Susi, Ibu Wening menatap anak perempuannya dengan menyelidik. Pagi ini Wening terlihat agak murung, dia menduga kalau Wening sedang ada masalah dengan mertuanya. Hanya saja Wening tidak mau berbagi cerita dengannya.
"Masak apa tadi, Nduk?"
"Tadi sih, goreng nasi buat sarapan Bu, terus rencananya Ibu mau buat rendang sekalian buat bekal Mbak Wahyu balik ke kota."
"Gimana mertuamu?"
Wening hanya tersenyum tipis mendengar nada yang dikeluarkan Ibunya saat menyinggung tentang Ibu Nani.
"Ibu Nani baik kok Bu."
"Ibu harap memang baik dalam versi orang baik lainnya, bukan dalam versi kamu yang selalu mengalah dan tidak enakan sama orang lain."
"Iya Bu, udah hampir dhuhur, Wening balik dulu ya? Mau cari oleh-oleh juga buat Mbak Wahyu sekalian bantu masak Bu Nani."
"Ya sudah, hati-hati baliknya. Nanti sore ke rumah, Ibu mau buat es manado kesukaan kamu." Ujar Susi lalu membiarkan Wening pergi meninggalkan toko mereka
oOo
"Waduh, makasih ya Dik, dibawain oleh-oleh segala, repotin banget." Wahyu memeluk tubuh Wening sembari mengucapkan terima kasih pada adik iparnya.
"Sama-sama Mbak, terima kasih juga sudah menyempatkan pulang kampung buat acara ku sama Mas Galih."
"Ya harus toh, nikahannya adik Mbak masa nggak hadir."
"Galih belum pulang, Ning?" Suara Bu Nani menghentikan obrolan mereka.
"Nanti Bu, paling sebentar lagi Mas Galih balik." Jawab Wening, menjadi guru olahraga di sekolah menengah pertama membuat pekerjaan Galih tidak terlalu berat, tak jarang Galih pulang cepat karena sudah selesai jam mengajarnya dan Galih pun sering pulang saat jam makan siang, menurut Galih makan siang di rumah lebih irit dan cocok dilidahnya.
"Ditelepon coba, kasihan Mbak Wahyu kalau nunggunya kelamaan." Perintah Bu Nani pada Wening.
"Ya nggak kok Bulik, lagian busnya masih sejam lagi, jadi masih santai." Ujar Wahyu.
"Wening kalau mau makan Nduk, tadi Ibu masak soto ayam, nanti bawa pulang sekalian ya buat Galih." Ujar Bu Siti, ibu kandung Galih ini memang pribadi yang lembut berbeda dengan Bu Nani yang terkesan tegas dan garang.
Bu Siti memiliki adik laki-laki yaitu Almarhum Bapak Sartono yang menikah dengan Bu Nani, mereka menikah bertahun-tahun namun belum juga diberi keturunan hingga mereka tahu kalau Bu Nani divonis mengidap penyakit kanker rahim sehingga sangat disarankan untuk operasi pengangkatan rahim yang menyebabkan mereka tidak bisa memiliki keturunan, sedangkan Bu Siti dengan kehidupannya yang serba kekurangan dia telah diberi anugerah dua anak yaitu Wahyu dan Ragil anak keduanya, saat kehamilan ketiganya Bu Siti sangat tidak mengharapkan si jabang bayi, karena faktor ekonomi mereka yang sangat tidak memungkinkan dapat menambah anggota keluarga lagi.
Dengan keinginan memiliki anak yang begitu kuat, Bu Nani meminta pada kakak perempuan suaminya untuk mempertahankan kehamilan ketiganya dan meminta agar anak itu dilahirkan supaya anak itu dapat dirawat oleh Bu Nani dan suaminya, berhubungan Bu Siti dan suaminya menyanggupi maka mereka sepakat saat bayi tersebut sudah lahir akan diberikan pada Sartono dan Nani saat itu, bayi tersebut pun diberi nama Galih Prasetyo, yang sekarang menjadi suami Wening.
"Nggih Bu, nanti Wening bawa pulang buat Mas Galih."
"Kamu yang sabar ngadepin Bulik, memang wataknya Bulik Nani sudah seperti itu, kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang ke Bu Siti, Bu Siti juga mertuamu, Dik." Bisik Wahyu saat tinggal mereka berdua.
"Iya Mbak, insya Allah aku sabar." Wening berusaha meyakinkan dirinya untuk sabar sedangkan Wahyu, dia berharap kalau Wening memang wanita yang sabar untuk bisa menghadapi mertua seperti buliknya, semoga memang rumah tangga Galih yang kedua ini lebih tentram dan bahagia dari yang sebelumnya.
"Semoga segera isi ya." Wening mengaminkan doa Wahyu dan dia pun mereka senang mendapat ipar yang baik dengannya.
oOo
Siang itu setelah mengantar Wahyu dan anaknya kembali ke kota, Galih dan Wening pulang ke rumah. Galih yang sudah tidak ada jam mengajar pun bisa santai di rumah bersama istrinya.
"Wis maem le?"(Sudah makan le?)
"Nanti Bu, nunggu Wening masih nata baju." Jawaban Galih justru membuat Nani berteriak memanggil Wening.
"Ning, gimana toh, Galih mau makan kok nggak kamu siapkan dulu malah pegang pekerjaan lainnya, kan kasihan Galih pulang kerja capek, mau makan harus nunggu istrinya dulu."
"Bu-"
"Mas mau makan sekarang? Bentar ya, Wening siapkan dulu." Wening menyela Galih saat akan meladeni omelan Ibunya, melihat istrinya sudah berjalan ke dapur mau tidak mau Galih pun mengikuti sang istri.
Ingin sekali dia menyahuti omongan Ibunya, namun melihat Wening yang begitu tenang dan sabar saat menghadapi Bu Nani, Galih lebih memilih untuk diam dan menyusul istrinya yang sudah menyiapkan makan siangnya di meja makan.
"Kamu sudah makan?"
"Belum, nanti aja aku makannya."
"Makan sekalian, kita makan bareng."
"Aku habis makan roti tadi Mas, belum lapar, nanti kalau aku lapar pasti makan." Galih hanya memandang istrinya dengan tatapan datar dan tidak enak hati.
"Kenapa sih Mas? Lihatinnya gitu banget."
Galih hanya menggeleng dan tangannya memegang tangan kanan Wening yang ada di meja
"Yang sabar." Gumamnya pelan membuat Wening terenyuh dan tersenyum mengangguk pada suaminya
oOo
Galih terus bergerak di atas tubuh sang istri, sedangkan Wening dia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara akibat ulah Galih, Wening yang masih waras dan ingat bahwa kamar mereka bersebelahan dengan mertuanya pun sebisa mungkin menahan diri untuk tidak mengeluarkan desahannya akibat pergulatan mereka.
"Dik, sebentar lagiiihh.."
"Hmm-mmasss... hhmmpp.."
"Ahh.. huuhh.." Galih menjatuhkan tubuhnya pada tubuh Wening dengan nafas terengah-engah, Wening sangat menikmati kegiatan ranjang mereka malam ini walaupun dia harus membungkam bibirnya sendiri untuk menahan rintihannya, dia sangat menyukai saat melihat wajah suaminya yang mendapat kepuasan.
Dikecup kening sang istri dengan lembut, diusapnya peluh di kening Wening akibat ulahnya.
"Capek?"
Wening menggeleng malu menjawab suaminya.
Galih merebahkan tubuhnya disamping Wening yang kembali mengenakan gaun tidurnya malam ini.
"Kok dipakai lagi?"
"Biar Mas Galih nggak kepancing lagi." Jawaban Wening membuat Galih tertawa lalu merengkuh pinggang Wening agar mendekat pada tubuh polosnya.
"Dipakai dulu sarungnya." Kata Wening memberikan sarung sang suami yang biasa dikenakan tidur setiap malam.
"Hmm, kenapa?"
"Ya masa Mas mau kayak gitu tidurnya."
"Gapapa, biarin aja."
"Ih jangan, nanti kalau kabur Mas." Galih semakin terbahak, tidak dia sangka kalau istrinya itu memiliki humor yang kocak menurutnya.
"Kabur ya paling kabur ke tempat kamu."
"Nggak ya, udah cukup, Wening nggak mau kalau besok kesiangan lagi."
"Kalau Mas pingin, masa kamu nolak?"
"Mas-"
"Iya-iya, besok beli TV ya?" Ujar Galih setelah memakai sarungnya kembali lalu merengkuh tubuh istrinya kedalam pelukannya.
"TV? Kayaknya TV depan nggak rusak deh."
"Emang nggak. Buat kita, ditaruh di kamar."
"Lho, kok gitu? Kayaknya nggak usah deh Mas, lagian aku juga jarang lihat TV." Tolak Wening.
"Tapi TV-nya bakal kepakai banget nanti Dik."
"Kenapa gitu?"
"Biar jadi peredam suara desahan kamu, kasihan banget kamu kalau harus menahan terus."
Wening melotot menatap suaminya.
"Emang tadi Wening kelepasan banget ya, Mas?"
"Nggak, cuma Mas pengen aja gitu lihatin kamu menikmati waktu kita tanpa harus khawatirkan yang lain."
"Wening takut dan malu kalau sampai kedengaran sama Ibu."
"Ya makanya, besok kita beli TV jadi kalau kita lagi main, bisa tuh kita nyalain TV pakai volume tinggi biar kamu bisa mendesah dengan lepas tanpa kedengaran sama Ibu." Ujar Galih membuat Wening terdiam.
"Mas pingin kamu nyaman Dik, walaupun Mas tau sebenarnya kamu tidak begitu nyaman dengan sikap Ibu. Setidaknya Mas berusaha membuat kamu nyaman dengan cara lain di rumah ini."
Tangan Wening terulur menangkup pipi sang suami dan memberikan usapan lembut, "Wening nyaman kok Mas, lagian Ibu juga baik-baik saja sama Wening. Mas Galih jangan khawatir."
"Mas Galih sudah tahu wataknya Ibu, bahkan dulu Mas sampai pindah rumah sama Fit- maaf maksudnya-"
"Gapapa sebut aja, Wening gapapa."
Dengan ragu, Galih melanjutkan perkataannya, "Dulu Mas sempat pindah rumah karena Fitri tidak tahan dengan sikap Ibu, kami mengontrak di rumah dekat sekolah Mas, tapi setelah Bapak meninggal Bu Nani minta kami agar kembali kesini, karena Ibu nggak mau tinggal sendirian, akhirnya Fitri mau mengalah untuk kembali kesini dan tak lama setelah itu penyakit paru-paru Fitri semakin parah dan tidak dapat ditolong kembali. Mas tidak akan kaget jika suatu saat kamu juga menginginkan kita punya rumah sendiri, tapi untuk itu seperti Mas akan sulit mengabulkan, biar bagaimana pun Mas ini anak Ibu satu-satunya, kamu tahu sendirikan Dik, Ibu Nani sudah tidak ada keluarga dan hanya Mas Galih juga Ibu Siti keluarga yang dimiliki Bu Nani. Jadi Mas mohon, kalau ada apa-apa jangan pendam sendiri, kamu bisa berbagi sama Mas." Jelas Galih dengan panjang.
"Iya Mas, Insya Allah Wening usahakan seperti yang Mas minta." Jawab Wening dengan seyakin mungkin, namun siapa sangka apa yang akan terjadi di kemudian hari.
oOo