[SHEILA] Diklat Padus

1005 Kata
Hari ini waktunya diklat padus. Seharusnya aku bisa menampilkan wajah angkuhku seperti tim inti padus lainnya, tetapi yang kutampilkan saat ini adalah wajah gugup. Tak dapat kupungkiri bahwa jantungku berdegup tak karuan saat semua mata dan perhatian anak-anak baru kepadaku. Entahlah, tidak biasanya aku gugup. Setelah pintu ruangan ekskul tertutup—tanda bahwa diklat telah dimulai—kami para tim inti langsung berjajar rapi di depan anak-anak baru dengan gaya yang super elit. Kecuali Karina. Dia memang terlalu baik dan sopan pada siapa pun. Di depan sini, aku bisa melihat semua ekspresi kagum bercampur takut yang terpancar dari anak-anak baru. Kami para tim inti memang sedang memasang tampang tak bersahabat sama sekali, seperti tampang senior-senior yang sedang memberi hukuman pada anggota MOS. Ruangan menjadi hening selama kurang lebih lima menit. Aku hendak menyemburatkan tawa sekencang-kencangnya saat wajah Dion menampilkan ekskpresi hendak menyerang salah satu adik kelas yang paling depan, dan adik kelas itu langsung ketakutan. Aku mendehem keras dan lagi-lagi anak-anak baru langsung kembali tegap, menatap lurus kami satu per satu. "Selamat datang di Harmony Voice!!!" teriakku senang diiringi dengan tepuk tangan tim inti. Anak-anak baru ikut bertepuk tangan dengan senang dan ada sebagian yang langsung melemaskan tubuhnya. Memang segitu seramnya-kah ekspresi kami tadi? "Kami selaku tim inti Harmony Voice mengucapkan terima kasih banyak pada kalian yang sudah bekerja keras hingga bisa lolos seleksi untuk lomba internasional kita sebentar lagi." Tepuk tangan bertambah riuh. Aku tersenyum. "Kita perkenalan dulu ya. Halo semua, gue Sheila, ketua Harmony Voice, sopran satu." Aku bisa melihat mata-mata anak baru yang terkagum-kagum saat aku mengatakan bahwa aku berada di sopran satu. Kelompok suara yang paling tinggi. Theo di sampingku melambaikan tangan. "Gue Theo, wakil ketua Harmony Voice, tenor." "Hai, gue Audy, sekretaris Harmony Voice, alto." "Hello everyone, gue Elisa, bendahara Harmony Voice, sopran satu." Semua mata anak baru kompak menatap wajah Elisa yang paling mencolok, karena dia bule. Sialan. Aku tersaingi. "Halo, aku Karina, pengawas piket Harmony Voice, sopran dua." "Gue Trisy, tim kreatif Harmony Voice, alto." Dion mengusap rambutnya, membuatku ingin muntah. "Yo! Gue Dion, cowok paling ganteng se-SMAHI, pemain piano Harmony Voice, bass." "Ewh," kata Rita bergidik ngeri. Mikel melambaikan tangan. "Jangan didengerin apa kata monyet di sebelah gue. Halo, gue Mikel, bagian konsumsi Harmony Voice, tenor." Dion menjitak kepala Mikel. "Gue David, bagian keamanan Harmony Voice, bass." Yang terakhir, Rita melambaikan tangan. "Hai-hai, gue Rita, bagian kesehatan Harmony Voice, sopran dua. Salam kenal semua!" "Salam kenal, Kak," balas semua anak baru dengan kompak. Setelah sesi perkenalan, saatnya kami melangkah ke bagian peraturan dan tradisi ekskul padus SMAHI. "Kami-kami di sini santai tetapi tegas. Kami semua humoris, tapi nggak segan-segan menghukum anak-anak yang nggak mematuhi peraturan yang telah disepakati. Kami-kami asik, bukan berarti bisa diremehkan. Kalian juga harus bersikap sopan, bertanggung-jawab, dan tahan banting. Wajib mengikuti semua pertemuan padus, nggak boleh absen. Orangtua kalian sudah menandatangani surat persetujuan jadwal padus, dan untungnya tidak ada satu pun yang keberatan. Jadi jangan mencari-cari alasan untuk kabur atau kami denda lima ratus ribu." Salah satu anak baru mengangkat tangan. "Kak, kalau ada yang ikut lomba lainnya gimana?" Aku menjawab, "Yang sudah lolos seleksi padus are banned to join another competition except ours." Trisy menyahut, "Di sini yang sudah ikut lomba lain selain padus siapa?" Tidak ada yang menyahut. Trisy mengacungkan kedua jempolnya. Salah satu anak baru mengangkat tangannya lagi. "Kak, kalau yang sakit gimana?" "Tetap masuk!" tandas kami tim inti kompak. Mata anak-anak baru itu mendadak kaku. Menampilkan kesan terkejut saat mendengar jawaban kami yang kelewat tegas dan tak berperasaan. Yah, respons mereka nggak salah sih. Kalau diingat-ingat, saat pertama kali aku bergabung di klub padus, aku pun melemparkan respons yang sama saat seniorku menyuruh kami untuk tetap masuk walau dalam keadaan sakit. Hah, jadi deja vu deh.... Karina langsung mencairkan keterkejutan adik kelas. "Kalian harus tetap masuk selagi itu bukan penyakit menular dan harus opname. Kalian lihat di pojok sana, ada fasilitas ruangan lengkap seperti UKS bagi kalian-kalian yang sakit. Jadi, meskipun sakit kalian masih bisa mendengarkan dan melihat perkembangan latihan padus. Kalian harus tahan banting." Audy kemudian mengambil alih menjelaskan peraturan Harmony Voice. "Nah, kalian sudah pakai atribut ID semua, kan?" Semuanya mengangguk. Atribut ID ini salah satu tradisi turun-temurun untuk para anggota baru. Bentuknya seperti simbol not balok tangan kanan dengan warna biru. Di situ ada foto dan keterangan nama serta kelas. Wajib digunakan saat latihan. Audy melanjutkan, "Kemarin kakak-kakak sudah menyuruh kalian membawa buku note kecil. Sudah dibawa? Bagus. Fungsinya adalah kalian menulis semua evaluasi yang akan diberikan kami usai latihan, guna memperbaiki kekurangan kalian masing-masing. Paham?" "Paham!" Giliran Theo yang menjelaskan lebih lanjut. "Map biru yang kalian bawa saat ini untuk menaruh partitur lagu yang kami berikan. Wajib dibawa setiap kali latihan. Udah gitu aja. Cus, semuanya berdiri, kita lakukan pemanasan." Setelah semuanya berdiri, Mikel membagikan satu bulat kencur utuh untuk anggota baru. Ini kebiasaan kami sebelum memulai latihan dan mujarab sekali untuk suara. Mereka semua tercengang. "Ini wajib kalian makan sebelum memulai latihan. Nggak boleh dimuntahin. Jangan minum air apa pun selama dua jam," kata Mikel sambil membagi kencur satu per satu. Dion sudah duduk di belakang keyboard sambil memainkan beberapa tuts untuk pemanasannya. Trisy sedang mengatur anak-anak baru sesuai kelompok suara. Aku dan Theo mengamati mereka semua memakan kencur. Ada yang mengeluarkan air mata, ada yang mati-matian menahan muntah, dan ada yang biasa-biasa aja. Kencur memang tantangan terberat kami awal masuk dulu, rasanya setiap kali disodorin kencur, mati-matian kami mencari alasan untuk kabur. Selain rasanya pedas, juga menusuk bagian pernapasan. Rasanya lebih baik mati. Tapi sekarang kami sudah terbiasa. Tanpa kencur justru kami khawatir. Setelah semua kembali kondusif, kami memulai pemanasannya. Dari teknik pernapasan perut, teknik mengeluarkan suara, dan teknik-teknik lainnya. Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan mereka, kami membagikan partitur lagu Bagimu Negeri. Hasilnya tidak terlalu buruk. Setidaknya kami tak perlu repot berlebihan untuk melatih mereka. Anak-anak baru itu juga sangat patuh dan cepat belajar, membuat kami semakin semangat berlatih. Kecuali Theo yang tak sabar menceritakan kisah seram ruangan padus ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN