Bella pun turun kembali ke Istana cahaya, dia mencari Raiden ke sana kemari, tak lama kemudian dia melihat pria itu sedang menunggang kuda miliknya. Dengan rasa penasaran dan penuh rasa cinta Bella yang selama ini mengira Raiden memiliki rasa padanya pun mengikuti pria tersebut.
Raiden Vel keluar dari rumah Zhong Limen, Dia sudah membicarakan semua yang perlu di katakan! Raiden Vel tidak meminta Zhong Limen untuk mencintai Claudine Zura! Dia datang kemari meminta balasan karena sudah menyelamatkan hidup Zhong Limen.
Beberapa tahun yang lalu, Saat mereka duduk di bangku akademi. Saat itu Zhong Limen yang merupakan salah satu anak orang terkaya di Istana Cahaya diculik oleh beberapa orang. Kebetulan saat penculikan Raiden Vel melihat semuanya. Diam-diam Raiden Vel pun masuk ke dalam Peti Kereta kuda tersebut dan mengikuti mereka.
Orang tua Zhong Limen yang sudah dihubungi! Sudah menyiapkan uang yang mereka inginkan, tapi sayang dibalik itu ternyata mereka ingin membunuh Zhong Limen dan kedua orang tuanya! Dalang semua peristiwa tersebut adalah paman Zhong Limen sendiri! Dia merasa iri hati karena orang tua Zhong Limen mendapatkan warisan Usaha pertanian milik keluarga mereka.
"Tuan, Apa anda ingin saya buatkan teh hangat?"
"Bi, Bagaimana menurutmu dengan apa yang Raiden Vel katakan tadi, Aku belum siap, Bi! Libay Gein akan sedih kalau aku menikah lagi,"
"Tuan, Maaf kalau bibi menyala! Tapi menurut bibi alangkah baiknya jika Tuan muda melanjutkan hidup! Non Libay Gein meninggal dunia hampir 4 tahun. Jadi saya rasa yang terjadi akan sebaliknya! Non Libay Gein pasti bahagia ketika Tuan muda menikah lagi,! Den, bibi di sini sejak Tuan muda bayi, Non Claudine Zura juga cinta pertama Tuan muda. Bibi masih mengingat semua yang terjadi ketika Tuan muda dan Non Claudine Zura putus."
"Tapi Bi, Sekarang di hati ini hanya ada Libay Gein,"
"Tuan muda harus meneruskan hidup,"
Bibi tersenyum lalu pergi dari tempat tersebut! Dia ingin Zhong Limen merenungkan semua yang sudah dikatakan. Sudah hampir jam 8 malam akhirnya Zhong Limen memutuskan untuk pergi ke Pendopo Tabib menjenguk Claudine Zura. "Bi, Aku tidak akan kembali malam ini,"
Dengan senyum bahagia bibi mengangguk! "Semoga pilihan Tuan muda adalah hal yang baik,"
"Terimakasih Bi," Jawabnya.
Zhong Limen menganggap bibi sudah sebagai keluarganya sendiri. karena dia sudah tak berinteraksi lagi dengan keluarga inti sejak kejadian orang tuanya meninggal dunia. Hampir satu jam lebih akhirnya Zhong Limen sampai di Pendopo Tabib yang merawat Claudine Zura. Pria itu memejamkan mata ragu! Dia teringat mimpinya saat tertidur sekejap tadi.
"Kenapa bingung, Pergi saja temui dia, Bukankah kau tak pernah melupakan Claudine Zura, Dia yang merupakan cinta sejatimu, Bukan Aku, Zhong Limen! Tenanglah, Aku tidak pernah marah! Jangan terus merasa bersalah, Aku yang selalu memaksakan pernikahan kita. Padahal aku tahu bahwa kau sangat mencintai dia,!"
"Libay Gein,"
Wanita itu mengangkat wajah Zhong Limen. "Kenapa masih bingung,? Aku sangat mencintaimu, Aku ingin kau bahagia, Dia sudah datang Zhong Limen, Dia ditakdirkan untukmu,"
Zhong Limen kembali menelan saliva. Sudah lebih dari 10 tahun dia tak bertemu dengan Claudine Zura. Sekarang pria itu sudah berhadapan dengan pintu kamar wanita yang tak pernah dilupakan. Saat pintu tersebut terbuka! Zhong Limen dan Raiden Vel saling bertatapan! "Aku-"
Raiden Vel mengehela napas! "Masuklah," Ajaknya, "Claudine Zura aku membawa seseorang yang sangat kau kenal,"
Wanita itu berbalik, Matanya dan mata Zhong Limen bertemu! "Hay Claudine Zura," Dia berusaha senatural mungkin.
Claudine Zura tak menjawab bukan karena tidak suka! Hal ini terlebih karena dia sangat gugup melihat siapa yang berada di hadapannya. Pria yang tidak pernah dilupakan sama sekali, Cinta pertamanya, Zhong Limen,
Raiden Vel memberi kode pada Analika Pirlien agar menjauh dari tempat tersebut. Gadis yang merupakan kekasih Raiden Vel itu sama sekali tak pernah bertemu dengan Bella. Dia menjauh, Lalu pintu tertutup dan Zhong Limen duduk di kursi yang berada tepat di sebelah Claudine Zura. "Hey, Bagaimana kabarmu,"
Claudine Zura sangat gugup hingga dia sendiri bingung apa yang ingin dikatakan. "Mana istrimu," Deg, Claudine Zura ingin memukul kepalanya karena berbicara hal yang tak jelas. Kenapa dia malah menanyakan istri Zhong Limen saat pria itu datang sendirian.
Ya semua itu karena Claudine Zura tidak tahu bahwa Zhong Limen dan istrinya telah dipisahkan oleh maut.
Zhong Limen tersenyum, "Libay Gein baik-baik saja, Dia berada di tempat terindah sekarang,"
"Oh," Jawabnya yang berpikir mungkin saja Libay Gein berada Di Negeri para Dewa
"Bagaimana keadaanmu sekarang? apa sudah lebih baik? Aku sangat khawatir saat mendengar kabar ini," Ucap Zhong Limen sambil menyentuh kepala Claudine Zura.
Claudine Zura tak suka saat Zhong Limen memberikannya perhatian seperti ini. Dia kesal karena pria ini bukanlah miliknya, Claudine Zura tahu semua kesalahan yang dibuat setelah Zhong Limen menghilang bak di telan bumi. Claudine Zura menyesal sejadi-jadinya, Di tak bisa berpikir jernih kala itu.
"Lebih baik kau pulang saja, Aku tak bisa menerimamu disini, Aku tidak ingin kedapatan orang lain dan menjadi bulan-bulanan masyarakat. Kau tahu sendiri bagaimana pikiran manusia sekarang,"
"Kau begitu membenciku,?"
Pertanyaan Zhong Limen sukses membuat Claudine Zura ingin menangis. Karena seharusnya pertanyaan itu dialah yang mengatakannya, "Apa kabarmu,?"
Zhong Limen menegakkan tubuhnya saat Claudine Zura bertanya dengan acak seperti ini. "Aku baik, Kau lihat Aku makin tampan dan sehat, bukan,!"
Cih, Dalam hati Claudine Zura mengumpat, dia berpikir mungkin Zhong Limen sedang menyombongkan diri, karena sudah menikah dan dirawat oleh seorang wanita. Apalagi wanita tersebut sekelas Libay Gein. "Ya, Sekarang kau sudah melihat aku dalam keadaan baik, Aku harap kau pulanglah, Karena Aku sungguh tak bisa lagi bicara denganmu,"
"Aku jauh datang kemari untuk bertemu denganmu! aku sangat sedih karena kau bersikap seperti ini, Tapi jika kau tak ingin melihat wajahku, Aku bisa apa?"
Zhong Limen berkata dengan sangat sendu! Dia pun berdiri dari tempat duduknya, bersiap untuk pergi dari hadapan Claudine Zura. Zhong Limen sadar mungkin mereka tidak akan pernah bersatu kembali! Claudine Zura terlihat sangat membencinya, "Kau ingin pulang,?!" Tanya Raiden Vel yang menunggu di luar sejak tadi.
"Tidak, Aku akan menginap di penginapan yang berada di depan Pendopo Tabib ini, Kebetulan besok aku harus pergi ke Singapura untuk perjalanan bisnis."
"Lalu, Apa yang dikatakan Claudine Zura,?"
Zhong Limen menggeleng, "dia masih sama, Tidak pernah memberikan aku kesempatan untuk bicara," Jawab Zhong Limen yang menunduk. "Raiden Vel, Aku harap kau tak menceritakan apapun pada Claudine Zura! Termasuk tentang Libay Gein, Aku ingin dia menyadari kesalahannya dan memberikan aku kesempatan untuk bicara! Ini adalah progres agar dia lebih dewasa,!" Zhong Limen pergi dari hadapan Raiden Vel.