Bab 16. Tidak Sesuai Harapan

1074 Kata
"Ada apa?" tanya Gara. Karina sedikit terkejut dan menoleh kebelakang. Kemudiaan mengangkat bahunya acuh tak acuh. Sementara itu, Gara semakin mendekat, membuat Karina sedikit gugup juga bingung, tapi saat pria itu meraih Gara darinya, Karina sedikit menghela nafas lega. "Bagaimanapun juga Rafan bagian dariku, dan aku tidak mau terpisah dengannya, tapi gengsimu memang terlalu tinggi Karina. Jadi, yasudah, kita terpaksa tinggal di ruangan yang berbeda, meskipun begitu kedua ruangan ini bisa terhubung satu sama lain dari pintu sana," jelas Gara. Ternyata Karina barusan bingung menyaksikan ruangan yang pernah di jadikan ruang kerja, kini berubah menjadi kamar dan itu kamarnya. Lalu jadi kaget karena ternyata ruangan itu punya pintu penghubung. "Tunggu!" Karina tiba-tiba memperlihatkan wajah tidak terima setelah menyadari sesuatu yang salah. "Pintu penghubung?" "Ya, apa kamu tidak lihat jelas di sana. Aku suka memakainya supaya praktis masuk ke kamarku saat menggunakan ruangan ini masih jadi tempat kerjaku, dan sekarang fungsinya hampir sama," terang Gara adanya. Karina sedikit menggeleng. Dia memikirkan sesuatu dan mencerna ucapan mantan suaminya itu. "Maksudnya?" tanya Karina yang akhirnya gagal memahami ucapan Gara. "Aku bisa bebas keluar masuk ke kamar ini untuk memeriksa dan memantau kalian maksudku anakku," jawab Gara berterus terang dan seketika kedua bola mata Karina langsung membulat. "Apa? Artinya itu sama saja kita tinggal satu ruangan cuma diberi sekat saja ...." Karina nyaris tak percaya, tapi kemudian Gara mengangguk. Bukan sekat dalam artian yang sesungguhnya, tapi pintu penghubung yang tidak bisa di kunci dari ruangan yang sekarang menjadi kamar Karina. Membuat Gara tentunya bebas masuk dan artinya sama saja dengan Karina hampir tidak punya privasi. "Jangan berlebihan begitu Karina, lagipula kalau kamu sedang terdesak kamu mau kemana? Sejujurnya di ruangan ini tidak ada kamar mandi pribadi, jadi kamu harus keluar kamar terlebih dahulu, sebelum kemudiaan menuju kamar mandi lain di rumah ini dan kamu tahu sendiri itu lumayan memakan waktu. Jadi, seharusnya berterimakasihlah. Setidaknya aku membuatmu mudah, bebas masuk kamarku dan menggunakan kamar mandinya." Karina membuang nafas kasad, mengangkat tangan dan memberi pijatan pada pangkal hidungnya. Pusing tiba-tiba saja menerpanya. "Oh, ya. Satu lagi, aku hampir saja lupa. Karena ruangan ini terlalu sempit, jadi hanya ada satu lemari, tapi kamu juga jangan khawatir, aku masih punya hati nurani. Kamu bisa memakai lemari pakaianku, karena aku sudah mengosongkan setengah bagian untuk kamu isi," jelas Gara. Karina langsung memperhatikan lemari besar yang lumayan memakan tempat di sana. Berpikir siapa yang akan menggunakannya jika bukan dia. Hal itu pun membuatnya menjadi penasaran dan mendekat. Cklek! Alangkah terkejutnya Karina begitu lemarinya dibuka, karena lemari tersebut justru sangat penuh. Sangat di luar perkiraannya. "Aku tidak ingin anakku kekurangan apapun," ucap Gara tiba-tiba sudah dibelakangnya dan membuat Karina agak terkejut. Ternyata isi lemari itu penuh pakaian, selimut dan semua kebutuhan Rafan. Padahal selain di dalam lemari, kebutuhan Rafan sudah disediakan dan disusun rapih pada rak-rak, dan nakas yang juga tersedia di sana. Kamar itu, bahkan nyaris seperti kamar bayi. Sesungguhnya tidak ada tempat tidur orang dewasa dan hanya terdapat box bayi. Entah apa maksud Gara, tapi sejak tadi sejujurnya Karina sudah menahan diri. "Aku tidak butuh lemarimu!" ketus Karina sambil mengepalkan tangan. Gara tidak tersinggung dan masih terlihat datar. Menggendong Rafan dengan wajahnya yang biasa, biasa sombong angkuh maksudnya. "Terserah kamu saja, tapi aku peringatkan padamu Karina jangan sekali-kali membuat kamar anakku terkontaminasi dengan barang-barangmu yang tidak jelas kualitasnya itu. Jangan mengotori kamar ini!" peringat Gara. Sudah jelas sekarang, maksud dari mantan suaminya itu. Kamar anaknya. Harusnya Karina tidak mempercayainya. Harusnya dia sadar saat Gara tiba-tiba setuju dengan syarat tambahannya. Pria itu sangat licik. Karina tidak mau tinggal sekamar dengannya, tidak bisa menjadi penghangat ranjangnya dan sebagai gantinya Gara benar-benar menjadikannya sebagai pengasuh anaknya sendiri. "Sebagai tambahan karena aku sudah sangat baik padamu dan adikmu. Aku sedikit berubah pikiran, jadi aku putuskan kamu tetap menjadi ART di rumah ini, tapi dengan gaji diawal sebagaimana kontrak kita dengan perusahaan penyalur tenaga kerja. Tidak ada gaji empat kali lipat, dan aku sudah merobek perjanjian kedua kita!" tegas Gara. "Kau tidak bisa seenaknya begini?!" protes Karina cukup frustasi, tapi kemudiaan bayi kecilnya yang berada digendongan mantan suaminya malah berceloteh dengan tampak seru. "Nggaaa ... nggaaa ...." "Bahkan bayi kita paham maksudku, aku tidak semena-mena? Bahkan aku tidak pernah melakukan hal itu, Karina. Diantara kita hanyalah simbolisme Mutualisme, saling menguntungkan. Kau pikir aku sudi menghabiskan uangku begitu saja untuk orang yang bukan siapa-siapa? Ingatlah kita mantan suami istri, dan keinginanmu atas adikmu. Setidaknya pikirkan itu, aku memberi kalian, makanan, tempat tinggal dan bahkan membiayai kuliahnya adikmu!" ucap Gara kejam. Karina tertohok dan langsung kehabisan kata. Dia terdiam seraya membeku pasrah dalam ketidakberdayaan. Sementara itu, Gara langsung keluar membawa serta Rafan bersamanya. ***** Sementara itu di ruangan lain, Rara ternyata diberi kamar yang layak. Di lantai bawah tepatnya kamar tamu. Perlengkapannya juga tidak mengenaskan sebagai yang Karina dapatkan. Dia bahkan sampai merasa diperlakukan seperti keluarga, dan hampir melupakan bagaimana buruknya mantan kakak iparnya itu. "Apa kamu yakin?" tanya Rara pada ART yang merupakan rekan kerja kakaknya itu, saat orang itu menunjukkan kamarnya. "Maksudku, kamu tidak salah kamar bukan? Ini terlalu mewah untuk seukuran mantan adik ipar?" lanjut Karina memastikan. ART itu menggelengkan kepalanya. "Tidak Rara, ini memang kamarmu sekarang. Tuan Anggara sendiri yang memintaku menyiapkannya untukmu. Kamu dan kakakmu sangat beruntung, ternyata walaupun keluarga mantan, diperlakukan sangat baik. Apalagi keponakanmu, Tuan Anggara sendiri bahkan menyiapkannya sendiri. Tuan sangat baik. Kamu tahu jujur saja, aku sangat iri denganmu," ungkap ART itu. Andai saja Rara tidak mengingat bagaimana kelakuan mantan kakak iparnya itu dulu, saat dia mengunjungi Karina untuk bertemu. Mungkin dia juga begitu, dan takkan percaya Gara tak sebaik itu. Kalau dia dan Rafan diperlakukan baik, bagaimana dengan kakaknya Karina. Memikirkan hal itu, Rara jadi curiga, tapi sebelum memikirkannya, ART itu kembali menegurnya dengan memberitahu hal lainnya. "Oh, iya. Ini belum selesai, Rara. Masih ada lagi. Tadaaaa!" Asisten rumah tangga itu mengeluarkan sesuatu dari kantung bajunya. "Kamu dapat mobil ini buat kendaraanmu ke kampus. Tuan bilang supaya kamu bisa fokus kuliahnya. Laptop, dan buku-buku yang kamu butuhkan akan menyusul sesuai yang kamu butuhkan!" "Apa?!" kaget Rara. "Kamu tidak percaya ya? Aku juga begitu awalnya, masa iya mantan bisa semanis itu pada adik mantan istrinya, terkecuali punya maksud tertentu. Saat Tuan menempatkan kamar kakakmu di sebelah kamarnya, aku mengerti mungkin Tuan Anggara sedang modus!" seru ART itu serius. "Melinda kamu jangan mengada-ada ya?" tegur Rara. Namun, ART yang dipanggil Melinda itu lantas geleng kepala. "Tidak. Aku yakin seribu persen Tuan Anggara kayaknya mau balikan sama kakakmu Karina!" ceplos Melinda yakin. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN