Bab 13. Bertingkah Konyol

1019 Kata
Sudah hampir satu minggu Gara tidak pulang ke rumah, dan Karina menjadi sedikit waswas. Bukan mencemaskan soal kondisi pria itu, hanya saja dia merasakan hal yang aneh, dan menebak-nebak mantan suaminya itu mungkin saja sedang merencanakan sesuatu. Terlebih lagi menghilangnya Gara dari hadapannya, setelah pertemuannya dengan Rafan. Mantan suaminya itu bahkan bersikeras saat itu. "Ekhm!" Deheman seseorang membuat Karina tersadar dari lamunannya, meski kemudiaan dia malah acuh pada deheman itu, dan memfokuskan pekerjaannya. "Apa kamu tidak merindukanku, Karina?" tegur orang itu, dan saat berbalik, barulah Karina tahu siapa pelakunya. Tidak lain adalah Gara mantan suaminya yang menyebalkan. Karina cuma menoleh sebentar, lalu kembali fokus. Sayangnya hal itu membuat Gara kesal, karena dia paling tidak suka diabaikan. Mendekat, lalu secara tak terduga menendang ember pencuci kain pel yang saat ini Karina gunakan. Byurr! Air itu pun tumpah membuat Karina kaget dan juga meringis. "Apa kamu sudah tidak waras, pulang-pulang malah merusak pekerjaan orang. Aku sudah capek mengepel lantai sejak tadi, dan seenaknya kamu malah mengotorinya kembali!" omel Karina. "Salahmu, itu hukuman karena tidak mendengar panggilanku!" balas Gara dengan menyebalkan. Karina sampai menggerakkan gigi, geram dengan kelakuan mantan suaminya itu. Mendesah kasar, lalu mengepalkan tangannya kuat, mencoba menahan emosinya yang mau meledak. Karina kemudian mendesah kasar dan menatap tajam pada Gara. "Aku mendengarmu, apa kamu tidak lihat tadi aku menoleh!" jawab Karina sambil menahan geram. Namun, bukannya merasa bersalah, Gara justru mengangkat bahunya acuh dan bersikap santai. Seolah yang barusan dilakukannya bukan apa-apa. "Tapi kamu tidak menyambutku, Karina. Lagipula, aku juga membayarmu untuk melakukan pekerjaan itu. Kalau kotor lagi, yah kamu tinggal membersihkan lantai itu kembali," jelas Gara seenaknya. Karina yang mendengar itu hampir frustasi, tapi kemudiaan dia memilih menggigit bibirnya untuk menenangkan dirinya sendiri. 'Sudahlah, nggak ada gunanya juga meladeni bajing*n satu ini, yang ada aku bisa pusing sendiri dan dia pasti semakin seenaknya. Karina pun berbalik, hendak meninggalkan tempat itu setelah Gara pergi. Rencananya dia akan membereskan lantai basah oleh tumpahan air bekas pel itu, setelah Gara pergi atau naik ke lantai atas tepatnya kamarnya. Namun, saat dia berbalik Gara malah menarik tangannya. Tak mampu kalah, Karina pun sontak memberontak. Sampai terjadilah adegan tarik-tarikan diantara keduanya. Hingga tanpa sengaja adegan itu membuat mereka terjatuh, karena tanpa sengaja sudah berada di area lantai yang basah. Brugh!! "Aaarrgghh!" "Sssttt!" Keduanya kompak mengeluh sakit dan meringis, tapi setelah itu Karina menyadari sesuatu, bahwa dia jatuh menimpa tubuh Gara. "Sial. Apa kamu tahu Karina, aku pulang ke rumah ini hanya untuk melihatmu, tapi apa kamu malah membuat bajuku kotor, ditambah dua jam lagi aku masih punya pertemuan dengan klien penting!" keluh Gara. Karina langsung bangkit, seraya sedikit tersenyum. Walaupun sakit, tapi dia senang mendengar keluhan Gara. "Aku tidak memintamu pulang, lagipula aku sudah sangat senang kamu tidak di rumah ini selama satu minggu ini," ungkap Karina. Gara mendengus kasar, kesal dengan jawaban itu dan seperti tidak terima. "Kamu memang perempuan tidak punya hari!" omel Gara. "Terserah!" jawab Karina acuh tak acuh. Sementara itu, Gara barulah bangkit dan menyadari kalau ternyata Karina hampir tidak basah ditambah senyuman menjengkelkan di wajah mantan istrinya itu, hal itu pun membuat Gara terpikirkan untuk melakukan sesuatu. Setidaknya membuat wanita tidak besar kepala karena merasa sudah mengalahkan, karena tanpa sengaja berhasil membuatnya merasa sial. Gara yang setengah bangkit menarik Karina, sampai wanita itu kembali terjerembab di lantai. Kali ini Gara langsung mengungkungnya di bawah tubuhnya dan mengunci pergerakan Karina. "Setidaknya kita kotor bersama Karina," ucap Gara usil, lalu dengan tidak Karina duga, pria itu mengusap air kotor pada Karina. "Apa kamu gila, apa yang kamu lakukan?" Karina yang tidak bisa melawan karena pergerakannya dikunci, cuma mengumpat atas kelakuan konyol mantan suaminya. "Lihatlah, lantainya hampir kering berkat pakaian kita!" "Tapi aku jadi kotor bajing*n!" Gara cuma tersenyum dan menyeringai, sebelum kemudiaan membuat tubuh Karina terasa melayang di udara. Ternyata dia menggendongnya, atau tepatnya cuma mengangkat Karina dibahunya seperti tengah memikul karung beras. "Aaaaaaaaaaa!" Byur! "Sekarang kita bisa membersihkan diri, mantan istri!" Ternyata barusan Gara menjatuhkan tubuh Karina ke dalam kolam renang, dan dia pun menyusulnya setelah itu. Byur!! Setelah menyusul, Gara langsung diserang oleh Karina dengan mencipratkan air ke tubuh pria itu. "Sasaran itu bajing*n! Kau pikir aku bonekamu hah?! Bisa kamu mainkan seenaknya, tapi tidak masalah karena aku bisa jadi Anabelle!" "Berhenti! Jangan gila Karina, aku hampir tidak bisa bernafas. Byur-byurr!! Karina terus mencipratkan air pada Gara, tapi ditengah kejadian, Gara yang awalnya mencoba menghindar tiba-tiba terdiam karena melihat sesuatu dan tiba-tiba tersenyum. Membuat Karina yang menyerangnya perlahan merenggangkan serangan, dan melihat kearah tatapan Gara. Barulah setelah itu dia menyadari sesuatu. "Berengs*k, otak mes*m, apa yang kamu lihat, tutup matamu atau aku mencongkelnya!" bentak Karina langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dad*. Ternyata pakaiannya mengalami robekan di sana, dan mungkin hal itu karena ketidaksengajaan yang disebabkan oleh kejadian barusan. Entah robek saat dia jatuh ke lantai, saat memberontak atau saat di jatuhkan ke kolam. Apapun penyebabnya, pakaiannya jadi memperlihatkan bra yang tengah digunakan. Hal itu membuat Karina malu, meski sebenarnya Gara sudah pernah melihat bahkan merasakannya, tapi itu sudah lama dan saat itu mereka masih suami istri. "Semakin berisi!" komentar Gara entah sedang memuji atau meledeknya, tapi apapun itu, Karina tetap tidak suka. Dia kemudian buru-buru naik ke atas, dan kembali menyilangkan kedua tangannya di depan dad*. Buru-buru bergegas menuju rumah belakang. Namun, baru beberapa langkah, Gara yang menyusul, berhasil menahannya. "Apalagi, hah?! Jangan macam-macam, lepaskan aku!!" peringat Karina panik. "Diamlah, atau kamu mau aku menutup mulutmu?" peringat Gara sambil menatap bibir Karina dengan tatapan aneh, dan Karina tahu arti tatapan itu. "Mesu--" Cup! Karina membulatkan matanya, barusan mantan suami mengecupnya. "Kalau kamu ingin lebih, sekarang berteriaklah!" jelas Gara menyeringai. Karina langsung tak berdaya, dan menurut. Bahkan tidak melakukan pemberontakan. Sementara itu, sebelah tangan Gara masih menahannya, dan sebelah lagi, digunakan untuk melepaskan bajunya. Karina yang tak berdaya sempat was-was, tapi saat Gara menggunakan baju itu untuk menutup bagian depan tubuhnya, Karina malah menatapnya dengan bigung. "Di rumah ini bukan cuma ada perempuan, tapi ada pekerja laki-laki, dan aku paling tidak suka berbagi. Pergilah, ganti pakaianmu, dan kembali ke sini. Ada hal yang mau kubicarakan denganmu!" tegas Gara yang kemudiaan pun akhirnya melepas tangan Karina yang sempat ditahannya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN