"Mau ngerjain tugas bareng nggak nanti malem?"
Aku menoleh ke arah Karina yang sibuk menyusun buku-buku di lokernya. "Nanti malem gue ada janji sama Nando buat cari barangnya dia. Sori ya, Rin."
Karina mengerutkan bibir sesaat, kemudian tersenyum. "Oke deh. Next time aja."
Kami berdua berjalan ke kantin dan mengambil tempat duduk biasanya, lalu melahap rakus soto ayam kami. Tiba-tiba saja makhluk-makhluk tak diharapkan ikut nimbrung bersama kami di meja makan ini. Aku mendengus sebal. Suasana yang tadinya adem-ayem, berubah ramai dengan gosip-gosip tak berfaedah.
"Lo semua udah pada tau kalo Elisa sama pacarnya putus?" Rita-lah oknum yang memulai percakapan tak berkelas ini. Untungnya Elisa sedang tidak bergabung.
Mendengar itu, sontak aku terkejut. "Lo tau dari mana?"
Tak dapat kupungkiri bahwa kecepatan mulut cewek soal berita-berita terpanas bisa beredar begitu cepat. Apalagi orang kayak Rita yang suka mengorek-ngorek kasus orang.
"Soal beginian, Rita mah paling jago," sahut Trisy.
Yang disinggung malah menyunggingkan senyuman paling bangga. "Iya dong. Katanya, pacarnya itu pacaran sama Elisa karena terpaksa."
"Masa?" Wait, kenapa tau-tau aku yang paling antusias mendengar hal ini?
"Iya!" angguk Rita makin heboh bercerita. "Mereka udah kenal deket sejak di Australia. Pas cowok itu balik ke sini, Elisa ikutan. Terus dia nyatain perasaannya ke cowok itu, dan karena kasihan udah jauh-jauh dari Australia akhirnya terpaksa diterima."
Woah! Si-hacker-i***t-itu benar-benar tak berperasaan. Bisa-bisanya dia memainkan hati cewek secantik Elisa?
"Cowok itu benar-benar jahat ya," kata Audy.
"Emang!"
"Enggak!"
Aku menoleh ke arah Karina yang baru saja bilang "enggak". Dengan pelototan tajamku, dia justru tersipu malu.
"Lo suka sama mantannya Elisa ya?" tanya Rita mulai mengorek-ngorek informasi lagi.
"Enggak! Maksudku tadi itu, ya mungkin Kevin punya alasan sendiri kenapa dia bersikap nggak tega dan mau pacaran sama Elisa," jelas Karina yang semakin membuatku muak.
"Tapi dia emang gila banget. Masa iya cewek secantik Elisa dia nggak mau?" tanya Audy.
"Atau jangan-jangan...," mata Rita menyipit menatapku, "dia salah satu cowok yang ngejar lo, Sheil."
"Emang deh, Kapten paling top! Hampir semua cowok naksir lo. Cewek model bule yang cantiknya ngalahin Gigi Hadid aja bisa kalah sama lo, Kapten! Terus ada yang lo pilih?" tanya Trisy.
Mendengar berbagai pujian itu membuatku melambung tinggi. Memang deh risiko orang cantik. "Ada, Nando."
Semua mata melebar saat mendengarnya. Aku semakin bangga saja.
"Kapten basket itu?"
"Yang keteknya wangi?"
Aku mengangguk. Lagi-lagi decak kekaguman mengiringiku.
"Yah, padahal gue juga suka sama Nando. Tapi apa daya. Kalo saingan gue si Kapten, ya gue nyerah aja," kata Rita sok memasang wajah melas.
Aku memasang raut penuh rasa bersalah, yang pasti kubuat-buat. "Wah, gue nggak tau. Maaf ya, Rit. Lo mending sama Mikel deh."
"Cowok nggak jelas itu?!" Rita mendelik. "Mending gue gantung diri aja."
Setelah menghabiskan makanan kami, saat itu pula bel istirahat usai telah berbunyi. Saatnya masuk kelas dan mengantuk mendengar pelajaran sejarah.
***
Aku tercengang. Sama seperti semua anggota yang melongo di depan pintu ruangan padus. Bersama Karina, kami melangkah masuk dan memunguti semua kertas-kertas usang yang bertebaran di seluruh lantai. Sambil memunguti, kami juga melirik isi kertasnya.
HARMONY VOICE NGGAK BERGUNA!
HASIL SELEKSI DIMANIPULASI, SETAN!
BUBARKAN HARMONY VOICE!
TURUNKAN KETUA PADUS!
KETUA SONGONG! MATI! MATI! MATI!
"Buset! Setan apaan yang nulis kayak beginian?!" teriak Dion beberapa menit kemudian.
Aku meremas-remas semua kertas itu dengan luapan emosi. "Siapa yang ngelakuin ini?!"
"Kayaknya anak-anak yang gagal lolos seleksi, Sheil," jawab Trisy.
"Kok bisa masuk sini?" Kini aku menoleh pada David yang memegang kunci ruangan.
"Kuncinya masih ada di gue. Dari tadi emang udah kebuka gitu pintunya," aku David sambil menunjukkan kunci ruangan.
Tiba-tiba Theo yang masih memunguti sisa-sisa kertas berserakan berteriak dengan emosi. "Gue nggak memanipulasi hasil seleksi, g****k!" Dia memaki-maki tulisan di kertasnya. "Lo aja yang payah! Dasar anak-anak nggak guna!"
"Kalian yakin ini semua ulah anak-anak yang gagal lolos seleksi?" tanya Karina dengan perasaan tenang seakan-akan hal ini bukanlah masalah besar.
"Ya siapa lagi!" sahut Theo mendekat. "Nih, lihat! Semua tulisan ini kan udah menunjukkan kalo ini ulah setan-setan yang nggak lolos seleksi."
"Maksudku," Karina membuang semua kertas-kertas itu ke tempat sampah, "buktiin dulu kalo ini semua ulah mereka. Siapa tau bukan."
Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Lo naif banget sih, Rin. Ini semua kan udah bukti, kita tinggal ngelabrak aja. Lo nggak perhatiin wajah-wajah mereka kalo ketemu kita? Sinis banget seolah-olah pengin menikam kita habis-habisan."
Kalimat terakhirku terdengar sadis sekali. Aku aja sampai nggak nyangka aku mengucapkannya.
Rita langsung menyetujui usulanku. "Labrak aja, Kapten!"
"Enggak ah," tolak Mikel. "Labrak bukan mainan anak cowok. Nggak keren amat."
"Terus yang keren apa?" tanyaku.
Mikel berpikir. "Langsung jotos!"
Sorakan riuh dari anggota lainnya langsung meramaikan usulan Mikel. Cowok sableng itu semakin tampak g****k aja dengan usulannya barusan.
"Cewek juga dijotos, Kak?" tanya salah satu anggota.
Mikel nyengir. "Kalo itu sih, beda."
"Huu! Dasar." Dion menjitak kepala Mikel. "Terus, jadi nggak labraknya?"
Sebelum menyahut aku berpikir dulu. Sebenarnya aku hanya asal ngomong aja soal labrak. Benar apa kata Mikel. Nggak keren amat main labrak ala-ala cewek payah. Mending sesuatu yang di luar ekspektasi mereka.
"Nggak usah!" tandasku tiba-tiba. "Kita jangan labrak. Nanti mereka malah makin seneng lihat kita hancur. Kita lawan mereka dengan latihan keras dan bawa medali emas dari lomba kita nanti!"
Awalnya mereka masih bergeming, kemudian dimulai dari satu anak bertepuk tangan akhirnya mereka semua bertepuk tangan. Untukku!
"Kapten emang top!"
"Kapten kita paling sempurna!"
"Kak Sheila udah cantik, baik lagi."
Aku menahan kedutan di ujung bibirku. Aku sedang berusaha mengontrol rasa banggaku. Gimana nggak bangga ketika semua orang bertepuk tangan untukku? Nggak salah kan aku jadi ketua padus?
***
Waktu yang seharusnya bisa kami pakai untuk latihan keras terbuang cuma-cuma untuk membersihkan kembali ruangan padus dan mendumel tentang semua surat ancaman itu. Latihan kami tidak fokus. Dion sering sekali salah memainkan nada keyboard-nya. Suara kelompok tenor tenggelam dengan suara kelompok bass. Sopran dua tercampur mengikuti nada sopran satu. Semua acak-acakkan. Ditambah lagi ketidak-hadiran Elisa yang tanpa kabar apa pun.
Terpaksa latihan kali ini selesai dengan tangan kosong. Tidak ada energi baru yang disuplai, sedangkan otak penuh dengan tekanan target lomba yang semakin dekat. Kami belum ada apa-apanya! Bagaimana nasib Harmony Voice jika sampai tidak membawa medali apa pun?!
"Kok melamun, Sheil?" tanya Nando saat kami sedang dalam perjalanan menuju mall.
Aku menghela napas panjang. "Masalah padus."
"Kenapa?" Dia menoleh padaku sekilas.
"Tadi ada yang nelusup ke ruangan padus, padahal kuncinya di David. Dia nebarin banyak surat ancaman dan hinaan. Katanya kami memanipulasi hasil seleksilah, pilih-pilih kasihlah, HV nggak gunalah, aku songonglah. Banyak deh. Gara-gara itu kami semua jadi nggak fokus latihan, padahal lomba sebentar lagi. Kami sudah dipercaya besar-besaran sama sekolah, masa iya kami nanti pulang nggak bawa apa-apa?" gerutuku.
"Tapi kalian emang nggak bersikap curang sama hasil seleksi kan?" tanya Nando.
Aku menatapnya. "Kamu percaya kan?"
Dia mengangguk. "Aku percaya kamu nggak mungkin ngelakuin itu."
Mendengarnya membuat hatiku berbunga-bunga. Aku tersipu-sipu sendiri sambil mencengkeram kuat sabuk pengamanku. "Menurut kamu, siapa pelakunya?"
Dia berpikir sejenak sambil menggumam, "Anak yang gagal lolos seleksi mungkin?"
Tepat! "Aku juga mikir gitu. Tapi hanya Karina yang nggak terlalu sepakat kalau ini semua ulah mereka."
Kami berjalan masuk menelusuri tiap-tiap toko. Adiknya akan segera ulang tahun, sweet 17, dirayakan di halaman rumahnya yang luas. Aku nggak terlalu mengenal adiknya, tetapi kata Nando aku boleh datang. Jadilah aku ikut membeli hadiah untuknya.
Namun di luar dugaan. Nando yang kerennya begini dan kemungkinan besar adiknya adalah anak hits yang suka berfoya-foya dan tebar pesona, justru memasuki toko buku. Aku kira dia akan masuk ke toko boneka raksasa, atau toko perhiasan, atau malah toko gadget. Tapi ini ... toko buku? Hell no! Apa jangan-jangan adiknya nerd?
Aku melongo saat Nando dengan gesit menelusuri rak-rak buku fiksi seolah-olah sudah sering memasuki toko buku. Dengan entengnya dia membawa lima buku di tangannya dalam hitungan sepuluh menit. Sedangkan aku? Tiap memasuki toko buku justru mengantuk, kecuali dengan majalah-majalah super modis.
Nando menghampiriku dengan buku-buku yang sudah ia beli. "Kamu mau beli apa, Sheil?"
"Adikmu suka buku?" tanyaku.
"Banget."
Aku melongo lebar. "Wow … kalo gitu aku belikan dia novel juga."
Nando mengikutiku mengitari rak buku fiksi. Ada satu novel yang kovernya eye-catchy sekali. Judulnya Vi Incontro e Sono Morto karya Vania Sesya. Ada stempel mega best-seller dan segera difilmkan. Mungkin ini bagus.
"I Meet You and I'm Dead," kata Nando tiba-tiba.
"Hah?"
"Itu arti judulnya. Bahasa Italia," imbuhnya.
Dia benar-benar keren sekali! "Kamu bisa bahasa Italia?" tanyaku dengan decak kagum berlipat-lipat.
Dia menggaruk tengkuknya. "Sedikit, tapi aku suka pelajari itu."
"Oke! Aku beli ini!" Dengan semangat aku membayarnya ke kasir.
Kami keluar dari toko buku dan melangkah lebar ke salah satu restoran. Kali ini dia yang traktir, sekaligus membayar rasa bersalahnya karena langsung pulang setelah dari bioskop waktu itu. Padahal dia janji akan mengajakku makan setelahnya.
Harus kuakui jalan-jalan kali ini jauh lebih romantis dibanding biasanya. Nando perhatian sekali padaku, seperti saat aku gagal memutar botol garam, dia langsung membantu. Jangan ketawa! Aku tahu hal ini mungkin terdengar biasa, tetapi bagiku ini romantis. Yeah, anggap saja begitu.
Setelah makan, Nando membelikanku cokelat yang paling enak di mall ini. Katanya sebagai ucapan terima kasih karena mau menemaninya membeli barang. Tuh, kan, dia benar-benar romantis. Kali ini aku siap memberikan laporan pada Kak Rian kalo Nando seratus persen menyukaiku.