Blam ....
Dalam perasaan kacau, sedikit membanting pintu. Dia tidak berani membanting keras, bukan karena takut pintunya rusak, melainkan takut bayinya kaget dan semakin histeris.
Karina masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar. Dia tidak punya ide lain selain ke sana supaya leluasa menyusui bayinya.
"Ngapain bawa Rafan ke dalam?" tanya Raga.
Karina terdiam sesaat dan memikirkan sesuatu. Kalau dia jujur, pria licik itu pasti mencegatnya.
"Dia pup, kenapa? Kamu mau bersihin?"balas Karina berbohong.
Namun, yang tidak dia duga Gara justru berdiri dan menghampirinya dan mengangguk kecil.
"Bolehkah?" tanya Raga seperti anak kecil yang polos, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi aku tidak bisa mengurus bayi, apalagi pup-nya. bisakah kamu mengajariku?"
Karina sedikit tertegun, menatap serius pada Gara. Memastikan benarkah pria tukang selingkuh dan gila itu, barusan yang mengatakannya.
"Kalau begitu, ambil pakaian gantinya sekalian. Sudah waktunya Rafan mandi," jawab Karina.
Namun, dia tidak benar-benar serius dengan ucapannya itu, karena Rafan tidak pup, bayi itu sepertinya cuma haus. Begitu Gara menurut dan keluar kamar untuk menuruti ucapannya, Karina langsung menutup pintu kamar. Menguncinya dan menyusui bayinya di sana.
Sementara Gara yang naif, tidak tahu soal itu. Dia bahkan memikirkan hal lain, dan merencanakan sesuatu. Seperti mempersiapkan banyak hal untuk bayi kecilnya.
*****
"Beberapa pria mungkin b******n gagal menjadi suami, tapi bukan berarti dia gagal menjadi ayah. Mungkin terdengar kejam, tapi sepertinya mantan kakak ipar cuma ingin memberikan yang terbaik buat Rafan," terang Rara.
Karina kembali ke rumah belakang, setelah bayinya pulas, dan tidak ada tanda-tanda Gara akan kembali.
Dia tidak kecewa, karena merasa Gara seperti berbohong soal ucapannya. Mau belajar cara membersihkan pup bayi. Lagipula baginya, tidak ada yang bisa diharapkan pada pria itu. Karina cukup mengenal bagaimana buruknya mantan suaminya itu, dan justru jika dia baik itulah hal aneh bagi Karina.
"Hm, tapi sekarang kita juga nggak bisa kemana-mana, Ra. Semua tabungan, dan kartu kakak ada di dia. Termasuk KTP," terang Karina.
Setelah membicarakan soal Rafan dan mantan suaminya itu, kini Karina terpikirkan nasib adik sepupunya itu. Rara sebentar lagi masuk kuliah, tapi di saat yang sama sekarang dia sudah tidak punya apa-apa.
Sebenarnya Rara pun, mengkhawatirkan itu. Takut tidak jadi kuliah setelah masalah tersebut.
"Kakak tidak usah khawatir, setidaknya kita punya tempat tinggal," jelas Rara berusaha untuk tersenyum.
"Tapi--" Karina agak ragu membahas kuliah adik sepupunya itu, dan Rara mengerti.
"Tidak usah dipikirkan, Kak. Aku bisa bekerja di luar, dan yang terpenting adalah Rafan. Setelah mendengar cerita kakak, setidaknya satu hal yang baik, mantan kakak ipar cukup perduli pada darah dagingnya. Aku harap dia menyayangi Rafan," ungkap Rara.
Karina mengangguk, tapi jauh dilubuk hatinya banyak yang dia khawatirkan. Takut kehilangan anak, tapi lebih takut jika Rafan cuma dijadikan alat untuk mendapatkan harta warisan.
Sebagaimana dia dulu, dia rela menjadi istri bosnya, Anggara yang sekarang menjadi mantan suaminya, demi cinta demi perasaan yang membuatnya tampak bodoh. Pernikahan yang hanya sebatas di atas kertas.
Brugh!!
Keduanya tiba-tiba di kejutkan dengan pintu yang coba didobrak dari luar. Beberapa kali suara kencang itu terjadi, sebelum Gara muncul dibalik pintu.
"Aku pikir kamu kabur!" ucap pria itu sinis. "Aku cuma sebentar pergi, tapi kamu malah kembali ke sini!" omel Gara.
Namun, belum juga Karina menyela. Seolah tidak memberi kesempatan, Gara kembali bicara.
"Ayo, ikut aku. Kamu sudah tidak punya pilihan. Mulai sekarang tinggal denganku sebagai ibu Rafan, atau pengasuhnya, tapi jangan harap aku membayarmu. Aku tidak akan memberimu kesempatan untuk pergi lagi Karina!"
Karina mendesah kasar. Lagi-lagi pria itu seenaknya. Benar-benar tidak punya hati, dan membuatnya sangat muak. Sayangnya dia juga tidak berdaya sekarang.
"Setidaknya pelan-kan suaramu, bajing*n. Rafan sedang tidur!" geram Karina yang kemudian menginjak kaki Gara. Setidaknya dia masih bisa melakukan pembalasan kecil seperti itu.
"Sssttt ... Karina!!" balas Gara jadi geram, tapi anehnya dia malah menurut, dan memelankan suaranya.
"Yasudah, ayo ikut. Kamu, adikmu Rara bukan namanya ... ikut aku ke rumah utama. Mulai sekarang kalian tinggal bersamaku!" tegas Gara.
Karina tidak begitu saja menurut. Gara sangat licik, tapi dia juga tak akan membiarkan masa depan adiknya hancur begitu saja.
"Baiklah, tapi sebelum itu kamu harus berjanji membiayai perkuliahan Rara!" tegas Karina.
Gara agak terkejut, tapi kemudiaan mengangguk. Meski kemudiaan malah menambahkan syarat.
"Tapi tidak ada yang gratis, Karina. Berjanjilah setelah aku melakukan itu, kamu juga harus patuh padaku!" ucap Gara.
Karina mengepalkan telapak tangannya. Ingin rasanya sekarang dia memberi bogeman mentah pada mantan suaminya itu, tapi dia ingat dia sendiri perempuan. Tenaganya pasti kurang cukup membuat Gara kesakitan.
"Tidak akan!" balas Karina berani. "Aku tidak sudi menjadi budakmu Tuan Anggara dan dengarlah ini ... aku setuju tinggal denganmu, tapi tidak di kamarmu, tapi kamu juga harus membiayai kuliah Rara!"
"Kalau begitu lebih baik kamu jadi pengasuh anakku!" balas Gara menusuk perasaan Karina.
Namun, wanita itu justru tersenyum kecut, dan dia pun tidak mau kalah. Tidak akan dia membiarkan Gara menguasai dan memperlakukannya seenaknya, sebagaimana di masa lalu.
"Kamu pikir aku tidak berani pergi, hahh? Dengar Tuan Anggara, sampai sekarang aku masih merasa lebih baik hidup dijalanan daripada tinggal denganmu!" kecam Karina.
Gara mendengus dan tersenyum merendahkan. "Tapi aku yakin kamu tidak bisa hidup tanpa bayi kita, dan aku tidak akan membiarkanmu memisahkan kami!"
Karina terdiam, mengigit bibirnya sambil mengepalkan tangan, lalu menatap Gara dengan tatapan yang masih melawan, bedanya genangan air matanya mulai muncul memperlihatkan ketidakberdayaannya.
"Tidak usah menangis, kalau itu mau baiklah. Aku tidak akan memaksa dan berjanji akan membiayai kuliahnya Rara," tiba-tiba Gara berubah pikiran.
Saat Karina hendak lebih menatapnya untuk memastikan, pria itu sudah berbalik dan membelakanginya.
"Bereskan barang kalian, dan pindah dari tempat ini. Aku akan menyiapkan kamar untuk kalian. Lakukan secepatnya dan jangan membuatku berubah pikiran!" terang Gara sebelum berlalu dari sana secepatnya.
"Mantan suami kakak, aneh!" komentar Rara yang sedari tadi cuma diam dan menonton.
Sekarang dia menggaruk kepalanya yang tak gatal, seraya mengangkat bahunya. Bingung memikirkan perubahan cepat sikap mantan kakak iparnya itu.
Karina mengusap sudut matanya dan menarik nafas. "Entahlah, Ra. Tidak usah dipikirkan, yang terpenting sekarang kamu bisa kuliah. Hm, kamu belajar yang benar ya, dek. Raih impian kamu dan jangan pernah mau dikendalikan oleh perasaanmu. Mencintai seseorang itu bagus, tapi kamu harus mencintai dirimu sendiri terlebih dahulu," ucap Karina.
Dia berbalik, lalu mengusap lengan adiknya itu. Tak mau Rara mengalami hal serupa dengannya dan terjebak. Sementara itu, Rara langsung menganggukkan kepala.
*****