Hana berjalan masuk mendahului Argan. Dia langsung ke kamar mereka bermaksud untuk menenangkan diri setelah kejadian yang dialaminya. Duduk di tepi kasur dan mendesah kasar di sana.
"Pergelangan tanganmu memar sampai memerah," ucap Argan menghampirinya sambil membawakan kotak obat.
Hana menunduk memeriksa pergelangan tangan yang Argan maksud, lalu menyadarinya dan barulah dia merasa perih juga di bagian itu.
"Tidak apa-apa, luka kecil ini," jelas Hana mencobanya tersenyum untuk mencairkan suasana.
Dia yakin Argan mencurigainya, tapi apa yang harus dijelaskan. Haruskah dia mengatakan kalau kakak tirinya kembali berulah dan berniat buruk padanya. Memikirkannya Hana menghela nafas.
Lebih baik disimpan sendiri, toh dia hanya tinggal menghindar ke depannya. Walaupun Indah dan Andreas tinggal di gedung yang sama, Hana juga tidak perlu khawatir. Dia dan sahabatnya itu tinggal bertemu di tempat lain.
"Benarkah cuma luka kecil?"
Argan tidak menunjukkan reaksi apapun, tapi dia mendekat dan meraih tangan Hana dan memeriksanya. Namun, pria itu tiba-tiba saja menatap Hana aneh, dan tentunya membuat Hana merasakan perasaan tidak enak.
"Kamu benar juga, ini cuma luka kecil," jawab Argan, tapi gerakan pria itu justru dengan sengaja menekan bagian memar di pergelangan Hana dan membuat Hana mau tak mau meringis.
"Aaarrgggh ... ssstt! Nggak luka, kalau ditekan begitu juga sakit, Pak!"
Tuk!
"Ssstt ... dahi aku sakit loh digituin, Pak!"
"Makanya terbiasa menggunakan panggilan sesuai tempatnya. 'Pak-pak?' kamu pikir di rumah ini statusmu apa di rumah ini?!"
Hana langsung cemberut mendengar hal itu, dan kali ini kesalnya benar-benar tidak bisa ditahan. Sehingga gadis itu pun mendorong Argan dari hadapannya, lalu mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Bruk!
Tidak lupa wanita itu membanting pintu sebelum menutup pintunya dari dalam kamar mandi. Namun, bukannya merasa bersalah Argan justru menyunggingkan senyumnya. Gemas menyaksikan Hana yang sepertinya sedang merajuk.
"Jangan lama-lama nanti didatengin Genderuwo!" canda Argan sambil sedikit berteriak.
Namun, yang tidak dia duga candaannya itu malah membuat pintu kamar mandi dibuka dengan lebar dan Hana langsung keluar dari sana.
"Mas yang benar dong?!" gerutu Hana menuntut.
"Aku cuma bercanda, udah mandi lagi sana. Ngapain keluar lagi? Ngada-ada kamu di sini mana ada Genderuwo!" tukas Argan kelimpungan sendiri.
"Tapi kalau dia datang dan jadi ada gimana?" tanya Hana.
Wanita itu tampaknya serius ketakutan, dan Argan sedikit memiringkan kepala. Sedikit tak menyangka ternyata Hana yang dia kenal ternyata sangat penakut.
"Nggak ada, lagian rumah ini sudah dijaga. Genderuwo tidak bisa masuk!" jawab Argan sembarang.
Hana ternyata masih tak percaya dan terus menuntut. "Di jaga sama apa?"
Argan langsung menyesali candaannya, harusnya dia tidak berkata demikian kalau tahu istrinya akan setakut ini. Namun, diapun segera berpikir keras untuk menyelesaikan masalahnya.
"Pagar doa," celetuk Argan memperlihatkan wajah yang serius.
Hana pun masuk ke dalam kamar mandi, tapi sesaat setelahnya dia keluar lagi dan membuat Argan heran.
"Kenapa lagi?" tanya Argan.
"Aku mau video call Indah, karena nggak mungkin juga Mas ikut ke dalam," celetuk Hana membuat Argan langsung geleng kepala.
"Hana, aku tidak serius soal Genderuwo!"
Sayang sekali ucapannya sudah tidak didengar, Hana yang penakut sudah masuk ke kamar mandi, dan beberapa detik kemudian Argan mendengar suara telepon terhubung di sana yang disusul gemercik air.
*****
"Udah, mandinya?" tegur Argan begitu melihat Hana masuk ke dapur.
Pria itu ternyata sudah memasak dan menghidangkan makan malam untuk mereka. Menyadari hal itu Hana sedikit kaget, selama ini Argan barulah pernah masak untuk pertama kalinya.
"Tidak ada Genderuwo bukan?" lanjut Argan menghampiri Hana.
Bahkan dengan manis pria itu menarik kursi untuk Hana. Situasi itu pun berhasil membuat Hana kikuk dan agak canggung. Apa maksudnya Argan melakukan itu, tapi tanpa sadar Hana justru merasakan perasaan yang aneh.
"Nggak ada, tapi jangan dibahas lagi, Pak. Aku kepikiran entar," jelas Hana.
Lagi-lagi dia tak sadar memanggil Argan dengan salah. Hal itu terjadi akibat Hana agak bingung dan banyak pikiran setelah bulan madu. Entahlah, setelah dari sana Argan bahkan sangat kontraks berubah juga seperti orang yang berbeda.
"Makanya, biasakan panggilan kamu. Saya capek negur terus," jelas Argan langsung mengambil tempat di sebelah Hana.
Tidak biasanya juga begitu, sebab suaminya itu biasanya bahkan lebih suka duduk di depannya atau posisi mereka saling berhadapan.
"Lama-lama juga terbiasa, tapi jangan gitu juga cara negurnya. Cara lain kek, jangan yang bikin sakit," gerutu Hana tak terima.
Namun, sedetik kemudian Hana langsung kaget mendengar decitan kursi didorong, dan tiba-tiba saja Argan sudah berdiri. Saat Hana masih bingung mau mencerna kejadian yang terjadi, dia tiba-tiba saja dikagetkan dengan ci*man menuntut yang tidak pernah dibayangkan.
Argan tidak mengecup, dia melumat bahkan membuat Hana hampir kehabisan nafas.
"Seperti ini maksud kamu?" tanya Argan sambil mengusap sudut bibir Hana.
Masih kaget dengan kejadian itu, dan masih meraup udara sebanyak-banyaknya, sambil merasakan degub jantung yang tak beraturan. Hana justru mengangguk tanpa sadar.
"Baiklah mulai sekarang, kalau kamu salah menggunakan panggilanmu padaku, saya akan menghukum kamu seperti ini Hana!" tegas Argan.
Hana yang tersadar langsung membulatkan matanya, menggelengkan kepala. Lantas mengelak.
"Nggak bisa gitu dong, Pa--"
Belum juga Hana menyelesaikan kalimatnya, Argan kembali membungkam Hana dengan cara yang sama. Namun, kali ini Hana langsung bisa menguasai dirinya, dan mendorong Argan.
Sayangnya entah bagaimana caranya, Argan justru bisa menguasai Hana. Bahkan membuat posisi mereka berubah. Argan yang tadinya melakukannya sambil setengah berdiri dan menunduk. Kini dia sudah duduk, dan Hana bahkan sudah berpindah duduk ke atas pangkuannya.
"Mau lagi, Han?"
Hosh-hosh ... huft!
"Mas udah gila, aku bahkan sampai tidak bisa bernafas!" omel Hana.
Dia sadar soal posisinya sekarang yang sudah tidak di kursi, tapi pangkuan Argan. Namun, saat berusaha bangkit, pinggangnya malah ditahan. Hana melotot dan menatap Argan dengan tatapan yang menuntut.
"Saya capek negur kamu terus seharian ini, tapi tidak pernah kamu dengar," ucap Argan dengan santai.
Lalu dengan gerakan seperti tidak terjadi apa-apa, dia menarik piringnya sendiri dan memulai acara makan malamnya. Dengan sebelah tangan yang menahan Hana bangkit dari sana.
"Ma--mas sa--ya ...." Hana tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena sesaat kemudian Argan menatapnya.
Tidak mengatakan apapun, hanya diam dan cukup intens. Argan berhasil membuat Hana berhenti memberontak, dan tiba-tiba diam dalam pangkuannya.
Bukan apa-apa, tapi trauma saja, takut jika Argan kembali menerkam bibirnya, apalagi melakukan hal yang lebih. Hal itu pun diperkuat dengan ucapan Argan yang akhirnya bicara setelah memalingkan pandangan.
"Jangan banyak gerak!" tegur Argan, tapi yang membuat Hana tercengang adalah sesuatu yang bangkit dibawah sana dan Hana bisa merasakannya.
*****