Empat Puluh Tujuh

1015 Kata
*Author Pov* Dua hari lagi adalah jadwal latihan tanding Harimau Putih dan Elang. Juna, Radi, Genta juga Rio dan Haqi sangat tidak sabar menanti kan nya. Juna berjalan menuju kantin menyusul Haikal yang sudah lebih dulu pergi dengan Radi. Saat melewati kelas Riri, Juna bertemu dengan Sania yang keluar dari dalam kelas. Saat wanita itu melihat Juna, ia langsung tersenyum sumringah. Berbeda dengan Juna yang tidak suka melihat nya. Bukannya ia benci, hanya saja ia tidak suka dengan sikap Sania yang tidak menyampaikan pesannya. Juna sangat tidak suka dengan sikap seperti itu, walaupun mungkin itu hanya hal kecil tapi tidak untuk Juna. "Hai, Jun!" sapa Sania dengan bersemangat. "Hai." balas Juna seadanya, ia bahkan tidak menghentikan langkah nya dan terus berjalan seakan hanya menyapa secara basa-basi. Sania yang tidak menyadari kekesalan Juna padanya, berjalan dengan cepat menghampiri nya. "Lo mau ke kantin ya? gw juga mau ke sana." ucapnya lagi. Juna hanya mengeluarkan kata 'hmm' tanpa membalas bertanya atau apapun. "Oh iya, kapan latihan tanding lo? sekali-kali gw mau liat lo main sepak takraw." Lagi, Juna sama sekali tidak menanggapi ucapan Sania. Wanita itu pun mengerutkan keningnya, ia merasa heran kenapa Juna mendiamkan nya seperti ini. "Lo kenapa sih, Jun? lo lagi ada masalah?" tanya Sania yang tidak mengerti. "Lo kok bisa sih ngerasa gak bersalah gitu?" "Maksud lo apa?" Juna menghentikan langkah nya lalu menghadap Sania yang ikut berhenti. "Coba lo inget-inget lagi salah lo apa. Kalau udah inget baru lo ngomong lagi sama gw." ucap Juna sambil berlalu meninggalkan Sania sendiri. *** Juna duduk di kursi panjang bersama teman-temannya, "Asli gue masih kesel banget sama si Sania." misuh Juna sambil meminum es teh manisnya. "Masih perkara pesan itu?" tanya Radi yang sudah menyuap sepotong siomay dengan lahap. "Gue gak suka banget kalau ada orang yang menyepelekan sesuatu. Apalagi misal itu juga menyangkut banyak orang." ucap Juna yang masih merasa kesal dengan wanita itu. "Yaudah lah, mungkin dia lupa. Gak usah terlalu di pikirin banget. Udah berlalu juga kan." jawab Genta. Juna mendengus lalu melahap soto di depannya. *** Tidak hanya saat istirahat tadi saja, bahkan Sania masih berusaha mendekati Juna ketika pemuda itu sudah kembali ke kelas. "Jun, serius deh. Lo kenapa sih? gue ada salah sama lo? kenapa seakan-akan lo sangat amat menghindari gue?" tanya Sania di sela jam kosong. Haikal bisa melihat raut wajah Juna yang sudah mulai kesal dan merasa jengah dengan sikap Sania. Ia melihat kanan dan kiri berharap menemukan teman-teman Sania dan meminta mereka untuk membawa Sania jauh dari Juna sebelum pemuda itu semakin marah. Namun ia tidak melihat satupun teman-teman yang biasa bersama Sania. Haikal menghembuskan napasnya pelang, haruskah ia yang menanganinya? kalau ia diamkan bisa-bisa Juna akan kelepasan untuk membentak gadis itu. Sedangkan Haikal sangat amat tidak ingin membuat drama apapun hadir. "Udah San, biarin aja si Juna. Lagi bad mood kali." ucapnya berharap gadis itu mau paham dan berhenti mengusik teman baiknya itu. "Ya gak bisa gitu dong, Kal. Kalau gue salah kan gue mau minta maaf. Ini tiba-tiba gue di cuekin dan bahkan gak menggubris obrolan gue." jawab Sania yang kini menghadap Juna kembali dengan sedikit lebih kesal dari sebelumnya. "Juna! bisa jawab gue dulu? lu kenapa sih? kenapa tiba-tiba lu begini ke gue? gue ada salah? ngomong dong!" Braak! Sania dan beberapa orang di sekeliling mereka, dan bahkan Haikal terperanjat dengan gebrakan meja yang di lakukan Juna. "Lo bisa diem gak sih?! kalau gue gak gubris omongan lo, ya lo mikir pake otak lo lah kalau gue lagi gak mau di ganggu sama lo!" jawab Juna dengan suara tinggi. "Haikal sudah ngasih tahu lo untuk gak usah ganggu gue dulu tapi kenapa lo ngeyel?! segitu nya kah lo mau perhatian dari gue?! Tolong jangan ganggu gue dulu, Sania! Paham!" ucap Juna marah dan meninggalkan kelas dengan cepat. Haikal bahkan belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi di depannya. Ini pertama kalinya dia melihat Juna marah sampai meninggikan suaranya. Terutama dengan wanita. Pemuda itu melihat Sania yang masih mematung di tempat nya. Wajahnya memerah menahan malu dan bingun, sedangkan matanya sudah berlinangan air mata yang siap meluncur kapan saja. Ia sendiri bingung mana yang harus ia tenangkan lebih dulu, teman baiknya Juna yang kini entah kemana atau gadis yang masih membeku di tempat nya itu. Lagi dan lagi Haikal hanya menarik napas pelan dan berjalan menghampiri Sania. Bagaimanapun ia tidak tega melihat wanita itu. "Nih pake sapu tangan gue. Kan gue udah bilang, jangan di ganggu dulu itu singa satu. Lo sih gue bilangin gak percaya." ucapannya berusaha mencairkan ketegangan gadis di depannya. Haikal bisa melihat bulir-bulir air mata jatuh di pipi Sania. "Sudah audah gak usah nangis, nih cepet lap air mata lo." Dengan pelan Sania mengambil sapu tangan Haikal dan mengelap air matanya. "Gue cuma mau tau kenapa gue di cuekin, Kal." ucapnya lirih. "Iya iya gue paham. Udah ah, ini kenapa jadi kaya gue yang buat lo nangis sih. Udah ya gue tinggal dulu." Haikal bergegas untuk keluar kelas mencari Juna sambil berharap jika teman-teman di kelas nya tidak ada yang berinisiatif memanggil wali kelas mereka. Pemuda itu melangkahkan kaki nya mencari Juna di setiap sudut sekolah. Karena sudah jam pelajaran dan hanya kelas mereka yang sedang jam kosong, seharusnya mudah menemukan Juna berada. Namun sampai kaki nya menginjakan kantin lagi, ia tidak menemukan barang hidung Juna. Haikal merogoh saku celananya mengambil ponsel miliknya dan menekan nomor Juna. Mata dan juga telinganya awas mencari dan mendengar kalau-kalau ada Juna di sekita kantin. Namun dari dering pertama hingga dering terakhir, ia tidak mendengar suara ponsel apapun. Bahkan Juna tidak mengangkat panggilannya. "Yaelah, ini anak kemana sih? pake acara ngilang lagi." Sebelum kembali ke kelas, Haikal mencoba mencari Juna di gedung olahraga yang biasa mereka gunakan untuk latihan. Dan benar saja, Juna sedang duduk di salah satu bangku penonton sambil memainkan bola rotan di tangannya. Ternyata temannya itu tidak sendirian, ada Rio yang tengah duduk di depan Juna dengan santai. Haikal bisa melihat jika mereka sedang berbincang serius. Tanpa pikir panjang, Haikal berjalan mendekatkan kedua orang itu. "Gue cariin kemana-mana, tau nya lo lari kesini." ucap Haikal sambil duduk di samping Juna. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN