"Malah tidur ...." Gara mengusap pipi Karina dan tersadar soal luka memar di sana yang belum diobatinya.
"Pelankan sedikit," tegurnya pada sopir pribadinya.
Lalu mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang dan perlahan. Sementara itu, Gara terlihat mencari sesuatu di jok mobil, tapi tidak menemukan yang dicarinya.
"Sial. Tidak ada kotak obat di sini," ucap Gara sedikit kesal.
Lantas pria itu pun menghela nafas, dan menunggu sampai mereka tiba di rumah. Gara pun menggendong Karina karena sesampainya di sana istrinya itu masih terlelap pulas. Wajar saja sebenarnya, karena walaupun pernikahan sederhana yang hanya disaksikan keluarga dekat, hal itu tetap saja melelahkan.
"Ugh ... mmm, aku di mana?" geram Karina sedikit terbangun.
Dia masih di gendong oleh Gara, dan kedua matanya masih sangat berat. Mungkin dia terbangun akibat guncangan yang ada dan merasa kurang nyaman.
"Tidur saja, sebentar lagi kita sampai," jelas Gara.
Mungkin karena sangking mengantuk Karina menurut dan tanpa sadar semakin menempelkan wajahnya ke dad* bidang Gara, seraya kemudian mengalungkan kedua tangannya memeluk leher Gara. Dia seolah mencari tempat ternyaman dalam gendongan suami.
Namun, baru saja mereka sampai di anak tangga pertama. Rara tiba-tiba menghampirinya dan membuat Gara berbalik untuk melihatnya.
"Ada apa?" tanya Gara dengan wajah datar, tapi sialnya Rara. Wajah kakak iparnya terus saja menyeramkan baginya.
Hingga gadis itu pun mundur dan sedikit menundukkan kepala. Membuat Gara yang melihatnya sedikit tersenyum, dan menatap Karina yang pulas dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Rafan masih si kamarku, dia barusan tidur, Kak, tapi seharian ini sangat rewel. An--u, aku tidak berani membawanya ke atas, takut dia terbangun," cicit Rara.
Gara mengangguk paham. Dia mengerti maksud adik iparnya itu. Rara mungkin tak tega pada keponakannya.
"Tidak apa, biarkan saja Rafan bersamamu malam ini, tapi saat dia terbangun panggil aku atau kakakmu," jawab Gara.
"Hm, baiklah," jawab Rara dengan kaku, dan seperti sebelumnya dia langsung kabur dengan cepat.
"Huhh ... kenapa kakak ipar lebih menyeramkan dari preman pasar," nyinyir Rara yang tampak ngeri sendiri.
Beruntunglah Gara juga langsung naik ke atas, dan tak mendengar ucapannya lagi.
*****
"Kalau sedang tertidur begini kamu seperti kembali sebagai Karinaku yang dulu. Sangat manis dan menggemaskan," ungkap Gara sambil mengoleskan salep luka ke wajah Karina yang tampak memerah.
Meniupnya sesekali dan mengusapnya dengan lembut. Setelah selesai barulah pria itu berbaring disebelahnya, tanpa menyimpan lagi kotak obat dan cuma menaruhnya di nakas.
Dengan posesif dia memeluk Karina, sambil kemudian memberikan banyak kecupan. Sebelum kemudian dia sendiri pun ikut tertelap.
*****
Bunyi ketukan di pintu membuat Karina terbangun dari tidurnya. Wanita itu menguap, dan segera merasakan sesuatu seperti menimpa tubuhnya. Benar saja, memang ada yang menimpanya.
"Ughh ... hmmm ... ckck, bagaimana aku bisa di sini?" geram Karina masih setengah sadar.
Namun, ketukan di pintu terus terdengar membuat Karina mengumpulkan kesadaran dengan cepat.
Bugh-bugh!
Dia juga segera menyingkirkan lengan Gara yang tengah memeluknya, ternyata itulah yang membuatnya seperti ditimpa sesuatu. Namun, hal itu tidak berhasil dan membuatnya mencari cara lain. Karina pun mengigit lengan itu, dan membuat Gara terbangun dan menatapnya dengan tatapan mengantuk yang kesal.
"Makanya menyingkir sana, aku mau bangun!" omel Karina membalas tatapan suaminya itu dengan galak.
"Tapi kamu tidak harus mengigitku, lihatlah bekas gigimu tertinggal di tanganku," ujar Gara mengeluh.
Karina tidak membalas lagi, dan memilih bangkit karena masih mendengar suara ketukan juga suara Rara yang memanggilnya. Karina menghampiri pintu, sementara Gara melanjutkan tidurnya.
"Maaf, ya Kak ... kakak pasti udah tidur ya, karena kecapean. Hm, tapi Rafan juga sudah bangun dan rewel lagi," ungkap Rara.
Sebenarnya tak perlu dijelaskan suara bayi itu langsung terdengar saat melihat Karina. Dia memang sempat diam saat digendong dan sebelum pintu dibuka.
"Oh, anak Mama haus ya ... cup-cup ... Mama sudah di sini sayang," ucap Karina langsung meraih Rafan dan menimangnya.
Namun, entah kenapa bayi itu semakin rewel serta menangis kencang. Membuat Karina tak habis pikir, dan Rara yang hapal tabiat keponakannya justru sedikit mengulas senyumnya.
"Maaf, ya ... Ra. Rafan pasti sudah merepotkanmu seharian ini," ucap Karina tak enak hati.
"Sudah biasa, Kak. Sudahlah, jangan mengatakan hal berlebihan begitu. Aku merasa seperti orang asing saja tau!" jawab Rara sedikit mengomel.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengurus anak nakal ini. Kamu pergilah tidur, bukannya besok kuliah ..." ucap Karina.
Rara berdehem dan mengangguk, tapi sebelum berbalik, dia sempat melambaikan tangan pada keponakannya, tapi yang terjadi bayi mungil itu justru terdiam sambil menggerak-gerakkan tangannya seolah ingin ikut Rara.
"Ckck, anak ini sebenarnya kamu maunya apa hm, mau sama Mama atau tante?" ucap Karina sedikit mengomel.
Dia pun berbalik dan masuk kamar. Kemudian membuka kancing bajunya, hendak menyusui Rafan. Namun belum juga terjadi, anak matanya segera menangkap kehadiran Gara yang sudah tidak berbaring di tempat tidur. Pria itu bahkan sudah berdiri dan sedang menatap Karina serius.
"m***m!" omel Karina begitu sadar.
"Loh, kamu punyaku termasuk itu juga," jawab Gara sambil menatap Karina dengan usil dan menyeringai.
"Hadap sana! Aku mau menyusui Rafan!" gerutu Karina memerintah.
Gara tersenyum geli, puas melihat semburat merona di pipi istrinya. Namun, ternyata dia masih belum berhenti.
"Habis itu giliranku?" tanya Gara membuat Karina syok.
"Apa?!" kaget Karina.
Gara menjadi gemas dan terus menggoda istrinya, tapi sayang bayi kecil itu langsung menangis dengan kencang.
"Eeee ... eeee!"
Walaupun senang menggoda Karina, tapi mendengar tangisan anaknya, pria itu pun dengan terpaksa menyudahi kesenangannya dan menyerah.
"Aku mau mandi," ucap Gara yang langsung beranjak begitu saja, dan masuk kamar mandi.
Beberapa saat kemudian terdengar guyuran shower dan Karina pun akhirnya menghela nafas lega. Dia juga segera menyusui bayi kecilnya.
Lalu saat si kecil pulas, Karina menaruhnya di tengah ranjang. Kemudian melirik sekitar dan menyadari kamar tengah berantakan.
"Selalu aja kayak gini, ngakak pernah berubah sejak dulu. Huft, seenaknya menaruh barang!" gerutu Karina.
Beberapa menit kemudian ruanganpun sudah rapih, dan pakaian ganti Gara pun telah disiapkan. Bersamaan dengan itu, Gara keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk dari pinggang sampai lutut.
Karina buru-buru mengalihkan pandangan saat tak sengaja menatapnya.
"Aku sudah milik kamu kembali, Karina. Ini milikmu!" ucap Gara sambil memamerkan dad* bidang miliknya tanpa tahu malu. "Kamu bebas melakukan apa saja ...."
Karina mendengus kasar, dan menggeleng. "Aku tidak tertarik," jawab Karina dengan pipi yang memerah.
"Oh, ya? Bagaimana jika kamu sentuh sedikit. Mungkin kamu hanya perlu melakukan itu untuk membangkitkan rindumu yang terhalang gengsi setinggi langit itu!" ucap Gara menggoda Karina.
Tak tahan terus digoda, Karina pun berlari dan masuk kamar mandi. Lalu menguncinya dari dalam. Sementara Gara justru mengulas senyumnya gemas.
*****