Bab 24. Berdamai

1075 Kata
"Akhirnya kamu sadar kalau Anggara memang yang terbaik untukmu." Ibunya memeluknya dan Karina hanya pasrah meskipun tidak terima. "Setelah ini jangan melakukan hal konyol lagi, cukup sudah kerugian yang kamu akibatkan. Bisnis keluarga kita hampir berakhir begitu saja." Ibunya melepaskan pelukannya dan menatap Karina serius sebelum kemudiaan mengulas senyumnya dan pergi begitu saja. Sementara itu, Om-Tantenya yang merupakan kedua orang tua Rara pun giliran menghampirinya. Barusan dia dan Gara baru saja melakukan melangsungkan pernikahan kembali dengan seadanya. Hanya ijab kabul yang dihadiri keluarga dekat mereka penghulu dan beberapa saksi. Itulah kenapa mereka bisa bertemu. "Langsung saja, kami tidak mau berbasa-basi, Karina. Di mana Rara, kenapa dia tidak bersamamu?" tanya wajah paruh baya yang menatapnya dengan sinis. Mereka pasti membencinya karena ikut campur dan merusak rencananya. Bukan sekali, tapi dua kali. Itulah sebabnya sekarang walaupun semua anggota keluarganya dan Gara hampir hadir, Rara tidak ikut ke sana. Dia bersama Rafan di rumah. "Apa maksud, Tante. Aku tidak mengerti? Bukankah beberapa bulan lalu, Tante sudah berhasil menyeret Rara kembali dan berhasil menjual anak sendiri? Kenapa sekarang pura-pura menanyakan keberadaan anak sendiri?" jawab Karina sedikit angkuh. Bagaimana lagi dia sangat muak pada keluarganya. Bahkan orang tuanya sendiri. Hanya saja kasih sayang sebagai anak membuatnya tidak bisa membentak atau berkata kasar seperti yang dilakukannya sekarang pada Tantenya. Karina kepada orang tuanya memilih tidak meladeninya dan dia sambil mengangguk pasrah seperti beberapa saat lalu. "Jaga nada bicaramu, Karina. Di mana sopan santunmu, hah?!" Bentak Om-nya yang berada di sebelah Tantenya. "Kenapa Om, bukankah itu fakta. Sekarang Rara pasti bersama lelaki tua itu dan menderita dan apa kalian sudah puas dengan harta yang kalian dapatkan?" balas Karina. Telapak tangan Tantenya langsung melayang menghantam pipi Karina tanpa terelakkan. Plak! Cukup nyaring dan membuat kepala Karina sampai menggeleng. Namun, yang dilakukannya hanya mengusap pipinya sebelum kemudiaan, bersikap tenang dan tersenyum datar. "Aku tidak tahu di mana anak kalian, kalian liat sendiri bukan, aku sendiri bahkan dalam pengawasan suamiku si brengs*k," ujar Karina tenang. Membuat Om-Tantenya kesal dan menelan kekecewaan. Kedua kalinya Rara kabur memang tidak bisa mereka pastikan sepenuhnya bersama Karina, karena walaupun sama-sama hilang kembali, tapi mereka tidak melihat keduanya bersama untuk terakhir kali. "Jangan berbohong, Karina, karena kami tidak akan pernah memaafkanmu!" ucap Tantenya memperingatkan. Karina mengangkat bahunya acuh, sekali tersenyum dan berbalik meninggalkan keduanya. "Ckck ... aku cari kemana, ternyata kamu di sini!" Gara sedikit mengeram dan menarik pergelangan tangan Karina dengan cukup kencang. Tak terima dengan hal itu, Karina pun membalas dengan memukul lengan Gara, dan mendengus kasar. "Apa kamu gila, itu ngilu tahu. Lagipula memangnya aku bisa kemana, kartu Identitas milikku pun masih ada ditanganmu. Ckck ... bahkan aku tidak punya uang," gerutu Karina. Gara tersenyum sebentar geli dengan omelan Karina, tapi kemudiaan senyumnya lenyap saat menyadari pipi Karina memerah. "Pipimu kenapa, siapa yang melakukannya padamu, hah?!" Gara menaikkan nada suaranya, dengan tatapan yang mengedar ke seluruh ruangan, melihat setiap orang yang masih di sana. "Bukan siapa-siapa, ini cuma aku yang ceroboh. Sudahlah, lupakan itu. Sekarang acaranya sudah selesai bukan, aku mau pulang!" ucap Karina. Gara mengangguk saja. "Tapi kita harus pamit pada ibuku," jelas Gara. Setelah itu mereka pun pamit pada ibunya Gara. Tidak terlalu banyak drama seperti saat dia bercengkrama dengan keluarganya sendiri. Kumpulan orang-orang yang haus uang dan kekuasaan. ***** "Sebelumnya kita memulai hubungan kita kembali, aku mau menjelaskan padamu masalah di hotel waktu itu. Karina, aku tidak ber--" Sebelum kalimatnya selesai Karina langsung memotong seraya menggelengkan kepala. "Tidak usah dijelaskan. Semuanya sudah berlalu. Lagipula semua laki-laki sama saja. Jika bukan haus kekuasaan seperti ayahku, maka pasti haus belaian wanita sepertimu." "Karina--" "Aku paham, maksudmu cuma jajan di luar bukan, dan tidak ada perasaan. Lakukan saja dan bahkan jika kamu mencintai wanita itu. Terserah ... aku tidak perduli! Lagipula aku menikah denganmu di bawah ancaman, bukan perasaan," lanjut Karina. Dia bahkan tidak memberi Gara kesempatan untuk bicara. Membuat pria mengeram dan mendengus kasar. "Baiklah aku paham. Jika itu maumu dan kamu lebih suka hubungan seperti itu kita akan melakukannya. Malam ini kamu harus melayaniku dengan baik, jika mau ketemu Rafan besok!" tegas Gara dengan kejam. Karina membulatkan matanya, terkejut, dan menatap pria yang baru saja kembali menjadi suaminya itu dengan tatapan tajam. "Apa?!!!" kaget Karina. Gara menyeringai dan tersenyum licik. "Aku harap kamu tidak pasif seperti malam pertama kita yang pertama kali, Sayang. Jika tidak, maka dengan terpaksa aku akan membimbingmu sampai bisa!" Karina memutar matanya jengah. Lalu memukul lengan Gara dengan kesal, tapi pria itu malah melenguh dengan sensual membuat Karina bertambah kesal. Terakhir pria itu pun tampak puas sudah menggoda istrinya. ***** Sementara itu, Rafan lumayan rewel, tapi mungkin itu akibat hampir seharian tidak bertemu ibunya. Walaupun sudah diberi asi yang stok Karina untuknya. "Eeee ... eeee ...." Rara menghela nafas, dia tampak kewalahan. Lalu Gadis itu pun terpikirkan membawa keponakannya ke halaman untuk menghirup udara segar di malam hari. Namun, tanpa terduga di sana tiba-tiba saja sudah ada Kevin. Rara pun mengerutkan dahi dan hendak masuk untuk menghindari pria itu sebisa mungkin. "Tunggu, Ra!" panggil Kevin. Rara pun menghentikan langkahnya dan memberanikan diri bertahan di sana. "Jika kamu masih bersikeras membahas hubungan kita, maka tidak ada yang perlu dibahas!" tegas Rara. Kevin menggelengkan kepala, dan kemudiaan tersenyum. Dia mendekati Rara dengan tatapan yang berbeda. "Tidak, aku sudah paham maksudmu, Ra ... aku mengerti, mungkin kita tidak akan pernah bersama sebagai pasangan kekasih, tapi bisakah kita menjadi teman?" Rara terkejut dan menyantapnya serius. Dia tidak percaya hal barusan yang dikatakan Kevin, tapi kemudian mengangguk ragu. 'Tidak sekarang, tapi suatu hari nanti, Ra. Kita pasti bersama!' batin Kevin yang ternyata tidak sejalan dengan ucapannya. "Baiklah, tapi katakan dulu apa yang kamu lakukan ke sini malam-malam begini?" tanya Rara penasaran. Kevin pun mengangkat barang bawaannya yang baru dikeluarkan dari mobil. "Bukankah hari ini pak Gara menikahi mantan istrinya kembali, dan dia memintaku menyiapkan beberapa hadiah kejutan. Jadi, aku mengantarnya kemari," jelas Kevin membuat Rara paham dan mengangguk. Kali ini karena merasa diantara mereka sudah selesai, walaupun dalam perasaan masing-masing masih menyimpan sesuatu, tapi karena tidak didesak dan tidak dituntut. Rara pun mempersilahkan Kevin untuk masuk dan tidak menghindarinya lagi sebagaimana biasanya. "Mulai besok apa aku boleh mengantar-jemput kamu kembali, aku janji tidak akan membahas masa lalu kita lagi, dan aku juga sudah menerima kehidupanku yang sekarang." Lagi-lagi Rara mengangguk meski agak ragu, tapi masalah lain ternyata sedang mengintip dan menyaksikan keduanya. Ternyata Arini yang keluar karena gerah, tanpa sengaja melihat Rara, dan menjadi penasaran saat menemukan Rafan. "Siapa bayi itu, kenapa aku baru melihatnya?" *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN