[SHEILA] Gagal Kencan dengan Nando

1086 Kata
"Terus berisiko cerita serem itu kejadian betulan di ruangan ini? Kayak bukunya Lexie Xu, gitu?" tanya Trisy yang sepertinya enggan menyetujui usul gila Theo. Mikel tertawa keras. "Eh, kunyuk! Lo ngaca sekarang. Sama gelap aja takut udah sok-sokan ngasih cerita-cerita serem gitu. Yang ada lo ngacir duluan." Wajah Theo memerah. "Gue nggak takut! Nggak usah berlagak lo yang paling hebat, dong. Diputusin cewek aja lo ngunci diri di kamar, terus nangis sepanjang hari." "Serius?!" Kini Rita yang melongo sambil menatap David. "Wah, parah! Parah!" Aku masih menyimak mereka satu per satu. Menikmati semua lelucon yang ada. "Lo percaya omongan Theo? Bukannya kita-kita udah tau ya kalo omongan Theo itu sama sekali nggak bisa dipercaya?" sindir Mikel. "Nggak juga," sahutku. "Buktinya, tadi gue percayain ke dia buat dapetin tiga puluh anggota baru hari ini, dan dia bisa tuh." Theo langsung berdiri dan mengacungkan kedua jempolnya padaku. "Siap! Itu baru namanya kapten gue!" "Nah, sekarang lanjutin ide lo," kataku. Theo kembali duduk dan memasang tampang serius. "Seperti apa kata gue tadi. Kita ceritain kisah serem ruangan ini yang sama persis seperti apa kata senior tanpa ada tambahan atau karangan lainnya. Diklat kita kali ini barengan sama diklat taekwondo, PMR, dan drama. Kebetulan pihak sekolah nggak ngasih kita buat nginep di sini kayak tahun lalu, tapi kita masih bisa di sekolah sampai jam sembilan malam. Jadi—" "Kenapa?" potong Audy. Theo mengendikkan bahu. "Peraturan baru. Jadi, waktu semua udah kumpul, kita adain sesi perkenalan anggota, terus pengenalan semua peraturan dan tradisi ekskul padus, terus adain sesi pemanasan suara, dan yang terakhir baru cerita serem itu sebagai penutup. Gimana, gimana?" Ruangan hening untuk sesaat. Semua masih sibuk tenggelam dalam usulan gila Theo, yang aku sendiri bingung harus menyetujuinya atau tidak. Detik kesepuluh, Audy baru menyahut, "Tujuannya dan hikmahnya apa?" Dari Audy, kami kembali menatap wajah Theo yang tenang. "Tujuan dan hikmahnya adalah kita jadi tau mana anggota padus yang sesungguhnya dan mana yang cuma asal join aja." "Dan kita semua jadi tau mana anggota asli dan mana yang asal masuk dari ketakutan mereka sama cerita serem? Dangkal amat," cibir Mikel. "Harusnya kita bisa tau dari jadwal latihan padat kita. Siapa yang sering absen dan siapa yang rajin masuk. Bukan dari cerita serem." Masuk akal juga. Theo memandang Mikel sinis. "Terus, lo ada usul apa emangnya? Dari tadi komen mulu tapi nggak ngusul." "Sudah-sudah!" Aku memukul meja sekali. Jika diteruskan tidak akan selesai, sedangkan aku sudah kepengin pulang. Malam ini ada janji untuk jalan bareng Nando, dan aku belum siap-siap. "Berhubung udah jam enam sore, kita bubarin dulu pertemuan ini. Besok kita bahas lagi enaknya gimana untuk diklat. Pokoknya, hari Sabtu besok nggak boleh ada yang ijin!" "Siap, Kapten!" "Terus, kertas pengumuman lolos harus didesain yang keren dan sudah harus ditempel di mading hari Kamis. Ini tugasnya Audy, kan? Bisa, Dy?" Audy mengangguk. "Bisa, Kapten!" Aku tersenyum. "Sip. Kalo gitu cheers dulu, dong sebelum pulang." Kami langsung membentuk lingkaran dan menjulurkan tangan hingga bertumpuk pada satu titik. Kami mengayungkan ke atas, ke bawah. Aku berseru, "Harmony Voice!!!" "Stay cool, stay calm make us one and be the champion!!! Hokya!!!" sahut kami serempak. Setelah melakukan cheers, kami semua bubar, menyisakan Trisy yang mendapat tugas untuk piket bersama Karina yang mendapatkan bagian pengawas kebersihan. "Rin, lo pulang bareng gue nggak?" tanyaku. Karina menggeleng. "Aku bawa sendiri, kok. Kamu duluan aja." "Bye, Rin." Karina melambaikan tangannya. Hari ini, Kak Rian cs pulang nebeng temen-temennya yang lain. Dia sengaja ninggalin mobil karena tau aku pulang sore. Memang brother goal. Setelah masuk ke mobil, aku menyetel musik dan memasang sabuk pengaman, lalu ngebut sampai rumah. Aku buru-buru karena satu jam lagi Nando sudah menjemput. Belum pilih pakaian lagi. Argh! Tepat pukul tujuh malam, aku sudah siap dengan baju terbaikku dan Nando sudah menunggu di luar. Tanpa menghiraukan suara berisik dari ruang keluarga—yang mana Kak Rian cs minus si hacker gila lagi-lagi nge-game bareng—langsung saja aku masuk ke mobil Nando. "Itu tadi banyak motor di rumahmu. Ada tamu ya?" tanya Nando saat kami berdua sudah dalam perjalanan. Aku sedikit tergagap. "Um, iya. Biasa ... temen bokap," ujarku bohong. Masih tergolong sedikit yang tahu bahwa aku adalah adik kembar Rian, yeah ... nggak kembar-kembar amat sih, tapi begitulah kata orangtuaku. Menurut kami menyembunyikan identitas asli adalah hal yang lucu. Tetapi sejak kecil kami berdua sepakat jika masuk ke sekolah yang sama, tidak boleh mengeluarkan identitas asli bahwa aku dan Kak Rian adalah adik-kakak. Bukannya kami tidak saling menyayangi, kami saling sayang, hanya saja kami mempunyai cara sendiri dalam menyayangi dan kami tidak ingin terlalu mencolok. Entahlah, itu terasa lucu ketika kami berlagak sok misterius dan penuh kejutan. Oke, back to plan. Seperti apa yang pernah kukatakan bahwa aku ingin benar-benar menggaet Nando atau jika tidak, aku mati. Apalagi membayangkan aku harus merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk menraktir satu kelas di Starbucks. Kami berdua pergi menonton film horor di bioskop. Itu kesempatan bagus untuk bisa dempet-dempet dengan Nando, tetapi sayangnya itu hanyalah sekadar ekspektasiku saja. Pertama, film yang kami tonton sama sekali tidak ada takut-takutnya, alias membosankan! Sehingga modus dempet-dempet juga nggak bisa. Setelah itu aku berharap setidaknya aku bisa menggandeng tangannya, itu pun gagal. Setelah keluar dari bioskop, Nando mendapatkan telepon bahwa ada masalah genting di rumahnya yang menyebabkan kami berdua harus buru-buru pulang. Sialan. Sesampainya di rumah, teman-teman Kak Rian sudah pulang. Aku langsung merebahkan tubuhku di atas kasurnya dan merengek manja, seperti biasanya. "Lo kayaknya salah strategi deh. Setahu gue, Nando itu nggak kayak ratusan cowok yang ngejar lo. Dia agak susah. Jadi pastiin dulu dia emang punya perasaan ke lo apa enggak," kata Kak Rian sambil membereskan peralatan game-nya yang rusuh akibat teman-temannya. "Dia suka gue kok," sanggahku berusaha menyakinkan Kak Rian bahwa Nando benar-benar menyukaiku. "Sikap dia ke gue di sekolah juga beda sama sikap dia ke cewek-cewek lainnya. Dia juga pake 'aku-kamu' ke gue." Rian menahan tawa. "Serius? Baru pertama kali gue liat Nando ngomong pake 'aku-kamu', dan rasanya lebih aneh lagi kalo dia ngomong gitu ke lo." Sialan. "Aneh? Wajar kaleee. Gue kan primadona di sekolah dan dia pasti salah satu dari ratusan cowok yang daftar jadi cowok gue. Otomatis dia nganggep gue spesial." "Spesial? Pake berapa telor? Lima, enam, atau sepuluh?" canda Kak Rian. Aku mendengus sebal dan pergi dari kamarnya. "Serah lo, deh." Malam ini rencanaku menggaet Nando gagal. Saatnya memikirkan rencana yang lain. Argh! Ini membuatku pusing! Belum lagi grup chat padus rame banget ngebahas rencana Theo, yang tau-tau aja sudah disetujui oleh tim inti lainnya. Aku mengabaikan isi chat itu dan memejamkan mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN