12. Lebih Dekat

1150 Kata
Hana terpaksa mandi di kamar mandi lain yang ada di rumah itu, karena kegerahan dan tidak tahan. Dia kembali ke kamar setelahnya, dengan kimono handuk dan handuk yang menggulung rambut di atas kepalanya. "Kamu sudah mandi, Han?" ucap Argan menyapa Hana. Wanita itu baru masuk ke sana, dan langsung melirik suaminya sinis. Lalu mengabaikannya dan menuju lemari untuk mengambil pakaian tidurnya. "Kamu marah sama saya?" Hana tidak menjawab dan terus mengabaikan Argan. Dia terus menyibukkan diri dengan lemari dan pakaiannya. Akan tetapi, saat dia berbalik dan hendak masuk ke kamar mandi yang di dalam kamar itu, dia segera terkejut. Argan tiba-tiba sudah tepat di depannya dan menghadangnya. "Mas kenapa sih? Aku mau ganti pakaian!" ucap Hana dengan kesal. "Yasudah, ganti saja. Tidak ada yang melarang-mu," jawab Argan. Dia menatap Hana, tepatnya pipi istrinya, selang berapa detik kemudian. Tiba-tiba saja pria itu mengusap pipi istrinya, lalu beralih mencubit ringan dengan gemas. "Jangan ngambek, besok saya bawakan oleh-oleh," ucap Argan membuat Hana menatapnya serius. Dia bingung maksud pria itu. Oleh-oleh, memangnya dia mau kemana, Argan tidak mengatakan apapun sebelumnya. "Mas mau pergi?" tanya Hana memastikan. Argan mengangguk ragu, dan menjelaskan. "Besok ada seminar yang harus dihadiri perwakilan kampus kita, tapi di luar kota. Mungkin akan pulang malam, tapi bisa juga besoknya." Mendengar itu Hana langsung berlalu begitu saja, dia akhirnya masuk ke kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah katapun pada suaminya. Blam! "Nyebelin banget punya suami kayak pak Argan. Huhhh, besok mau pergi sekarang baru ngomong!" gerutu Hana dalam kamar. Namun, tak lama dia segera menyelesaikan urusannya di sana, dan keluar saat selesai. Hana membuka pintu, tapi tiba-tiba dia dikejutkan tepat melangkah keluar. "Arrrggghhh--mmm ...." Hana reflek berteriak, tapi dia segera membekap mulutnya sendiri dan memalingkan pandangannya. Ternyata tepat dihadapannya, Argan berdiri menjulang tinggi tanpa atasan sama sekali. Padahal sebelumnya Hana ingat jelas sudah dipakai. Anehnya pria itu sudah melepasnya, dan yang membuat Hana terkejut adalah kehadiran Argan yang tiba-tiba di depan pintu, juga keadaannya itu. "Berisik! Kenapa masih kaget begitu, hah?" tegur Argan cukup galak. Hana terdiam untuk sesaat, berusaha untuk tenang dan melirik suaminya dari sudut matanya. 'Tidak apa-apa Hana. Dia suamimu, tidak dosa kok diliatin begitu. Sudahlah, kamu harus terbiasa!' tekan Hana pada diri sendiri sambil membatin. Namun, nyatanya semakin diperjelas dan semakin diperhatikan. Jantungnya justru tidak karuan menatap Argan demikian. "Saya lapar, tapi kamu lama sekali di sana," ucap Argan kembali bersuara. Hana juga sama, dia juga ingin makan sekarang juga. Namun, sebelumnya mereka pulang bersama, jadi di rumah tidak ada yang menyiapkan apapun untuk di makan. "Kita keluar aja, yuk Pa--Mas ...." Hana memberi usulan, tapi dia membekap mulutnya dengan telapak tangan, seraya merutuki kecerobohannya. Hampir saja dia dihukum. Ragu-ragu diapun melirik Argan memastikan suaminya itu, tapi sepertinya tidak menunjukkan gelagat yang mencurigakan, lalu Hana menghela nafas. "Tidak usah keluar, saya sudah capek dan saya yakin kamu juga. Kita pesan makanan aja," usul Argan. Hana mengangguk dan sesaat setelahnya suaminya mengambil ponsel dan mungkin membuka aplikasi pemesanan makanan di sana. "Kamu mau makan apa?" tanya Argan. "Mie Gacoan level empat!" beritahu Hana. "Nggak boleh!" Hana berdecak, lalu mendekat. "Yaudah apa aja, yang penting mie. Aku lagi pengen makan mie, Mas," jelas Hana. Argan tidak menjawab, tapi dari yang Hana perhatikan saat mengintip pesanan suaminya itu. Tidak ada satupun olahan mie yang dipesan. Hal itu pun menyebabkan Hana mengerucutkan bibirnya tanpa sadar akibat kesal. Namun, dia tidak menduga justru hal itu membuat Argan menci*mnya. "Kenapa?" ucap Argan setelah selesai. Pria itu santai seolah yang dia lakukan adalah sesuatu yang seharusnya. Memang tidak salah, tapi Hana tidak terbiasa terlebih lagi karena tiba-tiba. Hana pun menggeleng dan mencoba bereaksi seperti Argan, walau akhirnya dia tidak bisa. "Kamu mau lagi?" ceplos Argan datar. Sesaat Hana memperhatikan suaminya, lalu saat pria itu bergerak akan melakukan hal yang sama Hana tersadar dan langsung kabur dari sana. Dia ke dapur dan meneguk air putih untuk menenangkan dirinya. "Pak Argan kok, jadi m***m setelah menikah? Apa dia memang kayak gini sama pasangannya ...." Hana terus berpikir dan memerah. Dia antara malu, dan jadu gelisah. Beberapa menit kemudian, pesanan mereka pun tiba. Tak ada yang terjadi saat makan. Hingga mereka kembali ke kamar. "Kamu siapkan pakaian ganti saya buat besok, Han. Jangan lupa dalemannya juga!" ultimatum Argan terdengar biasa, tapi Hana justru horor. "Dal--huhh ...!" Hana geleng kepala seraya kembali membatin. 'Aduh, ngapain mau ditanyakan lagi. Udahlah, Han ... entar dia tantrum lagi, kamu yang repot!' "Oh, iya. Kalau kamu takut sendiri di rumah, ajak saja teman kamu Indah nginap," usul Argan pengertian. Hana mengangguk saja, sembari bersiap untuk menyiapkan keperluan suaminya. Ini pertama kali, karena saat mau berangkat bulan madu beberapa waktu lalu Argan masih mandiri. Tidak ada masalah sama sekali, tapi pada bagian celana dalam, Hana sedikit memerah dan gugup. Dia canggung karena itulah kali pertamanya memegang milik pria. Lalu dengan cepat-cepat dia pun mengambil acak dan sembarang. "Bisa kan?" Tiba-tiba Argan sudah dibelakangnya saja. Hana terkejut dan berbalik menatap suaminya dengan bingung. "Bisa apa, Mas?" "Kamu harus terbiasa dengan apapun yang berhubungan dengan saya tanpa terkecuali. Jangan canggung Hana, kamu milik saya!" jelas Argan yang tidak dimengerti Hana, tapi dia tak bertanya lagi, dan hanya mengangguk. ***** Hana sudah tertidur malam itu, tapi dia tiba-tiba terbangun karena merasa kepanasan. Ternyata suhu pendingin ruangan sedang mati, dan posisi Hana yang pulas sedang diselimuti selimut yang lumayan tebal. Menyadari hal itu, Hana segera menyingkirkan selimut di tengah rasa kantuknya. Dia juga segera menyalakan pendingin ruangan. Namun, karena sudah sangat kepanasan Hana langsung menyalakan pendingin ruangan dengan suhu yang paling dingin. Hana kembali berusaha untuk tidur saat itu, dan sebenarnya sudah hampir pulas. Akan tetapi pintu dibuka membuat Hana kembali terjaga. Dari sudut matanya yang sedikit dibuka, Hana melihat Argan masuk ke sana. Namun, Hana tidak terlalu menghiraukannya, dan memutuskan tidur kembali. "Ckckck, kenapa kamu ceroboh?!" ucap Argan. Sepertinya dia menyadari keadaan di kamar itu. Suhu dingin dan Hana yang tidak menggunakan selimut. "Apa dia tidak takut sakit ...." Tepat saat Argan mengatakan itu, Hana merasakan ranjang bergerak. Dia bisa menebak walaupun sedang menutup mata, kalau sepertinya Argan naik ke sana. Ke sisi tempat tidur tepat disebelahnya. Sementara itu tanpa mematikan pendingin ruangan, Argan segera menarik selimut untuk Hana, dan dirinya sendiri. Akan tetapi, setelahnya Hana tiba-tiba dikejutkan dengan tangan Argan yang menyelip dan memeluknya dari belakang. Bukan cuma itu, Argan yang masih tidak memakai atasan juga tidak langsung tidur. Hana bisa merasakan tubuh terbuka Argan menempel pada dirinya. Juga kegiatan lain yang Argan yang selanjutnya membuat Hana meremang dalam seketika. Sebuah kecupan lembut yang awalnya terasa menggelitik di lehernya, perlahan meningkat ke arah yang lebih menuntut. Sampai di sana Hana masih terdiam seolah pasrah, tapi beruntunglah hal itu tak berlangsung lama. Hana bisa mendesah lega, selang setelah Argan berhenti dan dia mendengar nafas teratur suaminya. "Pantesan ada gigitan nyamuk di sini!" ucap Hana mendesah kasar. Dia berbalik dan menatap Argan yang pulas. "Ternyata memang digigit nyamuk!" gerutunya sambil menatap Argan dengan perasaan yang bercampur aduk. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN