Bab 26. Kejutan

1095 Kata
"Apa ini?" tanya Karina tersentak kaget. Dia menoleh kebelakang, dan ternyata Gara sudah di sana. Habis memasangkan sesuatu ke leher Karina. Namun, tak hanya itu, dia juga barusan menaruh paper bag toko di atas meja rias. "Kamu lihat sendiri apa?!" Gara sedikit kesal dan Karina segera membeo sambil meraba bandul di kalung itu. "Siapa tahu aja pelacak, kamu kan berupaya menahanku," balas Karina yang kemudian beralih ke menatap cermin dihadapannya. Wanita itu pun kemudian menghidupkan mesin pengering rambut, dan melanjutkan aktivitasnya seolah yang barusan tidak pernah terjadi. Membuat Gara kesal, dan mengangkat kembali paper bag di meja rias. Dia menghentaknya kemeja untuk menarik perhatian Karina dan itu berhasil. "Apalagi sih?" kesal Karina meletakkan kembali hairdryer-nya. "Kamu tidak ada niatan untuk bilang terima kasih?" sindir Gara yang kemudian menaruh paper bag tadi di pangkuan Karina. Wanita itu mengerutkan dahinya, merasa seperti Gara sedang sekalian memaksanya menerima hadiah berikutnya yang di paper bag. "Hm! Makasih ...." Karina terdengar ketus dan membuat Gara tak puas. "Yang tulus Karina!" tegur Gara. Wanita itupun mengangguk sambil membuka paper bag-nya. "Terima kasih, suamiku ..." ucap Karina seraya membuka paper bag-nya. Awalnya dia tampak antusias sebagai mestinya orang yang diberikan hadiah, tapi kemudiaan wajahnya pun cemberut dan di belakangnya terlihat Gara yang terlihat menertawainya. Ternyata isi paper bag itu bukan hadiah kedua, tapi popok bayi. "Puasin aja ketawanya. Huhh ... ngeledekin terus!" omel Karina. Namun, dibalik kekesalan itu dia sedikit terkejut dengan kepribadian Gara yang demikian. Satu tahun dengannya di masa lalu, pria itu tidak pernah memperlihatkan sikapnya yang demikian. Gara terlalu dingin saat itu, bahkan suka mengabaikannya. Tidak seperti sekarang. Pria itu seolah tidak mau berpisah darinya. Meski begitu, Karina juga masih mewaspadai dirinya untuk tidak terlena. Dia sudah lihat bagaimana buruknya Gara dan mungkin sebenarnya pria itu lebih buruk lagi. "Lupakan hal itu, ada yang ingin aku katakan padamu!" tegas Gara. Pria itu kemudian mengambil alih pengering rambut, dan membantu Karina mengeringkan rambutnya. Kemudiaan barulah dia melanjutkan. "Aku akan mengembalikan kartu Identitas kamu, dan juga kartu debit dan lainnya, tapi ingat jangan sesekali kamu berani kabur. Aku tidak akan memaafkanmu lagi Karina, dan saat aku menemukanmu kembali, aku pastikan kamu tidak akan menemukan kebebasan lagi!" ungkap Gara dengan serius. Karina mengangguk saja, terlalu malas mendebat pria itu. Terserah saja, lagipula dia hidup untuk anaknya sekarang. Baginya Rafan yang utama. Selagi kehidupan anaknya terjamin, yang lainnya sudah Karina pasrahkan. Toh percuma saja melawan, dia sudah jelas kalah telak dari pria yang kembali menjadi suaminya itu. "Hm, baiklah, tapi jangan membawa wanita lain ke rumah ini. Terserah kalau kamu mau main di luar aku tak peduli," jawab Karina acuh tak acuh. Gara tidak menjawab, tapi malah mencium ubun-ubun Karina. Kemudian pria itu mengalihkan pembicaraan. "Aku sudah menyiapkan makan malah, kamu dari tadi siang belum makan bukan?" ucap Gara dan Karina mengiyakannya. Mereka makan malam berdua tepat tengah malam dalam keadaan yang hening. Sampai akhirnya Karina kembali buka suara. "Makanannya enak, sejak kapan bisa masak?" komentar Karina. "Tidak pernah," jawab Gara santai. Karina mengerutkan dahi, lalu menatap makanan dihadapannya yang belum habis disantap. "Terus ini?" tanya Karina penasaran. Gara menghentikan makannya, menaruh sendok dan menatap Karina serius. "Kenapa nanya kayak gitu, hm ... lagi ngode mau merasakan masakanku?" Gara ternyata malah menggodanya. Membuat Karina menyesal sudah bertanya. "Gak! Siapa juga yang mau," jawab Karina memalingkan tatapannya. "Makanan ini aku pesan pas kamu ketiduran di mobil, makanya kamu tidak tahu. Terus aku panaskan saat kamu mandi tadi," ungkap Gara. Karina tersenyum sedikit. Tidak memasak, tapi ternyata suaminya sudah bisa belajar memanaskan makanan. "Kenapa senyum-senyum kayak gitu?" tanya Gara. "Gak kok, cuma kaget aja, walaupun kamu nggak bisa masak setidaknya bisa memanaskan makanan sekarang," jawab Karina adanya. "Kamu meremehkan aku?" Gara tiba-tiba menatap Karina dengan tatapan intimidasi. "Nggak kok," jawab Karina. "Jangankan makanan, kamupun bisa aku hangatkan!" ucap Gara sambil menyeringai dan tersenyum melirik bagian tubuh Karina yang intim. Menyadari hal itu, Karina segera memerah malu dan menatap Gara kesal. "Mes*m!" umpat Karina kesal. "Cuma sama kamu, Sayang!" jawab Gara santai. ***** "Cepatan, aku hampir terlambat Karina!" guman Gara memanggil Karina. "Iya-iya!" Karina sedikit berlari dan menghampiri suaminya. Hari pertamanya kembali menjadi istri cukup riuh, entah karena apa. Padahal sebelum menjadi istri dia sudah terbiasa mengurus pria itu. "Nih, bekalnya!" Karina mendengus kasar. "Ngapain sih, mau bekal makan siang. Kayak anak TK saja!" "Tidak usah protes, lakukan saja tugasmu dengan baik," ucap Gara sambil mengusap puncak kepala Karina. Namun, wanita itu segera mundur walaupun percuma, karena Gara sudah berhasil melakukannya. Bahkan karena perlawanan itu, Gara menarik pinggang Karina dan menahan pinggangnya. "Mau kemana, belum selesai Karina. Kalau suami mau berangkat kerja, kamu sebagai istri wajib menyemangati," ucap Gara. Karina segera mendorong dad* bidang suaminya, meminimalisir jarak mereka yang terlalu dekat. Meski tak berhasil, karena dia bahkan merasakan nafas suaminya. "Kamu itu sudah terlalu bersemangat, ngapain masih disemangati?" tolak Karina. "Oh, jadi kamu membangkang, hah?!" Gara sedikit menaikkan nada suaranya, sembari merapatkan jarak mereka. "Lepaskan, nanti dilihat Rara atau ART di rumah ini!" tegur Karina. "Memangnya yang kita lakukan salah? Kita suami istri Karina, jangan lupakan itu. Baru kemarin kita menikah!" tegas Gara. Karina pun menyerah karena tak mau berlama-lama. Lantas memghela nafas dan mengangguk. "Yaudah, kamu mau disemangati kayak gimana?" tanya Karina pasrah. Dia kembali mendorong Gara dan kali ini Gara menurutinya lalu melepaskannya. Wanita itu pun langsung siaga dan memberi jarak sebelum suaminya itu kembali berulah. "Ci*m!" ungkap Gara serius dengan nada menuntut. Membuat Karina syok, dan membulatkan matanya. Dia pun menggelengkan kepala, lantas berlari menjauh, dan sesaat ketika sudah merasa aman, Karina berhenti untuk menoleh kebelakang. "Tidak mau dan aku tidak akan melakukannya! Minta saja ke selingkuhanmu sana!" balas Karina yang kemudian memeletkan lidahnya mengejek Gara. Hal itu pun membuat Gara sebal, tapi tak mengejar. Rupanya dia hampir terlambat dan dengan terpaksa pun mengalah, lalu pergi untuk bekerja. Karina pun segera merasa lega, tapi dua jam kemudian salah satu ART di rumah itu memberinya paket. "Katanya buat tuan Gara," beritahu ART itu. Mereka belum tahu Karina sudah menjadi nyonya di rumah itu, sehingga tidak memanggilnya dengan embek-embel "nyonya," sementara Karina pun tak butuh validasi sehingga tak terlalu merasa perlu untuk membeberkannya. "Yasudah, Karina. Aku lanjut kerja lagi, kamu tolong berikan pada tuan Gara!" ucap ART itu lagi dan Karina pun menganggukkan kepala. Sebenarnya setelah mendapat paket tersebut, dia ingin menyimpannya, tapi kemudian Karina mendapatkan pesan dari Gara yang mengatakan itu hadiahnya. Sehingga Karina pun tak sungkan lagi untuk memeriksa paket hadiahnya. Namun, saat membukanya, wajah Karina langsung pucat dan membeku dalam seketika. Kepalanya menggeleng beberapa kali sambil mengumamkan beberapa kata. "Tidak, tidak ini tidak mungkin ..." lirihnya yang kemudiaan terisak dengan pilu. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN