'Mas, aku udah selesai. Keluar bentar ketemu temen aku, ya ....' bunyi pesan suara yang dikirim Hana pada Argan.
Dia kembali salah sebut, dan Hana menyadarinya lalu mendesah kasar. Lalu bermaksud menggantinya dengan menghapus terlebih dahulu pesan suara yang terkirim, tapi sebelum itu sudah centang dua.
"Kebiasaan!' balas Argan.
Hana cuma menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu menyimpan ponselnya. Dia sudah tidak peduli soal balasan Argan yang selanjutnya.
"Pokoknya aku sudah meninggalkan pesan, sekarang aku boleh pergi!" ucap Hana pada dirinya sendiri.
Wanita itu keluar dari ruang dosen Argan, dan langsung meluncur ke tempat Indah sahabatnya. Namun, saat di tengah perjalanan Hana memang sempat singgah sebentar untuk membeli jajanan.
"Gimana perasaan kamu saat ini, In?"
Hana langsung masuk ke apartemen Indah, karena dia tau pin masuk ke sana. Sahabatnya Indah ternyata sedang di ruang tengah, menonton televisi dengan kondisi yang memprihatinkan.
"Baiklah, ngapain mikirin bajing*n itu kayak dia penting sekali," jawab Indah sambil tersenyum meyakinkan.
Namun, Hana tidak bisa mempercayainya, karena kondisi Indah sama sekali tidak mempercayainya sama sekali. Kelopak matanya bengkak, hidung dan matanya bahkan memerah. Bahkan rambut Indah tampak megar.
Anehnya Hana justru mengangguk saja. "Aku senang mendengar kamu baik-baik saja, Indah, tapi lebih baik kamu nggak juga berpenampilan kayak pasien rumah sakit jiwa."
Hana mendekat lantas meletakkan barang bawaannya di atas meja, dan sambil tersenyum hangat merapihkan rambut sahabatnya itu.
"Dan kalau udah baik-baik saja, itu artinya kamu juga udah saatnya membalas bajing*n itu. Pergilah mandi sekarang, aku akan menyiapkan makanan buat kamu," ujar Hana yang yakin Indah pasti belum menyantap apapun sejak pagi.
"Habis itu kita pergi melakukan sesuatu untuk memberi perhitungan pada suami kamu itu!" usul Hana melanjutkan.
Indah menurut saja, tapi saat semuanya selesai. Indah mandi dan makan, keduanya malah bergosip dan bukannya melakukan rencana terakhir mereka. Yakni memberi perhitungan pada suami Indah.
"Jadi, kamu sama pak Argan udah sampai gituan Han?" tanya Indah.
Ternyata mereka disesatkan topik pembahasan rumah tangga Hana.
"Tapi aku lupa Indah, dan aku yakin itu semua pasti ada kaitannya dengan ayah tiri aku! Dia pasti campur tangan dalam hal itu, karena dari awal dia menjodohkan aku buat kelancaran bisnisnya!" ungkap Hana curiga.
Hana sendiri pun tiba-tiba sudah lupa alasannya ke sana. Padahal dia mau menghibur Indah, karena dia sadar Indah tidak akan membaik begitu saja. Mengingat masalahnya adalah perselingkuhan.
"Sayang sekali, padahal kamu harus ingat. Apalagi video-video yang aku kirim sama kamu itu sudah dapatinnya loh. Jadi, itu artinya kamu belum cobain satu-satu?" tanya Indah frontal tanpa wajah berdosa.
Hana mendesah kasar dan memutar bola matanya jengah.
"Kamu aja dulu, In. Memangnya udah coba semua itu?!" sarkas Hana, dan tanpa dia duga Indah malah mengangguk.
"Udah punya suami, ganteng pula, sayang dong kalo nggak dicoba. Sayang sekali dia malah selingkuhin aku, dan kamu tahu Han bagian yang paling aku tidak terima?" Indah mulai berkaca-kaca terpancing dengan pembicaraan mereka.
Hana menggelengkan kepala dan menyesal membahas hal yang membuat sahabatnya itu jadi sedih kembali.
"Selingkuhan bahkan tidak apa-apanya denganku! Dad*-nya bahkan engga keliatan, entah apa yang dilihat mas Danu sialan itu darinya!" ungkap Indah sambil mengomel marah.
Namun, hal itu malah membuat Hana kepikiran soal kata-katanya tentang dad*. Hana reflek menunduk melihat miliknya sendiri, dan memikirkan Argan.
'Kira-kira dia suka nggak ya?' batin Hana tanpa sadar.
"Hana kamu kok melamun, dengar aku nggak sih?" tegur Indah akhirnya menyadarkan Hana.
Wanita geleng-geleng kepala dan berusaha menepis pikiran joroknya.
'Ah, kok malah mikirin itu sih? Lama-lama kok aku jadi kayak perempuan kurang belaian,' batin Hana.
Namun, tentu saja dia tidak mengungkapkan isi pikirannya itu, dan lanjut mengobrol dengan Indah. Lalu saat memasuki waktu sore, Hana pamit pulang. Dia keluar dari apartemen itu mengikuti rute yang biasa dilaluinya. Tak ada yang mencurigakan atau hal yang aneh, tapi tiba-tiba saja Hana merasa waswas.
Dia merasa seperti ada yang memperhatikannya dan mengikutinya. Hana mencoba untuk tenang dan waspada. Namun, saat dia menemukan bayangan hitam dari sudut matanya, jantung Hana berdegup kencang.
'Mas bisa jemput aku sekarang!' Hana langsung mengirim pesan dan sekaligus mengirimkan lokasinya pada Argan.
Dia tidak tahu mengapa melakukan itu, tapi dia merasa aman setelahnya. Namun, belum lama kelegaan itu dia rasakan, tepat saat akan memasuki lift hendak turun. Tiba-tiba saja sebuah tangan menyergap pergelangan tangannya dan membuat Hana tertahan.
"Ternyata beneran kamu Han," ucap seseorang sambil tersenyum hangat, tapi Hana justru semakin gelisah.
"Kak Andreas kamu juga di sini, ya?" Hana berusaha untuk tenang.
"Tentu saja, Hana. Kamu tahu sekarang aku tinggal di salah satu unit apartemen ini. Ayah mengusirku dari rumah, setelah pernikahanmu," jelas Andreas merubah raut wajahnya.
Dia benci pernikahan adik tirinya itu, bahkan jika hanya mengucapkannya.
"Maaf, Kak. Aku tidak tahu hal itu," jelas Hana sambil memperhatikan sekitar.
Sialnya, entah karena apa lorong apartemen itu terlihat sepi sore itu.
"Tidak masalah Han, apapun demi kamu. Kakak tidak akan pernah marah sayang," ungkap Andreas.
Nyali Hana memang selalu ciut menghadapi pria itu jika sendiri dan di tempat sepi. Dia sadar betul kalau dirinya perempuan yang tidak ada apa-apanya dibanding Andreas yang laki-laki.
"Kamu mau mampir, Dek?" tawar Andreas langsung terasa horor.
Hana menjadi dejavu, diingatkan kejadian terakhir saat pria itu mengajaknya masuk ke dalam kamarnya. Hana hampir kehilangan kehormatannya saat itu. Andai saja lampu tidur di nakas tidak menyelamatkannya.
Namun, kejadian itu membuat Andreas cedera hebat di bagian kepalanya. Entah apa yang terjadi, tapi saat ayah tiri Hana tahu penyebabnya dari mulut Andreas. Tiba-tiba pria paruh baya itu mendadak aneh. Bahkan tiba-tiba mengusulkan perjodohan saat putra kandungnya sendiri masih di rumah sakit.
Akan tetapi, apapun itu setiap berdua saja dengan Andreas, Hana menjadi parno sendiri.
"Maaf, Kak. Aku sangat ingin melakukannya, tapi hari sudah sangat sore. Aku harus pulang sekarang," jelas Hana hati-hati.
"Aku akan mengantarmu nanti, Han. Apa yang kamu pikirkan, ayolah ... kakak sangat merindukanmu," ungkap Andreas sambil mempererat cengkraman tangannya di pergelangan tangan Hana.
Menyadari Hana menghela nafasnya, lalu secara tak terduga diapun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Baiklah, tapi kakak harus memesan makanan favorit-ku oke?!" ujar Hana.
Reflek hal itu membuat Andreas melepaskan pergelangan tangan Hana dan merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Pria itu bermaksud akan memesan yang Hana inginkan saat itu juga, tapi pikiran Hana malah berkelana.
Dia memikirkan rencana kabur, kembali ke apartemen Indah, lewat tangga atau lift. Tepat saat lift terbuka saat ada yang keluar dari sana, Hana mendorong Andreas yang sibuk dengan ponselnya sampai terjatuh, lalu tanpa menunggu lama, Hana berlari menghampiri lift yang terbuka dan masuk ke sana.
Pintu lift segera terbuka tepat saat Andreas berhasil bangkit. Suasana terasa menegangkan bagi Hana, saat Andreas menyusulnya ke sana.
"Hana kamu mau kemana?!"
Degh-degh! Hana dengan penuh harap pintunya tertutup sebelum Andreas mencapai dirinya, dan akhirnya berhasil.
Namun, saat sudah di bawah wanita itu juga tak tenang. Dia takut Andreas masih nekat menyusulnya ke sana, hingga Hana pun tetap berlari keluar gedung tersebut dan mencari sesuatu untuk membawanya secepatnya dari sana.
"Hana!"
"Hana!"
Dua orang memanggil Hana dari arah yang berlawanan. Satu dari belakang dan satu dari sebuah mobil yang terparkir di depan gedung apartemen tersebut.
Tanpa pikir panjang atau menoleh kebelakang, Hana langsung menghampiri yang berada di depan, dan menjadi lega saat sudah di dalam mobil.
"Kamu ngapain berlari seperti itu, kayak di kejar setan?"
"Memang di kejar setan, kok!"
Argan terdiam memperhatikan Istrinya. Lalu menatap keluar sebelum terdengar geraman dari bibirnya.
"Lain kali jangan main ke tempat ini tanpa aku!"
*****