Satu kata untuk saat ini; kacau!
Bagaimana bisa ekskul paling bergengsi di SMAHI bisa kedatangan calon-calon anggotan paduan suara yang memiliki standar kualitas suara yang rendah?
Aku mengacak-acak berkas di mejaku, berusaha menemukan kertas yang berisi tentang peraturan untuk mendaftar sebagai anggota paduan suara.
“Fiuh.” Karina tiba-tiba saja duduk di kursi kosong sebelahku. “This is not gonna be over.”
“I’m afraid you’re right,” balasku tanpa menoleh padanya.
“Nyari apaan, sih?”
Tak lama setelah Karina bertanya, aku menemukan kertas yang kucari. Kemudian, menduduki kursiku di samping Karina. “Gila. Jelas-jelas di sini udah tertulis jelas peraturannya. Baju harus rapi, tidak boleh ada tambahan atribut. Rambut juga harus rapi,” kataku membacakan tulisan yang tertera. “Di sini juga ada peraturan untuk pemilihan lagu. Satu lagu wajib, Indonesia Pusaka, dan satu lagu pilihan, Rek Ayo Rek.”
Karina hanya mendesah. “Dari segini banyak calon peserta, mungkin cuma ada lima calon yang pantas lolos menurutku.”
“Lima doang?”
“Kamu lihat sendiri. Tahun ini calon-calonnya kurang memuaskan. Haduh, gimana, ya, Sheil. Lomba semakin dekat.”
Yup. Kami harus benar-benar melakukan seleksi ketat untuk tim paduan suara kali ini, karena tiga bulan mendatang, kami akan menghadiri lomba choir internasional di Paris. Dan aku tidak ingin Harmony Voice kalah. Aku ingin di mana saat aku melepaskan jabatanku sebagai ketua Harmony Voice nanti, timku sudah ada di posisi terbaik, dan juga aku ingin ada seseorang yang benar-benar pantas menggantikan posisiku. Yang siap membawa paduan suara ini go-internasional, seperti apa yang pernah aku lakukan.
Tiga bulan mendatang, kami harus latihan ekstra kuat. Setidaknya sekarang kami harus sudah memiliki tiga puluh calon peserta yang lolos.
Aku beranjak dari kursiku dan menghampiri Theo yang sedang menyeleksi peserta lainnya.
“Pastikan hari ini kita sudah dapet tiga puluh calon peserta yang lolos,” kataku.
“Aye-aye, Kapten!” Theo menjentikkan ibu jarinya.
Segera saja aku keluar ruang paduan suara. Kepalaku pening. Aku butuh udara segar. Baru beberapa langkah keluar dari ruangan, aku menatap seseorang yang jelas-jelas tidak ingin kulihat.
“EHEM!” Si hacker tak tahu diri itu mendehem keras tepat di telingaku saat aku berjalan melewatinya.
Spontan, aku menoleh. Menatap wajahnya yang menyebalkan dengan tatapan datar. “Kalo lo mau ikutan daftar juga, sori, padus gue nggak butuh orang kayak lo.” Kemudian aku berjalan lagi, menghiraukan balasannya.
“Yakin? Awas ntar nyesel!” sahutnya.
“Bodo amat!” balasku tak kalah kencang.
***
Pukul lima sore. Kami masih sibuk menyusun daftar dan membahas anggota-anggota padus yang baru. Theo berhasil memilih tiga puluh anggota padus yang baru dari ratusan adik kelas yang mendaftar.
Trisy membacakan daftar keputusan final anggota baru. "Sesuai kesepakatan kita sebelumnya, tiga puluh anak baru ditambah sepuluh tim inti, total jadi empat puluh anggota Harmony Voice. Lima belas anak sopran, lima belas anak alto, sepuluh tenor, dan sepuluh bass. Terdiri dari dua puluh lima anak kelas sepuluh dan lima anak kelas sebelas, dan sepuluh anak kelas dua belas."
"Oke, sekarang kita atur jadwal latihan." Aku membuka kalendar besar yang dapat dilihat kami semua. "Berhubung ini lomba internasional, yang mana akan membawa nama besar SMAHI, pihak sekolah memberikan kita kebebasan untuk latihan. Asalkan tidak memotong jam pelajaran dan tidak boleh lebih dari jam enam sore."
"Kecuali sebulan dari hari H. Baru kita boleh mengambil jam pelajaran," tambah Karina.
Aku mengangguk. "Ada usul jadwal?"
Dion yang paling dulu mengangkat tangan. "Kalo setiap hari?"
"Gila lo setiap hari," celetuk Mikel tidak setuju. "Masuk sekolah aja lo jarang-jarang."
"Masuk sekolah gue emang jarang-jarang, tapi gue nggak pernah absen padus," balas Dion.
Kini Rita, cewek paling frontal selain aku di ekskul ini, menyahut, "Itu karena lo lagi ngecengin Audy. Ya kan? Ya kan?"
Aku melirik Audy yang menyembunyikan rona di wajahnya. "Apaan sih? Gue nggak ngerasa dikecengin Dion tuh," sanggahnya.
"Gue abis lihat chat lo. Nama Dion ngalahin OA-OA yang sibuk broadcast sana-sini. Tuh diurutan pertama." Rita tertawa. "Nanti pulangnya bareng gue ya," kata Rita sambil membaca isi chat Dion pada Audy.
"Wah!" David menunjuk Dion. "Jadi itu alasan lo ngebatalin warnet kita malem ini. Lo mau jalan sama dia?" tunjuknya kini mengarah pada Audy.
"Ah!" Theo menyentuh dadanya, pura-pura menahan sakit. "Main cewek dia sekarang. Sakit hati gue."
Dion mendengus sebal dengan ocehan teman-temannya. "Panas telinga gue dengerin omongan lo semua. Lanjutin aja, Kapten. Biarin kecoak menggonggong."
"Kecoak menggonggong, anjing terbang." Lagi-lagi David menyahut diikuti gelak tawa yang lainnya.
Aku mengetuk-ketukkan penggaris di kalendar, menyuruh mereka kembali fokus. "Jadi gimana? Ada usul lain?"
"Tiga kali pertemuan dalam seminggu, gimana? Selasa, Kamis, Sabtu. Yang hari Sabtu kita pol-polan aja," usul Karina.
Anak-anak yang lain langsung mengangguk menyetujui usulan Karina. Sudah kubilang, dia memang hebat. Andai Karina itu adik kelasku, tanpa ba-bi-bu sudah kujadikan dia penerus ekskul bergengsi ini. Di antara yang lainnya, Karina yang paling dewasa dan tenang.
Aku menatap Elisa yang sedari tadi nampaknya gelisah. Ia terus-terusan memperhatikan jam tangannya. "Uang kas ada berapa, Lis?"
Elisa terkejut begitu namanya kupanggil. Ia langsung tergagap-gagap. "Eh ... anu, terakhir gue hitung ada tiga puluhan."
"Ribu?" tanya Dion.
"Juta, b**o!" Rita menyundul kepala Dion.
"Amboy! Banyak bener," kata David takjub.
Aku tertawa bangga. "Ya iyalah. Secara ini ekskul gengsi gitu, loh. Iuran kas juga gede, ditambah hadiah-hadiah kejuaraan kita, yang tau-tau aja ludes buat dekorasi ruangan ini."
"Orang-orang elit juga harus ada di ruangan elit. Makanya kita dekor ruangan ini biar lebih keren," sahut Trisy, tukang dekor ruangan.
"Tapi tetep aja nggak ngerubah cerita serem tentang ruangan ini."
Tiba-tiba aku bergidik ngeri mendengar tuturan Audy. Memang benar. Sebagus apa pun ruangan padus ini, tetap saja tidak bisa menyembunyikan kisah-kisah menyeramkan di baliknya. Katanya, dari mulut-mulut senior kami, ruangan padus ini adalah ruangan yang paling angker di SMAHI.
Tapi entahlah. Untukku pribadi, selama aku menjabat dan berkecimpung di ekskul padus, belum ada tuh kejadian-kejadian aneh seperti apa kata senior. Semua aman-aman aja. Atau jangan-jangan, seperti apa kata ketua klub taekwondo yang pernah kuikuti dulu kalau wajahku mengalihkan alam gaib?
"Nah!" teriak Theo tiba-tiba. "Gue ada edi nih untuk merayakan terpilihnya dedek-dedek emes yang barusan lulus seleksi."
"Edi?" tanya Elisa bingung.
"Ide," jelas David. "Emang otaknya lagi longsor jadi mohon diwajarkan saja."
Theo mengabaikan cibiran David. Ia melanjutkan perkataannya, "Seperti tradisi sebelum-sebelumnya. Seperti kakak-kakak senior kita. Kita adain diklat yang di dalamnya ada cerita-cerita serem tentang ruangan padus ini."