Svarga meneguk ludah kasar, Alena mulai menjelajahi tubuh Svarga dengan bibirnya. Svarga dapat merasakan dinginnya saliva Alena yang berbaur bersama dinginnya udara di dalam kamar mereka. Gemerlap cahaya lampu di luar jendela kamar mereka menambah intimnya suasana malam itu. Svarga menggeram, ketika Alena bermain di titik sensitivenya. Svarga menggenggam tangannya erat, menahan hasrat yang siap membuncah kapan saja, Alena semakin senang dengan reaksi Svarga. Seolah tak ingin berkompromi lebih lama, Svarga segera mendorong tubuh Alena untuk berada di bawah kungkungan tubuh Svarga, menatap netra teduh Alena yang kini membalas tatapan Svarga. "Aku ingin kamu tidak melebihi batas," pinta Svarga. Alena mengernyitkan dahi. "Maksud, kamu?" "Aku tidak tahu sejak kapan kamu bisa membuat aku s

