Bab 08. Mengobati Luka

1226 Kata
"Eeee ... eeee ...." Rafan bayi kecilnya terus rewel, dan membuat Karina sedikit kesal. Bayi itu sepertinya lapar, tapi agak susah diberi asi, selain itu Rafan sudah mulai menggigitnya. "Minumlah sayang, cup-cup ... anak kesayangan Mama yang paling ganteng dan baik hati?" Karina menghela nafas, tapi tetap sabar dan mengelus kepala bayinya sambil menimangnya. Barulah Rafan akhirnya anteng dan berhenti rewel. "Dasar anak manja, kamu ini mau minum asi aja harus diginiin," ucap Karina melanjutkan, tapi baru saja mengatakan itu, dia langsung merasakan gigitan bayinya yang membuat linu. Bayi itu seperti menguji kesabarannya, tapi bagaimana lagi, mau diomelin pun bayinya tidak mungkin mengerti. "Jangan sampai kau mengikuti papamu, cukup wajah yang boleh mirip, kelakuan tidak boleh!" tegur Karina meski bayinya tak mengerti. Beberapa saat kemudian, Rara tiba di sana dan menghampirinya, tapi gadis itu tiba-tiba saja menatapnya dengan tatapan terkejut. Dia menghampiri Karina dengan dahi yang mengerut. "Baru satu hari ambil kerjaan tambahan dari mantan suami kakak, jidat kak Karina kok udah udah biru-biru begitu. Apa yang terjadidan bagaimana bisa kakak mengalami hal seperti itu?" Rara tampak cemas dan mengkhawatirkan Karina. Dia tidak terima jika sampai kakaknya itu mengalami kekerasan. "Tidak bisa dibiarkan, ayo kita laporkan saja ke pihak berwajib. Aku tidak mau kamu kenapa-napa, kak!" Namun, Karina malah mengerut, dia bingung dengan ucapan Rara. "Jidat membiru? Bagaimana bisa, aku baik-baik saja, Rara!" tegas Karina. Dia belum menyadari memar dibagian tubuhnya itu. Dia cuma pusing dan memang linu di bagian sana. Hanya saja, dia berpikir mungkin itu karena efek kelelahan, stress dan lainnya yang dialaminya akhir-akhir ini. "Dahi kamu beneran agak bengkak dan membiru. Kayak habis terbentur atau dipukul benda keras, Kak Karina!" jawab Rara bersikeras. Karina pun memegang dahinya, tepatnya dibagian jidat. Tepat saat jarinya bersentuhan ke sana, rasa perih dan nyeri secara bersamaan langsung terasa. Karina akhirnya paham dan mengangguk. Dia akhirnya terbayang kejadian beberapa saat lalu. Bagian tubuhnya itu memang sudah secara tak sengaja terbentur ke setir mobil dan itulah mungkin penyebabnya. Dia bisa tidak sadar akibat banyak pikiran dan fokusnya terbagi. "Ini salahku, tadi tidak sengaja menabrak waktu mau memasukkan mobil pria bajing*n itu ke dalam garasi, tapi aku tidak menyesal juga, justru ada bagusnya juga ...." Karina mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia pikir hal itu setidaknya bisa membuatnya memberi perhitungan pada mantan suaminya itu. 'Setidaknya kalau mengalami luka seperti ini aku tidak perlu ganti rugi, justru dia yang salah. Siapa suruh memaksaku melakukan tugas itu!' batin Karina. Karina tersenyum sambil menyeringai saat memikirkannya, bahkan berpikir merencanakan hal lain untuk pembalasan dendamnya. Rara yang melihat itu, langsung menatapnya aneh dan bingung dengan tingkah kakaknya itu. "Kenapa, Kak? Habis nabrak, tapi kok malah bahagia?" Waktu berlalu ke beberapa jam setelahnya, dan Karina sudah kembali ke rumah utama. Segera membereskan tugasnya sebagai ART. "Apa kamu bodoh?" ceplos Gara membuat Karina sedikit terkejut dan juga bingung. "Hah?!" Sementara itu, Gara justru terlihat gemas. Buru-buru menghampiri Karina dan meraih pergelangan tangannya. Lalu tanpa babibu menyeret wanita mengikutinya. "Ck, ngapain pegang-pegang, sih? Kalau aku bodoh memangnya kenapa? Lepaskan!!" Karina langsung memberontak, tapi sepertinya itu tak berguna. Pria itu bahkan semakin mencekal dan juga memaksanya untuk mengikutinya. "Diam!" ujar Gara sedikit membentak. "Dan menurutlah kali ini, jangan membuatku marah, Karina!!" "Tidak mau!" balas Karina dengan nada suara yangtak mau kalah. Mendengar itu Gara sontak memberhentikan langkahnya dan mengambil tempat tepat dihadapan Karina. Dia menatap wanita itu galak dan penuh intimidasi. Beberapa detik kemudian, tubuh Karina tiba-tiba terdorong dan terjatuh. Bughh! Tidak sakit, karena ternyata Karina mendarat di atas sofa. Saat itu Karina sudah diliputi perasaan dongkol luar biasa. Dia kesal dan juga marah atas perbuatan Gara tersebut. Namun, saat akan melawan dan membalas, Karina bahkan belum sempat bangkit dari sofa, tapi dia sudah kembali dibuat tidak berdaya. "Diam di sana atau jangan berharap gajimu bulan ini akan utuh!" ancam Gara dengan nada penuh tekanan. Pria itu langsung menatapnya dengan tatapan mengejek. Melipat tangan di depan dad* dan lalu tersenyum sambil menyeringai menatap Karina. "Bajing*n sampah, awas saja jika kau berani melakukan itu?!" balas Karina dengan berani, walaupun sebenarnya wanita justru tidak berani membantah perintah Gara. "Dengarkan perkataanku, wanita bodoh. Apa salahnya menunggu di sana!" balas Gara seraya berbalik dan pergi dari sana begitu saja. Karina hampir saja bingung dengan tindakannya, tapi beberapa menit kemudian Gara sudah kembali dengan kotak obat di tangannya. Mendekati Karina dan duduk di sebelahnya. "Tundukkan kepalamu!" perintah Gara. "Apa?!" Karina tidak paham dengan maksud perkataannya. Namun, gara-gara itu Gara langsung menekan memar yang membiru di sana, dan memaksa Karina menunduk. Saat mau melawan, barulah Karina mengerti maksud Gara. Pria itu ternyata hanya ingin mengobati memar di dahinya. Gara memaksanya sedikit menunduk untuk mempermudahnya mengobati lukanya. Oleh karena itu Karina pun akhirnya pasrah saja. "Kenapa tidak mengobatinya hah?" tanya Gara, kali ini nada suaranya sudah tidak terdengar kasar bahkan turun beberapa oktaf. "Aku lupa, lagipula aku harus menyiapkan makan siangmu Tuan Anggara," jawab Karina seperti mengingatkan Gara soal status mereka. "Dasar ceroboh! Dari dulu kamu memang selalu seperti ini. Tidak becus merawat diri sendiri dan sampai sekarang pun tidak berubah," balas Gara. Karina tidak mengelak dan mengangguk pasrah membuat Gara tersenyum gemas. Namun, yang tidak dia tahu dulu Karina sampai melupakan diri sendiri karena dirinya sendiri, karena Karina terlalu mencintai sosok Anggara. Pria itu terlalu jadi pusat perhatiannya. "Seharusnya kau kembali saja padaku, supaya aku bisa mengurusmu dengan baik. Mau sampai kapan ngambek kayak gini Karina?" ucap Gara membuat Karina langsung mengangkat kepalanya. Wanita itu langsung menjaga jarak dan bahkan berdiri. Dia menatap ketus dan mendengus kasar "Urus saja diri sendiri, selingkuhan dan kelakuanmu yang suka mabuk-mabukan itu, Tuan Anggara! Kau pikir sudah lebih baik dariku, huhh!!" omel Karina sambil berlalu. ***** "Dari mana saja, Pak Gara. Saya sudah menyiapkan makan siang untukmu ...." ucap Shela setelah Gara kembali ke perusahaan dengan waktu yang sangat terlambat. Dia menatap Shela tanpa mood yang baik dan sedikit kesal. "Pergilah dan bereskan semua makanan ini, saya sudah makan siang," jelas Gara tegas dan sedikit dingin. "Tapi Pak, tidak baik menunda-nunda untuk makan. Bapak bisa sakit," jelas Shela berusaha membujuk Gara. "Pergi aku bilang pergilah, Shela, atau kau mau dipecat lagi?" ancam Gara. Ah, ya. Wanita itu setelah berhenti jadi sekretaris, dia kembali berhasil masuk perusahaan itu dengan cara yang entah bagaimana. Meskipun cuma jadi office girl atau OG petugas kebersihan di perusahaan. Meski tidak suka dan bingung, Gara tidak memusingkannya dan mengabaikan soal Shela tersebut. Sayangnya keputusannya itu sepertinya juga salah. Wanita itu terlalu tidak tahu malu, pengganggu dan menyebalkan di saat yang bersamaan. "Baiklah, aku akan pergi, tapi jangan lupa soal makan siangmu!" jawab Shela yang kemudian berlalu. Gara mendesah kasar dan memanggil asisten pribadi yang juga merangkap jadi sekretarisnya. "Kevin!" "Iya, Pak!" "Buang semua sampah yang dibawa sampah itu dari mejaku!" terang Gara dengan bossy. Sekarang dia sudah trauma dengan sekretaris perempuan, dan beralih pada laki-laki. Itulah kenapa dia tidak merekrut perempuan, dan orang yang bernama Kevin itu adalah pengganti dari sekretarisnya yang sebelumnya. "Setelah ini, cari tahu siapa dalang dibalik perempuan tadi bisa bekerja di sini. Pecat orang itu dan pastikan juga wanita tadi ikut dipecat," perintah Gara. Setelah mengatakan itu pada Kevin asisten pribadinya, dia juga berencana memasukkan nama Shela ke daftar hitam, di perusahaannya dan perusahaan yang memiliki hubungan dengan perusahaannya. Tak beda jauh dengan apa yang dia lakukan pada Karina. Hanya saja alasannya bertolak belakang. Pada Karina dia hanya ingin memberi pelajaran pada mantan istrinya, sementara Shela, Gara benar-benar mau menghancurkan wanita itu. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN