Tujuh Puluh

206 Kata
*Author Pov* Genta melirik ke arah Riri yang sedang menulis sesuatu di bukunya masih dengan wajah sedihnya. Sekembalinya mereka dari kantin dan melihat Juna bersama Sania, wajah semangat Riri yang tidak sabar untuk jajan di kantin sirna bergitu saja. Kadang Genta merasa kesal dengan Juna, bagaimana bisa ia membuat wanita bisa berubah mood mereka hanya dalam sekejap. Di lain waktu Juna selalu bisa membuat Riri tertawa lepas atau mengobrol dengan akrab tapi di lain waktu Juna bisa membuat Riri berubah seperti ini. Jika Genta bertanya pada wanita itu apakah ia menyukai Juna, Riri pasti akan mengelak dan berdalih kalau ia hanya menganggap Juna hanya teman. Namun perkataannya terkadang berbanding terbalik dengan ekpresi wajahnya yang mudah terbaca. Genta menghembuskan napasnya, ia benar-benar tidak tahu apakah ia harus menghentikan pdkt nya atau menghentikannya sekarang juga. Ia tidak mau merasakan sakit hati saat sudah terlihat hilal nya saat ini. Tetapi ia juga tidak ingin menyerah begitu saja, bukankah siapa tahu Riri akan melihat kesungguhan nya dan balik menyukainya? "Lo ngapa sih? udah kayak orang tua aja hela napas mulu." protes teman sebangku nya yang melihat Genta terus-terusan menghela kan napasnya. "Galau gw bro." "Galau napa lo? masalah cewek?" Genta mengangguk pelan. "Ya elah, lo ganteng, apa yang lo galauin?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN