“Tuan Ryu Kaida, kami bukan bermaksud lancang! Tapi apa yang anda lakukan sudah menimbulkan kegaduhan di alam manusia. Ketua Penyihir Cahaya mengirimkan Bella Felysia Siliu sebagai pengawas anda, dan kami akan menjamin pada manusia bahwa anak-anak berada di tangan yang tepat saat ini.”
Ryu Kaida, Naga yang sudah tertidur ribuan tahun. Dia terbangun karena ulah Dewa Petir yang sibuk bertengkar dengan Dewi Hutan dan mengakibatkan petir tersebut menyambar dirinya. Padahal Naga Emas itu seharusnya bangun sekitar 300 tahun lagi, sungguh menyebalkan.
Berawal dari rasa sepi karena kesendirian Ryu mengajak semua anak terlantar dan tidak di pedulikan ikut dengannya ke Istana Naga. Tapi bukan manusia namanya kalau tidak menyebarkan rumor yang luar biasa. Mereka menuduh Naga emas menculik anak-anak dan memakannya hingga penyihir cahaya datang menemui sang Raja Naga dan meminta penjelasan.
Naga Emas adalah Raja para Naga. Mereka tidak memiliki keinginan menyakiti manusia karena memiliki jiwa setengah dewa. Naga emas biasa hidup sendiri di Istananya yang berada di langit kedua. Naga Emas sendiri mengatur 4 Naga yang ada di semua alam, mulai yang ada di laut hingga di gunung.
Ryu menatap Bella Felysia Siliu, “apa tidak masalah dia di sini?!”
“Tentu Tidak, Tuan! Kami permisi…”
Mereka pun menghilang dari hadapan Ryu, dan kini dia dan Bella Felysia tinggal berdua saja. Gadis itu terlihat sangat gugup, dan Ryu pun bertanya. “Apa kau setengah manusia?!” dia mengangguk, “Mereka penyihir cahaya memperkuat kebajikan malah mengucilkan dirimu!” Bella Felysia menunduk, “Kalau begitu kau akan di sini untuk waktu yang lama, setidaknya kita akan mengelilingi Alam manusia dan ke 4 Klan Naga. Sudah lama sekali mereka tidak mengirimkan laporan padaku.”
“Bukankah karena mereka tak mau mengganggu tidur anda?!”
“Kau pintar, tapi di kucilkan! Lucu sekali.” Ryu duduk di singgasana Naga emas. “Aku beritahu padamu, di sini makan tinggal menggunakan sihir dan apa-apa pakai sihir, jadi aku tidak butuh pelayan. Kalau masalah anak-anak kau bisa lihat sendiri, di sini aku mengajari mereka ilmu sihir dan cara bertahan hidup. Mereka penuh dengan makanan dan hidup sangat layak. Tidak ada dari mereka yang ingin kembali ke alam manusia. Hanya aku memaksa mereka, karena jika sudah cukup mendalami sihir dan mampu bertahan hidup untuk apa di sini!”
Bella Felysia tersentak, “anda sangat bijaksana Wahai Raja!”
Ryu mengibaskan tangannya, “santai saja! Aku tidak memiliki hasrat untuk bertengkar dengan siapapun. Kalau tidurku lancar, seharusnya seribu tahun lagi aku sudah menjadi Dewa. Sayang sekali, aku harus berakhir seperti ini! Bahkan kolam Lin saja memerah karena rasa kecewa di hatiku begitu dalam.”
Bella Felysia tersenyum, dia baru hari ini bertemu Raja Naga. Tapi sudah merasa sangat nyaman! Bella Felysia yakin Raja Naga adalah calon Dewa yang sangat baik.
“Raja Naga!” panggil Bella Felysia. “Apa anda selalu berwujud Naga saat di hadapan makhluk lain?!” Ryu tersenyum, “Anda terlihat sangat hebat dan luar biasa!” pujinya lagi, dan membuat Ryu menahan diri untuk tak tersipu.
Ryu mengangkat tangan, dia masih dalam bentuk Naga Ema. “Panggil saja aku Ryu! Hanya kita berdua yang dewasa di sini,” dia berjalan ke arah Bella Felysia dan berubah menjadi pria tampan dengan rambut emas, kulit putih s**u dan bibir tipis yang merah. Tubuh yang perfeksionis mengalahkan ketua Penyihir Cahaya, Raiden Vel. Dia terlihat sangat luar biasa sampai hati Bella Felysia berdebar hebat. “Kenapa?!” Ryu menatap Bella Felysia yang memegang jantungnya.
Bella Felysia menggeleng, “tidak ada apa-apa Tuan, jangan khawatir! Saya tidak apa-apa hanya terlalu silau dengan ketampanan anda.”
Ryu mengangkat alis, “bisa saja kau menggodaku!” dia menggelengkan kepalanya karena heran dengan sikap Bella Felysia yang tidak berhenti menatap wajahnya. “Anak-anak di sini tidak perlu di awasi, jadi lusa kita akan turun ke Istana Naga bagian selatan.” Ryu tersenyum menatap ke arah taman bermain anak-anak yang dia ciptakan. “Tawa mereka membuat aku tak kesepian!” ucapnya pelan.
Bella Felysia merasa dirinya semakin kesal dengan sikap manusia. Walaupun dia penyihir setengah manusia, hidupnya pun terasa buruk karena selalu di buat berbeda oleh keluarganya sendiri. Apalagi saat ibunya sudah tiada, semua terasa kian buruk saja.
“Ryu!” Naga itu tersentak saat mendengar namanya di panggil dengan sangat jelas, Ryu Kaida! Apa kita bisa berteman?!”
Dia mengulurkan tangan, Bella Felysia tersenyum menatap wajah Ryu yang tambah mempesona saat dia tersenyum. Entah kenapa jantung Bella Felysia berdebar sangat kencang. Dia bahkan tak bisa menahan deguban itu hingga terasa sangat menyakitkan.
“Hey, kau kenapa?!” Ryu mendekat karena bingung melihat Bella Felysia yang kesakitan. “Apa ini sering terjadi?! sepertinya kau tidak baik-baik saja! Aku akan memeriksa.”
Bella Felysia menggeleng, “tidak apa-apa Ryu! Bagaimana kalau aku beristirahat lebih dulu. Hari ini sedikit melelahkan karena mereka membawaku dengan tiba-tiba. Jangan mengeluarkan tenagamu untukku! Maaf Ryu, mungkin aku menyebalkan bagimu.”
Ryu sejak tadi memperhatikan tingkah Bella Felysia pun berkata. “Kau terpaksa di sini?! kenapa tidak menolak jika memiliki keinginan yang lain?! kau sendiri yang memiliki hak membela dirimu!”
“Tidak, aku malah sangat senang berada di sini, Ryu!” Bella Felysia menghela napasnya, “Bagaimana kalau Ryu juga beristirahat?! karena lusa kita harus memiliki banyak tenaga untuk pergi ke Selatan.”
Ryu tersenyum, “Bella Felysia, aku sudah tidur ratusan tahun! Jadi kau tidak perlu khawatir! Pikirkan saja dirimu sendiri, karena aku sangat menikmati momen bersama mereka semua.”
Bella Felysia tersenyum, dia pun undur diri dari hadapan Ryu menuju kamarnya yang sudah di siapkan oleh Ryu. “Wah, Istana ini sangat mewah, padahal tak ada pelayan di sini tapi semuanya sangat bersih. Ryu sangat pintar merawat Istananya, tempat ini menjadi lebih baik bagiku di bandingkan Menara Sihir. Apa setelah Raiden pulang dia akan mencariku?!” gadis itu bergumam. “Semenjak dia menjadi ketua Klan, tak ada lagi hari menyenangkan bagi kami berdua!” tambahnya. “Mereka menindas dengan alasan aku setengah manusia, padahal bukan karena itu! Mereka hanya cemburu karena Raiden begitu dengan dengan gadis usang ini!” Bella Felysia tersenyum, perlahan dia memejamkan matanya. “Aku akan istirahat lebih lama.” sambungnya.
Mata Bella Felysia pun perlahan terpejam, dia jatuh dalam tidurnya yang paling lelap.
Mata Bella terbuka perlahan ketika matahari sudah mulai naik tinggi. Dia melihat ke sekeliling tapi tak ada Tuan Ryu Kaida, Bella yang masih penasaran akan Raiden Vel, hatinya masih bertanya-tanya apa benar pria itu tak suka dirinya sama sekali. Karena Tuan Ryu tidak ada, sebaiknya aku pergi dari sini dan mencari Tuan Raiden.