"Jadi kakak tirimu tinggal di gedung apartemen yang sama dengan gedung apartemen unitku?" tukas Indah serius setelah menyimak cerita Hana.
"Begitulah In, bajing*n itu semakin gila. Padahal aku sudah berpikir dia berhenti setelah aku menikah, tapi yasudahlah ... seenggaknya aku juga sedikit lega karena tidak tinggal di bawah atap yang sama," ungkap Hana bercerita.
"Baguslah, Han. Aku senang mendengar kamu baik-baik saja. Jangan terlalu dipikirkan atau dibawa stress. Jalani aja, lagian nanti juga dia sendiri yang capek," saran Indah.
Hana mengangguk saja dan memilih menyudahi pembahasan mereka mengenai Andreas, dengan mengalihkan pada topik lain.
"Oh, iya ... gimana dengan sempro kamu? Udah jadi daftar In?" tanya Hana penasaran.
Hana memang ketinggalan dari sahabatnya dan mungkin dari mahasiswa lain tingkatannya. Hal itu terjadi karena dia banyak masalah, dan tidak fokus.
"Jadi dong, tadi pagi udah selesai pendaftaran Han," jelas Indah membuat Hana terpancing untuk mengejar ketinggalannya.
Sehingga sore itu setelah bersama Indah seharian, Hana memutuskan ke kampus untuk bimbingan. Dia mempersiapkan segalanya dan bahkan sudah menghubungi Argan. Meski tidak jawaban dari suami sekaligus dosen pembimbingnya, Hana tetap ke sana.
Wanita itu memperhatikan beberapa teman angkatannya yang juga anak bimbingan Argan. Mengantri di depan ruang dosen. Hana tidak menyela antrian dan menunggu dengan sabar. Sampai beberapa jam berlalu, dan hari sudah sangat sore. Hana memastikan sepertinya semua mahasiswa yang juga punya jadwal telah selesai dan mendahuluinya.
Hana pun mengetuk pintu, tapi tetap masuk meski tidak ada jawaban. Namun, begitu masuk dia disambut oleh sapaan suaminya itu.
"Jadi, kamu beneran ke sini?" ucap Argan.
Dia sepertinya sudah tidak punya jadwal, bahkan untuk mengajar. Pria itu bahkan sepertinya sudah bersiap pulang.
"Kan aku sudah memberitahu Pak Argan lewat pesan singkat," jelas Hana apa adanya.
"Yang menghubungi saya hari ini banyak, dan bukan kamu saja," jelas Argan.
"Tapi dibaca buktinya, Pak Argan tahu."
Argan mengangguk singkat, dia nampaknya sudah lelah sehingga hanya ingin pulang saat itu juga dan tak mau mendebat Hana.
"Harusnya kamu tahu aturan dalam bimbingan, kalau mau buat jadwal hubungi saya satu atau dua hari sebelum hari-H."
Selesai mengatakannya, Argan selesai merapihkan mejanya, dan bangkit untuk pulang. Dia bahkan sudah melewati Hana yang memaku di sana.
"Ayo! Ngapain di sini terus Hana. Kamu tidak mau ikut pulang?" tegur Argan.
Hana geleng kepala. "Tapi kan kita belum bimbingan?"
Argan langsung berhenti, berbalik dan kembali menghadap ke arah Hana. Dia bahkan mendekat, lalu memegang kedua lengan Hana, sambil menatap dengan serius.
"Sudah mau gelap, dan sepertinya mau hujan. Kalau mau bimbingan besok saja," jelas Argan memberi pengertian.
Dia tidak pernah seperti itu sebelumnya, menjelaskan dengan begitu sabar padahal dia sudah sangat kelelahan.
"Mas ini gimana sih? Kemarin-kemarin ngomel karena aku nggak pernah setor bimbingan, giliran udah rajin. Malah nggak mau dibimbing!" ketus Hana melepaskan kesalnya tanpa sadar.
Namun, saat menyadari memanggil panggilan yang sama, diapun reflek terpejam. Bersiap menerima sentilan yang biasa Argan lakukan, tapi sepertinya dia sudah lupa hukumannya sudah diganti.
Slap!
Pinggang Hana tiba-tiba ditarik, bersamaan dengan hal itu Hana membuka matanya dan melirik ke arah pinggangnya itu. Namun, belum juga memastikan dengan benar, sebuah benda lembab dan lembut segera menguasai bibir.
"Hosh-hosh! Pak Argan kita masih di kampus, gimana kalau ada yang melihat!" Hana yang tidak terbiasa meraup nafas dengan kasar, tapi Argan malah terlihat datar.
"Makaya, ayo pulang!"
"Nggak mau, saya mau bimbingan!"
"Hana apa kamu tidak tahu hari udah sangat sore? Sebentar lagi malam ...."
"Nggak!!"
"Yaudah, mana bab-3 kamu?"
"Apa?!"
Hana sedikit syok dan menyadari sesuatu. Niatnya sudah terkumpul dengan baik dan semangat empat lima, tapi masih ada yang kurang.
"Beberapa hari lalu kamu juga ingin bimbingan dan hari ini ngotot bimbingan, tapi lupa belum mengerjakan bab tiga?!" Argan tak habis pikir, dan Hana langsung menyengir.
"Astaga kok, aku bisa lupa ya, Pak?" cicit Hana antara malu dan tak habis pikir dengan dirinya sendiri.
Argan tidak menjawab dan berjalan meninggalkan Hana, tapi Hana juga tidak mau ketinggalan dan mengekori suaminya seperti anak ayam.
"Cepat, nanti ada Genderuwo!" ucap Argan tiba-tiba saja jahit dan menggoda Hana.
Di kampus sudah sangat sepi, apalagi area menuju parkiran dosen. Hampir tidak ada siapapun lagi di sana. Namun, Hana tidak takut dan berusaha untuk beranj, karena dia terbayang Argan yang pernah menggodanya dengan candaan yang sama.
"Ck, becandaan Bapak nggak lucu. Saya nggak takut!" ceplos Hana. Bahkan dia sengaja memperlambat langkahnya.
"Tidak percaya tidak apa-apa, tapi gedung sebesar ini nggak mungkin juga nggak ada penghuninya, apalagi udah sore menjelang magrib," ungkap Argan.
Hana terdiam menatap sekitarnya. Mendung karena sepertinya mau turun hujan semakin membuat tempat itu gelap, mencekam seolah membenarkan ucapan Argan. Menyadari hal itu, Hana langsung membulatkan matanya dan berlari menuju Argan.
Huft!
"Mas kok tega tinggalin aku sendiri? Ayo cepat, aku nggak mau ketemu mahluk tak kasat maya di sini," ucap Hana serius.
Dia tak sadar sudah mengapit tangan suaminya erat, juga panggilannya, tapi tak hanya itu, Hana juga tak sadar seperti menyeret Argan supaya berjalan cepat.
Sementara itu, Argan hanya menarik sudut garis bibirnya ke atas. Entahlah, itu senyuman atau tidak, tapi sepertinya dia gemas sendiri dengan tingkah laku istrinya.
"Dasar penakut!"
"Biarin, daripada ditampakin!"
*****
Hana sedang bersiap mandi, dan baru saja masuk ke kamar mandi yang ada di kamar. Saat tiba-tiba pintu kamar mandi di buka dari luar. Argan muncul di sana dan membuat Hana syok serta langsung kaget.
"Mas ... aku mau mandi!" tegur Hana kesal.
Untung saja dia masih mengenakan pakaian lengkap, sehingga Hana segera bisa mendesah lega. Meskipun selanjutnya Argan justru membuat Hana bertambah kesal.
"Saya juga mau mandi!"
"Tapi aku duluan yang di sini!" rengek Hana tidak terima.
Argan tidak perduli, dia masuk lebih dalam dan melewati Hana begitu saja. Melihat hal itu, Hana reflek menahan pergelangan tangan Argan, lantaran tak terima.
"Aku duluan yang masuk ke sini, artinya harus aku dong yang mandi duluan, Mas!"
Argan mengangkat bahunya acuh. "Tapi saya mau mandi sekarang!" jawab Argan bossy.
Membuat Hana sedikit mengeram dan mencengkam pegangannya di lengan Argan, tapi bukannya mengeluh, Argan justru tersenyum melirik telapak tangan Hana di sana.
"Meski begitu saya tidak keberatan kita mandi bersama," jelas Argan langsung membuat Hana mundur.
Wanita itu langsung tersadar dan waspada. "Nggak mau!"
"Pilihannya cuma ada itu, istriku," jelas Argan membuat Hana langsung merasa aneh, karena panggilannya.
Dia memerah, dan kabur begitu saja, tapi Argan seperti tidak puas melanjutkan dengan sedikit berteriak.
"Mau kemana? Nggak jadi mandi, Han ...."
Brugh!
"Aaarrgggh! Nyebelin bangat sih, dosen satu itu!" gerutu Hana sambil menghentak-hentak kakinya ke lantai.
"Mandi bersama?" Hana menggelengkan kepala, mendadak dia merasa lebih horor daripada saat melihat penampakan.
*****