[SHEILA] Pulang Latihan

1359 Kata
Jam setengah enam sore. Koridor sekolah sudah sepi. Hanya di beberapa tempat saja dengan lampu menyala. Sisanya ... gelap. Termasuk ruangan padus ini. David menjalankan tugasnya dengan baik, sebagai bagian dari keamanan. Ia merayu penjaga sekolah untuk tidak menyalakan lampu di banyak tempat. Setelah itu, ia juga memohon-mohon pada kapten klub taekwondo, drama, dan PMR untuk jauh-jauh dari ruangan padus agar anak-anak baru itu mengira sekolah sudah sepi. Dan semua akan berjalan lancar ... kurasa. Lampu ruangan padus sudah dimatikan sejak dua puluh menit yang lalu. Suara-suara heboh yang sejak tadi memenuhi ruangan ini juga tak lagi terdengar. Hanya deru napas yang menemani malam kami. Dinginnya pendingin ruangan kian lama menusuk tulang. Aku duduk di pojok bersama beberapa tim inti lainnya, yang aku tidak tau siapa saja. Bahkan saking gelapnya sampai aku tidak bisa melihat tanganku sendiri. "Karina, lo di mana?" lirihku ke kanan dan kiri. Siapa tahu dia sedang berada di sekitarku. "Aku di belakangmu." Karina menepuk punggungku pelan. Aku mendesah lega. Aku berkata lirih lagi, "Mana Theo?" "Entah. Mungkin lagi nyiapin idenya?" "Gue nggak nyangka gue setujuin ide gila ini." "Sama." Aku menoleh ke belakang, menatap Karina walau sebenarnya tidak nampak apa-apa. "Harusnya kita batalin aja ya, Rin. Gue takut soalnya," bisikku makin pelan. Jangan sampai ada yang dengar selain Karina atau reputasiku hancur. Karina justru tertawa. Sialan. "Tenang aja. Ini cuma dongeng, toh selama ini kita berada di ruangan ini nggak terjadi apa-apa kan?" Aku kembali menatap lurus dan menopang daguku. Lima menit kemudian, wajah Theo menyembul dari balik kegelapan di depan anak-anak baru. Membuat kami semua teriak. Theo menyinari wajahnya dengan senter di bawah dagunya. Dasar g****k. "Sebelum kalian masuk ke sini, apakah kalian tau kalau ruangan padus kita ini adalah ruangan paling angker di SMAHI?" Hening. Kurasa mereka semua terkejut. "Pasti banyak yang belum tau kan? Mau gue ceritain? Harus mau. Karena ini adalah tradisi turun-temurun Harmony Voice." Theo emang g****k. Ingin aku berteriak sekarang juga kalau sebenarnya Theo takut gelap. Entah apa yang membuatnya duduk tegak di kursinya tanpa goyah sedikit pun. Sekarang aku mencurigai Dion, Mikel, dan David. Jangan-jangan mereka ada di sekitar Theo dan membantunya. "Kisah ini tidak hanya seram, tetapi juga pedih dan memilukan...." Oke, sekarang dia benar-benar t***l. "Konon, ada seorang anggota padus yang baru saja dicampakkan pacarnya. Ia merasa sakit hati dan kecewa. Ia juga merasa kesal dan iri karena sahabatnya yang sama-sama anggota padus mendapatkan prestasi dan pujian yang lebih banyak dari dia. Selidik punya selidik, ternyata mantan pacarnya itu menjalin hubungan dengan sahabatnya. Kini ia merasakan amarah dan dendam yang membuatnya ingin membunuh sahabat dan mantan pacarnya. Esoknya, ketua ekskul padus menemukan kedua pasangan itu mati dengan mulut penuh busa. Diduga keracunan yang berasal dari seruling dan pianika yang mereka tiup. Esoknya lagi, pembunuh itu pun gantung diri di tengah-tengah ruangan ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap tahunnya selalu ada yang kesurupan di sini, karena arwah-arwah yang tidak tenang itu." Sial, tanpa kusadari aku sudah meringkik ketakutan. Karina mengusap-usap punggungku agar aku tenang. Aku sudah mendengar kisah itu berulang kali, namun rasanya tetap menakutkan. Soal yang setiap tahun ada yang kesurupan di ruangan ini memang benar. Kami hampir terbiasa dengan hal itu, dan dapat diprediksikan lagi tahun ini akan terulang kembali. Terdengar suara-suara ketakutan dari anak-anak cupu itu. Sial, itu berarti aku juga cupu. Kini Theo berdiri, masih dengan senter tololnya itu. "Kami semua yakin bahwa tahun ini pun pasti ada yang kesurupan lagi di ruangan ini. Dan siap-siap, jika salah satu dari kalian ada yang kesurupan, mohon dengan hormat tinggalkan ekskul padus tercinta ini." Mereka semua tercengang. Namun ada satu yang mengangkat tangan takut-takut. "K-Kak, ap-apakah itu artinya ki-kita di drop out?" "Didepak lebih tepatnya." Sekarang cowok g****k itu tampak kejam. Hening kembali. Karena jam latihan sudah habis, David segera menyalakan lampu, dan benar saja. Mikel dan Dion ada di belakang Theo persis. Dasar penakut cap ikan asin. Aku segera mengambil tindakan agar anak-anak cupu itu tetap semangat latihan padus. "Nah, seperti yang kita tahu. Cerita itu bisa jadi benar atau tidak, karena sudah diceritakan dari mulut ke mulut senior kita. Nggak usah takut dan nggak usah dipikirin. Fokus aja sama latihan kita dan berikan yang terbaik untuk SMAHI tercinta ini. Siap?" "Siap, Kak!" Aku tersenyum. "Bagus! Ayo kumpul dan bentuk lingkaran semuanya." Seperti biasa, kita melakukan yel-yel semangat sebelum pulang. "Harmony Voice!!!" "Stay cool, stay calm makes us one and be the champion!!! Hokya!!!" Diklat telah usai. Giliran Mikel yang piket dan dijaga Karina. Setelah itu, kami semua berkumpul di meja tim inti. Theo tak bisa menghilangkan wajah sombongnya itu. "Gimana, gimana, gue keren kan tadi?" tanya Theo sambil memainkan alisnya. "Jujur, kalo gue sendiri ngeliat penampilan lo tadi, rasanya gue ogah temenan sama lo lagi," jawab Mikel sambil memakan keripik kentang. Setuju, sangat setuju. Apalagi waktu tebakanku mengenai tiga cowok yang duduk di belakang Theo saat dia bercerita kisah seram. Harus kuakui, Theo pengecut sekali. Tapi biarlah, aku malas berkomentar. "Tapi tadi itu beneran nakutin," sahut Audy ngeri. "Iya, emang nakutin. Tapi kalo Theo yang cerita pake senter gobloknya itu sih yang ada jadi ngelawak," cibir Rita. Theo mendengus malas. "Itu namanya perfect performance. Gue bisa denger suara kaget kalian waktu gue pertama kali muncul sama senter itu kok. Ngaku aja, nggak usah gengsi." Sial. Apakah suaraku terdengar? Plis, aku Sheila Ivyana, ketua ekskul padus yang nggak akan gampang kaget atau pun takut sama cerita receh kayak gitu! Nggak level amat. "Coba tebak," kata Dion kali ini. "Siapa yang bakal kesurupan tahun ini?" Kami semua tercengang mendengar perkataan Dion. David mengusap-usap dagunya. "Kayaknya cewek lagi deh. Jarang yang kesurupan di sini itu anak cowok." Trisy menambahkan, "Nah, kalo ada yang kesurupan, itu berarti kita harus cari anggota baru buat gantiin dia kan? Sesuai peraturan, kita nggak boleh menerima anggota yang lemah secara mental dan fisik." "Bener juga." Tau-tau aku sudah ikut nimbrung. "Berhubung lomba udah mau deket, nggak mungkin kita cari anggota baru, apalagi kalau udah latian sampai tengah-tengah. Gimana untuk kali ini, kita biarin aja?" "Tapi kalo dia terus-terusan kesurupan tiap latian, gimana?" tanya Karina. "Ya kita ganti tempat latian kita. Di ruang seni musik?" tanyaku. Mikel menyahut, "Wait! Ganti tempat latihan? Apa itu berarti lo juga percaya tempat ini berhantu, Kapten?" Berengsek! Wajah mengejeknya benar-benar menyudutkanku bahwa sebenarnya aku penakut seperti Theo. Ew, ogah banget disamain sama cowok pengecut itu. "Enggaklah!" sanggahku cepat. "Nggak ada hantu di dunia ini!" "Ada," sahut Trisy. "Dan di sini emang banyak." Aku mengerutkan dahi. "Lo tau dari mana?" Trisy mengedarkan pandangannya ke tiap langit-langit ruangan padus ini. "Gue indigo." Sejenak tidak ada yang bersuara. Lalu, tiba-tiba Mikel melemparkan bungkus jajan keripik kentang yang sudah habis ke Trisy. "Ngaco lo." "Beneran!" tegas Trisy. "Tapi bedanya gue nggak bisa lihat. Gue cuma dapet strong feeling aja. Dan kalian mau tau sesuatu?" Sebenarnya enggak. Aku nggak suka topik ini. Plis, ini sudah hampir jam malam. Tapi kami justru mengangguk dengan wajah super t***l. "There is ... no, there are many of them watching us right now, in front of us. So, stop talking and go home directly," kata Trisy semakin lirih. Itu konyol!!! Aku hampir meneriakkan kalimat ini, tapi tau-tau aja yang cewek-cewek udah pada ngacir duluan sambil tergopoh-gopoh. Mereka termakan bualan Trisy yang sampai saat ini masih sangat diragukan. Hanya tersisa aku, Karina, Dion, David, dan Mikel, yang melongo. "Gila, Theo ikut ngacir duluan, man." Dion tertawa keras. David menoleh padaku. "Kapten, sejak kapan Trisy anak indigo?" "Sejak negara api menyerang," sahut Mikel sebodo teuing. "Entah." Aku mengemasi barang-barangku. "Mungkin cuma alasan dia supaya cepet pulang." Karina terkekeh. "Tapi hari ini cukup menakutkan dibanding diklat sebelumnya. Tingkah anak-anak makin aneh aja sih." Aku mengangguk dan merangkul Karina sambil keluar ruangan padus. Sengaja aku berdempetan dengan Karina, karena aku tahu, begitu aku keluar ruangan padus, ada lorong gelap dan seram yang menantiku. Di tengah-tengah lorong, Karina tiba-tiba berhenti. Ia menatapku setengah terkejut yang membuatku ingin teriak saat ini juga. Sebelum aksi memalukan ini kulakukan, Karina bertanya dengan panik, "Did you see Elisa?" "What?" Aku mengernyit bingung. "Dia ada sama kita kan tadi?" Karina menggeleng cepat. "Enggak. Dia keluar ruangan padus pas kita pemanasan suara. Sampai sekarang belum balik." Aku terdiam. Hell.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN