Bab 14. Tekanan Gara

1065 Kata
Karina langsung membersihkan dirinya di rumah belakang yakni tempat tinggalnya para ART, berganti pakaian, lalu mengeringkan rambutnya. Barulah setelahnya menemui putra kecilnya, Rafan. Bermaksud memberinya asi, sebelum dia menghadap Gara. Namun, belum juga rambutnya kering, tiba-tiba pintu kamarnya dibanting, dan Rara muncul di sana di depan pintu. "Yaampun, Ra ... pelan-pelan! Lagian kamu kenapa sih?" tegur Karina, tapi Rara malah menggelengkan kepalanya. Gadis itu menghampiri kakaknya dalam wajah panik dan terlihat tegang. "Ra-Rafan ... anak kamu, Kak ..." ucap Gadis itu terbata. Mungkin karena terlalu khawatir. "Iya, Rafan kenapa dan dia kemana? Bukannya kalian tadi bersama?" Karina terpengaruh dan ikut khawatir. Bahkan wanita itu langsung menaruh hairdryer dan berdiri. Sementara Rara yang gugup, menggeleng dengan tak jelas. "Iya, tadi kami main di taman, tapi setelah itu dia dibawa pergi!" jawab Rara jujur. Tubuh Karina langsung lemas dan luar biasa khawatir. Dia kaget, dan juga panik. "Bagaimana bisa dan siapa yang mengambilnya?!" tuntut Karina, kali ini dia bahkan sampai sedikit mengguncang lengan adiknya itu. "Mantan suami kamu, Kak ...." "Apa?!" "Iya, Kak. Dia merebut Rafan dariku dan membawanya masuk ke dalam rumah utama, tapi selain itu dia bilang kita tidak bisa menipunya, karena dia bilang Rafan miliknya!" Karina bertambah panik, dan tanpa memperdulikan keadaannya, dia segera ke rumah utama. Mencari Gara dan putranya Rafan. Benar saja apa yang, Rara katakan. Ternyata pria itu tengah bersama Rafan. Dia tersenyum smirk dan menatap Karina dengan tatapan meremehkan. Lalu saat Karina mendekat, dia melemparkan berkas ke arahnya. "Aku sudah bilang kembali ke sini, Karina, tapi kau lama sekali. Jadi, aku bermain dengan putraku saja!" ucap Gara dengan angkuh. Dia tidak membiarkan Karina mendekat dan menjauhkannya dengan Rafan. Hal itu pun membuat Karina geram. "Dia bukan anakmu!!" bentak Karina cukup kencang. "Bacalah hasil tes DNA itu, apa kau pikir dokter berbohong soal hasil tesnya," jelas Gara tersenyum penuh kemenangan. "Kamu tahu seminggu ini sebenarnya selain pergi untuk urusan bisnis, aku diam-diam melakukan tes DNA pada bayiku ini, dan kamu pasti bingung darimana aku mendapatkan sampel DNA-nya? Tapi harusnya kamu tidak bingung, Sayang ...." Gara memanggilnya dengan manis, tapi Karina tidak menyadarinya. "Aku pemilik rumah ini, dan sebelum pergi satu minggu lalu aku sudah menyogok salah satu rekan kerjamu untuk mendapatkan rambut bayiku ini," terang Gara santai. Wajah Karina langsung pucat. Jadi, ini alasan pria itu menghilang dan seminggu tidak mengganggunya, dia diam-diam menuntaskan kecurigaannya. "Aku tidak peduli, kembalikan Rafan padaku, dia hanya putraku. Bukan milikmu!" tegas Karina. Dia mendekat dan mencoba meraih bayinya, tapi Gara malah menghindar. Saat itu, Karina masih sadar untuk tidak mencelakakan bayinya, karena aksi saling tarik. Sehingga sebisa mungkin untuk merebut Rafan dia berhati-hati. "Oh, jadi kamu memberinya namanya Rafan? Bagus juga, tapi dia bagian dari diriku juga, harusnya kamu minta pendapatku juga. Dia milikku juga Karina! Kamu pikir tanpa aku, kamu bisa mendapatkannya?!" sarkas Gara. Karina menggeleng, kedua bola matanya memerah seakan menahan rasa yang bercampur aduk. Frustasi, takut dan lainnya. "Tapi aku yang sudah mengandung dan melahirkannya. Selama ini aku berjuang sendiri membesarkannya, sementara kamu apa yang sudah kamu lakukan, hah?!!" "Jangan berkilah Karina, jelas-jelas kamu yang pergi. Aku sudah melakukan segala cara untuk menahanmu, bahkan membuatmu tidak bisa bekerja dimanapun dan tidak diterima di keluargamu. Aku membayar orang tuamu yang matre itu untuk mengusirmu. Supaya apa? Supaya kamu sadar dan pulang, tapi kamu malah keras kepala. Bahkan diam-diam hamil dan tidak pernah memberitahu aku soal keberadaan anak ini. Anakku! Kamu bahkan berbohong!" balas Gara membentak Karina. Hal itu membuat Rafan yang tengah dia gendong menjadi terkejut, dan menangis kencang. "Eeee ... eee!" "Berikan padaku!" Karina nyaris putus asa sambil geleng-geleng kepala dan mencoba merebut Rafan dengan cara baik-baik. Gara akhirnya tanpa diduga menyerahkannya begitu saja, walaupun bingung Karina hampir saja lega, tapi pintu tiba-tiba sedikit dibanting sebelum kemudian dikunci. Blam! Cklek!! "Mulai sekarang bayiku akan tinggal bersamaku, kamu boleh menemuinya, tapi hanya memberinya asi!" ucap Gara dengan tatapan datar setelah pintu kamarnya terkunci. "Apa maksudmu, Rafan tidak bisa terpisah dariku dan dia selalu bangun tengah malam!" terang Karina. Gara menyeringai dan tersenyum senang. "Oh, jadi maksudmu kamu juga mau tinggal bersamaku?" "Tidak, aku tidak akan pernah sudi!" balas Karina. "Kalau begitu, jangan harap. Sudah kubilang kamu memang boleh bertemu, tapi sekedar memberi asi. Aku ayahnya, dan kamu mungkin ibu kandungnya, tapi sekarang sepertinya kamu malah lebih tertarik jadi baby sister dan ibu asinya!" terang Gara tanpa perasaan. Dia dengan tanpa hari, secara tak langsung memperingatkan Karina soal statusnya. Karina cuma tukang bersih-bersih, dan Gara mencoba membuat anak mereka cuma menganggapnya cuma sebatas itu. Bukan ibu, tapi pengasuh atau pembantu. "Keterlaluan!" Karina berkaca-kaca dan hampir menangis, tapi mau kaburpun pintu sudah dikunci. "Aku yang melahirkannya!" "Terserah, tinggal kamu pilih saja. Tidak sulit, Karina. Terus menjadi ibunya, atau menjadi pengasuhnya?" Karina mengusap pipi basahnya, menatap Rafan yang coba dia timang supaya berhenti menangis, tapi tangisannya semakin kencang. "Dia haus, apa kamu bodoh? Beri asi untuk anakku, dan tenang saja, aku pasti membayarmu lebih. Kamu butuh uang bukan?" ucap Gara membuat dad* Karina sesak. Pria itu benar-benar menekan posisinya, benar-benar sudah berniat membuat Rafan tidak menganggapnya ibu lagi jika dia tidak setuju. "Apa kamu benar-benar tidak punya hati, kamu sudah selingkuh dan sekarang ingin mengambil anakku?!" Karina sungguh tak habis pikir, tapi kemudiaan memikirkan ucapan Gara soal menyusui Rafan. Bayinya sepertinya haus, tapi Karina tidak berani menyusuinya di depan Gara. Bagaimanapun juga status diantara mereka adalah mantan suami-istri. "Cukup omong kosongnya Karina, lebih baik jawab saja. Kamu masih mau menjadi ibunya Rafan, atau pengasuhnya!" tanya Gara santai. Membuat Karina geleng-geleng kepala. "Tidak! Aku tak mau keduanya. Dengar, buka pintunya dan biarkan aku pergi. Aku tidak mau menjadi ART lagi, aku tidak sudi bekerja denganmu!" Gara mendesah kasar, dia kemudian menghampiri tempat tidur dan berbaring di sana dengan santai, tapi tatapannya tak pernah lepas dari Karina. "Apa kamu belum sadar, sekarang kamu benar-benar tidak punya uang bahkan sepeserpun. Sebenarnya aku tidak tega, tapi kamu benar-benar keras kepala, jadi biarkan aku mengungkapkannya. Sebenarnya selain melakukan tes DNA, aku sudah menghacurkan semua kartumu sayang. Kamu tidak punya uang bahkan dompetmu sudah ditanganku!" Karina bingung, karena seingatnya pagi tadi sebelum Gara pulang ke rumah semua kartu dan uangnya masih tersimpan rapih. Bahkan dia sempat menggunakannya. Sementara itu, Gara yang mengerti dengan pikiran Karina langsung menyeringai, berguling menghampiri nakas di dekat tempat tidur dan mengeluarkan sesuatu dari lacinya. Ternyata itu dompet Karina. Bara membongkarnya dan memperlihatkan dompetnya yang kosong dan beberapa kartunya yang sudah terpotong. "Sekarang kamu tidak bisa kemana-mana!" *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN