Dasar Rian k*****t!
Ogah-ogahan kami berempat malam-malam memasuki perkarangan rumah Nando. Adiknya ulang tahun dan Rian diundang. Katanya dia malas datang sendirian, akhirnya dengan tak berperasaan dia mengorbankan kami. Sedang asyik bermanja-manja dengan guling, tau-tau aja tanpa pemberitahuan apa pun, dia sudah menyeretku keluar rumah. Begitu juga dengan Natha dan Andre. Natha mengomel habis-habisan lantaran kegiatan bokernya terganggu gara-gara Rian. Sedangkan Andre disangka emaknya sengaja kabur dari pekerjaan rumah.
Ini semua gara-gara Rian. Manusia tak berperasaan!
Oh! Yang paling parah adalah saat kami di dalam mobil, Rian memalaki dompet kami semua. Alasannya sumbangan untuk membeli kado ulang tahun. Udah uangku tinggal sepeser lagi. Beli pecel aja belum tentu dapet. Sialan.
Haaah, rasanya aku tak bisa berhenti menguap, sampai-sampai dapat kurasakan mulutku jadi longgar banget.
"Udah, lo semua nggak usah pada ngomel! Nikmatin aja acaranya. Sikat semua makanannya," kata Rian sambil mencari-cari yang ulang tahun.
"Karena lo udah palakin kami semua, ya mau gimana lagi. Mau nggak mau makanan itu ya disikat. Jangan salahkan kalo kami nanti makan kayak babi," gerutu Natha.
Sebelum aksi memalukan—makan kayak babi—kami lakukan, kami terlebih dahulu memberi ucapan pada adik Nando. Namanya Erina.
"Selamat ulang tahun," kata Rian sambil memberikan hadiah kami.
Erina tersenyum senang. "Iya, makasih, Kak."
"Oh ya Nando-nya mana?" tanyaku.
Dia menunjuk halaman pojok, tempat balon-balon digantung. "Di sana sama Kak Sheila."
Aku terkejut. Rian tersenyum jahil padaku. "Gue lebih setuju dia sama Nando, bro. Sori."
"Sial, gue cemburu berat." Aku melipat kedua tanganku di depan d**a. "Mana pakaiannya terbuka lagi. Haish, nggak bisa dibiarin."
Nggak menunggu balasan Rian, langsung saja kuhampiri kedua makhluk menyebalkan itu. Nando melambaikan tangan padaku, sedangkan Sheila hanya melirik sekilas. Mereka berdua tengah berbincang-bincang seru sambil menikmati segelas soda.
"Pas banget lo di sini," kata Nando. "Gue mau bantuin nyokap dulu siapin acara selanjutnya. Lo sama Sheila dulu ya." Dia menepuk-nepuk pundakku, lalu pergi.
Baguslah! Pergi sana jauh-jauh! teriakku.
Belum sempat membuka mulut, Sheila ikutan pergi.
"Eits!" Aku menghadang di depannya bak polisi ganteng yang hendak menilang. "Mau ke mana?"
"Bukan urusan lo," ketusnya.
Aku mengusap dagu. "Nando nitipin lo ke gue, loh."
"Terus?"
Wah, hari ini dia galak sekali. Eh, tiap hari, sih. Kalau dia seperti ini terus membuatku semakin gencar menggodanya. Sori, Rian. Bukan salah gue loh, adik lo yang nggemesin minta gue godain mulu.
"Baju lo nggak terlalu terbuka?" tanyaku gemas ingin menutupinya dengan jaketku. Apa dia nggak sadar sedari tadi mata-mata jelalatan kaum cowok sibuk memperhatikannya?
Sheila mengamati pakaiannya. "Bagus kok."
"Bagus sih, tapi...," aku melepaskan jaketku dan kulemparkan padanya, "lo bisa masuk angin."
Dia terdiam sambil menatapku. "Makasih." Kemudian berjalan melewatiku.
Aku menatap kepergiannya dengan tawa kecil. Tanganku kumasukkan ke kedua saku celana. Sambil berjalan-jalan, aku melihat Natha dan Andre udah selayaknya babi yang nggak makan seminggu. Memalukan. Dengan teriakan kencang, Andre meminta untuk dibungkuskan ayam gorengnya. Kalo kayak gini sih ogah aku dekat-dekat mereka. Merusak reputasi.
Karena bosan, aku mengeluarkan ponsel. Ada satu pesan chat dari Sheila.
Sheila-Cewek Judes Tapi Ngangenin: Jaketnya gue balikin di sekolah ya. Makasih.
Lagi-lagi pesannya membuatku tersenyum. Mungkin jika ada orang yang memperhatikanku saat ini akan beranggapan bahwa aku gila. Senyum-senyum sendiri dengan ponselnya. Biasanya kalo kayak gini kan kerjaan kaum jomblo.
Pesannya hanya k****a tanpa perlu kubalas. Biarkan. Jual mahal dikitlah.
Rian tiba-tiba merangkul pundakku. "Yuk, cabut."
"Udah?" tanyaku heran. Baru beberapa menit kami di sini dan Rian sudah mengajak pulang.
"Lah, tujuan kita kan cuma ngasih kado, terus pulang," kata Rian. "Nggak tau lagi kalo Andre sama Natha cuma numpang makan doang. Tuh liat, malu-maluin banget. Udah belepotan, terus minta bungkus lagi. Ngucapin selamat aja juga pasti belum."
"Woy!" teriakku pada mereka berdua. "Gue pulang nih!"
Natha dan Andre langsung buru-buru membawa semua makanan dan menghampiri kami. Tanpa banyak cincong, kami memasuki mobil. Bersiap-siap untuk pulang.
"Adik lo?" tanyaku.
Rian menatapku sebal. "Dianter Nando."
Aku mendengar tawa cekikikan di kursi belakang. Rupanya kedua babi itu sedang menertawakan kekalahanku.
"Mundur ajalah," kata Andre menepuk-nepuk pundakku.
Kukibaskan tangan Andre. "Gara-gara Rian nih, nggak direstuin. Kenapa sih emangnya?"
Rian melajukan mobilnya. Wajahnya masih sungut karena lagi-lagi aku membahas perasaanku pada adiknya.
"Ayolah, Bang. Kenapa nggak boleh sih?" rayuku.
"Lo mau persahabatan kita rusak?" tanya Rian tegas.
Aku mengerutkan dahi. "Maksudnya?"
"Gini lo, Abang Kevin kesayangan gue," sela Natha menjijikan. "Sheila kan adiknya Abang Rian nih. Kalo elo pacaran sama dia, entar gue pacaran sama siapa?"
Andre langsung menjitak kepala Natha. "g****k!" cetusnya. Kemudian dia meluruskan perkataan Natha, "Kalo elo pacaran sama dia, terus putus, otomatis lo bakal canggung sama Abang Rian. Dan persahabatan lo jadi renggang deh. Abang Rian kan sayang sama lo."
Rian bergidik ngeri. "Kalimat terakhir gue nggak setuju."
Entah kenapa aku jadi terharu mendengarnya. Kalau dipikir-pikir benar juga. Karena pengalaman berpacaranku tergolong rendah, jadi aku tidak tahu apakah jika aku putus dengan Sheila, dia masih mau menganggapku teman. Setidak-tidaknya dia mungkin mau menganggapku sebagai mantan, lah kalau menganggapku sebagai setan?
Berbeda dengan Elisa. Dia mungkin nggak akan setega Sheila yang akan menganggapku setan, tetapi dia lebih cenderung menjauhiku. Seperti enggan untuk berhubungan kembali sebagai teman. Yah, aku tahu itu sulit baginya. Karena alasan kami putus juga menyakitkan bagi dia. Tapi mau bagaimana lagi?
"Tapi gue nggak bisa egois juga," jawab Rian. "Untuk saat ini Sheila naksir berat sama Nando. Lo bikin dia suka sama lo, bukan sebel sama lo."
Keparat Natha lagi-lagi menyahut, "Abang Kevin jagonya bikin orang tambah sebel."
"Sekali lagi lo ngomong, gue tendang lo keluar," cetusku.
Natha langsung bungkam dan memeluk Andre. "Aw! Dedek takut, Bang Andre."
Andre menjitak lagi kepala Natha. "Diem, bego."
Rian menghela napas. "Lo bikin dia bahagia dulu. Jangan pernah sedikit pun lo sakiti, kayak lo nyakitin Elisa. Baru setelah itu gue restuin."
Dia membawa-bawa Elisa lagi. Padahal dia tahu jelas alasanku memutuskan Elisa, karena Sheila. Tapi dia tetap saja menganggapku masih belum bisa dipercaya.
"Makanya doain gue berhasil, dong." Aku menepuk-nepuk pipi Rian. "Makasih Abang Rian kesayangan gue!"
Kaget akan tindakanku, dia tiba-tiba mengerem mobil. Kami semua hampir terpental ke depan. "Sialan! Turun dari mobil lo sekarang!" teriaknya.
Seperti biasa, aku cuma nyengir lebar.