ini sangat menyayangi Galih, selalu mendahulukan Galih lebih dari apapun.
Andai Ibu lebih hangat sama Wening Bu, mungkin kita bisa menjadi menantu dan mertua yang kompak.
oOo