Tujuh Puluh Satu

223 Kata
*Author Pov* Babak penyisihan pertama yang berlangsung selama satu minggu, akhirnya selesai. Pak Ridwan mengumpulkan kami hari ini sebelum latihan, "Seperti yang sudah kita tahu jika babak penyisihan pertama sudah selesai dan tim kita adalah salah satu yang maju ke babak selanjutnya. Walaupun demikian, jangan dulu merasa berpuas hati, kita masih harus tetap latihan hingga babak final nanti. Saya percaya dengan kemampuan kalian." ucapnya sambil memberikan tepuk tangan yang di ikuti oleh kami semua. "Lalu berkat kemenangan kita di babak penyisihan pertama kemarin, sekolah memutuskan untuk memberikan sedikit tambahan anggaran untuk klub sepak takraw. Mereka juga mengharapkan yang terbaik dari kalian." sambungnya yang di soraki senang dari mereka. "Satu lagi, karena kita sebentar lagi akan ada ulangan tengah semester, untuk latihan tidak akan seintens sebelumnya hingga waktu ulangan nanti selesai. Jadi gunakan waktu kalian untuk latihan saat ini dengan lebih baik lagi." sambung Alvan yang menatap bangga pada anak-anak didiknya. "Siap, couch!" Setelah rapat kecil, mereka semua mulai melakukan pemanasan sebelum memulai latihan hari ini. "Ri, nanti hati-hati kalau mau ambil keranjang berisi bola dari gudang. Kemarin si Genta bikin rusak bawah keranjang nya. Kalau gak hati-hati nanti lo bisa kena bolanya karena menggelinding pas di bawa." ucap Juna. "Oke." Juna menaikkan alisnya mendengar jawaban dingin dari Riri. "Kenapa lo?" "Gak apa." Juna menatap Riri lebih lama sampai akhirnya Juna hanya mengangkat bahunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN