"Karina!" panggil Gara sedikit berteriak.
Pria itu tampak kesal karena tidak di sambut di depan pintu saat pulang kerja. Padahal dia sudah mengingatkan Karina, dan saat mau pulang pun sudah memberitahu istrinya itu.
"Karina ... Karina!!" panggilnya berulang kali, tapi wanita itu tak kunjung menghampirinya.
Malah Arini yang tiba-tiba datang ke sana dan menghampirinya, dengan wajah diselimuti cakaran, rambut acak persis seperti korban kekerasan. Membuat Gara cukup terkejut.
"Tuan, hiks-hiks ...."
"Apa yang terjadi padamu?" Gara tidak bisa tak memperhatikannya.
Dia penasaran dan selain itu sebagai tuan rumah, pria itu juga bertanggungjawab atas pekerjanya. Namun, kesempatan itu malah disalahgunakan Arini dan memanfaatkannya semata-mata untuk kepentingan pribadinya. Tanpa sepengetahuan Gara, wanita itu sempat menunduk dan tersenyum licik.
"Ak--u, hiks-hiks ... wanita kejam itu membully-ku tanpa alasan yang jelas. Setelah memperingati ak--u su--paya tidak mendekati Tuan ... hiks-hiks!" ungkap Arini sambil kemudiaan mengusap wajahnya.
Gara berdecak saat mendengarnya. Dia sudah paham sekarang walaupun Arini belum mengatakan kronologi selanjutnya. Pria itu segera berpikir hal tersebut berkaitan dengan istrinya dan pelakunya mungkin istrinya sendiri yang sedang cemburu. Dia pikir mungkin itulah juga alasan kenapa Karina tak di sana, dan saat dipanggil wanita juga tidak muncul.
Seulas seringai dilanjutkan senyuman tipis nampak di wajah pria itu.
"Itu salahmu sendiri, dia sudah memperingatkanmu bukan? Kenapa tidak patuh," jawab Gara seenaknya.
Namun, kemudiaan pria itu pun merogoh sesuatu di sakunya. Sementara Arini langsung geleng-geleng kepala. Dia tak mau menyerah dan menelan kekecewaan begitu saja.
"Hiks-hiks, tapi bukan hanya itu ... Karina juga memonopoli pekerjaan saya. Dia menghancurkan semua yang sudah saya bereskan. Bahkan saat saya mencoba membereskannya kembali, dia tidak membiarkan saya dan beralasan waktu bersih-bersih di rumah ini sudah usai. Dia ingin memfitnah saya supaya terlihat buruk di mata Tuan. Hiks-hiks ...."
Gara menggeleng dan menatap Arini dengan tatapan sedikit jengah. Tak habis pikir mendengar penjelasan yang menurutnya konyol.
Lantas pria itu pun menyerahkan beberapa lembar uang yang sudah dikeluarkannya dari dompetnya.
"Aku tidak butuh omong kosongmu mengenai keburukan istriku, dan Arini tutup mulutmu. Gunakan uang itu untuk berobat. Hari ini aku masih cukup baik hati, tapi tidak lain kali!" ucap Gara menggemparkan Arini.
"Apa?!" wanita itu terkejut. "Istri ... sejak kapan Tuan Gara menikahi Karina, bukankah dia--"
Arini tidak melanjutkan ucapannya, karena segera menebak jawabannya sendiri. Sial. Dari awal harusnya jelas mengapa Shela menugaskan dia di sana untuk memisahkan keduanya. Itu karena terus bersama.
Nafas Arini segera tercekak, tenggorokannya seperti tertusuk duri. Mendadak dia membeku, tersadar kekonyolan yang telah dia lakukan.
'Pantas saja wanita itu berani. Sialnya itu karena sudah menaklukkan pria ini. Huft ... bagaimana ini, aku pasti dihabisi jika sampai tahu sudah menyakiti Karina. Tidak, aku harus kabur secepatnya. Persetan dengan rencana Shela, atau menjadi nyonya. Aku tidak mau bertahan di sini!' batin Arini.
Arini berbalik, dan berjalan cepat pergi dari sana secepatnya, membuat Gara heran, tapi kemudian Rara tampak memasuki rumah bersama Rafan sehabis dari luar.
Pria itu menghampirinya dan seperti biasa adik iparnya itu selalu menjaga jarak, dan membuatnya sedikit jengah dengan kebiasaan Rara yang satu itu. Seperti ilfil padanya, tapi sudahlah dia tak mau mempermasalahkannya.
"Habis dari mana kamu, dan di mana Kakakmu?" tanya Gara.
Nada suaranya biasa, tapi Rara seperti bergidik takut dan sedikit menundukkan kepala.
'Apa aku mirip Hulk, sampai semenakutkan itu di matanya? Anak aneh!' batin Gara.
"Ka--k Karina di kamar ... di--a demam dan beristirahat. Aku membawa Rafan keluar untuk menebus o--bat, Kak ..." cicit gadis itu dengan gugup.
Sementara itu, Gara yang mendengarnya sedikit kesal dan membentak.
"Kenapa tidak menghubungi aku, hah? Hal sepenting ini kamu tidak memberitahuku?!" geram Gara membuat Rara mundur, tapi Gara tidak perduli.
Dia segera berlari dan mencari Karina di kamar, sementara Rara ragu untuk mengikutinya. Sial kakak iparnya itu memang menakutkan, bahkan lebih menakutkan dari ayahnya yang haus kekuasaan.
*****
Blam!
"Apa yang sudah terjadi padamu? Bagaimana bisa tiba-tiba demam dan menjadi sakit ...."
Gara masih belum melihat sepenuhnya Karina, karena wanita itu tengah berbaring membelakanginya.
"Karina ..." panggil Gara lembut.
Wanita yang telah tertidur itupun terusik dan terbangun dari tidurnya. Dia segera bangun dan Gara segera terkejut saat melihat wajahnya.
"Apa yang terjadi denganmu, siapa yang melakukan ini? Jawab, siapa yang melakukan ini ... apakah ART sialan itu? Katakan Karina?!" Gara mencecar Karina dengan pertanyaannya.
Membuat Karina pusing dan mendengus kasar. Bahkan emosinya yang sudah meluap ketika melihat foto kebersamaan Gara dengan wanita lain, kini kembali menyelimutinya.
"BUKAN!" bentak Karina emosi. "Menyingkirlah, aku tidak membutuhkan perhatianmu!"
"KARINA!!" Gara naik pitam.
Gara menatap Karina emosi, tapi bukan pada wanita itu dia marah. Karena sekelebat ingatannya soal Arini beberapa menit lalu segera membuatnya paham apa yang terjadi. Pantas saja wanita itu jadi pucat, saat Gara mengakui Karina istrinya.
Pria itu pun berbalik dengan cepat, dan begitu berhadapan dengan pintu. Pintu yang tidak bersalah itu pun menjadi korbannya.
Blam!!
"ARINI!! Bawa jal*ng itu kehadapanku. Aku akan membunuhnya!" Gara tampak emosi, tampak sadar membuat Rara langsung bersembunyi.
"Papa kamu memang sangat menyeramkan, Rafan. Tante harap kamu lebih darinya, supaya bisa mengalahkannya, tapi Kamu janji berpihak pada ibumu dan Tante," ucap Gadis itu pada keponakannya yang tak mengerti apa-apa.
Lalu, dia diam-diam naik ke atas untuk mengurus kakaknya. Teringat Karina masih demam di sana. Sementara itu Gara masih saja sibuk mencari Arini dan bersiap memberi wanita itu perhitungan yang mungkin tidak bisa dilupakannya.
*****
"Tidak usah kamu pikirkan, Ra. Pergilah tidur, kakak sudah baik-baik saja," ucap Karina sambil mengulas senyumnya.
Rara menggeleng, jelas saja di khawatir pada kakaknya. Apalagi kakak iparnya sedang menggila. Dia tak mau Karina terkena dampaknya dan berakhir disakiti.
"Tapi, Kak ...."
Namun, Karina malah menggeleng. Dia mengerti isi pikiran Rara dan mengusap lengan adiknya untuk menenangkan.
"Tidak apa-apa, Ra. Walaupun gila, dan seenaknya. Kakak iparmu belum pernah seujung kukupun menyakitiku. Kamu tidak usah khawatir. Dia cuma kumat saja itu, sana pergilah tidur sebelum dia kembali ke sini," jelas Karina.
Rara ragu, tapi dia pun takut Gara kembali ke sana. Tidak marahpun dia sudah takut, apalagi kakak iparnya itu sedang meledak seperti sekarang.
"Yaudah, tapi minum obatnya dulu," terang Rara. Gadis itu juga sekalian membuka plaster penurun demam dan memasangkannya di dahi Karina. "Abis ini Kakak juga tidur, ok! Kunci pintu, dan jangan biarkan monster itu masuk!" ucap Rara mengingatkan dan Karina mengangguk saja, walaupun dia juga agak gemas dengan tingkah adiknya itu.
"Rafan jagain Ibumu, nangis yang kencang kalau papamu kesini. Ok!" ucap Rara random pada keponakannya yang belum tentu mengerti ucapannya dan hal itu membuat Karina sedikit terhibur.
"Sudah sana, pergilah ... bukankah besok kamu harus kuliah?" tegur Karina, dan diangguki Rara.
"Hm, jaga dirimu baik-baik, Kak ..." ucap Rara masih tampak khawatir.
*****