Entah aku harus menyesali keputusan ini atau tidak.
Kami berdua sedang berada di sebuah kafe. Di depanku duduk seorang cewek yang cantik dan murah senyum, namun aku menghancurkannya.
Dia enggan menatapku sejak tadi, hanya mengusap-usap gelas minumannya. Aku bingung harus mengatakan apa.
"Kamu semaunya sendiri," ucapnya lirih.
Aku mengangguk. "Maaf."
"Nggak ada angin, nggak ada badai, kenapa tiba-tiba minta putus?" Dia masih tidak menatapku. Suaranya semakin parau.
"Aku...." Haruskah aku mengatakannya? "Aku ... suka sama orang lain."
Elisa langsung menatapku tepat di manik mata. Tajam, penuh keterkejutan, dan sakit yang mendalam. Bibirnya bergetar. "S-sejak kapan?"
"Sejak awal aku pacaran sama kamu."
Dia memejamkan mata. Air matanya terjatuh. Aku membuat seorang cewek menangis. Kini, aku benar-benar lebih rendah dari sebuah virus. Benar-benar bErengsek.
"Lis...." Aku mengusap pipinya, namun dia menghindar.
Elisa membuka matanya. "Sama siapa?"
Hell. Untuk kali ini aku nggak bisa jujur. Bisa bahaya. Kemungkinan besar, Elisa akan melabrak Sheila, dan Sheila akan membunuhku. Aku belum siap mati!
"Seseorang yang nggak kamu kenal," Akhirnya aku berkata lirih.
"Orang itu ... Sheila kan?" tebak Elisa.
Aku langsung menegang. Gimana dia bisa tau?
Elisa tersenyum miris. "Aku sudah tau dari awal. Alasan kenapa kamu mau pacaran sama aku, dan alasan kenapa sekarang kamu minta putus. Aku tahu hal ini akan terjadi karena berawal dari sebuah keterpaksaan. Kenapa aku bertahan dan berlagak seolah aku tidak tahu apa-apa? Karena kehilangan kamu adalah hal yang paling menyakitkan buatku, Vin." Dia menangis.
Aku langsung memeluk cewek itu dan menenggelamkan wajahnya di pelukanku. Dia terus menangis dan mencengkeram bajuku. Aku mengusap rambutnya sambil terus berkata maaf. Oke, kalian boleh mengatakan aku berengsek, g****k, atau apa pun itu, but what if you were in my shoes?
"Kamu egois, Vin," katanya lagi.
"Aku tahu, maaf."
"Tapi aku juga egois." Dia mendongak, menatapku. "Harusnya aku nggak usah nyatain perasaanku ke kamu, jadi kamu nggak perlu merasa kasihan. Dan kamu bisa pacaran sama Sheila dari dulu. Maaf, Vin."
Oke. Dari sejibun alasan kenapa cewek sangat membingungkan adalah ini salah satu contohnya. Dalam kasus ini akulah terdakwa dan Elisa korbannya. Kenapa tau-tau jadi terbalik di tengah jalan? Aku harus gimana? Aku harus gimanaaaa???
"Lis." Aku mengusap pipinya, menghapus air mata.
Elisa tersenyum manis, walau beberapa bulir air matanya masih mengalir. "Thank you for everything. Good luck, Vin." Dia berdiri dan langsung melangkah cepat keluar kafe. Membiarkanku termenung di tempat tanpa ada niatan untuk mengejarnya.
***
Angin di luar sangat kencang. Banyak dedaunan rontok dan jatuh menghantam jendela kamarku. Bukannya mengecilkan suhu pendingin, aku justru membiarkan kamarku bagai berada di kutub. Dengan kaos hitam favoritku, aku terlentang di lantai. Menatap langit-langit kamar.
Aksi gilaku ini bubar ketika ponselku berdering. Saat kulihat, bukannya mengangkat justru aku terdiam cukup lama. Nama Sheila terpampang di layar ponsel. Orang yang sejak tadi memenuhi pikiranku.
Hingga beberapa detik kemudian, baru aku mengangkatnya. "Ya?"
"Elisa sama lo?" Si Jutek itu bertanya tanpa basa-basi.
"Tadi siang. Sekarang enggak."
"Elisa nggak ada dari pagi!" Sheila mulai panik.
Mendengar hal itu membuatku langsung mematikan ponsel dan keluar mengendarai motor. Entah apa yang ada di pikiranku saat ini. Aku memacu motorku gila-gilaan, menembus kencangnya angin. Satu yang terpenting saat ini, aku harus menemukan Elisa!
Setelah memutari area dekat kafe yang tadi siang kami kunjungi, ternyata Elisa tidak ada. Aku berhenti di pinggir jalan dan memeriksa ponselku. Hendak menelepon Elisa, Sheila mengirim pesan bahwa sekarang ia dan Karina ada di sekolah membawa barang-barang Elisa yang tertinggal. Setelah membaca pesan itu, aku menghubungi Elisa sebanyak lima kali, namun tidak ada yang mengangkat. Orangtua Elisa juga mengatakan bahwa sejak tadi pagi Elisa belum pulang. Kawan-kawan sekelasnya juga mengatakan Elisa tidak bersama mereka.
Sialan. Di mana sih anak itu?!
Aku kembali mencari di dekat taman kota. Setelah memarkir motor, aku segera berlari menyusuri taman itu, hingga aku menemukan sosok cewek duduk di dekat tanaman menghadap air mancur. Sendirian.
"Lis?" Aku berusaha memastikan bahwa dia adalah Elisa.
Elisa terkejut dan menatapku. Matanya sembab dan wajahnya pucat. Aku mendesah lega dan melampirkan jaket tebalku ke tubuhnya. Ia berusaha bangkit namun aku mencekal tangannya. Ia tidak menatapku.
"Kenapa belum pulang? Semua orang nyariin kamu," kataku lembut.
Dia tidak menjawab.
"Aku anterin pulang ya." Aku mengusap pundaknya namun ia menepisnya. "Yaudah, aku temenin ya."
"Why did you care about me? Don't make me fall deeper than this." Elisa berkata dengan wajah datar.
Aku mendesah panjang. "Please, jangan kayak gini."
Elisa tersenyum sinis. "Easy for you to say."
Aku menangkup wajahnya di kedua tanganku. Lalu menatap dalam matanya. "Yang membuat orang merasakan sakit berlipat-lipat bukanlah apa masalahnya, tetapi terletak pada dirinya sendiri. Sudah tau sakit, kenapa masih dibiarkan jadi berlipat-lipat? Don't. Don't let it hurts you deeper. Cowok nggak cuma aku, Lis. Masih banyak yang jauh lebih baik dan tulus buat kamu. Just give it time."
Elisa sesenggukan. "What if I don't find one?"
"Then you will find more than one." Aku menyengir lebar.
Dia justru menonjok dadaku, kemudian tertawa kecil. "I'm a mess, aren't I?"
"Yeah, kadang-kadang." Aku mengedipkan salah satu mataku.
Elisa tersenyum tipis dan kembali menatap air mancur di depannya. "Kenapa ya aku mau pacaran sama kamu? Padahal kamu orangnya jahat, blak-blakan, ngeselin, banyaklah."
"Iya ya? Ngapain juga kamu mau pacaran sama aku yang gantengnya nggak nahan gini."
Elisa menutup telinganya dan berdiri. "Yaudah, ayo pulang."
Aku langsung merangkul pundaknya dan kubawa ke sekolah terlebih dahulu, mengambil barang-barangnya yang sudah disiapkan Sheila.
Sampai di sana, Si Jutek dan sohibnya itu langsung menghampiri Elisa dengan panik. Apalagi saat melihat wajah Elisa sembab dan pucat.
"Lis, lo ke mana aja? Lo nggak papa kan?" tanya Sheila.
Aku melirik wajah Elisa yang murung saat menatap Sheila. Semoga tidak ada kejadian di antara mereka berdua. Kalau sampai hal itu terjadi, maka matilah aku.
Cewek di sebelah Sheila memberikan tas dan dokumen kepada Elisa. "Ini udah kita bawain dari ruangan padus. Kamu kayaknya lagi nggak sehat, langsung istirahat di rumah ya, Lis. Besok kita cerita-cerita lagi."
Elisa mengangguk dengan wajah datar. "Thanks." Kemudian langsung berbalik menuju motorku.
Saat ini aku tidak bisa berkata apa-apa kepada mereka berdua, hanya bisa bilang "makasih" dan cabut. Semoga mereka berdua baik-baik saja di saat sekolah sudah sangat gelap dan sepi.