Empat Puluh Enam

1012 Kata
*Author Pov* “Lo masih kesel sama temen lo itu?” Genta kembali menghampiri Riri yang sejak tadi duduk di pinggir lapangan sambil mengurus beberapa catatan latihan. Tangannya sibuk menulis jadwal dan mencatat kebutuhan tim, namun wajahnya masih terlihat ditekuk kesal sejak tadi pagi. “Gw tuh sakit hati, Gen,” jawab Riri sambil menghela napas panjang. “Oke, gw juga turut andil salah. Tapi sampai ngatain kalau klub ini klub sampah, sumpah gw bener-bener gak terima banget.” Nada suaranya terdengar penuh emosi yang masih tertahan. Genta yang berdiri di sampingnya hanya memainkan handuk kecil di tangannya sebelum akhirnya duduk di bangku sebelah Riri. “Tapikan kalian udah temenan lama, kan?” ucapnya pelan. “Mungkin ini semua cuma salah paham.” “Salah paham gimana?!” Riri langsung menoleh cepat. “Dia bukannya ngejelasin kenapa gak nyampein pesan itu ke gw, malah nuduh gw yang enggak-enggak. Boro-boro minta maaf.” Riri mendengus pelan lalu kembali mencoret sesuatu di kertasnya dengan kesal. Genta memperhatikannya sebentar sebelum kembali bicara. “Terus sekarang maunya lo gimana?” Riri terdiam, tidak tahu harus menjawab apa karena dia sendiri pun bingung. “Diem-dieman sama dia?” Pertanyaan itu membuat Riri semakin kehilangan kata-kata. Jujur saja, ia sendiri belum tahu harus bagaimana. “Jujur aja nih ya,” lanjut Genta santai, “gw malah kasihan sama temen lo yang satu lagi itu.” “Febi?” Genta mengangguk lalu melanjutkan, “Dia ada di tengah-tengah kalian. Pasti dia canggung banget buat deketin salah satu.” Riri perlahan menghentikan gerakan tangannya dan mendengarkan perkataan Genta dengan seksama. “Kalau dia keliatan ngobrol sama lo, pasti dia takut Sania marah sama dia,” lanjut Genta. “Tapi kalau dia deket sama Sania, dia juga takut lo salah paham.” Riri terdiam cukup lama kali ini. Ia tahu perkataan Genta benar. Selama ini Febi selalu ada di tengah mereka berdua. Dan walaupun gadis itu jarang ikut campur, Riri tahu Febi pasti ikut merasa tidak nyaman dengan keadaan sekarang. “Gw juga gak mau nyusahin Febi…” gumamnya pelan. “Nah itu.” Genta menyandarkan tubuhnya santai ke bangku. “Kalau lo emang butuh waktu buat mikir, gw sih setuju aja.” Riri menatap pemuda itu sekilas. “Dan gw rasa itu memang yang paling bener sekarang,” lanjut Genta lagi. “Kalian perlu dinginin kepala masing-masing dulu sebelum semuanya makin besar.” Riri menghembuskan napas panjang. Ia membenci kenyataan kalau perkataan Genta terdengar masuk akal. Karena itu berarti ia memang harus menahan egonya sedikit. “Lo bijak juga ternyata,” gumam Riri pelan. Genta langsung terkekeh. “Baru sadar?” “Biasanya juga ngomong lo gak jelas.” “Heh.” Riri akhirnya tertawa kecil walaupun hanya sebentar. Dan entah kenapa perasaan sesak di dadanya terasa sedikit berkurang. *** Setelah latihan selesai, Riri berjalan pelan menuju rumahnya. Langit sore mulai berubah gelap, sementara pikirannya masih penuh dengan pertengkarannya bersama Sania tadi pagi. Tangannya sejak tadi sibuk memainkan ponselnya. Sesekali mengetik sesuatu. Lalu menghapusnya lagi. Begitu terus berulang. Ia sebenarnya ingin menghubungi Sania. Namun setiap kali mencoba memulai percakapan, rasa kesal itu kembali muncul dan membuatnya mengurungkan niat. Begitu sampai di kamar, Riri langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tasnya ia lempar asal ke kursi belajar. Matanya menatap langit-langit kamar dengan kosong. Namun anehnya yang terus terngiang di kepalanya bukan hanya perkataan Sania. Melainkan juga ucapan Genta. "Kalau lo emang butuh waktu buat mikir, gw sih setuju aja." Riri menghembuskan napas panjang lalu memiringkan tubuhnya. Ia benci mengakui kalau perkataan Genta memang benar. Karena semakin ia marah, semakin semuanya terasa rumit. Ponselnya yang sejak tadi berada di samping bantal tiba-tiba bergetar kecil. Satu pesan masuk, ia melihat layar ponselnya dan pesan itu dari Genta. Seketika Riri langsung membuka room chat itu. Gent_aaa : | “Masih kesel?” Riri menatap pesan itu beberapa detik sebelum akhirnya membalas. | “Masih.” Tidak butuh waktu lama hingga balasan dari Genta kembali masuk. Gent_aaa : | “Wajar sih.” Sudut bibir Riri sedikit terangkat kecil. Entah kenapa cara bicara Genta yang santai selalu membuat suasana terasa lebih ringan. Gent_aaa : | “Tapi jangan dipendem terus.” Riri mengetik cepat. | “Gampang banget ngomongnya.” Gent_aaa : | “Ya maaf gue bijak.” Riri langsung mendengus kecil sambil tertawa tipis. | “Najis.” Beberapa detik kemudian Genta kembali membalas. Gent_aaa : | “Tapi serius, Ri.” Senyum kecil di wajah Riri perlahan memudar. Matanya fokus membaca pesan berikutnya. Gent_aaa : | “Kalau dia emang temen penting buat lo, jangan sampe semuanya rusak cuma karena emosi sesaat.” Riri terdiam. Tangannya menggenggam ponselnya sedikit lebih erat. Ia tahu itu benar. Namun tetap saja rasa sakit hati juga kecewanya dengan perkataan Sania belum benar-benar hilang dari hatinya. | “Gw cuma kecewa aja.” Kali ini balasan Genta sedikit lebih lama. Gent_aaa : | “Yaudah kecewa dulu aja.” Riri mengernyit bingung membaca pesan itu. | “Apaan dah.” Gent_aaa : | “Kan tadi gue bilang, kalian butuh waktu buat dinginin kepala.” Riri kembali terdiam. Entah kenapa, membaca pesan-pesan itu membuat emosinya perlahan jauh lebih stabil dibanding sebelumnya. Ponselnya kembali bergetar. Gent_aaa : | “Lagian muka lo tadi serem banget.” Mata Riri langsung membulat. | “HEH.” Genta_aaa : | “Febi sampe keliatan takut.” | “Lebay.” Genta_aaa : | “Dikit.” Riri akhirnya benar-benar tertawa kecil kali ini. Tidak keras tapi cukup membuat suasana hatinya terasa lebih baik. Ia memutar tubuhnya lalu memeluk bantal di sampingnya. Dan tanpa sadar senyumnya tidak hilang bahkan setelah percakapan itu selesai. Sementara di sisi lain, Genta yang baru selesai mandi juga sedang menatap layar ponselnya sambil tersenyum kecil. “Udah mendingan berarti,” gumamnya pelan sebelum akhirnya mematikan layar ponselnya. Pemuda itu meletakan ponselnya kembali ke nakas meja, dan mengambil gitar kesayangannya yang tersimpan rapi di dekat meja belajarnya. Sedikit demi sedikit melodi indah keluar dari petikan jari-jari tangannya. Tanpa sadar ia menggumamkan lagu sambil tersenyum sambil memikirkan gadis itu. Gadis yang sejak awal sudah berhasil menarik perhatiannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN