Bab 22. Tujuan Baru Arini

1049 Kata
"Apa maksudmu Shela? Itu tidak mungkin, aku tidak mau ambil risiko, aku tak mau masuk penjara!!" geram Arini. Dia masih kesal dengan hal buruk yang dialaminya pagi itu. Meski demikian, Gara menumpahkan nasi goreng udang ke atas kepalanya, dan membentaknya. Anehnya alih-alih menjadi benci, Arini malah tertarik padanya. Sekarang dia merasa ingin mendapatkannya. "Apanya yang tidak mungkin, dasar bod*h! Kalau kau berpikir dengan cerdik kau pasti tidak akan masuk penjara!" omel Shela di telepon. Hal itu pun menyebabkan Arini sedikit menjauhkan telepon dari telinganya. Shela benar-benar menambah kekesalannya saja, dan kini karenanya Arini jadi geram. "Kalau begitu kau saja yang melakukannya, sudah baik aku mau jadi ART dan menjalani pekerjaan rendah*n seperti ini, kamu masih banyak maunya!" balas Arini sama ketusnya. "Aku banyak maunya karena keluar banyak uang untukmu. Jangan lupa apa yang sudah aku berikan, atau kembalikan saja jika kau masih saja terus membantahku!" ancam Shela. Arini terdiam, mengepalkan telapak tangan dengan wajah yang mulai memerah akibat menahan amarah. Jika bukan butuh uang dia pasti sudah merobek mulut sepupunya yang seenaknya itu. "Baiklah, tapi aku tidak akan membunuhnya. Aku hanya akan memberinya perhitungan, karena aku tidak mau ambil risiko!" terang Arini dengan tegas. Lalu saat teleponnya ditutup, dia langsung melemparnya. Bukan ke lantai, tapi ke atas tempat tidur. Untunglah begitu, karena nyatanya dia tidak begitu konyol merusak ponsel mahalnya begitu saja, apalagi keadaan ekonominya sulit. Jika tidak, bagaimana dia akan menggantinya nanti. "Huft!!" Arini mendaratkan pant*tnya di atas kasur. Lantas menghela nafas dengan kasar. Dia menatap langit-langit ruang kamarnya sambil memikirkan aturan bekerja di rumah Gara. Hanya bekerja saat Gara sudah berangkat kerja dan harus selesai sebelum jam makan siang. Setelahnya tidak ada yang boleh ke rumah utama terkecuali tukang masak, itupun hanya sekali dan harus sore selambat-lambatnya dua jam di sana. Sayang sekali, bukan tugas Arini yang memasak, jadi dia hanya sekali dalam sehari ke sana, itupun setelah Gara tidak di sana. Dia tidak bisa nekat karena adanya CCTV. "Kalau begini bagaimana caranya memperingatkan wanita jal*ng itu? Sial, aku hampir tidak punya kesempatan. Huft, atau dari pada melakukan itu, kenapa aku tidak mendekati tuan Anggara saja?" Arini tersenyum menyeringai dan mulai memikirkan sesuatu yang lain. "Benar, seharusnya aku fokus pada tuan Anggara saja daripada melakukan pekerjaan kotor dari si jala*ng Shela. Karena dengan begitu aku akan menjadi nyonya Anggara, bisa menyingkirkan si Jala*ng Shela, dan si murah*n Karina! Hahaha ... Akulah yang pantas jadi nyonya Anggara!" lanjut Arini dengan sedikit menggila. ***** "Kemarilah, Rara. Aku ingin bicara padamu," ucap Gara. Pria itu bersama Karina, Rafan dan seseorang lainnya di ruang tamu. Rara tidak bisa melihat orang lain yang bersama mereka karena orang itu membelakanginya. Namun, saat dia sudah dekat, dia mulai tidak asing. Orang itupun berbalik, dan Rara dalam seketika pun membeku. "Kamu baru pulang kuliah bukan?" ucap Gara basa-basi. Rara hanya mengangguk sambil menatap kakaknya Karina, tapi sepertinya Karina pun tidak tahu apa yang Gara rencanakan juga akan katakan padanya. "Kamu juga tidak bisa menyetir bukan?" lagi-lagi Gara bertanya dan Rara sontak mengangguk, meski masih dalam keterkejutannya. "Perkenalkan ini Kevin sekretaris baruku, dan karena kamu tidak bisa menyetir, untuk sementara Kevin akan mengantar-jemput kamu kuliah." Beralih dari Rara, Gara pun menatap Kevin. "Dan Kevin ini adikku, namanya Rara," jelas Gara melanjutkan ucapannya. Mendengar hal tersebut Rarapun lebih terkejut lagi dan menggeleng. "Tidak perlu repot Kak, aku bisa naik kendaraan umum," tolak Rara dengan cepat. Namun, Gara tidak setuju dan menggeleng. Sementara itu Rara sudah menatap Karina, lewat tatapannya Rara meminta bantuan, tapi disaat yang sama Gara pun menatap Karina bahkan merangkulnya walaupun ditolak. "Aku sudah berjanji pada kakakmu Rara, aku bertanggung jawab penuh atas pendidikanmu, dan kamu tidak berhak menolak. Belajar saja yang benar, dan lakukan tugasmu yang semestinya sebagai mahasiswi!" tegas Gara tak terbantahkan. Karina tampak menghela nafas, menatap Rara dengan tidak enak. Rara kecewa, tapi dia masih tidak ingin menyerah, dan Karina tahu apa alasan adiknya itu. Bahkan dia sendiri pun terkejut dengan apa yang terjadi. "Aku hanya tidak ingin membuat sekretaris Kak Gara repot. Pak Kevin pasti banyak pekerjaan di kantor," cicit Rara beralasan. Karena sebenarnya dialah yang tidak mau diantar sekretaris Gara. Karena sebenarnya Kevin sekretaris Gara adalah Kevin yang sama dengan Kevin mantannya, dan itulah kenyataan mengejutkan yang membuatnya sempat membeku karena kaget. "Aku tidak keberatan sama sekali, apalagi di kantor pekerjaanku sedang tidak banyak pada waktu ini. Lagipula hanya mengantar jemput, nona Rara kuliah. Saya justru senang, karena bisa dipercaya oleh Pak Anggara," ucap Kevin yakin dan membuat Rara kesal. 'Tapi aku yang keberatan!' geram Rara membatin. Dia tidak berani mengatakannya langsung, karena sebenarnya takut pada Gara yang tampak menyeramkan di matanya. Sementara itu, Karina pun mendekat padanya sambil menggendong Rafan, dan mengusap bahu adiknya itu. "Jangan khawatir Ra, bukankah cuma sementara. Kakak janji pasti akan membantumu menjauh dari mantanmu," hibur Karina berbisik di telinga Rara. Gadis itu pun mengangguk pasrah dan menghela nafas. Namun, kemudiaan diapun teringat sesuatu. "Apa dia sudah tahu soal Rafan bukan anakku, dan sebenarnya anak kakak dan kak Gara?" Karina mengangguk lemah, membuat Rara kembali kecewa. ***** "Mau kemana kamu?" Gara menahan pergelangan tangan Karina. Kini hanya mereka di sana, Rara sudah pamit ke kamarnya, sementara Kevin juga sudah pamit pulang. "Aku mau tidurin Rafan, dia kayaknya sudah mengantuk," jelas Karina sambil menarik lepas tangannya. Namun, Gara enggan melepasnya, dan justru tersenyum jahil. Pria itu menariknya mendekat ke sofa, lalu Gara duduk lebih dahulu, sebelum kemudiaan memaksa Karina ikut duduk. Bukan di sofa, melainkan dipangkuannya. "Jangan macam-macam ka--" Belum selesai dengan kalimatnya, Gara malah memotong dan berdesis sambil menaruh telunjuknya di depan bibir Karina. "Anak kita sudah mengangguk sayang, apa kamu tidak kasihan?" ucap Gara pelan, lalu mengambil kesempatan yang ada dengan memeluk pinggang Karina. Karina sendiri tidak bisa bergerak banyak karena sedang menggendong bayinya. Namun, memang perempuan itu tetap saja membalas dengan ocehan. "Jangan gila, aku bukan sayangmu, aku bukan istrimu lagi. Lepas!" "Tidak bisa, bagiku selamanya kamu tetap istriku Karina. Selamanya kamu cuma milikku, dan berhentilah cerewet atau aku akan menutup bibirmu dengan bibirku!" ancam Gara langsung membuat Karina tak berkutik. Wanita itu bahkan tak berani bersuara dan membuat Gara tersenyum penuh kemenangan. "Kamu tahu aku sangat merindukan momen seperti ini, dan aku yakin kamu pun sama," jelas Gara percaya diri. Membuat Karina cukup jengah, namun dia tidak membantah. Karena saat ini dia cuma ingin waktu cepat berlalu, lalu bebas dari Gara. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN