Bab 20. Drama Arini

1071 Kata
Cklek! Blam!! "Kenapa lagi?" cicit Karina saat membuka pintu. Gara melewatinya begitu saja, bahkan tanpa melirik Karina sama sekali. Membuat Karina bingung. Namun, dia tidak terlalu memusingkannya. Biarkan saja begitu, asal tidak kumat saja sikap semena-menanya. "Tuh pakaian ganti kamu di atas kasur," ucap Karina memberitahu, tapi Gara seperti merajuk dan malah menghampiri lemari dengan mengabaikan pakaian yang Karina siapkan. Melihat hal itu, Karina menarik nafas panjang lalu menghelanya perlahan. "Baiklah itu hakmu, terserah mau pakai yang mana. Toh aku juga sudah menyelesaikan tugasku dengan baik. Makan malam juga sudah aku siapkan, kalau tidak dimakan juga tidak apa-apa," jawab Karina dengan tenang. Namun, baru saja dia akan berbalik untuk pergi karena merasa tugasnya sudah selesai. Gara dengan wajah memerah, tapi bukan karena mabuk lagi melainkan marah, langsung menarik pakaian dari lemari, dan melemparnya pada Karina. "Keterlaluan! Apa kamu tidak sadar dengan kesalahan yang kamu lakukan?!" Gara langsung membentak dan suaranya naik beberapa oktaf. Karina yang terkejut dan geram dengan tindakan Gara tersebut menggeleng dengan berani. "Tidak tahu dan aku tidak mau tahu!" balas Karina dengan nada suara yang tidak mau kalah. "Brengs*k!! Dasar istri pembangkang. Kamu barusan membuatku hampir mati kedinginan di kamar mandi. Setengah jam? Apa kamu lupa aku di dalam sana sudah selama dua jam?!" Karina meneguk ludahnya kasar, sembari mengusap tengkuknya sendiri. Kali ini dia yang salah dan wanita itu menyadarinya. "Yaudah, aku minta maaf ... hm, aku buatkan teh hangat mau?" cicit Karina ragu. Gara mendengus dan semakin membuat seisi lemari berantakan karena isinya hampir keluar semua. Melihat itu, Karina ikut mendengus dan menjadi kesal. Karena pakaian itu pasti dia juga yang akan direpotkan untuk membereskannya. "Tidak jadi! Aku tidak minta maaf, dan buat saja teh hangat untukmu, kamu pikir walaupun ART, kamu berhak semena-mena hah?! Ckckck ... kenapa tadi tidak mat* kedinginan saja di dalam?!" omel Karina. Gara mengepalkan tangan, sedikit terkejut dengan perubahan reaksi Karina. Bukankah dia yang harusnya mengomel, tapi kenapa malah menjadi wanita itu. "Kamu memang tidak tahu diri, Karina. Istri pembangkang!" balas Gara. Karina yang tadinya masih belum sadar dengan panggilan Gara padanya, dipanggil istri kedua kalinya dia pun tersadarkan. "Bukan istri, aku cuma ART dan rapihkan sendiri pakaianmu itu. Awas jika sampai tidak, aku akan membakarnya besok!" ancam Karina begitu saja. Kalimatnya keluar tanpa di rencanakan. Namun, hal itu belum selesai. Dia menghampiri tempat tidur, dan meraih pakaian ganti yang disiapkan untuk Gara. Tanpa peringatan terlebih dahulu, wanita itupun melemparnya pada Gara. "Pakai yang itu. Aku sudah capek menyiapkannya dan juga makan makan malammu secepatnya! Berhenti membuatku muak atau aku akan--" Karina tiba-tiba terdiam karena tidak punya ancaman pada Gara, tapi karena masih diliputi emosi, dia tetap melanjutkan. "Pokoknya kamu harus melakukan semua yang aku katakan!" Blam! Wanita itu berjalan cepat keluar pintu, membantingnya sebelum kemudiaan benar-benar keluar dari sana dan meninggalkan Gara yang masih belum bereaksi. Sampai tiba-tiba Gara merasa hidungnya gatal dan dia mulai bersin. "Haachi!" Pria itu menggosok hidungnya dan mendesah kasar. Sedikit tercengang mengingat yang barusan terjadi. "Huft, bahkan aku jadi flu, tapi perempuan gila itu malah menggila!" kesal Gara. ***** "Kopinya Tuan ... silahkan diminum," ucap Arini sembari menghidangkan kopi hangat di depan Gara. Bukan cuma itu, dia begitu telaten menyiapkan yang lain seperti sarapan berupa nasi goreng udang. Gara sebenarnya mau menolaknya, karena dia tidak suka kopi biasa, karena kopinya selalu menggunakan gula aren, dan diapun alergi udang. Namun, sebelum dia melakukannya, Karina menghampiri mereka lalu menjauhkan semua itu. Arini menjadi geram, tapi kemudian Karina pun memberi penjelasan. "Tuan Anggara alergi udang," jelas Karina singkat. Arini pun merubah raut wajahnya, dari yang tadinya kesal menjadi memelas. Dia mendekati Gara dan memohon ampun. "Tuan, saya tidak sengaja ... saya mohon percayalah. Saya tidak tahu kalau Tuan Alergi udang. Saya mohon maafkan saya. Maaf ... Tuan ...." Arini beberapa kali mengulang kalimatnya dan membuat Karina jengah. Wanita memutar bola matanya jengah, lalu melirik mantan suaminya dan bertambah jengah karena Gara diam saja sejak tadi. Beralih pada Arini, Karina pun menyadari sesuatu yang salah. Seragam Arini terlalu terbuka dan juga vulgar. 'Huft ... pantas saja! Dia pasti suka menatap pemandangan dad* besar yang mengintip itu. Sudah aku duga!' batin Karina yang berpikir itulah alasan Gara tetap diam saja sejak tadi. Sementara Arini diapun naik pitam dan kesal sendiri, tapi dia malah berencana melampiaskannya pada Karina. Dengan sengaja Arini menyenggol lengan Karina, dan membuatnya sedikit tidak fokus saat masih mengangkat kopi untuk menggantinya. Namun, belum sampai ditaruh di tempat lain, kopi itu malah tumpah pada bajunya sekarang. "Aaarrrgghh ... panas!" Karina reflek mendorong Arini karena kejadian itu. Lalu dorongan yang tidak seberapa itupun dimanfaatkan oleh Arini. Dia sengaja menjatuhkan diri untuk menarik simpati Gara. "Apa yang kamu lakukan Karina, kamu tega sekali mendorongku. Kamu hiks-hiks membuat kakiku terkilir, hiks-hiks ... sakit sekali!" rengek Arini. "Jangan mengaco, jelas-jelas kau yang lebih dahulu mendorongku dan lagipula aku tidak mendorong keras," jawab Karina membela diri. Namun, Arini malah semakin terisak. "Hiks-hiks ... tolong jangan memfitnahku, jangan karena aku anak baru kamu semena-mena memperlakukan aku kayak gini. Aku tidak bermaksud menyaingimu Karina, jika itu yang kamu takutkan ...." Karina mendesah kasar, segera membulatkan matanya jengah. Sungguh dia tak habis pikir dengan prilaku Arini. Apa maksud ucapannya, jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan siapa yang lebih dahulu jadi ART. "Sudahlah, aku yakin itu tidak sakit," ucap Karina adanya. Gara bangkit dari tempat duduknya di saat yang sama. Lalu Karina langsung meringis karena dia yakin, Gara pasti membela perempuan itu. Apalagi setelah pertengkaran mereka semalam, dan juga dad* besar yang mengintip yang membuat Gara diam sejak tadi. Tak beda jauh, ternyata Arini yang melihat Gara berdiri pun berpikir Gara pasti membelanya. Hingga diapun menangis semakin keras. "Hiks-hiks ... kakiku sakit, kakiku pasti sudah keseleo. Hiks-hiks, kenapa kamu jahat sekali Karina?! Hiks-hiks ...." "Berisik!" Akhirnya kalimat itulah yang terdengar tak terduga. Namun, bukan cuma itu, Gara juga segera mengambil piring nasi goreng udang yang dibuat Arini dan menumpahkannya tepat ke atas kepala ART-nya itu. "Berani sekali kau berkomentar seperti itu, apa tahu siapa dirimu dan apa kau tahu apa kesalahanmu?!" tegas Gara dengan wajah arogan. Bukan cuma Arini, tapi Karina pun terkejut dengan reaksi yang begitu. "Apa? Tuan ... di--a yang mulai lebih dahulu, wanita itu menyakitiku ...." Ternyata Arini masih cukup punya nyali untuk membela diri. "Tutup mulutmu, dan ikuti peraturan di rumah ini. Seharusnya kau pun sudah tahu apa yang boleh di kerjakan dan tidak. Aku ingat juga bukan tugasmu di dapur, tapi bersih-bersih!" "Tu--" "Menyingkir dan enyahlah dari hadapanku, sebelum aku bertambah marah!" *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN