"Kenapa?!" Gara menatap Karina intens.
Sontak membuat Karina mengerutkan dahi, dan mengerucutkan bibirnya. Sementara itu Arini sudah tidak ada di sana.
"Hanya aku yang boleh menindasmu, jangan biarkan orang lain melakukannya!" lanjut Gara.
'Jadi, maksudnya dia memberi perhitungan pada ART baru itu, karena tidak suka mainannya dimainkan oleh orang lain? Sial, bajing*n ini menganggapku tak lebih dari sebuah barang!' batin Karina.
Dia membalas tatapan mantan suaminya itu dengan kecut, sebelum kemudiaan berbalik pergi.
"Mau kemana?!" Nada suara Gara naik beberapa oktaf.
Membuat Karina menghentikan langkahnya, dan kembali berbalik menghadap pria itu.
"Apa kau tidak lihat lantai kotor karena ulahmu?" omel Karina.
Wanita itu langsung berkacak pinggang, dan menunjukkan di bagian mana nasi goreng udang berceceran.
"Itu karena aku membantumu balas dendam, Karina. Aku sudah sangat baik menghajar perempuan itu untukmu, dan coba aku lihat bagaimana kondisi tubuhmu yang terkena tumpahan kopi?" Gara mendekat, tapi Karina langsung menyilangkan tangan di depan dad*.
Ternyata kopi tumpah itu terciprat mengenai bagian dad*nya. Sebenarnya bagian tangannya yang lebih parah, tapi mungkin saat mengangkat tangan dan melakukan gerakan yang tak sengaja, bagian itunya Karina terlihat lebih kotor akibat tumpahan kopi.
"Tidak usah, aku bisa sendiri!" ketus Karina langsung menghindar.
Gara bersikeras dan terus mendekat membuat Karina membulat. Dia tentu saja menghindar dan mundur dengan cepat.
"Aku tidak mau anakku kelaparan jika itumu sampai kenapa-napa!" ucap Gara membuat Karina semakin waspada.
"Tidak apa-apa, sudah kubilang jangan macam-macam. Lagipula ituku baik-baik saja, lihatlah tanganku yang memerah!" jelas Karina adanya.
Selain untuk menghindar, tapi dia juga tak salah. Bagian dad*nya yang terciprat air panas kopi cuma merasa sedikit panas, tapi tangannya sepertinya mengalami ruam akibat tumpahan itu.
Gara sedikit terkejut, dan terlihat menghela nafas. "Jika tanganmu yang terluka memangnya tidak diobati, hah?!"
Karina akhirnya tidak menghindar, dan Gara langsung meraih pergelangan tangan Karina yang lain yang tidak sakit. Dia membawa wanita itu ke ruang tengah dan mencarikan kotak obat untuk mengobatinya.
"Tidak usah pikirkan urusan dapur, biarkan ART lain yang membereskannya dan berhentilah ceroboh. Jangan biarkan hal seperti tadi terjadi. Bukankah kamu sudah berubah menjadi perempuan yang lebih keras, seharusnya kamu juga tidak lemah untuk masalah seperti ini," ujar Gara.
Karina mengangguk dan membiarkan Gara mengobatinya. Pria itu sangat telaten, meniup bahkan mengoleskan saleb luka sampai Karina tidak harus meringis saat diobati.
"Padaku saja berani kasar, giliran orang lain malah lembek!" cibir Gara membuat Karina cemberut, tapi wanita langsung merasakan perasaan aneh.
'Tidak, Karina jangan tersentuh pada kebaikannya. Ingat apa yang dilakukannya, setelah kamu memergokinya selingkuh, dia bahkan tidak merasa bersalah!' batin Karina pada dirinya sendiri.
"Sudah selesai." Gara membereskan kotak obatnya dan menaruhnya di atas meja, tapi kemudian dia teringat sesuatu dan menatap Karina serius.
"Tapi bagian itumu belum, kita obati di kamar saja. Ayo!!" ucap Gara membuat Karina panik.
Wanita itu akan menghindar, tapi Gara malah menggendongnya dan memaksa membawanya ke lantai atas.
"Tidak!!" Karina geleng-geleng kepala sambil memberontak. "Aku bisa sendiri, jangan macam-macam! Kamu tidak bisa melihatnya, kamu bukan suamiku lagi!"
Gara sama sekali tak mendengar, dia terus membawa Karina hingga sampai di kamarnya, lalu menurunkannya di atas tempat tidur.
"Jangan macam-macam!" Karina yang sudah turun dari gendongan Gara langsung mengacungkan senjata perlawanannya, tapi Gara malah terkekeh.
"Alat bodoh itu lagi, apa kau lupa semalam setruman kecilnya tidak mampu menghalauku!" Gara menyeringai, lalu memaksa membuka pakaian Karina.
Namun, hampir saja berhasil, tapi kemudian suara tangisan Rafan di sebelah terdengar melengking tidak biasanya. Lebih keras, dan langsung mengambil penuh perhatian Gara dan juga Karina.
Keduanya pun langsung ke kamar sebelah, takut anak mereka kenapa-napa. Sesampainya di sana ternyata bayi tidak kenapa-napa, membuat keduanya lega, dan Karina berterima kasih pada bayi kecilnya itu.
"Apa dia haus?" tanya Gara antusias.
Karina menggeleng, dan menjelaskan, "mungkin dia hampir bermimpi buruk, atau merasakan ibunya dalam bahaya."
"Kamu menyindirku?" tanya Gara tidak percaya.
Karina menggeleng meskipun sebenarnya Gara benar, dia memang menyindir mantan suaminya itu. Karena kesal, Gara pun merebut Rafan dari gendongan Karina.
"Pelan-pelan!" omel Karina memperingatkan lalu berdecak kesal.
Namun, selang beberapa detik sudut bibirnya terangkat ke atas. Ternyata Rafan pup begitu digendong Gara, dilanjutkan dengan pipis yang langsung dirasakan gara mengalir hangat membasahi bajunya.
"Kamu marah pada Papa, Nak?"
Wajah apes Gara segera membuat Karina hampir tak bisa menahan diri untuk tertawa. Gara menatap tajam dan segera memperingatkannya.
Hal itu pun membuat Karina mengulurkan tangan, bermaksud untuk mengambil Rafan kembali untuk dibersihkan.
"Kemarilah, berikan Rafan padaku supaya aku bersihkan," jelas Karina.
"Aku ayahnya dan bisa mengurus putraku sendiri!" jawab Gara percaya diri dengan nada yang sedikit angkuh.
Karina mengerut tak percaya, lalu memastikannya. "Benarkah? Sejak kapan kamu belajar mengurus bayi, bukankah belum pernah?"
"Memang, tapi kamu kan bisa mengajariku!" jelas Gara membuat Karina tak habis pikir.
Setelah itu mereka pun melakukannya bersama. Karina mengajari Gara, dan Gara juga terlihat serius saat belajar. Karena sudah waktunya bayi itu mandi, Karina pun memberitahu cara memandikan bayi dan mengganti pakaiannya.
"Huft!!" Gara menghela nafas, tapi kemudian tersenyum puas melihat Rafan sudah bersih dan juga wangi.
"Sekarang anak papa sudah selesai, giliran papa yang dimandikan mamamu!" ceplos Gara.
"Apa? Aku tidak mau!" tolak Karina dengan cepat.
Gara hanya tersenyum, sembari mengusap puncak kepala Karina sebelum berlalu dari sana.
"Aku cuma bercanda!" ucap Gara, sebelum benar-benar pergi dari sana.
*****
"Carikan supir untukku!" ucap Gara pada Kevin sekretarisnya.
Pria itu tampak bingung, karena dia ingat bosnya itu sudah punya, tapi bahkan sudah punya sopir diapun lebih suka mengemudi sendiri.
"Untuk adikku, dia tidak bisa mengemudi. Kalau mengambil les belajar mengemudi, seperti itu terlalu berat, karena dia baru saja memulai pendidikan lanjutannya. Aku tidak mau perkuliahannya terganggu," terang Gara membuat Kevin mengerti.
"Baiklah, Pak Gara. Saya akan mencarinya segera," jawab Kevin.
Gara mengangguk, tapi kemudian dia masih terpikirkan sesuatu yang lain.
"Tapi sebelum itu bisakah kamu mengantar jemput adikku. Sementara sebelum kamu menemukan sopir baru. Aku tidak mudah mempercayai orang lain dengan cepat, dan soal gaji kamu tidak usah khawatir," lanjut Gara.
Kevin berpikir sejenak, mempertimbangkannya kemudian mengangguk.
"Baiklah Pak Gara!" jawab Kevin setuju saja.
Pria itu berpikir hanya antar jemput, dan itu tidak terlalu merepotkan. Meskipun menjadi sekretaris memang lumayan membuatnya sibuk.
*****