Bab 27. Pertengkaran

1067 Kata
"Aku hampir perca--ya, hiks-hiks ... kenapa harus seperti ini. Kenapa saat kita kembali menikah kamu menunjukkan pengkhianatan itu lagi ...." Karina terisak pilu menatap lembaran foto kebersamaan suaminya dengan seorang wanita, dan wanita itu tak asing. Karina ingat dialah wanita yang pernah datang ke rumah untuk mencari Gara. Dengan geram dan penuh emosi Karina merobek dan melemparkan semua foto itu. Dia mengusap pipinya dan bangkit. Detik itu juga dalam kekecewaan, dia hilang akal dan memutuskan langsung pergi dari sana. Baru saja Karina yang masih menangis mengemas pakaiannya, sebuah panggilan masuk tiba-tiba menghentikannya. Ternyata itu dari Rara adiknya. "Kak bisakah aku meminta bantuanmu, besok aku mau praktek, dan butuh beberapa referensi dari buku. Kak Gara pernah bilang aku boleh minta bantuannya, tapi aku takut," ungkap Rara. Karina masih terdiam dan mencoba fokus mendengarkan adiknya. Menahan isak tangisnya dan meredam emosinya yang tengah bergemuruh serta bercampur aduk. "Sebenarnya aku bisa saja mendapatkan bukunya, hanya saja waktunya mepet dan siang sampai sore ini aku masih punya jam kuliah," terang Rara. Permintaan itu pun menyadarkannya akan ancaman, serta kehidupan di luar tanpa Anggara. Suaminya itu benar-benar membuatnya tak bisa jika tanpanya. Meskipun kartu Identitas sudah dikembalikan, tapi pria itu belum mengatakan soal namanya yang sempat masuk ke daftar blacklist di beberapa perusahaan. Sudah begitu, bagimana dia akan hidup, bagaimana kuliah Rarat, lalu bagaimana dengan Rafan. "Hm ...." Karina pun berdehem untuk menormalkan nada suaranya, supaya tidak terdengar serak dan supaya tidak membuat adiknya tidak harus khawatir. "Yaudah, nanti kakak carikan, Ra. Di rumah ini juga kan ada perpustakaan. Kalau tidak ada juga, kakak bisa keluar dan mencarinya di tempat lain," jawab Karina sebisa mungkin terdengar normal sambil mengusap pipi basahnya. "Terima kasih, Kak. Aku tahu bisa mengandalkanmu," ucap Rara sebelum kemudiaan menutup telepon. Karina menatap kembali sekitarnya, melihat ruangan itu hampir berserak foto-foto yang sudah disobek dan dilemparkannya dengan penuh emosi. Lalu sekarang sambil masih menatap pemandangan tersebut, wanita itu pun menghela nafas. Sebelum kemudiaan membereskan semua yang dibuatnya berantakan akibat terbawa emosi. 'Tidak Karina, kamu tidak perlu sedih. Ini sudah dalam perhitunganmu sebelumnya, bajing*n tidak mungkin berubah. Dia hanya akan selamanya seperti itu, tapi kamu juga tidak harus bertahan dalam rasa sakit itu. Lupakan perasaanmu. Tidak ada cinta, kamu hanya melanjutkan hidup untuk anak dan adikmu!' batinnya menguatkan tekat. ***** "Siapa yang mengizinkanmu di sini, hah?!" tanya Karina sedikit membentak. Siang itu saat kekacauan yang dibuatnya sendiri sudah dibersihkan, wanita itu turun ke bawah dan bermaksud ke area kolam renang untuk menenangkan diri dengan cara merendam kaki ke dalam kolam, tapi tanpa sengaja hal itu justru membuatnya bertemu dengan Arini yang menyelinap masuk ke rumah utama. Padahal sudah aturannya di jam tersebut tidak ada ART yang boleh berkeliaran di rumah utama. Mereka dilarang masuk terkecuali juru masak dan hal itupun hanya boleh di area dapur dan sekitarnya. "Ak--aku ...." Arini terdiam sesaat, lantas melirik sekitar untuk memastikan sesuatu. Dia sadar walaupun belum tahu Gara dan Karina telah kembali menikah, melawan Karina di depan pria itu adalah kesalahan. Karena Gara tampak tertarik pada Karina. Oleh karena itu, belajar dari kejadian pertama, Arini sekarang menjadi waspada. "Aku di sini, memangnya kenapa? Bukankah kau juga sama. Kamu bebas berkeliaran di rumah utama, lalu kenapa aku tidak?! Jangan sombong Karina, derajatmu masih sebatas peliharaan!" ucap Arini sambil kemudiaan melipat tangan di depan dad*. Dia tersenyum lega, karena yakin Gara tak di rumah. Jadi sekarang dia bebas bersikap seperti apapun. Tak ada yang merekam, dan jika Karina mengadu, bukankah dia bisa playing victim nantinya. "Besar juga nyalimu!" geram Karina. Dia mengepalkan tangan dan mendengus kasar. Terbayang kejadian Shela yang pernah datang ke rumah untuk mencari Gara, bersikap semena-mena dan menghinanya. Ditambah kejadian paket foto yang membuatnya kembali dipukul kenyataan. Hal itu pun membuat emosi Karina kembali terguncang. "Kenapa Karina? Tidak suka dengan ucapanku?" balas Arini yang kemudian terkekeh meremehkan. "Kamu itu memang peliharaan, cuma sebatas alat untuk membuat ranjang tuan Anggara menjadi hangat, jadi jangan berlagak seperti nyonya di rumah ini. Kau sama sekali tak berhak melarangku berkeliaran di rumah ini!" Nafas Karina pun semakin berat, emosi yang bercampur aduk membuatnya hampir meledak. "Jaga bicaramu Arini, jangan membuatku marah!" tegur Karina masih menahan diri. Menarik nafas dan membuangnya perlahan. "Hahaha ... berhenti melucu. Sudah ku katakan kau bukan nyonya, tapi jala*g peliharaan. Kenapa kalau aku di sini, hah? Kau mau mengadu pada tuan Anggara, hm ... mengadu saja sekarang!" tantang Arini tak tahu malu. Tak hanya itu, dengan sengaja diapun memperparah keadaan dengan menendang salah satu perabotan di sana. Lalu tertawa seolah memang sengaja dia lakukan untuk memancing emosi Karina dan wanita itu berhasil. Plak!! "Aku sudah memperingatkanmu. Enyahlah dari hadapanku sekarang!" teriak Karina mengamuk. "Jal*ng!!" bentak Arini. Tak mau kalah, diapun menarik rambut Karina. Sampai keduanya pun berakhir saling jambak-menjambak. Tak ada yang melerai, karena penghuni rumah utama saat itu cuma ada Karina dan bayinya yang pulas dan anteng di box bayinya. Sampai akhirnya berlalu setengah jam, baik rambut Karina ataupun Arini sudah sama-sama rontok, dan wajah mereka sama-sama mendapatkan luka cakaran. Saat itulah Rara pulang dan melerai keduanya. Dia memangil petugas keamanan di depan yang akhirnya berhasil memisahkan keduanya. "Awas kamu Karina, liat saja suatu saat nanti jika tuan Anggara sudah bosan. Kesombonganmu akan habis. Cih, peliharaan belagu!" umpat Arini yang masih terdengar Karina. Namun, wanita itu sudah ditahan oleh petugas keamanan, sementara Karina sudah dibawa Rara menjauh dari sana. Mereka ke ruang keluarga dan Rara segera mencari kotak obat untuk mengobati luka cakar di pipi kakaknya. "Ada apa ini, Kak Karina. Kamu tidak biasanya bersikap seperti ini. Apa yang membuatmu begitu marah pada Arini?" tanya Rara penasaran sambil mengoles salep luka cakar di wajah Karina. Karina sedikit meringis dan membuat Rara lebih berhati-hati juga perlahan meniup lukanya untuk meredam rasa perih. Sementara itu Karina juga masih enggan buka suara. Terpikirkan ucapan Rara. Seharusnya kesalahan Arini tidak membuatnya begitu marah, tapi emosinya yang tak stabil karena kiriman paket foto membuatnya tak bisa menahan diri. "Tidak Ra, aku cuma kecapean aja dan wanita itu terlalu berisik. Hm ... kamu jangan khawatir, aku baik-baik saja," terang Karina. Namun, dia pun tersadar sesuatu. "Tapi bukankah kamu harusnya masih kuliah jam segini, dan bukunya--" "Tidak perlu di cari lagi, Kak. Teman aku ada yang punya, dan kenapa aku nggak kuliah sekarang itu karena dosen mata kuliah siang ini sedang sibuk. Jam perkuliahan diganti ke hari besok. Untung saja hal itu terjadi, jika tidak aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada kakak. Syukurlah aku cepat pulang." *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN