Pria itu tak puas, Dia menyusul Zhong Limen dengan sedikit berlari dan memegang pundak pria tersebut, "Zhong Limen aku-"
Zhong Limen berbalik, "Raiden Vel, Aku akan berusaha tetap dekat dengannya, Melindungi Claudine Zura dari jarak dekat, Kebetulan aku sudah membeli 25% Usaha pertanian Zura." Pria itu tersenyum manis.
"Apa?"
"Tanyakan pada orangtuamu,"
Analika Pirlien memegang pundak suaminya. Raiden Vel sudah menceritakan segalanya pada Analika Pirlien saat mereka ada di luar tadi. "Mungkin ada hal yang tak ingin beliau katakan padamu," Ucapnya pada Raiden Vel.
"Jangan bersikap terburu-buru seperti Claudine Zura, Kau harus bertanya dengan benar pada Tuan Eluis Zura, Terkadang orang tua kita menutupi hal-hal tertentu agar kita tak banyak berpikir, Aku hanya mengambil kesimpulan saja," Zhong Limen mengangkat satu tangannya. "Aku pergi,"
Raiden Vel bingung menghadapi situasi ini. Dia hanya ingin Claudine Vel terjaga! Kenapa orang lain tak bisa jujur saja dengan perasaan sendiri! Raiden Vel tahu Claudine Vel masih menangis, Tapi sungguh dia tak ingin mendamaikan hati saudarinya itu! Biarlah dia menyadari diri sendiri, Setidaknya Zhong Limen yang sudah mengakusisi Usaha pertanian yang saat ini Claudine Vel pegang.
Pria yang sedang tidak bisa tidur ini mengingat kembali pembicaraannya bersama sang Ayah, Eluis Vel berkata keadaan saat ini sejujurnya tidaklah baik! Di zaman seperti sekarang ini, masyarakat berbondong-bondong menikmati penginapan dengan tarif yang murah dengan fasilitas yang standar. Selain itu Usaha yang berada di naungan Velkacau balau saat terjadinya tragedi ini,
Usaha pertanian goyah, Usaha mangkrak! Beliau terpaksa menjual sebagian saham agar Velyang berada di bawah perserikatan Vel bisa tetap eksis di dunia bisnis!Eluis Vel pun sejujurnya tak menyangka akan bertemu dengan Zhong Limen kala itu! Putra tunggal Gaom Lien itu sekarang berada dalam posisi ketua.
"Claudine Vel, Sudahlah jangan seperti itu, Kalau kau masih menyukainya kenapa tak mengatakan?!" Raiden Vel mendekati saudara kembarnya.
"Jangan ganggu aku," Jawabnya seraya menutup wajah dengan bantal. "Aku tidak ingin kau membicarakannya, Raiden Vel,"
Pria itu menghela nafas berat! Dia tahu batasan yang bisa ia lewati, Zhong Limen sudah mengingatkan Raiden Vel agar tak terlalu ikut campur urusan mereka.
"Aku hanya ingin engkau bersikap lebih dewasa, Jangan memvonis ataupun menilai orang lain dengan sekejap mata!"
Raiden Vel kembali ke arah sofa! Sulit sekali baginya bicara dengan wanita, Pria itu memikirkan kembali hal lain. Xion Nian sekarang sudah berangkat ke Negeri lain! Tampaknya luka di perut pria itu sangat parah hingga menembus alat vital. Dia mengambil Quin, alat sihir yang berfungi seperti ponsel di dunia manusia. Setidaknya dia harus tahu bagaimana kabar pria tersebut, Karena dia masih berstatus suami Lia Vel.
"Hah," Helaan napas Raiden Vel terdengar dengan jelas. Baru saja hendak menekan nomor Xion Nian, Tiba-tiba Quin itu berdering! Raiden Vel pun dengan cepat mengangkat panggilan tersebut karena berasal dari Distrik keamanan penyihir.
"Malam Tuan Raiden Vel!"
"Maaf Tuan, anda sebaiknya ke Pendopo Tabib cinta kasih karena saudari anda Kami larikan ke Pendopo Tabib. Semua ini karena dia mencoba menggugurkan bayi dalam kandungannya."
"Apa?" Raiden Vel langsung berdiri, "Saya akan menuju ke Pendopo Tabib sekarang,"
Suara Raiden Vel yang terkejut cukup besar hingga membuat Claudine Vel dan Analika Pirlien terbangun! "Ada apa,?" Tanya Analika Pirlien pada Raiden Vel yang tengah bersiap-siap.
"Lia Vel, Dia berusaha menggugurkan kandungannya dan sekarang berada di Pendopo Tabib!"
Wajah Analika Pirlien mengkerut! Begitu juga Claudine Vel, Wanita itu saling tatap lalu menahan Raiden Vel. "Apa mungkin dia sengaja melakukannya agar bisa melarikan diri? Adikmu cukup licik untuk melakukan itu,"
Raiden Vel merasa hal itu ada benarnya, dia pun mengambil Quin kembali lalu menghubungi pihak Distrik keamanan penyihir. "Pak, saya berpikir bisa saja Lia Vel menjadikan ini sebagai cara untuk melarikan diri, Saya mohon Anda lebih memperketat penjagaan,"
"Baik pak, Terima kasih atas prediksi anda, Sejujurnya kami juga berpikir hal yang sama,"
"Baiklah saja akan segera menuju ke sana,"
Raiden Vel pun akhirnya mengendarai Kereta kuda dengan kecepatan tinggi menuju Pendopo Tabib. Sesampainya di sana pria itu sangat terkejut dengan Tabib yang baru saja keluar dari ruang operasi, beliau berkata bahwa kandungan Lia tidak lagi bisa diselamatkan. Raiden Vel tidak tahu harus bersikap seperti apa! Dia merasa sedih tapi sedikit merasa lega, "Lalu bagaimana keadaan Lia,?"
"Ibunya sangat sehat dan baik-baik saja! Setelah ini beliau bisa dipindahkan ke ruang rawat inap."
"Baiklah," Jawab Raiden Vel yang kemudian langsung mengubungi Ayahnya dan menceritakan segalanya.
"Hah, Ayah serahkan semuanya padamu Raiden Vel. Kau adalah anak laki-laki pertama di keluarga kita, Ayah akan setuju atas semua keputusanmu."
Raiden Vel menghela napasnya lagi karena dia berusaha untuk berpikir jernih. Sesaat pikiran itu belum sampai, Suara kaki berlari dengan cepat membuat Raiden Vel bingung. "Ada apa?"
"Adik anda kabur dengan menganiaya Tabib! Padahal keadaannya sangat tak baik," Ucap Keamanan Penyihir yang berjaga.
"Apa?!" Rasanya Raiden Vel sangat tak bisa percaya dengan keadaan ini.
Ternyata Lia benar-benar melakukan semuanya! Dia kabur, Bisakah Keamanan Penyihir menangkapnya?! Raiden Vel berjalan menuju kursi. Pria itu terduduk lemas. Hampir siang, Raiden Vel masih berada di Distrik keamanan penyihir, Pria itu tidak tahu harus berada di mana saat ini. Dia sudah menghubungi orang tuanya, Mereka meminta Raiden Vel dan Claudine Vel untuk pindah ke Negeri lain!
Tapi semua itu jelas tak mudah, Bagaimana dengan Usaha pertanian yang ada di sini, Lalu sampai kapan mereka harus lari dan bersembunyi. "Saya pikir sebaiknya anda pulang terlebih dahulu. Kami selalu berupaya bekerja secepat dan setepat mungkin,"
Raiden Vel hanya mengangguk! Pria itu pun berjalan menjauh, Semakin jauh, Dia mengendarai Kereta kudanya dengan pikiran kosong.
"Haruskah aku katakan semua ini pada Claudine Vel dan Analika Pirlien,?! Mereka pasti sangat tidak tenang jika mengetahui semua ini."
Kereta kuda Raiden Vel sampai di Pendopo Tabib! Tapi pria itu membalikkan kembali Kereta kudanya, Dia ingat saat ini Zhong Limen sedang berada di penginapan tepat berada dihadapan Pendopo Tabib tersebut!
"Zhong Limen,"
Kebetulan sekali tampaknya pria tersebut sedang hendak pergi keluar. "Ayo kita duduk di restorannya saja," Raiden Vel mengikut langkahnya!
"Ada apa, Aku merasa kau tak cukup baik dalam waktu beberapa hari ini,"
"Aku kurang tidur karena memikirkan semuanya,! Sekarang pikiranku bertambah berat karena Lia Vel kabur dari Pendopo Tabib setelah mengalami keguguran."
"Yang benar saja! Aku tidak menyangka Lia Vel menjadi seperti ini, Padahal Waktu kecil dia terlihat baik-baik saja."
"Entahlah," Jawab Raiden Vel yang meneguk air mineral yang berada di hadapannya dengan kasar. "Parahnya dia mengincar Claudine Vel, Dan istriku,"
"Istri? Hey b******n, Kau sudah menikah,? Coba katakan yang benar aku muak jika kau terus menyembunyikan sesuatu dariku,"
Raiden Vel bersandar di sofa, "Iya aku sudah menikah dengan seorang wanita yang aku jebak dalam pernikahan kontrak," Di sedikit menarik ujung bibirnya.
"Apa? Aku ingin tertawa tapi merasa ini sedikit gila, Sahabatku tak akan begitu,!"