Bab 23. Rencana Baru Gara

1051 Kata
Karina mulai merasa kantuk dan sedikit menguap dipangkuan Gara. Hal itu tentu saja bukan tanpa sebab, karena pria itu sejak tadi mengusap-usap kepalanya, ditambah Karina memang sebenarnya kurang istirahat. Sebagai seorang ibu yang baru memiliki bayi, tentu saja dia hampir tidak memiliki tidur nyenyak. Bayinya suka terbangun kapan saja, rewel, dan sepaket dengan ayah sibayi yang banyak maunya. "Tidak suka, tapi kamu menguap dan hampir tidur," cibir Gara menyindir Karina. Namun, entah mengapa dia tak menanggapinya. Mungkin akibat rasa ngantuk Karina tidak berminat untuk berdebat dengan mantan suaminya itu. "Bangkitlah, aku sudah tidak tahan menahan berat badanmu, kakiku sudah kram. Ternyata tubuhmu saja yang keliatan kecil, tapi berat atau jangan-jangan kebanyakan dosa!" lanjut Gara mengejeknya. Karina mendesah kesal, dan hanya membalas Gara dengan pukulan kecil di bahunya. Wanita itu pun bangkit dengan dibantu Gara. Namun, ternyata Gara masih tak membiarkannya, anehnya setelah menyuruhnya berdiri, pria itu masih menahannya dan membuat Karina bertambah kesal. "Apalagi sih, aku udah ngantuk banget ini. Aku mau tidur sekarang!" nada suara Karina naik beberapa oktaf. Gara tidak tersinggung dan malah membalas dengan tersenyum gemas. Dia bahkan mengusap lengan Karina untuk menenangkannya. "Iya-iya, aku bukan mau menghalangimu pergi tidur, tapi aku cuma mau sama Rafan. Berikan dia padaku," jelas Gara. Karina menarik nafas dengan malas dan tanpa mengangguk diapun menyerahkan putranya. Sementara dia sendiripun pergi mencari tempat nyaman untuk tidur. ***** Keesokan harinya Kevin mulai mengantar-jemput Rara. Pria itu sangat bersemangat, berbeda dengan gadis yang dijemputnya. Seolah seperti ada sesuatu yang menghalangi senyumnya. Dia tidak nyaman dan gelisah. "Kamu tahu, Ra ... aku sudah lama menantikan hari ini. Aku sangat merindukanmu," ungkap Kevin tampak tulus dan disertai dengan senyuman. "Aku juga sangat senang bayi kemarin itu bukan milikmu, tapi keponakanmu. Artinya kamu masih milikku, kamu masih menyukai aku kan, Ra?" Kevin sengaja mengemudikan mobil dengan kecepatan yang lumayan lambat supaya mempunyai waktu dan bisa bicara dengan Rara. Meski begitu, Rara hanya kebanyakan diam dan sedikit membuat pria itu kecewa walaupun tidak menyerah. "Hanya sedikit lagi dan tidak lama lagi. Kamu bersabarlah, aku pasti memperjuangkan hubungan kita seperti janjiku waktu itu, Ra. Hanya menunggu beberapa bulan setelah anak itu lahir dan aku akan bercerai," jelas Kevin. Rara menggeleng dan akhirnya menoleh menatap ke arah kevin. "Jadi, maksudmu kamu akan meninggalkan anakmu demi aku?" tanya Rara datar, tapi kalimatnya seperti mempunyai makna yang sulit. Kevin sedikit terdiam dibuatnya. Sebelum kemudian menoleh sebentar ke arahnya dan kembali fokus ke jalan raya. "Tidak, kita bisa merawatnya Ra. Meskipun begitu kamu jangan khawatir, keberadaan ibunya tidak akan menghalangi hubungan kita. Kami pasti bercerai dan hak asuh anak pasti ada ditanganku!" "Tapi aku tidak menyukai anak-anak dan aku juga tidak menyukai bekas orang lain!" sarkas Rara. Kevin sangat terkejut, dan mengerem mobil dengan mendadak. Beruntung karena lajunya lambat dan tidak ada kendaraan lain dibelakang, rem mendadak itu masih membuat mereka selamat. "Apa maksudmu Rara? Apa kamu masih berpikir aku sengaja?!" nada bicara Kevin naik beberapa oktaf. Akan tetapi, ditengah situasi itu, dia masih cukup waras untuk memarkirkan mobilnya ke tepian jalanan. Bagaimana pun juga dia tidak ingin mobilnya menghalangi kendaraan yang berlalu lalang atau tak mau mengalami hal berbahaya yang lebih serius. "Tidak!" ungkap Rara. "Aku tidak menyalahkan kamu atas musibah ini Kak Kevin, tapi sepertinya hubungan kita memang tidak waras. Kamu tahu perbedaan usia kita bahkan terpaut cukup jauh, dan tak takdir juga sepertinya tidak menyukai hubungan kita. Jadi, kita akhiri saja." Rara tersenyum hambar dan memberanikan diri menyelam dalam tatapan Kevin. Mungkin ini terakhir kalinya dia bisa menatapnya begitu. Menatap dengan perasaan. "Menerimamu sama saja dengan memperlihatkan aku tak ada bedanya dengan orang tuaku. Mereka menjodohkanku dengan laki-laki yang umurnya dua kali lipat dari umurku dan aku menolaknya. Kabur dan bersembunyi selama ini lalu sekarang aku menerimamu?" Gadis itu geleng-geleng kepala, dia merasa itu tak adil untuk dirinya sendiri. "Bukankah aku sangat dirugikan. Perbedaan usia, menjadi pelakor dan mendapatkan bekas orang lain. Apakah kamu pikir itu adil buatku?!" Rara mengulum bibirnya sendiri dan membuang tatapannya dari Kevin dengan cepat. Tentu saja sisa perasaan yang ada membuatnya ikut terluka dengan ucapannya barusan. Kejam, tapi itulah adanya. Bugh-blam! Gadis itu pun turun dari mobil dan Kevin tidak mencegahnya. Merasa terpukul dan hancur mendengar perkataan mantan kekasihnya. ***** "Minggu depan aku akan memperkenalkan Rafan sebagai putraku. Dia akan menjadi penerusku, tapi sebelum itu aku akan menikahi kamu kembali!" ungkap Gara, saat Karina tengah memasangkan dasi di lehernya. Kegiatan itu langsung terhenti, bahkan Karina langsung mundur dan menjaga jarak. Seraya menatap Gara dengan tatapan penuh protes dan ketidakterimaan. "Apa maksudmu?" tanya Karina terkejut dan memastikan. Gara tersenyum dan melanjutkan kegiatan mengikat dasinya yang tidak diselesaikan Karina, sebelum kemudian menjawab dengan begitu santai. "Kita akan menikah lagi!" tegas Gara. Dia menunjuk Karina kemudian dirinya sendiri. "Kamu menjadi istriku dan aku menjadi suamimu!" "Tidak mau!" bentak Karina dengan cepat. Gara bukannya tersinggung, dia menyugar rambutnya kebelakang dengan gaya angkuhnya dan menyeringai. "Apa aku bertanya sayang?!" ucap Gara dengan nada yang mempermainkan. "Aku menyatakan Karina, bukan meminta persetujuanmu!" tambahnya dengan kalimat tak terbantahkan. Membuat Karina segera merasa lehernya seperti dicekik, dan dia segera merasa nafasnya berat. Menggelengkan kepala berulang kali dengan tatapan yang menyimpan perasaan yang bercampur aduk. "Aku tidak mau. Aku tidak sudi menikah dan menjadi istrimu lagi. Aku tidak mau, dan aku akan perg--" "Sssttt ...." Gara mengangkat jari telunjuknya dan menaruhnya tepat di depan bibir Karina. "Tenanglah, sayangku ... menikah denganku tidak membuatmu sakit. Kamu hanya cukup membuang gengsimu yang seluas samudera dan setinggi gunung itu," potong Gara sebelum kalimat Karina memaksa. Pria itu seperti tak memberi kesempatan Karina untuk bicara ataupun menolaknya. "Atau baiklah aku berikan pilihan padamu. Satu, kamu akan tetap menjadi pembantu, dan Rafan akan pindah dari sini karena aku akan menyiksamu dengan perpisahan. Dua kamu menjadi pembantu, boleh bertemu Rafan, tapi setiap bertemu kamu harus melayaniku, atau tiga, menjadi istriku dan menjadi wanitaku." Karina membeku, terdiam dalam pikirannya sendiri. Sesungguhnya dia sudah berusaha lepas dari Gara dan dia berhasil, tapi seperti sumpah dari mantan suaminya itu. Jauh darinya membuat hidupnya susah secara materi, dan sekarang pria itu juga sudah menyita kartu Identitas miliknya. Ditambah tidak ada sepeser uangpun yang dia pegang. Gara benar-benar sudah menjadi iblis gila yang tidak membiarkan hidupnya tenang. "Aku yakin sekarang kamu pasti setuju bukan?" Pria itu mendekat lalu merangkulnya erat. "Tidak mau!" jawab Karina langsung memberontak. "Tidak mau menolak, hm ..." jawab Gara memaksakan kehendak. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN