2

1347 Kata
Sepulang kerja Galih mengajak Wening ke toko elektronik, seperti ujarnya semalam, dia akan membelikan televisi untuk ditaruh kamar mereka. "Aku nggak bawa helm Mas, masa gini aja? Pulang dulu lah, aku ganti baju sebentar." "Nggak usah, udah gitu aja. Pinjam helmnya Mbak Winda." Ujar Galih pada Wening yang hari ini menjaga toko milik ibunya. "Ya udah, aku ambil helm dulu di rumah Ibu." Galih mengangguk dan mengobrol dengan Ibu mertuanya sembari menunggu Wening, jujur saja sejauh ini Galih belum begitu dekat dengan Bu Susi, percakapan mereka pun hanya sebatas basa basi. Berbeda dengan bapak mertuanya yang sudah akrab, selain karena rekan kerja, Galih juga salah satu pemuda yang aktif di desa mereka tidak bisa dipungkiri kalau Galih cukup terpandang di desa mereka. "Mas tadi udah bilang Ibu kan?" Wening bertanya pada suaminya, dia khawatir kalau nanti terjadi salah paham dengan sang mertua. "Udah kok, Mas bilang mau ngajak kamu keluar." "Ya sudah, buruan berangkat nanti keburu hujan lho." Ingat Susi melihat cuaca siang ini sedikit mendung "Tak berangkat dulu, Bu. Helmnya Mbak Winda tak bawa ya." Pamit Wening dan Galih lalu meninggalkan toko Bu Susi oOo Setelah mendapatkan apa yang dicari Galih mengajak istrinya untuk singgah mengisi perut lebih dahulu, kali ini bakso tetelan menjadi menu jajan mereka hari ini. Wening hanya menurut dan mengikuti keinginan suaminya, jarang juga mereka bisa keluar berdua seperti ini. Karena memang pribadi keduanya tidak suka jajan di luar dan lebih memilih untuk menghabiskan waktu luang di rumah bersama keluarga. "Dik, lihat belakangmu, gemesin." Ujar Galih pelan memberi kode istrinya untuk menoleh ke belakang Wening pun mengikuti arahan suaminya, dia melihat ada dua anak kembar yang sedang makan dengan lahap, spontan Wening tersenyum. "Lucu." Gumamnya setelah mengalihkan pandangannya kembali pada suaminya yang ada di depannya "Lucu ya? Dari tadi lho aku lihatin mereka." "Kok bisa ya punya anak kembar." Gumam Wening dengan heran "Keturunan mungkin." "Mas ada keturunan nggak? Dari keluarga mungkin ada yang kembar?" Galih terdiam sejenak dan berfikir mengingat-ingat silsilah keluarganya. "Nggak ada deh, kamu ada?" "Nggak juga." Jawab Wening tertawa "Tapi kok Mas pingin ya, kayaknya lucu dan tantangan juga sih sekali hamil langsung dapat dua." "Mas pingin punya anak kembar?" "Ya tergantung yang hamil mau nggak? Kalau pun nggak mau tapi Allah tiba-tiba kasih hadiah, kan kita nggak bisa nolak." Jawaban Galih sukses membuat pipi istrinya merona "Ya udah tanya gih orang tuanya anak-anak itu, gimana caranya bisa punya anak kembar." Ujar Wening bak menantang suaminya Galih yang punya tekad pun berdiri dengan percaya diri, membuat Wening melotot tidak percaya dan berusaha untuk mencegah suaminya. Namun, Galih sudah terlanjur menghampiri meja keluarga si anak kembar tadi. Di lihatnya sang suami menyapa kedua orang tua anak kembar dengan ramah, tak lama si anak kembar itu pun berjalan menghampirinya dan ditemani seorang wanita yang Wening tebak Ibunya si kembar. "Nah, ini istri saya Mbak." Ujar Galih pada wanita tersebut "Hallo Dik, kenalin saya Nana dan ini si kembar Lala dan Lila, Lala Lila kenalan dulu sama Tante." Kata wanita yang bernama Nana dengan ramah "Hai Mbak, aku Wening. Hai anak-anak cantik." Mereka pun berkenalan, bahkan Wening tertegun dan menatap tajam suaminya saat Nana menyuruh kedua anak kembarnya mengelus perut rata milik Wening dan mengucapkan doa agar bayi yang di kandungannya bisa kembar seperti Lala dan Lila. "Makasih ya Mbak, sudah mau menuruti ngidam istri Saya, maaf lho ganggu acara makannya." Ujar Galih setelah anak-anak kembar tadi mengucapkan doa "Haha, gapapa Mas, namanya juga ibu hamil, aku dulu juga gitu kok. Ya udah, aku balik kesana ya, sehat-sehat ya bumil." Wening hanya tersenyum sungkan, dia tidak habis pikir dengan Galih. "Awwss- sakit Dik." Pekik Galih tertahan merasakan pedih di pinggangnya akibat cubitan dari sang istri "Mas Galih rese! Lagian siapa juga yang hamil." Wening menggerutu dan menatap kesal pada Galih, namun hal tersebut justru membuat hati Galih menghangat Istrinya ini sangat menggemaskan juga kalau sedang kesal, bahkan lebih menggemaskan dari pada dua anak kembar tadi. Jadi pingin ngurung ke kamar. "Ya gapapa toh, siapa tau nanti kamu hamil kembar beneran." Jawab Galih enteng dengan menaik turunkan alisnya jahil, namun hal itu sukses membuat Wening mengulum senyum dan mengaminkan dalam hati oOo "Dari mana tadi?" "Cari tv buk." Jawab Galih singkat, Wening pun memilih untuk ke kamar dan berganti baju setelah menyapa ibu mertuanya "Buat apa le? Tvnya aja masih bagus gini." "Mau Galih taruh di kamar Bu." Mata Nani menyipit dan dahinya mengernyit mendengar jawaban Galih. "Oalah, bojomu ndak mau nonton tv bareng ibu toh? Nganti kudu tuku tv anyar." (Istrimu nggak mau nonton tv bareng ibu toh? Sampai harus beli tv baru) Galih menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Ibunya. "Nggak Bu, bukan gitu, mumpung masih ada rejeki, Galih beli TV buat main PS di kamar." "Bukan maunya istrimu?" "Ya nggaklah Bu, Wening aja nggak pernah nonton TV." "Ya karena nggak pernah nonton TV itu makanya minta TV baru biar bisa nonton di kamar, nggak mau bareng ibu sini." "Bu-" Ceklek "Bu, baksonya mau Wening panaskan? Tadi Mas Galih beliin bakso Ibu." Wening sengaja menyela pembicaraan suaminya untuk menghentikan obrolan mereka "Nggak usah, nanti Ibu panaskan sendiri." "Dik, tolong rapiin meja kamar dulu." Galih meminta Wening untuk ke kembali ke kamar sementara dia masih merangkai alat-alat yang dia gunakan memasang televisi. "Bu, Galih minta tolong jangan terlalu judes sama istri Galih. Ibu nggak mau kan kalau kejadian dulu terulang lagi? Galih nggak mau kalau istri Galih tertekan karena sikap Ibu yang kurang hangat. Kalau Wening salah kasih tau dengan baik, jangan langsung dimarahin, dia itu nggak enakan orangnya. Maaf kalau omongan Galih mungkin sedikit membuat Ibu sakit hati, tapi Galih nggak bermaksud seperti itu. Galih minta tolong dengan Ibu." Ujar Galih pelan tanpa ingin didengar oleh sang istri dari kamar. Nani hanya terdiam, matanya tertuju pada layar televisi yang menayangkan sinetron ikan terbang, namun pandangannya hampa memikirkan apa yang baru dikatakan putranya "Galih mau masang ini dulu Buk, baksonya jangan lupa dimakan, itu bakso langganannya Ibu." Kata Galih lalu meninggalkan Ibunya ke kamar oOo Selesai membereskan dan memasang televisi baru mereka, Galih dan Wening tidur bersama, walaupun waktu tidur mereka mepet dengan waktu ashar namun mereka tidak bisa menahan rasa kantuknya. Wening terbangun lebih dahulu, dilihat sang suami yang tertidur pulas diatas dadanya, terlihat beberapa kancing bajunya yang terbuka dan sudah pasti ulah sang suami yang menjadi kebiasaan mereka setiap tidur berdua. "Kayak anak bayi kalau tidur." Gumam Wening lalu berusaha melepaskan tubuh suaminya dan membenahi kancing piyamanya. Dilihat jam kamarnya menunjukkan pukul empat, dia pun sholat ashar terlebih dahulu sebelum menjalankan tugas rumah, menyapu rumah dan mencuci piring yang sudah menjadi kebiasaan baru Wening. Karena dulu saat di rumah orang tuanya, Wening jarang mengerjakan pekerjaan rumah, Ibu Susi sangat mewanti-wanti anaknya untuk tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Maka dari itu, semenjak menikah dan tinggal dengan mertua Wening menjadi sedikit merubah diri untuk lebih peka dengan pekerjaan rumah tanpa ingin membuat mertuanya marah. "Lho, ada Vino. Sama siapa Bu kesininya?" Saat akan menyapu rumah Wening melihat keponakan Galih digendong Bu Nani. "Sama Ibu lah, Ibu kesepian makanya Ibu ajak kesini." Bayi umur enam bulan itu tersenyum lebar saat melihat Wening, Wening pun mengulurkan kedua tangan dan mengajak Vino, anak dari Mas Ragil kakak kedua Galih. "Sama Tante ya? Bangunin Om Galih yuk." Ujar Wening mengajak Vino ke kamarnya. Wening mendudukkan Vino tepat diatas perut suaminya, dia tersenyum saat tangan mungil itu memberikan pukulan kecil pada wajah Galih sehingga membuat Galih membuka mata karena tidurnya sedikit terganggu. "Bangun om udah sore." Kata Wening menirukan suara anak kecil. Galih mengerjakan mata dan tersenyum tipis melihat aksi Vino dan istrinya membangunkannya, "Heh, siapa yang bangunin Om ini? Gaya banget udah ganteng, wajahnya full bedak." Vino malah tertawa dan berceloteh dengan bahasanya sendiri. "Jam berapa, Dik?" "Jam empat lebih, bangun gih, sholat." "Bentar dulu." Jawab Galih lalu menggulingkan tubuh Vino ke samping menciumi wajah Vino dengan gemas dan mendekap bayi tersebut dengan erat membuat Vino tidak nyaman dan menangis keras. "Mas Galih ih! Rese banget, nangis kan." "Habisnya lucu sih, kayak blonceng (beligo)." "Eh, enak aja ya Vin, ganteng-ganteng gini disamain sama blonceng." Kata Wening lalu mengajak Vino keluar kamar. "Sholat Mas." "Iyaaaa sayang." oOo
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN